
Happy Reading😘
Pagi ini Ayah sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Adam yang kemarin sudah kembali ke desa Hawa. Pagi ini menjemput Ayah, bersama Umar. Hawa, tidak ikut. Karena Adam melarang nya, takut jika kandungan Hawa kenapa napa.
Sudah 2 jam Hawa duduk di teras menunggu Sang Ayah. Dia juga memasak sayur di bantu Putri dan Bik Sri. Bik Sri selalu menemani Hawa, selama 1 minggu ini. Sebab ibunya, di rumah sakit untuk menjaga sang Ayah.
Dan Adam, 2 hari sekali menengok mertua nya di rumah sakit. Adam juga, memberikan beberapa uang untuk mertuanya makan, selama di rumah sakit.
Deru mesin mobil terdengar masuk di pekarangan rumah. Hawa yang baru saja akan beristirahat, seketika bangun dan berjalan kearah depan.
Hawa membantu Ayah nya untuk masuk ke kamar. Dia sangat senang, sebab sang Ayah sudah jauh lebih baik. Wajah nya juga sudah tidak sepucat pas pertama Hawa datang.
__________
Kini Hawa harus lembali ke kota, sebab Bik Surti mengabari kalau saat ini Syifa sedang sakit. Dan di rawat di rumah sakit.
Hawa dan Adam pulang lebih pagi. Agar sampai ke kota, tidak terlalu sore. Selama dalam perjalanan Hawa terlihat begitu cemas, dia takut jika madunya kenapa napa.
Adam yang melihat ke khawatiran istri nya, segera menggenggam tangan Hawa. Mengatakan jika semua akan baik baik saja.
Jam 1 siang, mereka sudah sampai di rumah sakit, tempat Syifa di rawat.
Hawa dan Adam segera melangkah ke ruang rawat Syifa. Dan disana, sudah ada Abi, Ummi dan sepasang suami istri. Yaitu Bi Rahma dan suaminya.
Bi Rahma, terlihat tak suka saat melihat Hawa masuk kedalam ruangan itu. Mata nya menatap sinis pada Hawa. Tapi Hawa tak perduli, dia hanya khawatir pada keadaan madunya.
'' Mba, bagaimana keadaan Mba sekarang?'' cemas Hawa.
'' Aku gak papa Wa, gak usah cemas!'' lirih Syifa.
'' Halah, ini kan yang kamu mau? Menyita waktu Adam, dan membiarkan Syifa seperti ini? Kamu sengaja kan? Kamu pasti senang, melihat Syifa terbaring di rumah sakit?'' sinis Bi Rahma
'' Astagfirrullah. Maaf Bi, saya tidak pernah ada sedikitpun niat jahat pada Mba Syifa!'' jawab Hawa.
'' Alah, mana ada maling ngaku! Kamu sengaja kan, alasan Ayahmu sakit. Hanya untuk menyita waktu Adam, agar lebih banyak di kamu. Dan menelantarkan Syifa? Pelakor, ya tetap pelakor.'' ketus Bi Rahma.
Hawa terus beristigfar, hatinya berdenyut sakit. Saat di tuduh seperti itu.
__ADS_1
'' Rahma cukup! Jaga ucapan kamu?'' bentak Ummi.
'' Yang aku bilang itu pakta Mba! Buka mata kalian. Dia itu, hanya duri! Pelakor.''
'' RAHMA.'' bentak Ummi dengan nada tinggi.
Dada Hawa terasa sangat sesak, saat dirinya di sebut sebagai duri dalam rumah tangga suami dan madunya. Hatinya sakit, seperti di tancap beribu ribu anak panah
'' Maaf ya Bi. Hawa tidak seperti yang Bibi bilang! Jika Bibi berani menghina istri saya lagi, maka saya gak akan tinggal diam. Saya akan laporkan Bibi sebagai tuduhan pencemaran nama baik.'' kesal Adam.
Adam tak terima jika Hawa di hina seperti itu.
'' Kamu berani sama Bibi, demi pelakor itu?'' tunjuk Bi Rahma pada Hawa.
Hawa mengangkat kepala nya, menatap tajam Bi Rahma.
'' Dengar Ya Tante Rahma. Saya bukan pelakor, dan saya tidak pernah menginginkan menjadi istri kedua. Ayah saya memang sakit, dan saya tidak memaksa Bang Adam untuk mengantar saya pulang. Saya, juga tidak pernah memaksa Bang Adam bersama saya. Saya memang wanita desa, tapi apa anda pikir, saya mau menjadi madu? Apa anda pikir, saya akan menerima lamaran Bang Adam, jika saya tahu dia sudah menikah? Apa anda pikir saya tidak tersiksa hah?'' geram Hawa dengan deraian air mata.
Hatinya sakit, sangat sakit. Mendengar orang menuduhnya sebagai pelakor.
'' Kalau kau memang tak mau, lalu kenapa kau masih bertahan hah?'' cebik Bi Rahma.
Adam memegang lengan Hawa.
'' Lepas Mas, biarkan aku sendiri. Kamu temani Mbak Syifa saja! Dia lebih butuh kamu.''
Hawa menghentak tangan Adam, lalu berlari keluar dari ruangan. Adam ingin mengejar nya, tapi seketika Syifa mengalami sesak napas. Jadi terpaksa, Adam menangani Syifa dahulu.
Syifa sangat tertekan oleh pertengkaran tadi, sehingga membuat nya sulit untuk bernapas. Adam segera memeriksa Syifa, dia segera memberikan pertolongan pertama pada istrinya itu.
Setelah semua stabil, Adam keluar dari ruangan. Dia menatap tajam Bi Rahma.
'' Ini semua gara gara anda. Jika terjadi apa apa pada Syifa dan Hawa, maka saya akan buat perhitungan pada anda!'' ancam Adam dengan menahan emosi nya.
'' Ummi, Abi. Adam titip Syifa! Adam akan mencari Hawa, Adam khawatir pada nya.''
'' Iya Nak, kamu harus cari Hawa. Abi juga khawatir pada nya!'' cemas Abi.
__ADS_1
Adam segera menuju mobil nya, dan melaju meninggalkan rumah sakit untuk mencari Hawa. Dia tidak perduli dengan cibiran yang masih terlontar dari mulut, Bi Rahma.
Sedangkan di tempat lain, di sebuah kontrakan yang lumayan kecil. Hawa sedang meminum teh hangat, yang di buatkan seseorang.
'' Makasih ya Nis.''
Hawa meminum teh itu, sampai tandas. Membuat perutnya sedikit lebih baik.
Hawa memutuskun untuk tidak berpuasa dulu. Sebaab kandungan nya sedang lemah.
Ya, tadi setelah keluar dari rumah sakit. Hawa berjalan menyusuri jalan, hingga tiba tiba perut nya keram. Hawa terus berjalan menyusuri jalan untuk mencari kursi duduk. Tapi pada saat dia berjalan, tubuhnya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Dan ternyata dia adalah Nisa. Teman smp nya dulu di kampung.
Melihat Hawa sedang kesakitan, Nisa kemudian membawa Hawa ke kontrakan nya yang tak jauh dari sana. Dia sebenarnya baru pulang bekerja.
'' Sebenar nya, apa yang membuatmu ada di jalan?'' tanya Nisa.
Hawa menggeleng lemah, dia belum siap untuk bercerita.
'' Ya sudah, kalau kamu belum siap untuk cerita gal papa. Lebih baik, kamua istirahat dulu.'' ujar Nisa.
Hawa mengangguk lemah.
'' Makasih ya Nis. Ngomong ngomong, kamu lagi apa tadi?''
'' Aku baru pulang kerja Wa. Eh, gak sengaja ketemu kamu!'' jawab nya.
'' Kamu kerja dimana?''
'' Di sebuah toko mainan anak Wa. Lumayan lah gajihnya, walaupun tidak besar. Cukuplah buat makan sama bayar kontrakan!'' ujar Nisa.
Hawa mengangguk paham Kemudian dia izin untuk istirahat sementara di kontrakan Nisa.
Mata nya menatap dinding, dengan air mata yang terus mengalir deras. Hatinya kembali berdenyut nyeri saat mengingat perkataan Bi Rahma pada nya. Bahkan, perkataan Bi Rahma masih terngiang ngiang di kepala Hawa. Dan itu, semakin membuat dadanya sakit bagai di remas remas.
Ya allah illahi Rabbi. Sesungguhnya aku tak mau dalam keadaan seperti ini. Apa salah dan dosaku ya Rabb? Sampai kau buat aku menjadi istri kedua? Aku, tidak pernah ingin menjadi orang ketiga ya allah. Tidak pernah! Jika memang, hadirku menjadi duri bagi Mba Syifa, maka aku rela mundur ya Rabb. Aku rela, jika harus mengorbankan cinta ku! Tunjukan ku jalan ya allah, mana yang harus ku pilih? Sesungguhnya, aku tak bisa tanpamu.
Bersambung....
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA😘