
Happy Readingππ
Mobil yg ku sewa pun sampai di Surabaya, aku dan Raisya turun dari mobil dengan jantung berdebar kuat. Sejenak aku berhenti memperhatikan rumah di hadapanku. Rumah yg sedrhana dengan cat yg mulai pudar. Dan ada dagangan kecil kecilan di teras nya.
Jika memang Hawa tinggal di sini, aku merasakan miris saat memikirkan nya. Kemudian aku dan Raisya mengetuk pintu, setelah mengucap salam pintu pun terbuka. Dan ternyata yg buka Adalah Nisa. Dia sangat terkejut saat melihat ku dan Raisya datang.
'' Siapa Nis?'' tanya Suara bariton yg sangat ku kenal. Itu suara kak Umar.
Wajah Kak Umar pun tak kalah jauh terkejut nya dengan Nisa. Kemudian aku masuk hendak mencium tangan nya. Tapi tak ku duga, Kak Umar langsung menghajarku tanpa ampun.
'' Berani kau datang kesini? Berani kau menampakan batang hidung mu di hadapanku hah? Dasar brengs*k, laki laki buaya....'' geram Kak Umar sambil terus memukul ku.
Bugh bugh bugh bugh
Aku tak melawan, aku hanya diam saja. Aku tahu jika Kak Umar pasti melakukan itu, dan aku pantas mendapat kan nya. Tak lama aku melihat Hawa keluar dari kamar.
Dia sangat terkejut saat melihatku ada di sana, ku pikir Hawa akan melangkah ke arah ku, tapi ternyata tidak.
'' Dek, abang kangen!'' ucapku, namun Hawa malah berjalan di papah Ibu untuk duduk di sofa. Ada rasa sesak di hati ini saat melihat Hawa tak memperdulikan ku.
'' Ada apa Abang kesini, bersama dia?'' tunjuk Hawa pada Raisya. Dapat ku lihat kilat rasa tak suka pada Raisya di mata Hawa.
'' Dek, Abang mau bertemu anak kita! Dimana dia? Abang ingin sekali menggendong nya! Dan, Abang juga sangat merindukan mu Dek?'' ucap ku penuh harap.
__ADS_1
'' Buk, tolong ambil Alwi ya!'' pinta Hawa, dia malah tak menjawab kata kangen ku. Dia mencueki ku.
Tak lama ibu datang menggendong Alwi. Aku berdiri hendak menggendong nya, namun ibu melarang nya.
''Gendong nya duduk saja! Kamu kan babak belur.'' ketus Ibu padaku.
Aku sempat terpaku dengan nada bicara ibu. Biasanya ibu akan berkata dengan nada yg lembut. Namun kini bahkan sangat ketus. Aku tahu pasti ibu sangat kecewa padaku, aku paham Ibu mana yg tak marah saat anak nya di sakiti.
Aku menggendong Alwi, wajah nya begitu mirip dengan ku. Aku pun mengajak main dia. Rasanya senang sekali bisa menggendong anak ku sendiri. Anak yg sangat ku ingin kan selama ini. Namun tak lama Alwi menangis, lalu Hawa meminta ibu untuk membawa anaku masuk kedalam.
Aku hendak menggeser tubuhku agar mendekat ke arah Hawa. Namun ternyata Hawa menolak nya. Ada rasa perih saat menerima penolakan dari wanita yg amat ku cintai. Namun balik lagi, ini semua karena ku.
Aku mencoba membujuk Hawa untuk kembali padaku, tapi Hawa masih ngotot pada pendirian nya, dia tetap akan menggugat ku. Aku pasrah, aku tak mau semakin menekan Hawa. Aku harus menerima skonkuensi nya.
Aku pun memberikan waktu 3 hari pada nya untuk berpikir ulang keputusan nya. Aku berharap dengan waktu 3 hari itu, dapat mengubah keputusan Hawa membatalkan gugatan nya. Namun aku salah.
Tubuhku luruh ke lantai, air mataku tak bisa ku bendung lagi. Ku pukul kepalaku merutuki kebodohan ku. Aku menyesal pun tak ada guna nya lagi, Hawa ku sudah pergi dia sudah pergi..
Hingga tiba lah di sidang pertama kami, namun Hawa tal datang. Hanya di wakili oleh pengacara nya saja. Padahal aku ingin memastikan kembali, namun memang sepertinya Hawa sangat yakin dengan keputusan nya.
Akhirnya aku pasrah hingga kami pun resmi bercerai. Hawa datang saat sidang keputusan kami. Dia tak banyak bicara. Saat palu itu di ketuk, aku tak bisa menahan air mataku lagi. Aku merasakan lemas seluruh tubuh ku. Aku merasa sangat bodoh, karena sudah menyia nyiakan sebuah berlian.
'' Bang! Aku berharap, walaupun kita sudah tak lagi bersama. Silaturahmi kita masih terjaga ya!'' ucap Hawa berdiri di depanku.
__ADS_1
Aku mendongkak dengan mata sembab, ku tatap wanita cantik di hadapanku untuk terakhir kali nya.
'' Maafkan Abang, Dek. Jika selama ini selalu menyakitimu?'' Ucapku dengan penuh penyesalan.
'' Gak papa Bang. Mungkin jodoh kita sampai di sini?'' ucap Hawa lalu pamit terlebih dulu.
Aku memandangi punggung itu, hingga hilang di balik pintu.
ππππππ
Setelah aku dan Hawa bercerai, aku tak lagi tertarik dengan wanita. Aku takut jika aku akan menyakiti istriku lagi kelak. Hari hari ku jalani dengan penyesalan yg selalu melekat di hati. Aku tak berniat membuka hatiku kembali untuk wanita lain.
Bagiku cukup Hawa, Syifa dan Raisya yg menjadi korban ke egoisan ku. Dari perpisahan ku dan Hawa, aku bisa tahu arti nya setia dalam pernikah, arti kejujuran, arti keteguhan, arti kasih sayang, arti cinta yg sebenar nya, arti keterbukaan, arti ke percayaan dan arti memiliki. Dan dari rumah tangga nya bersama Hawa, aku juga belajar jika awal yg di dasari dengan 1 kebohongan, maka akan ada kebohongan kembali.
Berbulan bulan sudah berlalu, aku masih dengan semua penyesalan ku. Bahkan setiap malam aku selalu merenungi segala hal yg pernah aku lalui bersama Hawa. Sepertinya aku akan selalu tenggelam dalam bayang bayang sebuah penyesalan seumur hidupku.
Aku juga setiap bulan rutin memberi nafkah pada Alwi, bahkan seminggu sekali aku datang ke surabaya untuk menengok Anaku dan bermain dengan nya. Terkadang aku juga membawanya keluar untuk berjalan jalan. Namun kita tak hanya bertiga. Selalu ada Nisa yg ikut bersama ku Hawa dan Alwi.
Hawa seakan membangun skat agar aku tak bisa melewati batas. Tapi tak bisa ku pungkiri jika aku sangat bahagia jika bersama Hawa. Walaupun dia tak sehangat dulu, dia begitu cuek dan dingin. Dia juga selalu menjaga jarak padaku.
Aku paham jika aku dan dia bukan lagi mahram, jadi itu kenapa dia bersikap acuh padaku. Namun walau begitu, berada di dekat nya saja aku sudah bahagia. Bagiku melihat senyum nya saja sudah membuat hatiku teramat senang.
Cinta. Rasa itu masih ada di hatiku untuk Hawa. Aku akan selalu menyimpan Hawa di hatiku yg paling dalam, nama nya bahkan masih bersinar di hati ini. Tak akan bisa ku lupakan dia dalam hidupku. Bagiku Hawa adalah sebuh berlian yg begitu suci, namun sayang karena kebodohan ku, aku harus kehilangan berlian itu.
__ADS_1
Aku berharap suatu saat nanti aku dan Hawa akan bersama kembali.
Bersambung........