Menikahi Pria Cacat Demi Ayah

Menikahi Pria Cacat Demi Ayah
BAB 132


__ADS_3

Angin berhembus dari celah jendela kamar yang gelap dan dingin,suasana kamar yang biasa diisi oleh canda bersama istrinya kini hilang bersamaan hilangnya aulia. Adrian duduk termenung di dekat lemari pakaian sambil memegangi foto aulia yang sedang tersenyum lebar disebelah. Air mata adrian tidak bisa di ajak kompromi dan terus saja mengalir, adrian tidak pernah sesedih ini ketika kehilangan sesuatu bahwa ketika bela meninggalkan nya dulu.


"Sayang, kamu dimana?dimana aku akan menemukanmu"gumam adrian mengusap wajah aulia di cetakan paper photo yang tertutup kaca.


Tok...tok...tok....


"adrian,ini mamah"ucap Sarah dari luar kamar.


"masuklah mah"balas adrian.


Sarah masuk, tangannya langsung terulur menekan stopkontak untuk menyalakan lampu kamar dan terlihatlah adrian yang duduk di lantai sambil terus memandangi foto istri nya.


"Adrian ini sudah waktu berbuka,ayo makan dulu"ajak Sarah.


"tidak mah, bagaimana bisa aku memikirkan makananku sementara aulia entah dimana. Bagaimana jika dia kedinginan atau kelaparan? bagaimana jika para penculik itu menyakiti anak dan istriku mah"adrian mendesah frustasi mengingat bagaimana keadaan istrinya yang entah dimana.


"Lihat mamah rian"pinta sarah menangkup wajah anaknya.


"kamu harus yakin bahwa aulia baik baik saja, aulia dia wanita yang kuat dan Allah pasti akan melindungi anak dan istrimu. Jika kau tidak makan bagiamana kau akan mencari aulia?"tanya Sarah menjelaskan layaknya seorang anak kecil yang dinasehati ibunya untuk makan.


"Aku akan makan asal mamah berjanji bahwa aulia akan baik-baik saja,apa mamah bisa?"Tanya adrian membuat sarah membeku.


Dia tidak bisa berjanji karena sama dengan adrian, Sarah tidak tahu dimana aulia saat ini dan bagaimana keadaannya.


"Mamah tidak bisa kan mah?lalu kenapa mamah menyuruhku untuk yakin"ringkas adrian menunduk dan menangis membiarkan air matanya jatuh membasahi kaca bingkai ditangannya.


"Adrian mamah janji aulia akan baik-baik saja"ucap Sarah yakin, entah keberanian dari mana sarah mengatakan hal itu.


Adrian berhenti menangis dan sontak menatap Sarah dengan perasaan terkejut namun sedetik kemudian tersenyum, setidaknya ada yang memberinya kesempatan untuk menemukan aulia dalam keadaan baik-baik saja.


"Ayo mah"ajak adrian menarik tangan Sarah.


Sementara di tempat lain, aulia meringkuk merasakan dingin yang masih terasa meski tubuhnya sudah tertutup selimut. Mungkinkah ini Karena aulia belum makan sejak kemarin?.


"Mas aku kedinginan"lirih aulia air matanya berjatuhan.


"ohh kasihan sekali nyonya besar kita kedinginan"entah sejak kapan bela ada disana dan menertawakan penderitaan nya.


"mau apa kau ha? pergi dan tinggalkan aku sendiri"tanya aulia angkuh dan mengusir perempuan itu.


"ohh dalam keadaan seperti ini saja kau masih angkuh aulia,aku penasaran bagaimana reaksimu ketika aku melenyapkan anakmu"cibir bela diakhiri tawa meremehkan.


"jangan berani menyentuh apalagi menyakiti aku dan anakku"pinta aulia menunjuk nunjuk bela.


"Bagaimana kalo aku melakukannya?"tanya bela menantang seraya mendekati aulia dengan cambuk di tangannya.


Cetar

__ADS_1


cetar


cetar


"aghhh jangan bel aku mohon, sakit"pinta aulia merasa panas di bagian tangan dan kakinya akibat cambukan dari bela.


"kenapa?sakit?iya? bagaimana jika kita coba dengan anakmu? apakah dia akan keluar dan membunuhku atau sebaiknya aku yang membunuhnya dengan cambuk ini"ucap bela seperti iblis bukan manusia.


"jangan bel aku mohon"pinta aulia menunjukkan kedua telapak tangan meminta bela berhenti.


Aulia melihat pintu yang terbuka lantas turun dan segera berlari ke luar kamar membuat bela terkejut karena bodohnya dia tidak menutup pintu kamarnya tadi.


"aghhh kejar dia, jangan sampai lepas"teriak bela dengan segera anak buah bram mengejar Aulia yang sudah menuruni anak tangga.


Prangg


Aulia tergelincir untung saja ia berpegangan pada meja namun vas bunga yang ada disana pecah akibat dorongannya.


"jangan mendekat"ucap aulia melihat ketiga anak buah bram sudah mengepung nya.


"nona anda jangan macam macam dan ikuti saja perintah bos agar anda baik-baik saja"ucap seorang pria hitam dengan kumis tebal.


"Mudah sekali kau mengatakan aku akan baik baik saja, sementara aku sedang disiksa di atas dengan perempuan tidak waras itu"balas aulia berteriak.


Prang


Aulia melemparkan beberapa piring kepada anak buah bram itu membuat mereka sedikit terluka namun tidak lemah.


"Aku mohon bantu aku keluar, suamiku akan memberikan bayaran yang lebih besar asal kalian membantuku"pinta Aulia memohon.


"suami yang mana?suamimu yang sudah berselingkuh itu?"suara bariton itu terdengar dari pintu masuk membuat aulia menoleh mendapati bram yang baru datang.


"Bram aku mohon lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini"mohon aulia duduk dan menyatukan kedua tangannya di depan bram yang stay cool.


"Jangan mimpi sayang karena aku sudah susah payah mendapatkanmu dan mustahil aku akan melepaskan nya"jawab bram menggeleng.


Bram memberi kode pada ketiga anak buahnya untuk membawa aulia kembali ke kamarnya disusul oleh bram sendiri.


ketika berjalan bram melihat bekas cambukan di tangan dan kaki aulia membuat bram geram dan dia tahu benar siapa yang melakukannya.


plakkk


"bram aku bisa jelaskan"ucap bela ketakutan apalagi setelah mendapat tamparan dari pria kekar itu.


"Aku sudah katakan padamu jangan berani menyentuh wanitaku sedikit saja dan sekarang kau berani melukainya dengan ini"bentak bram mengambil cambuk di tangan bela.


"Bram apa yang akan kau lakukan?"tanya bela gugup ketika Bram melilit tali cambuk di tangannya.

__ADS_1


"akan aku beritahu rasanya di cambuk"balas bram berat kemudian mulai mencambuk bela sama seperti ketika ia mencambuk aulia.


Aulia terkejut melihat bram yang menyakiti bela hanya karena bela telah menyakitinya,bahkan bela berkali kali meminta ampun namun tidak di gubris sama sekali.


"aku sudah katakan jangan pernah menyakitinya, terakhir kali kemarin ketika kau sengaja meremas perutnya dan itu sudah membuatku sangat kesal. mulai sekarang jangan pernah sakiti aulia jika kau tidak ingin memakai kain putih lebih cepat"ancam bram menarik tangan bela dan mendorongnya keluar.


Bram membuang cambuk itu sembarangan kemudian memeluk aulia yang ketakutan, Aulia jijik ia tidak Sudi di sentuh oleh pria sakit jiwa seperti Bram.


"lepaskan aku bedebah"umpat aulia.


"jaga bicaramu sialan,ingat aku sudah menyelematkan mu dan kau justru malah memakiku?!!"bentak bram kesal mendengar umpatan aulia.


"Menyelamatkan dengan cara menjadikanku tawananmu?iya?kau tidak waras Bram! BENAR BENAR TIDAK WARAS" teriak aulia tepat di depan bram.


"Aku suka sayang ketika kamu memaki ku dengan dekat seperti ini,apa malam ini harus kita habiskan dengan berkeringat?"tanya bram dengan seringai mesum.


"Tidak aku mohon"pinta aulia memohon.


"hahhaah,aku hanya bercanda sayang karena aku mau melakukannya denganmu setalah kita menikah nanti"gelak tawa bram. "apa kau sudah makan? pasti belum ya?aku akan keluar membelikan mu makanan tunggu ya"ucap bram lagi kemudian mencium kening aulia.


"Sayangnya aku tidak akan pernah menikah dengan mu bram"ucap Aulia pelan ketika bram sudah keluar dari kamar.


-


Adrian membanting bangku yang ada di depannya,ia memerintahkan 20 orang anak buahnya untuk ikut bersama nya menemui aulia.


"Dia tidak mengenal anda tuan, karena itu dia berani bermain-main"ucap han seraya fokus pada jalanan di depannya yang di selimuti pepohonan rindang.


"Aku pastikan dia akan tiada di tanganku"cecar adrian sudah mengepalkan tangannya.


"Semoga saja kau tidak menjadi seorang pembunuh adrian, kasihan istrimu"ucap rio bergidik ngeri.


"Aku tidak bisa memastikannya"balas adrian.


Adrian dan anak buahnya sudah sampai di rumah yang berada di tengah hutan,ya itu adalah tempat penyekapan aulia. Adrian bergegas pergi setelah mendapatkan kabar bahwa anak buahnya berhasilnya menemukan aulia dan Bram lah pelakunya. Darah adrian terasa mendidih ketika mendengar bahwa ada bela dan jovanka juga bersamanya,merencanakan jebakan dan penculikan Aulia.


"Tuan semua sudah di persiapkan"ucap han kemudian menginterupsi anak buahnya untuk turun dan menyelinap sesuai rencana karena sebelumnya mereka sudah hafal dengan denah rumahnya.


Adrian,rio dan han turun menyusul anak buah mereka dengan pelan dan hati-hati.


"cih, jadi hanya segini kemampuannya" batin Adrian melihat hanya ada sekitar 10 pengawal yang di perintahkan berjaga di setiap sudut rumah.


Aku kebanyakan baca novel psikopat dan mafia jadi gini kan suka berbau kejam sekarang 🤣🤣


Aduhh lagi seru Seru nya gantung 😫komen dan like yang banyak dulu abis itu aku akan crazy up😜😜


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2