
Happy Reading😘😘
Budayakan Like sebelum baca ya dears😘😘
Umar dan keluarga nya turun dari mobil, dan melangkah ke arah rumah Nisa.
Mereka sudah di sambut oleh keluarga Nisa, dan di giring menuju rumah Nisa.
Rasa gugup tentu tak bisa Umar sembunyikan, walaupun sudah dia coba untuk rilex namun tak bisa. Bahkan saat ini, jantung nya sudah berdentum kencang bagaikan genderang perang.
Perlahan tapi pasti, kaki Umar menapak masuk kedalam rumah Nisa. Disana juga sudah ada penghulu yg siap menikahkan nya dengan Nisa.
Umar duduk di hadapan penghulu dengan wajah yg begitu tegang.
'' Selow, Bro. Jangan tegang begitu! Nanti, kalau sudah SAH, pasti Lo akan lega?'' bisik Amal
Umar menyikut dada Amal, hingga laki laki itu meringis sakit karena sikutan Umar.
'' Kau bisa bicara seperti itu, karena kau tak ada di pisisi ku saat ini? Seperti kau sudah pernah duduk di sini saja!'' ledek Umar
Amal betingsut kesal, dia membenarkan apa yg di katakan sahabat nya itu.
'' Ya, gw tahu, gw belum kawin? Tapi gak usah detail juga, kali? Kesan nya, gw kayak bujang lapuk banget?'' sewot Amal
'' Emang.....'' kekeh Umar.
Hati nya sedikit tenang saat bersenda gurau dengan Amal. Dia tahu jika Amal sengaja meledek nya agar dia tak merasa tegang dan lebih rilex
Dan itu memang jitu. Saat ini Umar lebih rilex dan juga santai.
'' Apa sudah siap?'' tanya pak penghulu.
Umar menarik napas nya dengan dalam. Lalu mengangguk.
'' Iya pak! Saya sudah siap?'' jawab Umar
Pak penghulu pun langsung menjabat tangan Umar, dan mengucapkan ijab.
'' Sodara Muhammad Umar, Bin Ali. Saya nikahkan dan saya kawin kan engkau, dengan saudara Anisa Saleha binti Samsudin, dengan maskawin cincin 2 gram, dan seperangkat alat shalat di bayar Tunai....''
'' Saya terima nikah dan kawin nya, Anisa saleha binti Samsudin dengan maskawin tersebut Tunai.''
'' Bagaimana saksi? SAH?''
'' SAH.....'' ucap semua orang serempak.
Umar merasakan plong dalam hatinya, serasa ada batu yg besar telah hilang menimpa nya.
Lalu penghulu membacakan do'a.
Sedangkan di dalam kamar, Nisa menangis haru dalam pelukan Hawa, sahabat nya. Dia menangis, saat Umar mengucap ijab dalam 1 kali tarikan napas.
'' Selamat ya, Nis. Sekarang kamu sudah jadi seorang istri? Aku berdo'a, agar keluarga kamu dan Kak Umar, menjadi keluarga yg Sakinah mawadan dan warahmah! Dan aku do'akan juga, supaya kamu cepat menyusul aku.'' ucap Hawa sambil mengelus perut nya.
'' Aamiin..... Makasih ya Wa!'' jawab Nisa
__ADS_1
''Sama sama! Selamat ya, Kaka Ipar...'' ledek Hawa
Nisa tersipu malu saat Hawa meledek nya dengan sebutan Kakak ipar.
'' Nak, kita keluar sekarang ya!'' ajak Ibu nya Nisa
Nisa mengangguk lalu di gandeng Hawa dan Ibu nya untuk keluar, menuju dimana Umar berada.
Nisa keluar dengan kepala menunduk. Sedangkan Umar menatap Nisa tanpa berkedip, sampai mulut nya sedikit menganga.
Hap
Amal menyentak dagu Umar, hingga Umar tersentak kaget.
'' Lo apa apaan sih?'' ketus Umar
'' Gw cuma bantu Lo, nutup noh, mulut yg kebuka?'' ledek Amal.
Umar tersipu malu saat ketahuan sedang mengagumi Nisa, sampai tak sadar mulut nya menganga.
Nisa duduk di kursi sebelah Umar, lalu mencium tangan pria yg kini jadi suaminya itu.
Setelah itu, Umar mencium kening Nisa, namun dia terlihat ragu. Padahal wajah nya sudah maju, namun mundur kembali karena malu dan juga ragu. Pasal nya itu pertama kali nya, dia mencium wanita selain ibu nya.
Nisa menunduk Malu dengan wajah memerah, saat mendengar sorak sorai semua orang saat melihat Umar urung mengecup kening Nisa.
'' Woy, Lo mau nyium gak? Kalau nggak, biar gw aja sini!'' ledek Amal, membuat semua orang tertawa
Plak
Umar menggeplak lengan Amal dengan keras, di sertai tatapan tajam yg menusuk jantung.
Sedangkan semua orang terkekeh, melihat ke ambsrudan 2 sahabat itu.
'' Ayo, Kak! Cium Nisa nya?'' ucap Hawa menimpali.
Umar maju hendak mencium Nisa, bahkan bibir nya sudah monyong. Namun kembali memundurkan wajah nya, membuat semua orang gemas
Cup
Amal mendorong punggung Umar, hingga akhirnya Umar terdorong ke depan dan mencium kening Nisa.
Semua bertepuk tangan, dengan tawa nya. Sedangkan Nisa dan Umar sudah merona malu karena kejadian tadi.
Walaupun hal itu lumrah bagi sepasang pengantin baru. Tapi, tidak dengan Nisa dan Umar. Sebab itu pertama bagi mereka.
'' Kelamaan Lo...'' ucap Amal
'' Ya, tapi jangan dorong juga paijo.'' ketus Umar
'' Lah, bibir Lo gak bakal jontor ini? Yg ada nih, bibir nya Nisa yg jontor karena abis Lo lahap? Hahahaha.......'' ledek Amal
Plak
Umar menggeplak kepala Amal. Membuat pria itu menatap tajam ke arah Umar.
__ADS_1
'' Lo seneng banget geplak kepala gw? Kalau gw geger otak gimana?''
'' Bodo! Biar Lo lupa, kalau Lo itu pernah hidup.''
'' Sudah, sudah! Kalian malah berantem? Umar, kamu sungkeman sama orang tua kamu, dan juga mertua kamu.'' ucap Ummi menengahi
Umar mengangguk, lalu dia dan Nisa pun sungkeman, meminta restu pada kedua orang tua mereka.
🌼
🌼
Saat Ini Umar dan Nisa sedang berada di atas pelaminan, untuk menyalami para tamu undangan.
Acara akan di gelar sampai sore hari, sebab Umar memang sengaja tak mengambil pesta sampai malam. Dia gak mau sampai Nisa kelelahan nanti nya.
Hingga tak terasa waktu pun cepat berlalu, kini sudah waktunya Nisa mengganti gaun pengantin nya. Sebab hari sudah maghrib dan pesta sudah usai.
Hanya tenda dan sound sistem masih ada di sana. Dan beberapa orang masih ramai.
Nisa mengganti baju nya di bantu oleh Hawa.
'' Wa, euum.... Aku mau nanya sesuatu?'' ucap Nisa ragu.
'' Apa itu? Jangan bilang kamu mau nanya, soal malam nanti?'' tebak Hawa
Nisa menggaruk kepala nya, dan memperlihatkan deretan gigi putih nya. Hawa yg melihat itu hanya terkekeh kecil.
'' Aku gugup nih!'' ujar Nisa
'' Kamu rilex aja! Awalnya memang sakit, tapi lama lama nggak kok! Malah, kamu akan terbang ke awang awang.'' jelas Hawa
Nisa mencubit pelan lengan sahabat nya itu.
'' Kamu mah, malah ngeledek? Aku serius, gugup nih?'' jujur Nisa lagi
'' Aku serius! Kunci nya, hanya rilex dan rasakan.''
'' Eeumm... aku.....''
'' Aku tahu, kalau kamu gugup! Shalat lah sebelum berhubungan! Semoga Allah menitipkan zuriat di dalam rahimu?'' ucap Hawa lalu berlalu keluar dari kamar Nisa.
Nisa menarik napas nya dengan panjang, lalu membuang nya secara perlahan.
'' Aku harus bisa, tapi aku benar benar gugup!'' gumam Nisa sambil menutup wajah nya dengan bantal.
Hawa melangkah ke arah Ikbal, Ummi dan Abi yg sedang mengobrol di ruang tamu.
'' Mas, kita pulang yuk! Aku cape.'' ajak Hawa
Ikbal menatap Istrinya, terlihat jelas jika Hawa sangat lelah. Bahkan mata nya terlihat sangat kelelahan. Karena saat ini Hawa memakai cadar, jadu hanya bagian mata nya saja.
'' Ayo, sayang! Tapi kita pamit dulu yuk, sama Orang Tua Nisa.'' ucap Ikbal
Hawa mengangguk lalu mereka pun melangkah ke arah orang Tua Nisa, di ikuti Ummi, Abi dan Ibu nya Hawa. untuk pamit.
__ADS_1
Setelah itu mereka pun melenggang keluar dari rumah Nisa, dan masuk kedalam mobil. Hawa merasa badan nya sangatlah letih. Karena seharian ini, dia cukup sibuk, walaupun tak mengerjakan yg berat berat.
Bersambung......