Menjadi Yang Ketiga

Menjadi Yang Ketiga
Siapa Orang Itu


__ADS_3

Happy Reading😘


Setelah acara bakar bakar, kini Hawa dan Adam ada di dalam kamar dan hendak tidur. Hawa membuka jilbab nya dan duduk bersandar di ranjang dengan sandaran bantal.


Hawa berpikir ini saat yg tepat untuk bertanya pada Adam soal diam nya dia.


'' Bang.'' panggil Hawa


'' Iya.''


'' Adek mau nanya sesuatu sama Abang?''


Adam menggeser tubuh nya duduk di samping Hawa. '' Apa dek?''


'' Apa ada yg Abang pikirkan? Sepulang nya Abang tadi, Abang banyak diam? Adek merasa ada yg sedang Abang pikirkan?'' ucap Hawa


Adam sedikit tersentak kaget dengan pertanyaan Hawa, Adam pikir jika Hawa tak memperhatikan nya.


'' Gak papa dek! Abang cuma kepikiran soal kerjaan saja.'' jawab Adam


Hawa menatap mata Adam, namun Adam malah membuang pandangan nya. Ada rasa kecewa di hati Hawa, saat mendengar jawaban Adam. Hawa tahu jika saat ini suaminya itu sedang tak jujur padanya.


'' Gak apa apa, jika Abang masih belum mau cerita! Tapi Bang, Adek akan selalu ada buat Abang, jika Abang butuh tempat curhat.''


Adam mengangguk lalu mengajak Hawa untuk tidur, karena hari sudah semakin larut malam.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi ini Hawa sedang berjalan jalan menyusuri jalanan kampung nya, sebab kata dokter Citra bumil harus berjalan pagi supaya kaki tak bengkak dan proses persalinan lancar. Hawa di temani oleh Nisa, namun di tengah jalan Nisa bertanya mengenai Adam pada Hawa.


'' Wa, suami kamu kenapa ya? Dari semalam kok kayak banyak diam gitu? Gak kayak biasanya aja?'' tanya Nisa dengan heran.


Hawa menghela napas nya. '' Gak tahu Nis, aku merasa Bang Adam lagi mikirin sesuatu! Namun ia tak mau berbicara?'' Jawab Hawa lesu.


'' Mungkin soal kerjaan nya kali Wa? Atau suami kamu punya WIL.'' jelas Nisa


'' Apa itu WIL?'' bingung Hawa


'' Ya ampun Hawa, kamu kok kudet banget sih? WIL itu artinya wanita idaman lain?''

__ADS_1


'' Ooohhh..... Tapi gak mungkin Nis, Bang Adam kan setia sama aku? Dia juga mencintai aku?'' ragu Hawa mencoba menampik ucapan Nisa.


'' Yakin Adam setia? Dia aja bisa bohongin kamu dengan bilang masih perjaka kan? Padahal kan dia bisa jujur? Dan demi dapetin kamu, dia rela bohong! Wa, laki laki yg pernah berbohong 1x itu tak menampik kemungkinan jika ia akan berbohong kembali.'' jelas Nisa


'' Aku cuma gak mau, kalau kamu sakit Wa? Kamu itu sahabat aku! Dan kalau sampai nanti dia terbukti menyakiti kamu lagi, awas aja! Sendal ku mendarat di wajah nya.'' geram Nisa


Hawa terkekeh geli melihat wajah serius sahabat nya itu. Bagi Hawa itu tak mungkin, di sangat percaya pada suami nya itu. Adam gak mungkin menyakiti nya lagi, sebab ia juga sudah berjanji pada Almarhum Ayah nya. Dan Adam juga sudah berjanji pada Hawa, jika hanya Hawa lah wanita satu satu nya.


Nisa dan Hawa pun sampai di rumah, namun Hawa tak menemukan Adam suaminya itu, dan juga Ummi. Kemudian Hawa menanyakan nya pada Ikbal.


'' Kak Ikbal, lihat Ummi dan Bang Adam gak?'' tanya Hawa.


Ikbal yg sedang mengelap mobil nya menoleh pada Hawa. '' Oh Ummi, tadi Kakak lihat ke lapangan itu, samping rumah Uwa kamu Wa?'' jelas Ikbal.


'' Makasih Kak.'' ucap Hawa lalu pergi ke tempat dimana Ikbal mengatakan nya tadi.


Hawa berjalan semakin mendekat ke arah lapangan, namun tak melihat suami dan Ummi nya Syifa. Lalu Hawa mengedarkan pandangan nya, dan melihat punggung Adam di balik pondok saung pembuatan batu bata.


Hawa melangkah semakin mendekat ke arah suaminya itu, semakin dekat langkah nya semakin jelas Hawa mendengar suaminya sedang berbicara setengah berbisik pada seseorang. Entah dorongan darimana, Hawa sembunyi di balik tumpukan batu bata yg menjulang se tinggi dada.


'' Pokoknya Ummi jangan bicara soal ini dulu sama Hawa ya Mi?'' ucap Adam


'' Gak Mi, hanya saja melihat wajah nya mengingatkan ku pada Syifa Mi? Aku sangat merindukan Syifa, dan melihat wajah nya membuat rinduku terobati.''


Degh


Jantung Hawa berdetak kencang saat mendengar ucapan Adam. Siapa orang yg di maksud Adam? Kenapa dia begitu takut Hawa mengetahui nya, padahal Hawa adalah istrinya


Apa yg sebenar nya di sembunyikan Bang Adam dariku? Kenapa dia melarang Ummi untuk cerita padaku? Aku harap kamu gak akan mengingkari janjimu pada Ayah Bang! Dan ku harap kamu terbuka padaku, sebab aku paling tak suka dengan kebohongan sekecil apapun? Dan ku harap kamu tak menghianati pernikahan kita kembali Bang.


'' Tapi Dam, dia bukan mahrom kamu? Ingat, Hawa lagi hamil Dam?''


'' Iya Mi, Adam ingat itu. Mangkan nya Adam pesan sama Ummi jangan bilang dulu sama Hawa.'' pinta Adam sedikit memelas.


'' Tapi kamu gak bakal naykitin Hawa kan Dam? Awas saja ya, kalau kamu sampai sakitin Hawa, maka Ummi tak akan menganggap mu lagi sebagai anak Ummi.''


'' Iya Mi, Adam akan terus berusaha untuk tak menyakiti Hawa.''


Jleb

__ADS_1


Hati Hawa serasa di tusuk duri saat mendengar ucapan Adam. Entah kenapa begitu menyakitkan saat Adam bilang ' berusaha tak menyakiti' nya. Dia tak menjawab Janji dari Ummi. Tanpa terasa air mata nya menetes begitu saja.


' Ada apa sebenarnya Bang? Apa yg kamu sembunyikan dariku?' batin Hawa sambil memegang dada nya yg di rasa sesak.


Adam dan Ummi pergi dari sana, Hawa menatap kepergian mereka dengan tatapan sendu. Kemudian dia berdiri dan mengelus perut buncit nya.


'' Nak, do'akan Ibu dan Papa kamu ya! Agar kami selalu bersama.'' gumam Hawa sambil mengusap air mata nya.


Hawa bertekad akan pura pura tidak tahu tentang masalah ini. Dia akan menunggu sampai Adam bicara sejujurnya sama Hawa, dia akan terus bersabar walaupun hati nya begitu penasaran dengan orang yg membuat Adam berbohong pada nya.


Hawa berjalan dengan langkah gontai ke arah rumah nya, dan ternyata semua sudah menunggunya untuk sarapan. Hawa sekilas menatap Adam dan Ummi. Lalu duduk di samping Adam.


'' Nak, kamu darimana saja?'' tanya Ummi.


'' Habis nyari Ummi sama Bang Adam, namun gak ketemu?'' alibi Hawa.


Maafkan aku ya allah, aku harus bohong..


'' Yasudah kita makan yuk.'' ajak Ummi di balas anggukan oleh Hawa.


Kemudian Hawa mengambil nasi dan lauk pauk untuk suaminya. Entah kenapa Hawa jadi malas bicara pada Adam, jadi dia diam saja saat sarapan bersama. Padahal Amal dan Umar begitu berisik, namun Hawa tak terusik sama sekali. Dia sibuk dengan pikiran nya sendiri tentang Adam.


Adam dan Ikbal mengerutkan kening nya saat melihat Hawa yg banyak diam. Bahkan terkesan seperti sedang marah. Ikbal menatap heran pada wanita hamil itu.


' Hawa kenapa ya? Kok dia jadi pendiam?' batin Ikbal.


'' Dek, kamu kenapa?'' tanya Adam.


'' Gak apa apa Bang, mungkin kelelahan saja! Nis nanti kamu ke kamar aku ya! Aku butuh bantuan kamu.'' ucap Hawa dan di balas anggukan oleh Nisa.


'' Emang butuh apa Dek? Biar Abang bantu.''


Hawa menggeleng cepat. '' Nggak Bang! Aku cuma mau minta tolong di pijit sama Nisa.'' ucap Hawa


'' Bener...''


Hawa mengangguk, lalu menyudahi sarapan nya. Hawa pikir dengan bicara pada Nisa bisa bikin pikiran nya lebih plong dan mungkin bisa dapet solusi nya.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2