Menjadi Yang Ketiga

Menjadi Yang Ketiga
Hanya Tinggal Kenangan


__ADS_3

Happy Reading😘


Hawa mengantar jenazah sang Ayah ke tempat peristirahatan terakhir nya. Selama dalam perjalanan menuju makam, Adam terus merangkul pundak Hawa. Dia benar benar cemas dengan keadaan Hawa yg begitu sedih, sebab itu bisa berdampak buruk bagi kandungan nya.


Umar turun ke liang lahat untuk mengadzani sang Ayah untuk terkahir kali nya. Airmata nya jatuh saat adzan berkumandang. Dia benar benar tak sanggup melihat sang Ayah yg kini tidur sendirian di bawah sana. Bahkan suaranya tercekat saat melantunkan Adzan untuk sang Ayah.


Hawa yg melihat jenazah sang Ayah di kebumikan lengsung ambruk kembali, untung Adam sigap menahan tubuh nya. Semua panik saat Hawa pingsan, apalagi Ibu dan Ummi, mereka sangat panik sebab Hawa sedang hamil.


Mereka sudah melarang Hawa untuk pergi, namun Hawa memakasa. Dia ingin melihat sang Ayah di kebumikan untuk terakhir kali nya.


Ummi dan Ibu menyuruh Adam untuk segera membawa Hawa pulang kerumah, sebab ibu hamil tak baik berlama lama di tempat seperti itu. Dan Ummi menemani Hawa pulang dengan Adam.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


''Ayah, Ayah mau kemana?'' tanya Hawa saat melihat sang Ayah pergi menuju cahaya di ujung jembatan.


''Ayah akan pergi Nak! Jaga diri kamu, dan cucu Ayah. Ingatlah, jangan pernah bersedih dengan takdir Allah! Sesungguh nya kita akan tetap kembali pada nya, dan Ayah akan menunggumu kelak di dalam jannah nya.'' tutur Ayah.


'' Tapi Yah, Hawa masih merindukan Ayah! Jangan pergi....''


'' tidak Nak, waktu Ayah sudah habis! Kamu harus kuat demi anak anakmu kelak ya. Ayah gak mau lihat kamu menangis.''


Ayah menghapus air mata Hawa lalu pergi menuju cahaya yg begitu menyilaukan mata.


''Ayah, jangan pergi Yah! Ayah...... Ayaaahhh.....'' teriak Hawa namun sang Ayah malah tersenyum dan melambaikan tangan nya.


''Aaaayyyaaaaahhh.......'' teriak Hawa dan bangun dari tidur nya.


'' Sayang, kamu kenapa? Kamu mimpi buruk? Ini minum dulu.'' ucap Adam sambil memberi Hawa minum.


Setelah setengah gelas habis, Hawa memandangi kamar nya. Dan ternyata itu bukan mimpi, dia benar benar berada di kampung nya saat ini. Dan Ayah nya pergi untuk selama nya.


Hawa kemudian mengambil bingkai poto di laci meja di samping tempat tidur nya, kemudian dia memeluk poto itu sambil menangis pilu.


'' Ayah, kenapa tega tinggalain Hawa?'' lirih Hawa


Adam kembali terpukul saat melihat Hawa menangis. '' Dek, ikhlaskan! Abang tahu jika ini berat bagi kamu? Tapi, Ayah pasti akan sedih jika melihat kamu begini? Kamu ingat, kamu selalu menguatkan aku dengan memberikan ku hadis hadis al qur'an, sewaktu Syifa ninggalin kita.'' ucap Adam.


Hawa menoleh ke arah Adam, lalu memeluk suaminya dengan erat. Hawa menumpahkan segala kesedihan nya di dada bidang Adam. Karena saat ini, hanya pelukan hangat suaminya yg mampu membuat nya nyaman.


'' Makan dulu ya!'' pinta Adam namun di balas gelengan oleh Hawa.


'' Apa kamu mau kehilangan anak kita?'' tanya Adam serius.


Hawa menatap Adam, lalu menggeleng cepat.

__ADS_1


'' Mangkan nya makan dulu, ingat sayang! Berduka boleh, tapi jangan sampai menyiksa anak kita? Kasihan dia di dalam sana.'' ucap Adam sambil mengelus perut Hawa.


Akhirnya Hawa mengangguk lalu mau memakan makanan nya, walaupun tak habis namun masih ada makanan dan gizi yg masuk pada tubuh Hawa, sehingga lebih bertenaga.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Acara thlilan sudah di mulai, Umar, Amal, Adam dan Ikbal begitu sibuk mengurus untuk acara tahlilan. Sedangkan Hawa di dalam kamar bersama Ummi dan Nisa.


Nisa baru sampai 2 jam yg lalu saat Adam mengabarkan jika Ayah nya Hawa meninggal. Lalu Nisa pun langsung pulang ke kampung, untuk menemani Hawa.


'' Wa, kamu jangan ngelamun terus dong? Kasihan kandungan kamu Wa, nanti kalau terjadi apa apa sama dia gimana?'' ingat Nisa


Hawa menoleh pada Nisa dengan mata sembab nya. Memang sedari tadi Hawa terus melamun dan terus memeluk bingkai poto sang Ayah. Nisa tahu jika saat ini Hawa begitu sangat terpukul atas kepergian Ayah tercinta nya.


Acara tahlilan pun telah selesai, ke 4 pria itu sedang membantu Uwa Hawa untuk membereskan sisa sisa tahlilan disana.


'' Gw tinggal dulu ya! Kayak nya Hawa belum makan.'' ucap Adam sambil meninggalkan 3 pria itu.


'' Halah, bilang aja mau berduaan? Pake alasan belumm makan, modus Lo.'' ledek Amal dan dapat hadiah lemparan botol plastik dari Adam


Adam melihat Hawa yg sedang tertidur di pangkuan sang mertua, sambil memeluk poto sang Ayah yg sedari siang dia dekap terus. Hati Adam teriris pilu saat melihat keadaan istrinya begitu sangat menyedihkan


'' Bu, apa Hawa sudah makan?'' tanya Adam sambil mengelus kepala Hawa yg di balut jilbab.


'' Sudah Nak, tapi tak banyak! Hanya beberapa suap saja.'' Angguk Ibu dengan tatapan prihatin pada anak nya.


'' Baiklah, ibu titip Hawa ya?'' di balas anggukan oleh Adam.


Ibu pun keluar dari kamar Hawa, dan melangkah dan bergabung duduk bersama Umar dan keluarga Syifa.


''Bagaimana keadaan Hawa, Mbak?'' tanya Ummi.


'' Dia sudah tidur.'' jawab Ibu dengan tatapan yg begitu sendu.


Ibu menatap pada kursi yg biasa suami nya duduk dan meminum kopi, lalu ke arah sudut dekat ruang tv dimana biasanya Ayah Hawa duduk dan di pijit oleh ibu. Tak terasa air mata nya kembali jatuh saat mengingat setiap kenangan bersama suami tercinta nya.


Biasanya jam segitu Ayah nya Hawa sedang minum kopi di temani dengan singkong goreng, dan mereke nonton tv bersama. Tapi kini itu hanya sebuah kenangan indah yg akan selalu di kenang


Benar kata pepatah, bahagiakan lah orang orang tersayang mu, sebelum mereka pergi untuk selama nya. Buatlah sebuah kenangan yg indah yg tak akan pernah terlupakan bersama orang tersayang mu, sebelum kenangan itu hanya akan menjadi sebuah impian.


Umar memeluk tubuh sang ibu, mencoba menguatkan. '' Bu, sudah ya, jangan menangis lagi. Umar yakin, jika Allah pasti bahagia di atas sana.'' ucap Umar.


'' Iya Mar, ibu hanya teringat dengan kenangan Ayah yg biasanya jam segini sedang minum kopi di temani goreng singkong buatan ibu.'' jawab Ibu sendu.


'' Iya Bu, Umar juga merindukan Ayah! Kita do'a kan Ayah ya bu, agar Ayah selalu bahagia di sana.'' Ibu mengangguk.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi ini Hawa hendak bangun dan menunaikan ibadah shalat subuh, namun entah kenapa badan nya tak bisa di ajak kompromi. Tubuh Hawa begitu lemas tak bertenaga, mungkin karena kemaren terlalu banyak menangis dan makan pun tak banyak.


'' Sayang, kamu kenapa?'' cemas Adam saat melihat Hawa memijit kepala nya dengan wajah yg begitu pucat.


'' Gak tahu Bang, rasanya kepalaku sakit dan lemas.'' jawab Hawa dengan lemah.


Adam pun memeriksa keadaan istrinya.


'' Sepertinya kamu sakit sayang, badan kamu juga demam! Kamu juga kan dari kemarin makan nya gak banyak?'' jelas Adam


'' Iya Bang, sepertinya begitu? Adek mau shalat subuh Bang.'' ujar Hawa


'' Kamu tayamum dulu ya, jangan wudhu dulu.''


Hawa mengangguk lalu tayamum pada dinding kamar nya. Kemudian mereka pun melakukan shalat berjama'ah. Setelah selesai Hawa keluar dari kamar di bantu oleh Adam, lalu mereka pun duduk bergabung bersama semua orang yg ada di ruang tengah.


'' Nak, kamu kenapa? Kok wajah nya pucet?'' panik Ummi.


'' Gak apa apa Mi, Hawa hanya kurang enak badan saja.'' jawab Hawa dengan lemah, namun masih tersenyum manis.


'' Ini, kamu minum teh hangat dulu ya! Biar badan nya enakan.'' Ummi menyerahkan teh manis pada Hawa dan lansung di minum oleh Hawa.


Umar datang membawa sepiring penuh goreng ubi yg masih panas, lalu meletakan nya di hadapan semua orang.


'' Di makan Dek, wajah kamu pucet banget! Mau Kakak beliin bubur?'' tanya Umar dengan cemas.


Hawa menggeleng. '' Nggak usah Kak, Hawa gak apa apa kok! Oh ya Kak, Ayah mana? Buatin kopi sekalian biar nanti langsung di minum.'' Ucap Hawa.


Umar menatap sendu sang adik, begitu pun dengan semua orang yg ada di sana. Umar langsung menggenggam tangan Hawa, dan mengusap lengan nya.


'' Dek, jangan begitu ya! Kaka sedih kalau kamu begini dek..'' ucap Umar.


'' Apasih Kak, emang aku kenapa?'' Hawa masih belum menyadari ucapan nya saat ini.


'' Dek, Ayah kan sudah nggak sama kita lagi...'' timpal Adam dengan hati hati.


Hawa tersentak lalu menatap Adam dengan tatapan yg begitu pilu, kemudian menatap Umar dan semua orang yg ada di ruang tengah. Hawa menunduk dengan air mata yg mulai lolos dari mata indah nya.


'' Maaf, Hawa benar benar masih merasa jika Ayah masih ada?'' lirih Hawa.


Ibu mendekat lalu langsung memeluk tubuh Putrinya yg sedang terisak. Ibu pun merasakan apa yg saat ini Hawa rasakan, namun Ibu berusaha kuat dan tegar demi semua anak nya.


Bersambung......

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN FAV NYA GUYS😘😘


__ADS_2