Menjadi Yang Ketiga

Menjadi Yang Ketiga
Perubahan


__ADS_3

Happy Reading.


Nisa keluar dari kamar Hawa setelah 1 jam lama nya di dalam sana, saat dia keluar Nisa melihat Adam sedang duduk melamun tak jauh dari ketiga pria yg sedang main game, dengan tatapan kosong.


Kemudian Nisa duduk di sebelah Adam, lalu menepuk pundak Adam hingga terjingkat kaget. Adam menoleh ke arah Nisa dengan tatapan kesal. '' Apaan sih Nis, kenapa ngagetin?'' kesal Adam.


Nisa tersenyum miring, lalu berbisik pada Adam. ''Hey, Dam. Dengar ya! Jika kau berniat untuk menyakiti Hawa kembali, maka lebih baik kau lepaskan saja! Laki laki yg baik itu, tak akan pernah menyakiti perempuan nya apalagi kau sudah berjanji di hadapan Ayahnya?'' bisik Nisa dengan nada menekan.


Adam membualtkan mata nya, memicing menatap Nisa dengan tatapan bingung, dia belum paham apa maksud Nisa.


'' Maksudmu?'' tanya Adam.


Nisa terkekeh. '' Aku yakin, kau tak bodoh? Jangan pernah bermain api, jika kau tak mampu memadamkan nya.'' setelah mengatakan itu, Nisa kemudian beranjak pergi ke dapur.


Adam menatap kepergian Nisa, dia masih termangu oleh ucapan gadis itu. Ucapan Nisa seolah mengetahui tentang Raisya, tapi Adam merasa tak pernah memberitahukan nya pada Nisa maupun Hawa, hanya Ummi nya Syifa saja.


Apa Ummi mengatakan nya pada Nisa? Ah, rasanya tak mungkin. Ummi kan sudah berjanji padaku?


Adam bingung dengan ucapan Nisa, tapi dia segera menepis semua itu. Adam berpikir jika Nisa mungkin hanya mewanti wanti saja. Lalu dia pun berdiri dan masuk ke kamar Hawa, saat pintu terbuka Adam melihat Hawa sedang memainkan Hp nya, kemudian dia duduk di samping Hawa. Namun Adam merasa ada yg berbeda, Hawa diam saja saat dia duduk.


Biasanya Hawa akan memanggil nya, atau hanya sekedar menoleh dan tersenyum, namun Hawa cuek seperti tak terganggu dengan kedatangan Adam. Adam yg penasaran segera melihat layar Hp nya, dan ternyata Hawa sedang membaca sebuah Novel kesukaan nya.


Pantas saja cuek, dia lagi pokus sama novel nya ternyata?


Ting


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Adam, lalu ia segera merogoh saku celana nya dan membuka ponsel nya. Dan ternyata pesan itu dari Raisya. Tiba tiba dengan tak sadar Adam menarik sudut bibir nya, dan semua itu di lihat oleh Hawa.


[ Hay, Dam! Apa aku mengganggu? ] Raisya.


[ Tidak kok, kenapa Sya? ]


[ Kamu pulang kapan ke kota? ]


[ Eum, besok sore! Emang kenapa? ]


[ Gak papa, hanya gak ada kamu rasanya sepi saja sih? Gak ada yg seseru kamu ]


[ Kamu ini, kan banyak dokter di sana? Ada banyak suster juga? ]


[ Iya, tapi aku mau nya ngobrol sama kamu ]


[ Maksudnya? ]

__ADS_1


[ Ah, tidak ada! Kamu cepat balik ya, dan hati hati di jalan bye. ]


Adam tak membalas pesan terakhir Raisya, bibir nya terangkat saat Raisya mengatakan jika dia hanya ingin dirinya.


Hawa melihat gerak gerik suaminya, Hawa tadi sedikit melirik kearah hp Adam, dan tadi dia melihat nama Raisya, namun tak terlalu jelas memang. Tapi Hawa yakin itu adalah perempuan.


'' Bang.'' panggil Hawa.


'' Iya, kenapa sayang?''


'' Abang lagi chating sama siapa?'' selidik Hawa


'' Owh, ini sayang, aku....Aku lagi chat sama temen dokter ku!'' jawab Adam sedikit gugup.


Hawa bisa melihat kebohongan di mata Adam, tapi Hawa tak mau suudzon dulu pada suami nya itu. '' Benarkah? Siapa?'' desak Hawa


''Eum, itu, anu, dokter baru yg di pindah tugaskan dari luar negri. Dia bertanya soal kerjaan.'' bohong Adam namun masih ada kejujuran sedikit.


'' Owh, cewek apa cowok?'' tanya Hawa lagi.


'' Kamu kenapa sih? Cemburu ya? Ngaku....'' Adam mencoba mengalihkan pembicaraan.


'' Nggak, kok! Kan wajar saja, kalau Adek bertanya? Cewek apa Cowok?'' desak Hawa lagi.


'' Cewek, sayang.'' jujur Adam


'' Maksud kamu? Abang, gak senyum senyum dek!'' tukas Adam.


Hawa tersenyum miring. '' Abang kayak nya sih gak sadar, saat bibir Abang terangkat.'' jawab cuek Hawa kembali.


Lalu Hawa turun dari ranjang.


'' Kamu mau kemana?'' tanya Adam.


'' Mau ke depan, sumpek dan panas di sini.'' ucap Hawa dengan nada menyindir.


Namun baru saja ia hendak membuka pintu, Hawa berhenti. '' Oh, ya Bang! Hanya mau mengingatkan saja! Jika Abang, berniat punya 2 istri lagi, atau aku sudah tak ada di hati Abang lagi, maka lepaskan aku Bang! Aku berhak bahagia.'' ucap Hawa lalu keluar dari kamar nya.


Ada rasa sesak di dada saat mengucapkan kata kata itu, sejujurnya dia tak sanggup jika harus kehilangan suaminya, namun Hawa tak bisa menolak sebuah takdir yg sudah Allah gariskan pada nya.


Di sisi lain, Adam terpaku dengan ucapan Hawa. Dia mencoba mencerna ucapan istrinya itu.


' Apa maksud Hawa tadi? Kenapa dia bicara seperti itu?' batin Adam.

__ADS_1


Tak terasa air mata Hawa yg di coba di bendung nya akhirnya lolos juga, kemudian dia menghapus air mata nya dengan cepat. Takut jika Umar atau ibu nya melihat Hawa menangis. Namun sayang, Ikbal yg dari arah dapur dan hendak kembali ke dapan melihat Hawa berdiri di depan kamar nya dan menangis.


' Ada apa sama Hawa? Kenapa dia menangis? Apa dia dan Adam sedang bertengkar?' batin Adam dengan heran.


Hawa melangkah ke arah depan, dimana Ummi, Ibu, dan Nisa berada. Kemudian Hawa duduk dekat ibu nya, dan menaruh kepala nya di paha sang ibu. Ibu nya Hawa heran saat melihat Hawa seperti habis menangis, dahi nya mengeryit heran.


'' Nak, ada apa? Kenapa kamu menangis?'' tanyaIbu cemas.


'' Gak papa Buk, Hawa hanya sedih saja soal nya tadi habis baca Novel.'' alibi Hawa


'' Oh, ibu kira kamu kenapa?''


'' Aduh dek, dek. Masa baca novel saja sampe nangis begitu sih?'' ledek Umar.


Namun Hawa hanya tersenyum dan menenggelamkan wajah nya di perut sang ibu, dia merasa nyaman saat kepala nya di usap sang ibu. Hawa bukan nya tak mau jujur tentang masalah nya, hanya saja Hawa tak mau jika ibu dan Kakak nya kepikiran. Lagi pun Hawa belum tahu pasti tentang perempuan itu, dan Adam belum terbukti bersalah. Bisa saja kan jika Adam benar, bahwa wanita itu teman nya.


Ikbal duduk di samping Amal, dia melihat Hawa yg menyembunyikan wajah di perut sang ibu. Ada rasa penasaran di hati Ikbal, tentang menangis nya Haw tadi. Sedangkan Nisa, dia tahu jika Hawa menangis bukan karena Novel, tapi pasti karena Adam.


' Ini pasti gara gara tuh buaya? Awas saja, kalau sampe dia nyakitin Hawa, akan ku bejek bejek dia.' batin Nisa dengan geram.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Hari ini Hawa akan kembali ke kota, dan Nisa pun ikut. Ummi juga akan pulang ke kota, dan dia akan semobil dengan Ikbal. Setelah pamit pada Umar dan ibu nya Hawa, mereka pun pergi meninggalkan kampung nya Hawa.


Tak ada pembicaraan di dalam mobil, semua sibuk dengan pikiran nya masing masing. Hawa yg biasa nya cerewet, kini dia banyak diam. Adam pun sedikit heran dengan istrinya itu. Sudah 2 hari ini Hawa terlihat irit bicara jika bersama Adam, dan itu membuat Adam penasaran.


Hawa sejujurnya tak marah pada suami nya, dia hanya kecewa pada Adam yg tak mau terbuka dan jujur pada nya. Padahal Adam tahu jika Hawa tak suka kebohongan. Adam mencoba menggenggam tangan Hawa, namun Hawa mengelak dengan membenarkan jilbab nya atau mengambil tisu.


'' Sayang, kamu kenapa? Kok, aku perhatikan 2 hari ini kamu beda?'' tanya Adam


''Beda gimana Bang?''


'' Ya beda, kamu seperti irit bicara padaku, dan terkesan menghindariku?''


'' Perasaan kamu aja Bang! Aku hanya masih, teringat sama Ayah.''


'' Sudah ya, kamu ikhlaskan Ayah.''


Hawa mengangguk, lalu memejamkan mata nya. Sedangkan Nisa sudah tidur sejak 30 menit yg lalu, dia memang suka mabok jika tidak tidur.


3 jam perjalanan akhirnya mobil pun sampai di rumah Hawa, sedangkan Ummi dan Ikbal langsung menuju rumah nya. Setelah itu Hawa langsung masuk kedalam rumah nya, dan masuk kedalam kamar. Dia sangat lelah sekali dan langsung tidur.


Adam masuk kedalam kamar dan melihat Hawa tertidur di kasur. Dia mendekat ke arah Hawa dan mengusap kepala nya.

__ADS_1


'' Maafkan Abang ya dek, Abang belum jujur sama kamu! Abang hanya belum siap saja. Abang akan berusaha untuk setia sama kamu, Abang cinta kamu.'' ucap Adam lalu mengecup kening nya Hawa.


Bersambung......


__ADS_2