
The Day
Hari ini adalah hari dimana Jimy dan Novi mengikat janji sehidup semati. Novi yang sudah terlihat menangis saat keluar dari kamar, kini semakin menangis saat Jimy sudah menjadikan dirinya istri yang sah di mata hukum dan juga agama.
" Sayang, kau pasti sedih karena kedua orang tua mu tidak ada di sini" ujar nyonya Jenita memeluk Novi dengan penuh kasih.
Novi yang mendengar perkataan ibu mertua nya, justru semakin menangis dengan kencang. membuat nyonya Jenita semakin memeluk erat menantu nya itu.
" Kau jangan menangis lagi, kami sudah menjadi orang tua pengganti untuk mu sayang" nyonya Jenita mengusap air mata Novi dengan sapu tangan nya.
" Aku menangis karena aku sekarang sudah menikah dengan pria tampan dan kaya raya, namun pria itu tidak mencintai ku sama sekali." gumam Novi dalam hati menatap Jimy yang berdiri di samping nya, dengan wajah datar dan tidak mempedulikan sama sekali diri nya yang sedang menangis.
Setelah semua acara selesai Jimy langsung masuk ke dalam kamar nya, meninggalkan Novi yang masih berada di ruang tengah mansion bersama kedua orang tua dan kakak perempuan Jimy.
" Kau pasti sangat lelah, istirahatlah." ujar kakak perempuan Jimy yang bernama Rosela.
" Baiklah, aku ke kamar ku dulu" ujar novi yang langsung berjalan ke arah kamar Jimy.
__ADS_1
" Apa kita tidak keterlaluan terhadap gadis itu...?" tanya nyonya Jenita pada suami nya. karena nyonya Jenita merasa kasihan pada Novi yang sedari tadi menangis di sepanjang acara.
" Andrร tutto bene (semua akan baik baik saja)" ujar tuan Richard pada istri nya itu. yang kini sama sama menatap pada punggung Novi yang sedang menaiki anak tangga.
" Kenapa kau diam saja" tanya Novi melempar bantal ke arah Jimy yang sedang tiduran di atas sofa.
" Lalu aku harus bagaimana?" jawab Jimy dengan singkat yang kembali memejamkan kedua mata nya.
"Jimy oh Jimy, andai saja aku punya tongkat yang besar. akan aku pukul kepala mu itu" teriak Novi dengan kesal.
" Kau itu tidak bahagia menikah dengan ku?" tanya Jimy yang kini duduk di atas sofa menatap pada Novi yang kini sudah menjadi istri sah nya.
"Kau itu jujur sekali" ujar Jimy menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kenapa memang nya jika aku jujur, aku ini sama dengan wanita biasa di luaran sana. yang selalu memimpikan memiliki suami yang kaya dan tampan" jawab Novi yang masih menatap Jimy.
"Lalu kenapa sejak tadi kau menangis?" tanya Jimy dengan wajah datar nya.
__ADS_1
"Tentu saja aku menangis, karena aku tahu kau tidak mencintai ku" lirih Novi. " dan aku cukup tahu diri, siapa aku dan siapa dirimu. yang bagaikan langit dan bumi" Novi kini duduk di atas tempat tidur dengan wajah kusut nya.
" Kenapa nasib percintaan ku selalu saja sial, dulu aku sudah lama berhubungan dengan bebeb ku. tapi ujung ujung nya dia malah menikah dengan wanita lain. dan sekarang aku menikah dengan orang yang tidak mencintaiku sama sekali" gumam Novi dalam hati ******* ***** gaun pengantinnya.
" Kita akan menikah selama satu tahun" ujar Jimy membuat Novi tersadar dari lamunan nya.
" Maksud mu?" tanya Novi dengan bingung.
" Aku berjanji tidak akan menyentuh mu, selama satu tahun masa pernikahan kita." Jimy berjalan mendekati Novi." setelah satu tahun aku akan mengurus perceraian kita dan kau akan mendapatkan uang kompensasi sebagai ganti nya. bagaimana...?" tanya Jimy dengan mengulurkan tangan nya.
" Kau itu gila ya...." bentak Novi." Aku ini bukan Nayra yang mau saja menuruti semua keinginan tuan Kenzo" seru Novi yang kini berdiri di hadapan Jimy.
" Lalu apa aku harus menceraikan mu saat ini juga?" tanya Jimy yang menghela nafas nya dengan berat.
"Karena kau sudah menikahi ku, maka dalam waktu satu tahun ini aku akan membuat mu mencintai ku" ujar Novi menatap wajah Jimy dengan penuh keyakinan.
" Jika aku tidak mencintaimu?" tanya Jimy.
__ADS_1
" Maka aku yang akan meninggalkan mu" ujar Novi langsung melempar bantal guling ke arah Jimy."Dan karena kau yang memulai permainan ini, jadi kau yang harus tidur di sofa" seru Novi yang langsung merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur. tidak mempedulikan Jimy yang kini menatapnya dengan wajah penuh arti.