Menjadi Yang Ketiga

Menjadi Yang Ketiga
Rencana Melamar


__ADS_3

Happy Reading๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


BUDAYAKAN LIKE SEBELUM BACA YA๐Ÿ˜˜


Jam menunjukan pukul 02.00 pagi. Hawa tak bisa tidur dengan nyenyak. Dia bangun dan mendudukan tubuhnya di atas sofa.


Sedangkan Ikbal suaminya sudah tidur dengan posisi duduk di sofa tunggal. Sedangkan Hawa di sofa panjang.


Hawa mengeluarkan ponsel nya dan menatap seluruh foto foto kenangan nya bersama Alwi. Dia sangat merindukan anak kecil nan tampan itu.


Wajar bagi seorang ibu merindukan sang anak, karena walau bagaimana pun, mereka lahir dari rahim nya. Hawa merasakan bagaimana perjuangan nya mengandung, ngidam, mual muntah, hingga melahirkan.


Bagaimana ia juga bergadang, saat Alwi menangis dan rewel setiap malam. Selalu Hawa nikmati setiap proses nya.


Namun siapa sangka, jika momen itu hanya sebentar saja untuk dia rasakan dan nikmati. Allah sudah lebih dulu mengambil Alwi darinya.


Semoga allah, selalu meyayangimu nak! Semoga kamu bahagia bersama Papa dan Mama Syifa di sana.batin Hawa


Ikbal menggeliat saat mendengar isak tangis seseorang. Dan saat dia membuka mata Ikbal melihat Hawa sedang menangis sambil melihat ponsel nya.


'' Sayang, kamu kenapa?'' tanya Ikbal saat duduk di samping Hawa.


'' Aku kangen Alwi, Mas..'' lirih Hawa


Ikbal mengusap air mata Hawa, lalu menarik lembut tubuh istrinya dalam dekapan hangat tubuh Ikbal.


'' Mas tahu apa yg kamu rasakan saat ini, namun percayalah sayang! Alwi disana sudah bahagia.''


'' Iya Mas, aku hanya rindu saja pada Alwi?''


'' Mas tahu, Mas juga sama sayang! Lebih baik sekarang kamu tidur, kamu belum tidur kan?'' ucap Ikbal sambil mencium pucuk kepala Hawa.


Hawa mendongkak, lalu menggeleng pelan.


'' Aku gak bisa tidur!''


Cup


Ikbal mengecup kening Hawa, membuat wanita shalihah itu memejamkan mata nya, meresapi hangat dan lembut nya bibir Ikbal di kening nya.


Lalu Ikbal membaringkan tubuh Hawa dengan kepala di paha nya, sebagai bantalan.


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


Pagi ini Hawa selepas shalat subuh, dia pergi mencari sarapan sama teh hangat untuk sarapan Nisa dan Ikbal.


Setelah keluar dari rumah sakit, Hawa melihat ada penjual nasi uduk. Lalu dia pun membeli nasi itu 3 baungkus, sedangkan minum nya Hawa beli di kantin.


'' Mas, Nis makan dulu yuk!'' ajak Hawa


'' Waaah, apa ini Wa?'' tanya Nisa


'' Nasi uduk! Makan dulu Yuk!''


''Loh, kamu gak makan?'' tanya Ikbal saat melihat Hawa berjalan ke arah ranjang.


'' Aku mau nyuapin Raisya dulu Mas, kamu sama Nisa duluan saja!'' ucap Hawa


Lalu dia duduk di sisi ranjang, memegang mangkok di tangan nya.

__ADS_1


'' Sya! Kamu makan dulu ya! Nanti minum obat.'' ujar Hawa


'' Kamu duluan saja Wa! Aku gak papa, sendiri saja!'' jawab Raisya tak enak, sebab harus merepotkan Hawa.


'' Gak papa! Ayo buka mulut nya, kamu harus makan banyak Sya! Supaya kamu bisa cepet sembuh.''


'' Bagaimana aku mau sembuh Wa! Mataku sudah buta.'' ucap sedih Raisya.


'' Sya, aku yakin kamu bisa sembuh! Hanya saja, kita harus mencari pendonor buat kamu.''


'' Tapi siapa?''


'' Pasti ada! Kita hanya perlu bersabar!'' jawab Hawa


Risya mengangguk, walau dalam hati nya dia merasa mustahil, jika ada yg mau mendonorkan mata untuk nya.


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


2 hari sudah Hawa berjaga bergantian bersama Nisa untuk menjaga Raisya. Kini Raisya sudah di perbolehkan pulang. Namun Raisya bingung, sebab ia harus pulang kemana di surabaya.


Di tambah Raisya sudah tak bisa menjalankan pekerjaan nya dahulu sebagai dokter. Dia minta cuti sampai penglihatan nya kembali pulih.


Hawa membawa pulang Raisya ke kontrakan nya, lalu setelah sampai Raisya langsung istirahat di kamar Nisa.


'' Wa! Bagaimana dengan Raisya? Dia kan sudah gak punya keluarga? Di tambah kondisinya saat ini lagi seperti itu?'' tanya Nisa


'' Aku juga bingung, Nis?'' jawab Hawa.


'' Dek! Jangan karena kasihan, kamu biarkan dia tinggal bersama kamu! Dan akhirnya menyuruh Ikbal menikahi dia?'' tegas Umar


Ibu yg mendengar itu segera mencubit lengan Umar.


'' Ya gimana gak ibu cubit? Lah, kamu kalau ngomong semprul?''


'' Lah, kan aku ngomong bener! Wanti wanti saja Buk!''


'' Nggak akan Kak! Aku gak mau di madu lagi?'' ucap Hawa


'' Syukur lah....'' lega Umar.


'' Tunggu! Raisya bilang kan, dia punya apartemen di jakarta? Dan selama dia kerja di rumah sakit, dia kan tinggal di apartemen!'' ujar Hawa saat mengingat nya.


'' Iya, aku juga denger gitu!'' jawab Nisa


'' Kalau gitu, gini saja! Nis, kamu temenin Raisya tinggal di apartemen nya, ya?'' usul Hawa


'' Kalau aku mah mau saja! Tapi, apa Raisya nya mau?'' ujar Nisa


'' Ya, nanti aku coba tanya ke Raisya....'' ucap Hawa


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


Siang ini Hawa sedang membantu Ibu nya untuk makan siang, sedangkan Ikbal pamit untuk memantau pekerjaan nya yg masih ada di kota itu.


Hawa membuka kulkas, dan ternyata tak ada tomat dan buah buahan.


'' Kak Umar, boleh minta tolong gak?'' tanya Hawa saat Umar sedang menonton tv

__ADS_1


'' Apa?''


'' Tolong anterin Nisa buat beli tomat, dan buah buahan di pasar!'' ucap Hawa


'' Nisa nya mana?'' tanya Umar


'' Itu sedang bersiap siap! Tadi Hawa sudah bilang kok.''


Hawa memang sudah bilang tadi sama Nisa, saat Nisa kebetulan ada di dapur.


Tak lama Nisa keluar dari kamar nya, dan mereka pun keluar menggunakan motor matic yg biasa Nisa gunakan untuk ke pasar.


Motor meninggalkan rumah kontrakan, melaju dengan kecepatan sedang menuju pasar yg biasa Nisa tempuh 20 menit.


Namun naas, di tengah jalan hujan turun tanpa ada miskol terlebih dahulu.


Nisa dan Umar terpaksa meneduh di deoan ruko yg tutup di pinggir jalan.


'' Kenapa hujan? Bukan nya tadi panas ya?'' bingung Nisa


'' Jangan nyalahin hujan, gak baik!'' timpal Umar


'' Gak nyalahin Kak! Hanya bingung saja, hujan turun tiba tiba. Kenapa gak miskol dulu? Kasih tau kalau dia mau turun? Kan aku bisa siapin jas hujan tadi!'' ucap amsrud Nisa.


Umar terkekeh geli mendengar ucapan Nisa.


'' Kamu ada ada aja? Mana ada hujan Miskol? Emang nya, dia bisa megang Ponsel?'' ucap umar dengan kepala menggeleng heran.


'' Hehe.... Ya kan bisa miskol, pakai geludug atau langit mendung gitu, kak?''


Nisa melihat hujan begitu deras mengguyur bumi, seperti akan lama untuk berheti.


Tak ada lagi obrolan di antara mereka berdua, hingga Umar akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


'' Nis...'' panggil Umar


'' Iya, kak...''


'' Eum... Itu... Anu.....''


Nisa mengerutkan dahi nya saat mendengar Umar, begitu ragu untuk berucap.


'' Apa Kak? Itu, anu, apa?''


'' Kapan kamu kenalin, Kakak sama orang tua kamu?'' tanya Umar dengan santai.


Tapi aslinya, hati Umar sedang bergemuruh hebat.


'' Oh, eum itu... Ya, kalau aku sih, terserah Kakak?'' jawab Nisa dengan kepala menunduk.


Nisa berusaha menyembunyikan kegugupan dan rona merah di wajah nya.


'' Maksud kamu? Kamu nunggu aku melamar kamu?'' tanya Umar memastikan.


'' Ya, kan semua ada pada Kakak! Kalau Kak Umar berani, ya kerumah saja! Nanti Nisa akan pulang.'' jawab Nisa dengan malu malu.


'' Kalau gitu, aku akan melamar kamu secepat nya!''


Nisa mendongkak menatap Umar, lalu kembali menatap lurus ke depan.


" Emang kapan, Kakak akan kerumah?" tanya Nisa dengan jantung berdebar.


" Setelah pulang dari surabaya..."jawab Umar


Nisa merasakan hati nya begitu bahagia, saat mendengar Umar mengatakan itu. Nisa rasanya sudah tak sabar, menantikan hari itu.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2