Menjadi Yang Ketiga

Menjadi Yang Ketiga
Tanda Keseriusan ku


__ADS_3

Happy Reading😘😘


Ikbal baru saja sampai di rumah kontrakan Hawa, namun tidak dengan Nisa dan Umar. Mereka masih terjebak hujan di pasar.


Hawa segera ke dapur dan membuatkan suaminya kopi latte. Setelah jadi Hawa membawa nya ke ruang tengah.


Disana sudah ada Raisya yg duduk dan tak jauh darinya ada Ikbal. Hawa menaruh kopi itu di depan Ikbal.


'' Di minum dulu Mas, biar badan nya hangat!'' ucap Hawa


Ikbal mengangguk, lalu mengambil cangkir kopi itu. '' Makasih, ya sayang!''


'' Sama sama Mas.''


Hawa melihat Raisya yang sedang duduk, sambil memegang ponsel nya. Kemudian Hawa mendekat ke arah Raisya, Hawa pikir mungkin Raisya ingin menelpon seseorang.


'' Apa ada yg ingin kamu telpon?'' tanya Hawa sambil memegang lengan Raisya.


'' Iya, aku mau menelpon Ansel! Dia calon suamiku. Aku mau, mengabari tentang keadaan ku!'' ujar Raisya dengan tatapan lurus.


'' Boleh aku bantu?'' izin Hawa


Raisya mengangguk, lalu menyerahkan ponsel nya pada Hawa. Kemudian Hawa membuka ponsel itu.


'' Nama nya siapa?'' tanya Hawa sambil mencari kontak.


'' Ansel Aderson...'' jawab Raisya.


Hawa mencari nama Ansel Aderson, dan ternyata ada di aplikasi hijau. Hawa langsung melakukan panggilan suara, agar Raisya dan Ansel bisa saling bicara.


Setelah tersambung, Hawa menyerahkan ponsel itu pada Raisya. Dan Raisya segera menempelkan ponsel nya di telinga.


Hawa kembali duduk di samping Ikbal.


Mereka berdua memperhatikan Raisya yg sedang menelpon kekasih nya tersebut. Terlihat jika Raisya terisak saat memberitahukan keadaan nya pada Ansel.


Hawa dan Ikbal tak dapat mendengar apa yg Kekasih Raisya ucapkan. Sebab Hawa tak melouspeker suara nya.


Bagi Hawa itu adalah sebuah Privasi, untuk Raisya.


Setelah telpon terputus, Hawa mendekat kembali ke arah Raisya dan mengusap bahu wanita itu.


Hawa sangat paham, jika keadaan Raisya sekarang sangat lah membuat nya prustasi. Pasti Raisya sangat sedih, karena penglihatan adalah sesuatu yg penting bagi seluruh manusia.


'' Sya, aku sudah diskusi sama Nisa! Dia akan menemani kamu, untuk tinggal di apartemen kamu.'' ucap Hawa.


Raisya tersenyum. '' Makasih ya, Wa! Kamu dan keluarga kamu sungguh sangat baik, sama aku! Entah dengan apa, aku bisa membalas perbuatan baik kalian! Tapi..... Maaf, sepertinya aku gak bisa, Wa.''


'' Kenapa?''


'' Ansel akan segera menikahi aku, dan nanti aku akan tinggal di Kanada sambil mencari pendodnor mata ku!'' tutur Raisya.


'' Apa kamu yakin?''

__ADS_1


'' Iya, sangat yakin! Aku gak mau selalu merepotkan kalian, terus menerus.'' ucap Raisya.


'' Ya allah, aku gak merasa di repotkan Sya! Begigu pun dengan keluargaku?'' jawab Hawa, karena memang dia tak merasa di repotkasa sama sekali.


'' Memang Ansel, pria yg baik?'' tanya Ikbal membuka suara.


'' Iya, aku mengenal nya sudah 7 tahun. Dia sahabat ku, namun baru beberapa bulqn kami pacaran!'' jelas Raisya.


Ikbal dan Hawa pun tak bisa memaksa Raisya, karena itu semua keputusan Raisya. Dah hidup nya juga.


'' Baiklah, jika itu keputusan kamu! Aku do'akan agar kamu selalu bahagia, bersama Ansel...'' ujar Hawa


'' Aamiin.....''


🌼


🌼


Malam hari hujan masih mengguyur bumi, sepertinya hujan memang akan awet sampai pagi, soalnya sudah memasuki musim hujan juga.


Saat ini Ikbal dan Hawa sedang ada di dalam kamar nya, Ikbal baru saja selesai megerjakan pekerjaan nya.


'' Nih, Mas. Aku buatin kamu Wedang jahe, supaya badan kamu hangat!'' ucap Hawa sambil menaruh wedang jahe itu di meja.


'' Makasih sayang!''


Hawa mengangguk, lalu duduk di samping Ikbal yang sedang meminum wedang buatan Hawa.


'' Oh, berarti aku kasih airnya kurang panas ya?'' jawab Hawa dengan nada bersalah.


'' Nggak, sayang. Aku hanya butuh yg lebih hangat lagi....''


'' Apa itu?'' bingung Hawa.


Ikbal mendekat ke arah Hawa, dan itu membuat Hawa sedikit gugup.


'' Aku mau kamu....'' bisik Ikbal di telinga Hawa.


Pipi Hawa langsung memerah malu, mendengar ucapan Ikbal. Memang mereka baru melakukan nya pas malam pertama saja, selebih nya mereka tak melakukan nya lagi.


Soalnya Hawa masih terpukul dengan kepergian Alwi yg mendadak itu. Dan Ikbal paham dengan keadaan istrinya saat itu. Kini Ikbal meminta hak nya kembali.


'' Gimana? Boleh?'' tanya Ikbal dengan lembut.


Hawa mengangguk malu, dia tak mungkin menolak ajakan suaminya.


Ikbal yg melihat jawaban Hawa, segera menggendong tubuh istrinya itu ke atas ranjang, lalu mendudukan nya.


Dengan perlahan Ikbal membukan jilbab Hawa, tangan kekar nya membelai wajah mulus Hawa dengan lembut dan penuh cinta.


Kemudian jari telunjuk Ikbal mengangkat dagu Hawa, karena sedari tadi wajah cantik itu terus menunduk malu.


Kedua pasang netra tersebut saling menatap satu sama lain. Ikbal semakin mendekat dan mengikis jarak sampai akhirnya bibir keduanya menyatu.

__ADS_1


Ikbal melakukan penyatuan bibir itu dengan lembut dan penuh rasa. Lama lama cium*n itu semakin panas dan menuntut.


Hingga tak terasa kedua nya kini sudah tak memakai pakaian sehelai pun. Ikbal mulai menyatukan tubuh nya pada tubuh Hawa, dengan sangat hati hati dan penuh kelembutan.


Dengan 2 kali hentakan, tubuh keduanya sudah menyatu dalam hangat. Peluh pun menetes deras seirama dengan permainan tubuh Ikbal, membuat Hawa memejamkan mata nya.


Kedua nya mengarungi nikmat nya kehangatan di bawah guyuran hujan, yg begitu dingin dan menusuk tulang.


🌼


🌼


🌼


Di kamar yg lain, Nisa tak bisa tidur sebab dia masih terbayang dengan kejadian di pasar tadi, dimana Umar membelikan nya cincin untuk lamaran nanti.


Flasback off.


Nisa dan Umar baru saa sampai di pasr setelah mereka nekat menerobos hujan yg masih turun, walaupun tak begitu deras seperti di awal.


Mereka masuk kedalam pasar, dan mulai belanja apa apa yg di butuhkan.


'' Sudah Kak, kita pulang yuk!'' ajak Nisa setelah mendapatkan apa yg di beli.


'' Tunggu! Kita kesana dulu...'' ucap Umar sambil menarik tangan Nisa.


'' Kita mau apa kesini Kak?'' bingung Nisa saat Umar membawa nya masuk kedalam sebuah toko emas.


'' Pilihlah cincin yg kamu suka! Aku mau membelikan nya untuk kamu...''


Nisa bengong mendengar ucapan Umar. Netra nya menatap Umar dengan pandangan tak percaya.


'' Kakak serius? Tapi buat apa?''


'' Aku ingin membelikan nya, untuk membuktikan keseriusan ku sama kamu!'' jawab Umar


'' Tapi....'' Nisa merasa tak enak jika Umar membelikan nya cincin.


'' Sudah, pilih saja! Itu sebagai bukti cinta aku sama kamu..''


Nisa yg mendengar itu tersenyum malu, lalu mengangguk pelan. Kemudian dia memilih 1 cincin yg di tengah tengah nya ada permata putih.


Flasback On


Nisa tersenyum sambil mengusap cincin dinjari manis nya, untung saja Raisya buta. Mungkin jika tidak, maka Nisa sudah di ledek nya.


' Makasih ya allah, sudah memberikan Nisa jodoh sebaik Kak Umar! Nisa hanya berharap, agar semua di lancarkan sampai hari H nanti, Aamiin...' batin Nisa.


Kemudian dia menutup mata nya dengan senyum yg masih terlukis indah di wahjah nya.


Bersambung......


Begitu ya kalau orang lagi kasmaran😍senyum senyum gak jelas😅😂😂

__ADS_1


__ADS_2