Menjadi Yang Ketiga

Menjadi Yang Ketiga
Tak Sanggup


__ADS_3

Happy Reading๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


'' Mas, bagaimana ini? Bang Adam maupun Raisya tak ada yg aktip Hp nya?'' ucap Hawa dengan wajah yg begitu cemas.


'' Sabar sayang! Semoga mereka cepet sampai sini, ya!'' ucap Ikbal menenangkan.


Hawa dan semua orang menunggu di ruang tengah dengan harap harap cemas. Apalagi Hawa, dia tak bisa menyembunyikan rasa khawatir nya, sambil terus memegangi dada yg dirasa sangat sakit.


Ddrrrttt ddrrrtt


Tiba tiba ponsel Hawa bergetar, dan nomor telpon tanpa nama.


'' Siapa sayang?'' tanya Ikbal


'' Gak tahu Mas, tanpa Nama.'' jawab Hawa sambil menggeser tombol hijau.


'' Hallo, assalamu'alaikum....'' ucap Hawa dengan dada berdebar.


...........


'' Iya, maaf ini siapa ya?''


...............


'' Apa! Innalillahi..... Lalu bagaimana keadaan nya?''


.............


'' Ba-baik...'' lirih Hawa


Prang


Telpon terlepas dari tangan Hawa, dada bertambah sakit, air mata nya sudah tak bisa lagi dia bendung. Badan nya bahkan luruh ke lantai, untung Ikbal sigap menahan tubuh Hawa.


'' Sayang! Ada apa?'' tanya ikbal dengan cemas.


'' A-al-wi....... Gak, gak mungkin! Alwi....'' teriak Hawa lalu pingsan seketika.


'' Sayang, sayang....'' panggil Ikbal saat melihat Hawa pingsan.


Ikbal segera menidurkan Hawa dengan paha sebagai bantalan nya. Semua orang terlihat khawatir saat melihat Hawa pingsan. Pikiran mereka sudah tidak enak, saat mendengar Hawa memanggil nama Alwi, sebelum pingsan.


'' Ummi, ada apa ini? Siapa yg menelpon tadi?'' tanya Ikbal


'' Ummi juga gak tahu, Nak! Perasaan Ummi menjadi tak enak, saat Hawa memanggil nama Alwi..'' cemas Ummi.


Yang tadi menelpon Hawa adalah pihak dari rumah sakit, dimana Adam, Alwi dan Raisya di rawat. Mereka menelpon Hawa, sebab no Hawa ada di panggilan terakhir Hp nya Adam.


Tak lama Hawa tersadar, dia mengerjapkan mata nya berkali kali. Lalu di bantu duduk dengan tubuh Ikbal sebagai sandaran nya.

__ADS_1


''Ibu, apa Alwi sudah pulang?'' tanya Hawa dengan lirih.


'' Belum Nak! Kamu kenapa tadi pingsan? Kenapa kamu teriak, nyebut nama Alwi?'' tanya Ibu dengan penasaran.


Degh


Dada Hawa kembali sakit, dia langsung teringat saat tadi dia mendapatkan telpon dari rumah sakit. Air mata nya kembali mengucur deras. Hawa mencoba berdiri dan melangkah, namun badan nya seketika oleng.


'' Sayang, kamu mau kemana?'' tanya Ikbal


'' Mas, Alwi Mas, Buk, Ummi, Abi, Alwi.... Hiiikss, aku mau Alwi....'' histeris Hawa


'' Nak, ada apa sayang? Jangan bikin Ibu panik!'' ucap Ibu sambil memeluk tubuh Hawa.


'' Buk, Alwi... Bang Adam, mereka....Mereka kecelakaan....'' ucap Hawa mampu membuat semua orang terdiam.


Bahkan Ummi langsung lemas badan nya, Ummi menggeleng dengan cepat, dia seakan tak percaya dengan ucapan Hawa..


'' Nggak, Nak. Alwi baik baik saja! Kita lagi menunggu mereka...'' ujar Ummi tak percaya.


'' Nggak, Ummi! Tadi pihak Hiikkksss, tadi aku dapet telpon dari rumah sakit, jika Bang Adam mengalami kecelakaan...'' lirih Hawa


'' Aku mau ketemu Alwi, Mas.. Ayo Mas...'' ajak Hawa sambil menarik tangan Ikbal.


Ikbal tersadar dari rasa syok nya, lalu menoleh ke arah Hawa yg ada dalam dekapan nya.


'' Ayo, Mas. kita kerumah sakit!'' ajak Hawa.


Selama di dalam perjalanan Hawa terus menangis, hatinya benar benar tak tenang. Walaupun sang Ibu selalu menguatkan nya, namun Hawa tak bisa membendung tangis nya. Dia benar benar takut kehilangan Alwi, darah daging nya.


Sedangkan Ikbal menyetir di temani Abi di depan. Dia juga sangat cemas dengan keadaan Alwi, tapi Ikbal berusaha tenang agar Hawa tak merasa lebih sedih lagi.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Mobil sudah sampai di rumah sakit harapan Indah. Ikbal terus menggandeng sang istri agar tak jatuh kembali. Mereka menuju meja resepsionis dan menanyakan soal kecelakaan Adam.


Suster langsung mengarahkan mereka keruang UGD. Hawa bahkan tak henti menangis. Setiap langkah nya seperti di tusuk pedang yg sangat tajam, sangat sakit. Hawa mencoba kuat dan berpikir optimis, namun logika nya dan firasat nya malah berpikir sebalik nya.


Saat sampai di depan UGD. Terlihat ada 2 polisi yg sedang berjaga. Abi langsung bertanya pada salah 1 polisi di sana..


'' Malam Pak! Maaf, saya mau bertanya! Apa yg di dalam sana, adalah pasien yg barusaja kecelakaan?'' tanya Abi


'' Betul. Maaf, anda siapa nya pasien?'' tanya polisi itu.


'' Saya kerabat nya Pak! Eum, kira kira berapa orang yg kecelakaan ya pak?''


'' Ada 3, 1 laki laki, 1 perempuan dan 1 lagi balita sekitar 7 bulan.''


Degh

__ADS_1


Hawa benar benar tak bisa lagi menahan keseimbangan badan nya. Ikbal yg melihat itu segera mendudukan Hawa di kursi tunggu. Ikbal langsung memeluk tubuh Hawa, yg bergetar karena isak tangis nya.


'' Lalu bagaimana keadaan mereka pak?'' tanya Ummi


'' 2 orang meninggal, sedangkan yg 1 kritis.''


Hawa membulatkan mata nya, saat mendengar ucapan polisi itu. Kemudian dia berdiri di bantu Ikbal.


'' Pak, siapa yg meninggal?'' tanya Hawa dengan Bibir bergetar.


'' Nama nya pak Adam, dan balita yg laki laki yg berumur 7 bulan.''


Bruk


Tubuh Hawa jatuh dalaman pelukan Ikbal, tangis nya makin deras. Dada nya kian sesak, seakan tak ada lagi oksigen yg bisa di hirup nya. Hawa menggeleng kan kepala nya seakan tak percaya dengan apa yg baru saja dia dengar.


'' Gak, gak mungkin! Alwi masih hidup! Nggak, itu gak mungkin.....'' ucap Hawa dengan deraian air mata.


Ikbal mendekap erat tubuh Hawa, dia juga merasakan apa yg di rasakan oleh istrinya. Hawa menorobos masuk kedalam UGD untuk memastikan ucapan polisi itu.


Ada 2 orang yg di tutup dengan kain putih, sedangkan Hawa melihat Raisya terbaring dengan segala alat medis di tubuh nya. Hawa merasa tak ada tenaga untuk berjalan. Dia benar benar takut, jika yg di bikang polisi itu benar ada nya.


Hawa melangkah ke arah 1 brankar yg terbaring tubuh Adam. Kemudian dengan tangan gemetar Hawa membuka penutup kain itu, dia membuka dengan secara perlahan. Dan saat penutup kain itu di buka, Mata Hawa bukan hanya membulat, bahkan dia sampai menutup mulut nya dan mundur beberapa langkah.


Ummi yg melihat itu segera memeluk jenazah Adam. Walau bagaimana pun Adam sudah Ummi anggap sebagai anak sendiri. Hawa semakin terisak saat melihat kondisi Adam yg memprihatinkan.


Kemudian Hawa berjalan ke arah brankar di sebelah jenazah Adam. Sejujurnya dia takut akan apa yg di lihat nya, namun Hawa harus memastikan nya. Dengan tangan yg semakin gemetar kuat Hawa membuka penutup itu, napas nya bahkan tertahan.


Dan sungguh Hawa di buat hancur dengan pemandangan di hadapan nya. Anak yg dia lahirkan dan dia rawat selama ini, kini terbaring kaku dengn luka di wajah nya, dan senyum manis di bibir nya.


'' Alwii......'' histeris Hawa sambil memeluk tubuh kaku Alwi.


'' Tidak, Nak. Jangan tinggalkan Bunda! Bunda gak sanggup kehilangan kamu! Jangan pergi... Bangun Nak, Bangun! Bunda tahu, kamu pasti cuma tidur saja kan? Bangun Naaak, bangun.... Hiiiikkksss.... Bunda mohon....'' ucap Hawa sambil memeluk tubuh mungil Alwi dengan erat.


Tidak ada yg menangis melihat penderitaan Hawa saat ini. Semua orang menangis, seakan merasakan apa yg di rasakan Hawa.


'' Sayang, ikhlas! Ikhlaskan sayang! Aku tahu ini berat, tapi ini sudah takdir Allah..'' ucap Ikbal mencoba menguatkan Hawa.


'' Nggak Mas! Aku gak sanggup! Aku gak sangup... Kenapa Mas? Kenapa ujian selalu datang silih berganti? Kenapa?'' ujar Hawa sambil memangis tersedu sedu.


Bruk


Hawa pingsan, dia tak kuat menahan luka yg baru saja dia dapatkan. Ibu mana yg akan rela melihat anak kandung, atau darah daging nya sendiri, meninggal dan pergi untuk selama nya.


Semua ibu pasti akan merasakan hancur, saat anak yg kita lahirkan dengan bertaruh nyawa, dan susah payah. Kini harus di ambil lagi oleh sang kholiq untuk selama nya. Pastilah semua perasaan ibu akan hancur berkeping keping.


Mangkan nya, kita sebagai ibu harus bersyukur masih bisa bersama dengan anak kita. Karena kita tak tahu, kapan dia di ambil oleh sang pencipta.


Othor mewek nih๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญgak sanggup jika harus jadi Hawa๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2