Menjadi Yang Ketiga

Menjadi Yang Ketiga
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


__ADS_3

Happy Reading😘😘


Sesampai nya jenazah Ayah Hawa di rumah, para tetangga segera membantu untuk persiapan pemandian jenazah dan penguburan nya. Amal yg mengurus bahkan melapor pada RT tentang kematian Ayah sahabat nya itu.


Sebenar nya Amal ada di rumah sakit tadi saat Adam telpon, hanya saja dia harus pulang karena suatu urusan. Dan ponsel Amal di kasih pada Umar, takut ada yg urgent jadi bisa telpon.


Dan benar saja, baru saja Amal sampai rumah nya, Umar sudah menelpon dan mengabarkan jika Ayah nya sudah tidak ada. Amal dan ibu nya tentu saja sangat syok mendengar kabar itu. Dan Umar juga bilang bahwa Umar sedang dalam perjalanan.


Bi Sri, segera menyuruh Amal untuk melapor pada pak RT sementara itu, Bi Sri kerumah kakak nya Ibu Hawa yg berada di depan rumah Hawa untuk memberitahukan kabar duka tersebut. Amal dan seluruh warga membantu mempersiapkan pemakaman Ayah nya Hawa.


Amal melihat Umar duduk di pojok rumah nya sambil menatap lurus ke arah jenazah sang Ayah, Amal tentu sedih saat melihat sahabat nya sedang berduka. Tentu Amal tahu jika Umar sangat dekat dengan sang Ayah selama ini, karena Umar adalah anak tertua juga.


''Bro, yg sabar ya! Kita do'a kan saja, supaya Om Ali di terima di sisi Allah dan di tempatkan di syurga nya.'' ucap Amal sambil menepuk pundak Umar.


''Gw gak nyangka Mal, gak pernah menyangka! Padahal baru tadi pagi, Ayah bilang akan pulang membawa bakso buat Ibu dan Putri, dan senyum itu masih terkukis di wajah nya! Tapi ternyata Allah berkehendak lain.'' lirih Umar dengan air mata yg mulai menetes.


Sekuat kuat nya Umar, dia hanya manusia biasa. Dia bisa menangis saat sudah tak mampu lagi membendung nya. Umar mencoba kuat di hadapan semua orang, termasuk ibunya namun Umar ternyata tak bisa, rasa sakit yg begitu dalam meruntuhkan pertahanan Umar.


Amal segera memeluk tubuh sahabat nya, menepuk pundak Umar mencoba menguatkan sahabat terbaiknya itu. '' Sabar Mar, gw tahu ini berat! Tapi gw yakin jika Ayah Lo, pasti lebih sedih saat melihat Lo begini? Ingat, Lo anak tertua! Lo sekarang pengganti Ayah Lo Mar. Lo, sekarang menjadi tameng bagi keluarga Lo! Ayo Mar, bangkit! Tersenyum dan kuatlah demi keluarga Lo.


Gw yakin Ayah Lo pasti ingin Lo menggantikan nya menjadi kekuatan di keluarga ini? Lihat, lihat ibu dan Adik Lo! Mereka begitu terpukul Mar, mereka butuh kekuatan Lo saat ini? Apalagi Hawa, dia bahkan lebih terpukul saat ini? Sebab dia adalah putri kesayangan bokap Lo? Bangkit Mar, gw selalu ada di sini buat Lo! Gw yakin, Lo mampu dan kuat melewati ini. Menangis boleh, tapi jangan terpuruk.'' Jelas Amal memberi suport pada sahabat nya itu.


Umar menatap Amal dengan tatapan yg sulit di artikan. Dia benar benar beruntung memiliki sahabat sebaik Umar, yg selalu ada untuk nya di saat suka maupun duka.


Amal benar, aku harus jadi kekuatan bagi keluargaku! Aku harus bangkit dan gak boleh lemah. Ibu dan adik adiku membutuhkan ku saat ini. Ayoo Umar, ikhlaskan Ayah, dan kuatlah.


'' Mal, Lo telpon Adam. Tanyakan keadaan adek Gw?''


'' Sudah, tadi gw sudah telpon Adam! Dan katanya lagi di jalan, paling bentar lagi sampe.''

__ADS_1


Umar mengangguk, lalu maju ke depan dan memeluk sang ibu dan adik kecil nya. Umar mencoba memberikan kekuatan pada keluarga nya itu.


'' Bu, Dek! Ikhlaskan Ayah ya! Ingat kata terakhir Ayah, dia gak mau kita menangis.'' ucap Umar.


'' Bu, Umar janji. Mulai sekarang Umar akan menjaga ibu dan Putri, Umar akan mengurus ladang Ayah! Umar yg akan menggantikan posisi Ayah sebagai kepala keluarga.'' ucap Umar sambi menggenggam tangan sang ibu.


Ibu yg mendengar ucapan anak sulung nya itu, segera menghambur memeluk tubuh Umar. Dia benar benar beruntung memiliki anak seperti Umar, anak yg begitu baerbakti pada kedua orang tua nya.


Kemudian mereka pun mengaji untuk sang Ayah tercinta, dan air mata kembali membasahi pipi bahkan sampai menetes ke atas al qur'an.


Hawa yg baru saja sampai segera membuka pintu mobil dan melihat banyak nya warga yg berada di halaman rumah Hawa. Mereka semua tetangga dekat Hawa, Adam yg melihat Hawa keluar segera menghampiri istrinya itu.


'' Sayang, kamu kan masih lemes?'' ucap Adam sambil memegang bahu Hawa.


'' Aku mau melihat Ayah Bang!'' Jawab Hawa.


'' Iya, tapi pelan pelan.''


Saat di depan pintu Hawa melihat Ibu, kakak dan adik nya sedang mengaji dan terisak di hadapan badan yg sudah terbujur kaku dengan di tutup kain jarik itu. Hawa berharap itu hanyalah mimpi buruk, dan dia berharap jika dia akan segera bangun.


Namun seberapa kuat pun Hawa menolak nya, itu tak akan merubah keadaan. Ayah nya memang sudah tiada dan pergi untuk selama nya. Hawa merasakan lemas di kaki nya, untung Adam memegang pundak nya hingga tubuh Hawa tak luruh kelantai.


'' Sayang, biar Abang bantu ya!'' ucap Adam


Hawa menggeleng. '' Lepasin Adek Bang, adek mau ke Ayah.'' pinta Hawa sambil menepis tangan Adam di pundak nya.


Hawa berjalan dengan perlahan mendekati jenazah sang Ayah, dengan air mata yg sudah tak berhenti mengalir dari kedua mata nya. Bahkan wajah nya sudah pucat karena dehidrasi.


Umar dan Ibu menoleh saat melihat Hawa berjalan ke arah nya. Umar bisa melihat raut keputusasaan dan kesedihan yg mendalam dari sorot mata Hawa, sebab Umar juga merasakan itu.

__ADS_1


Hawa duduk di sebelah samping kepala sang Ayah, dengan gemetar Hawa membuka penutup kain di wajah sang Ayah. Air mata nya kian deras mengalir, hingga saat penutup itu terbuka Hawa benar benar tak bisa membendung isakan pilu nya.


'' Ayahh..... Hawa rindu, jangan tidur yah! Hawa belum siap hiiikkss, hhiiiikksss. Hawa butuh Ayah..''' lagi lagi tangis Hawa pecah


Umar yg melihat itu segera memeluk sang Adik, dia mencoba menguatkan sang adik.


'' Dek, tegar dek, kuat. Ikhlaskan Ayah.'' ucap Umar dengan suara yg begitu serak.


'' Kak, Hawa hanya berharap ini sebuah mimpi yg buruk! Hawa mau bangun kak, Hawa mau bangun...'' gumam Hawa.


'' Istighfar Nak, kita relakan Ayah.'' timpal Ibu.


Hawa menangis di pelukan sang Kaka, dia benar benar tak sanggup. Saat Uwa Hawa akan menutup kembali kain di wajah sang Ayah, tiba tiba Hawa menghentikan nya.


'' Jangan Uwa, Hawa ingin melihat wajah Ayah untuk terkhir kali nya! Biarkan Hawa mengenang wajah Ayah, yg akan Hawa rindukan setelah ini.'' pinta Hawa


Uwa pun tak jadi menutup kain itu. Lalu Hawa menghapus air mata nya, walau masih saja menetes. Dia maju dan mengecup dahi sang Ayah, dan kedua pipi nya juga.


'' Terimakaaih untuk segalanya Yah! Terimakasih, sudah menjadi pahlawan bagi Hawa selama ini, terimakasih sudah menjadi tameng bagi kami. Terimakasih sudah menapkahi kami dengan rezeki yg halal. Terimakasih untuk semua jasa Ayah, yg senantiasa berjuang demi kebahagiaan kami.


Ayah tak pernah mengeluh saat Ayah lelah. Ayah adalah pahlawan ku, pahlawan tanpa tanda jasa. Ayah adalah pangeran pertamaku, dan Ayah akan selalu ada di hatiku. Mungkin selama ini Hawa punya salah sama Ayah, maafkan Hawa Yah, maafkanlah Hawa yg terkadang suka membantah Ayah! Maafkan Hawa yg belum bisa bahagiain Ayah selama ini, Maafkan Hawa Yah, hiiikkkss. Hawa akan selalu merindukan Ayah, akan...


Hawa berdo'a agar Allah menempatkan Ayah di syurga nya, Hawa akan selalu mengirimi Ayah penerang di alam sana! Hawa akan selalu meminta pada Allah, agar Allah mengharamkan api neraka bagi Ayah! Hawa sayang Ayah hiiikkss, sangat sayang... Maafkan Hawa Yah, maafkan Hawa. Terimakasih untuk semua didikan yg selama ini Ayah ajarkan pada Hawa dan semua anak Ayah, kami akan selalu mengingat pesan pesan yg Ayah ucapkan selama ini. Do'akan Hawa juga supaya kelak, kita akan di satukan dalam syurga nya....'' lirih Hawa di samping telinga sang Ayah.


Semua yg mendengar itu menangis pilu, mereka seakan merasakan kepedihan yg Hawa rasakan saat ini. Bagitu pun dengan Ikbal, dia menatap Hawa dengan perasaan pilu. Dia sakit saat melihat Hawa begitu terpukul.


Kasihan kamu Wa, ujian hidup masih saja allah berikan kepadamu! Aku berdo'a agar Allah kuatkan hatimu dalam melewati setiap ujian nya.


Bersambung........

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN FAV NYA GUYS😘😘TERUS DUKUNG HAWA DAN ADAM YA💪😍


__ADS_2