
Plak... plak... plak.....
suara tamparan itu menggema di setiap sudut ruangan bercat serba putih, benda mati dan kemewahan kamar manjadi saksi bisu bagaimana seseorang pria dipukuli dengan berulang kali bahkan darah sudah mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya akibat tamparan serta pukulan keras dari orang yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Katakan siapa yang menyuruhmu?apakah perempuan gila itu?"tanya adrian mencengkram kerah pria sedang berada di bawah Kungkungan kakinya.
"Maafkan saya tuan, tolong lepaskan"ucap pria itu dengan memohon, nafasnya sudah bisa di hitung oleh jari di setiap detiknya namun tidak membuat adrian iba sama sekali.
"kenapa?Jika kau berani berurusan dengan ku maka kau sudah ada persiapan 10 nyawa. Karena apa?karena aku tidak pernah melepaskan orang yang sudah menganggu ketenangan keluargaku dan contohnya seperti dirimu sekarang,akan kupastikan kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan baik-baik saja"Saut adrian semakin menekan dada pria dibawahnya.
"Maaf tuan,saya hanya menjalankan perintah dari nona jovanka"ucap pria itu akhirnya jujur.
"heuh akhirnya kau mengaku juga"ejek adrian tersenyum miring.
"Anda akan melepaskan saya kan tuan?"tanya pria yang menjadi anak buah jovanka itu.
"Ckckck sayang sekali aku tidak pernah menarik ucapan yang telah terlontar dari mulutku"jawab adrian melepas cengkraman nya dan berdiri tegak.
"Han,urus pria ini jangan biarkan dia lolos dalam keadaan baik-baik saja"perintah adrian pada han yang sejak tadi memperhatikan nya.
"baik tuan"ucap han menunduk sedikit.
"Ahh iya rio,kau mau melakukan sesuatu padanya?"Tanya adrian.
"Tidak,karena urusanku bukan dengannya"jawab rio menggelengkan kepalanya.
"Ayo"ajak adrian.
"Kau urus pria di dalam itu,jika mungkin berikan saja dia pada helrie(anjing pelacak)"ucap han pada kepala anak buahnya.
"Baik tuan"balasnya menunduk sopan.
Setelah meninggalkan hotel mewah tersebut, keduanya segara menuju tempat dimana akar permasalah berada.
"Dimana mereka?"tanya adrian seraya membuka kemejanya yang penuh darah dengan kemeja baru.
"spring Wood apartment"jawab han yang sudah melacak keberadaan jovanka dan bela.
"Cepat kesana,aku tidak sabar untuk menyeretnya dan melempar nya ke kaki istriku"geram adrian.
"begitupun denganku,aku ingin bela mengaku dengan mulutnya di depan eva"saut rio.
Sementara di tempat lain aulia termenung di pinggir danau yang entah ia sendiri tidak tahu, setelah mendengar perkataan wanita yang menghinanya membuat dada aulia sesak karena itu dia berlari cukup jauh meskipun ia tidak tahu dimana tempat itu.
"hiks... benarkah aku bukan istri yang baik?aku tidak berguna sebagai seorang istri?"lirih aulia menatap wajahnya melalui pantulan air danau.
__ADS_1
"Sayang,maafin mamah ya karena tidak bisa menjaga papah. Denger ya sayang sesalah apapun papah dia tetap papah kamu, Sekarang mamah sadar disini buka hanya papah yang salah tapi mamah juga. Maafkan mamah"Gumam aulia mengelus perutnya yang membesar.
Tanpa aulia ketahui Seseorang sedang berada di belakangnya dengan membawa sebuah sarung tangan yang sudah di oleskan obat bius, dengan hati hati orang itu membekap mulut dan hidung aulia membuat aulia kehilangan kesadarannya.
"mmmmmm"berontak aulia namun pengaruh obat bius itu sangat cepat hingga membuatnya pingsan.
"Bawa dia"titah orang yang datang bersama pria yang membekap aulia tadi.
Orang itu mengambil ponsel aulia dan mengirimkan pesan kepada eva,dimana isi pesannya mengabari bahwa dirinya baik baik saja.
"aku sedang ingin sendiri,jadi aku mohon jangan mencariku. aku akan pulang secepatnya dengan taksi"
Setalah mengirim pesan tersebut,orang itu melempar ponsel aulia kedalam danau kemudian menyusul anak buahnya yang sudah membawa aulia masuk ke dalam mobil.
Eva dan Baim berkeliling di kota Jakarta itu untuk mencari aulia dengan berjalan kaki, namun cukup lama mereka tetap tidak menemukan aulia sebelum akhirnya notifikasi pesan masuk ke ponsel milik eva.
"hei ini ada pesan dari aulia"ucap Eva dan membaca pesannya membuat baim ikut tahu pesan dari aulia.
"gw rasa aulia emang butuh waktu sendiri deh dan lagi setidaknya kita tahu bawa saat ini dia baik baik saja. Ayo pulang dia akan mencari kita jika kita tidak ada di rumah"Ucap baim.
"Tapi im, kenapa perasaan gw gak enak ya"ucap eva merasa tidak enak dan terus memikirkan aulia.
"Ah itu cuma perasaan lo aja, udahlah yuk"ajak baim menarik tangan eva.
Baim dan eva pulang meninggalkan aulia yang saat ini entah berada dimana dan dengan siapa.
"dimana mereka??"kesal adrian karena tidak menemukan jovanka dan bela dikamar yang terlacak oleh han.
"Bagaimana mereka bisa selicik ini dengan meninggalkan ponsel mereka"ucap rio tak kalah geram dan melempar 2 ponsel yang ada di atas nakas atau lebih tepatnya ponsel yang berhasil di lacak han.
"Han perintahkan anak buah kita untuk mencari mereka di luar kota dan luar negeri sekalipun,aku tidak akan membuat mereka lepas dengan mudah"tutur adrian dengan nafas memburu.
"Baik tuan"jawab han.
"Adrian lebih baik kita pulang karena hari sudah semakin sore, besok kita lakukan pencarian lagi"ucap rio.
"Baiklah,ayo"ajak Adrian kemudian pergi meninggalkan apart jovanka.
***
Matahari bersinar terang memancarkan cahaya melalui lubang ventilasi membuat seorang wanita bangun dari tidurnya setelah cukup lama tertidur.
"ahh kepalaku sakit sekali"rintih wanita itu sambil memegangi kepalanya.
Matanya perlahan terbuka, tiba tiba saja rasa takut menyelimutinya melihat sosok pria sedang tersenyum iblis padanya.
__ADS_1
"Kk,,kau??mau apa kau ha?!"tanya aulia dengan bentakan.
"ya sayang ini aku,kenapa?kau terkejut atau bahagia?"tanya pria itu.
"Apa yang kau lakukan padaku?aku mau pulang"teriak Aulia.
"Sssttt, jangan teriak sayang nanti tenggorokan mu sakit"desis pria itu perlahan bangun dan mendekati aulia perlahan membuat aulia semakin takut.
"Jangan menyentuh ku"tepis aulia ketika tangan kokoh itu mengelus rambut panjangnya.
"Kenapa?jika adrian saja bisa menikmati tubuh mu lalu kenapa aku tidak?"tanyanya dengan memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri jangan lupakan tatapan matanya yang lapar.
"Hiksss aku mohon lepaskan aku"pinta aulia mulai terisak.
"Cup,cup sayang jangan menagis, tidakkah kau lelah menangis terus?oh iya suami mu itu benar benar tidak tahu diri ya, sudah memiliki istri yang cantik sepertimu tapi masih saja selingkuh"ucapnya lagi dengan suara pelan dan menakutkan.
"Aku mau pulang, biarkan aku pergi"ucap aulia lirih seraya meremas selimut yang menutupi paha sampai kakinya.
"Kenapa?apa disini kurang nyaman?apa perlu kita cari rumah yang layak untuk kita dan anak anak kita nanti?"tanya nya lagi seperti orang yang tidak waras.
"jangan gila,aku sudah menikah dan sedang mengandung. Biarkan aku pergi"desis aulia mendorong tubuh pria itu kemudian berlari mendekati pintu.
Langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang berada di depannya.Matanya membola, mulutnya membentuk sebuah pintu gua.
"Halo nyonya dierja?"sapa nya dengan ejekan.
"Kalian? bagaimana kalian bisa berada disini?"tanya aulia mudur perlahan menjauh dari 2 wanita berbahaya itu.
"itu tidak penting,bagaimana tidurmu semalam? nyenyak kah?"tanya wanita yang satunya lagi.
"Pergi kalian, kalian tahu kan jika suami ku tahu kalian pasti tidak akan diampuni"ancam aulia namun membuat keduanya tertawa.
"Hahhaah"tawa keduanya diikuti pria dibelakang aulia.
"kau lupa atau memiliki penyakit alzheimer?siapa kami?kau lihat siapa yang berada di foto dalam satu ranjang yang sama dengan suami mu?"Tanyanya bangga.
"Sekarang aku tahu bahwa ini adalah rencana kalian"ucap aulia mengerti bahwa bela dan jovanka lah yang menjadi dalang semua ini.
"hahaha sudah terlambat, sekarang jangankan bertemu dengan adrian bahkan melihatnya dari jauh pun tidak akan bisa"tawa setan jovanka.
"Ohh kehamilanmu sudah besar? bagaimana dia bisa selamat setalah aku menanamkan pisau disini?"tanya bela mengelus perut aulia kemudian meremasnya kencang membuat aulia meringis.
"akhhh jangan"pinta aulia dengan ringis.
"Oh sakit? dengar Aulia mungkin hari itu anakmu bisa selamat tapi tidak kali ini. Aku akan membuatnya bertemu dengan tuhan sebelum dia melihat dunia ini"ucap bela tersenyum seram.
__ADS_1
LANJUT GAK NIH???
BERSAMBUNG......