
Happy Reading😘
1 minggu sudah Hawa sedikit mendiamkan Adam. Dan 1 minggu itu juga Adam masih belum membicarakan soal Raisya pada Hawa. Adam pikir jika Hawa tak perlu tahu, toh tak ada hubungan apapun antara Adam dan Raisya. Mereka hanya teman saja, sebatas rekan kerja di rumah sakit.
Namun beda hal nya dengan Raisya, dia ternyata menaruh rasa pada Adam. Walaupun Raisya tahu jika Adam mempunyai istri yg sedang hamil saat ini. Namun Raisya tak bisa menampik dan mencegah rasa itu, perasaan itu datang tanpa Raisya undang.
Raisya bukan nya mau merebut Adam dari suaminya, namun Raisya tak bisa menahan perasaan nya pada Adam, kedekatan nya selama ini bersama Adam membuat benih benih cinta itu tumbuh di hati Raisya.
Hari ini Hawa sedang membantu bik Surti untuk memasak makan siang, dan rencana nya dia akan mengantar makanan ke rumah sakit untuk Adam. Setelah semua siap, Hawa pun mengganti pakaian nya. Dia juga sudah memesan ojol untuk mengantar nya.
30 menit sudah Hawa akhirnya sampai di rumah sakit, kemudian dia berjalan masuk ke arah ruangan Adam. Saat sampai di ruangan Adam, Hawa melihat ruangan itu kosong. Kemudian dia menaruh rantang makanan nya di meja kerja Adam, Hawa berpikir mungkin Adam sedang memeriksa pasien.
Hawa berjalan keluar ruangan untuk ke toilet, perut nya semakin besar dan semakin sering juga ia kekamar mandi, sebab kepala bayi sudah di bawah dan menekan kandung kemih. Hawa melihat suster lewat ruangan Adam. Lalu ia pun bertanya.
'' Maaf Sus, dokter Adam kemana ya?'' tanya Hawa.
'' Oh, dokter Adam tadi sedang makan siang di kantin Mba.'' jawab suster itu.
'' Begitu ya, kalau gitu makasih ya Sus.'' cap Hawa
Suster itu mengangguk, lalu pergi meninggalkan Hawa. Setelah dari toilet Hawa pergi menuju kantin, dia mengedarkan pandangan nya kearah sudut, dan mata nya menatap sosok pria tampan yg menjadi imam nya, saat ini sedang duduk berdua dengan wanita.
Hawa melihat jika wanita itu juga memakai jaz putih, yg artinya dia juga seorang dokter. Entah kenapa hati Hawa berdenyut nyeri saat melihat Adam tertawa lepas dengan teman kerja nya.
Ada rasa sesak melihat pria nya begitu terlihat bahagia bersama wanita itu. Kemudian Hawa berjalan ke samping agar bisa melihat wanita yg menyampingi nya. Saat dia duduk dan menatap wanita itu, mata Hawa membulat sempurna. Dia benar benar syok saat melihat wajah wanita yg sedang tertawa bersama suaminya itu.
'' Mba, Syifa?'' gumam Hawa sambil menutup mulut nya tak percaya dengan apa yg dia lihat.
' Tapi dia bukan Mba Syifa, Mba Syifa memakai jilbab dan tak memiliki lesung pipi? Apa dia yg bernama Raisya?' batin Hawa.
Dia mengeluarkan ponsel nya, dan menelpon Adam. Hawa ingin tahu Adam jujur atau tidak. Terlihat Adam melihat ponsel nya yg tergeletak di meja, yg sedang bergetar, namun Adam ragu untuk mengangkat nya.
Hawa sakit melihat suaminya begitu ragu untuk mengangkat, lalu saat Adam akan mengangkat telpon itu, sayang nya telpon nya sudah mati. Hawa merasakan sakit di dada nya, saat melihat Adam begitu enggan mengangkat telpon dari nya. Kemudian Hawa memotret mereka berdua.
Setelah itu Hawa pergi meninggalkan kantin dan langsung keluar dari rumah sakit, tanpa kembali ke ruangan Adam.
'' Kenapa gak di angkat?'' tanya Raisya.
'' Iya, aku gak enak sama kamu tadi.''
'' Loh, tapi itu kan dari istri kamu?''
__ADS_1
'' Iya, tapi nanti aku telpon balik.''
' Maafkan aku sayang! Bukan nya aku tak mau mengangkat nya, namun entah kenapa aku merasa tak enak pada Raisya.' batin Adam dengan sesal.
Sedangkan Raisya, ada sedikit rasa senang di hatiya, saat pria yg dia cintai tak mengangkat telpon istrinya.
Setelah makan siang, Adam dan Raisya pergi keruangan nya masing masing. Saat Adam membuka pintu ruangan nya, dia terpaku melihat sebuah rantang makanan yg biasa Hawa bawa untuk nya.
'' Ini kan rantang yg biasa Hawa bawa? Apa tadi dia kesini ya?'' gumam Adam sambil mengangkat rantang itu.
Kemudian dia mengeluarkan ponsel nya dan menelpon Hawa, namun telpon nya tak kunjung di angkat. Adam terus menelpon hingga 5x tak juga di angkat oleh Hawa, akhirnya Adam menyerah dan memutuskan akan bertanya pada Hawa sepulang kerja nanti.
Sedangkan di tempat lain, Hawa sedang duduk di sebuah kursi di taman kota. Dia masih memikirkan soal tadi, dimana Adam tertawa lepas bersama wanita yg begitu mirip dengan almarhumah istrinya. Dan ponsel Hawa memang di silent agar dia tak mendengar saat Adam menelpon nya, dia ingin menenangkan dirinya dahulu.
' Kenapa Bang? Kenapa kamu begitu jahat? Kamu bilang cinta aku, kamu janji di hadapan Ayah jika kamu akan menjaga ku dan tak akan menyakiti aku? Apa ini yg kamu sembunyikan dariku? Apa karena wanita itu yg begitu mirip sama Mba Syifa?
Aku harap kamu tak akan mendua lagi Bang! Jika itu terjadi, maka aku akan pergi dan mundur. Sungguh aku tak akan sanggup jika harus kembali berbagi. Belum tentu madu ku nanti akan sama seperti Mba Syifa? Apa kami sejalan atau tidak?
Kenapa kamu gak jujur sama aku Bang? Kenapa kamu menyembunyikan nya, padaku? Apa kamu takut aku tahu, dan melarang kamu? Aku bahkan tak akan melarang kamu, jika kamu bisa menjaga hatimu Bang. Tapi jika takdir nanti tak menyatukan kita, Maka aku hanya bisa pasrah dan berlapang dada.
Sakit rasanya Bang, hati ini begitu sakit saat melihat mu tertawa bersama wanita lain? Istri mana yg akan sanggup, saat melihat suami nya tertawa lepas bersama wanita yg bukan mahrom nya. Aku takut Bang, aku takut jika kamu akan jatuh cinta pada wanita itu, karena wajah nya yg begitu mirip dengan wanita yg selama ini kamu rindukan?' batin Hawa.
Hawa menangis dalam diam, pandangan nya lurus tanpa arah. Kemudian dia berdiri dan berjalan dengan pandangan yg kosong. Pikiran nya masih tertuju pada 2 orang yg sudah membuat nya sakit dan hancur. Hawa tak menyadari jika dari arah berlawanan ada seseorang yg berjalan juga, hingga....
Hawa dan orang itu bertabrakan, dan Hawa terdorong ke belakang. Untung saja pria yg Hawa tabrak langsung sigap, dan meraih tubuh Hawa. Pandangan mereka sejenak terpaku satu sama lain.
'' Astagfirrullah.'' ucap Hawa sambil berdiri
'' Hawa....'' ucap pria itu.
'' Kak Ikbal....''
Ikbal terkejut saat melihat wajah sembab Hawa. '' Wa, kamu kenapa? Kok nangis?'' tanya Ikbal cemas.
Hawa segera menghapus air mata nya dengan cepat. '' Ng-ngak kok kak, i-ni aku kelilipan tadi. Iya, kelilipan...'' jawab Hawa mengulang kata kata nya.
Ikbal mengeryit heran, lalu menatap Hawa dengan pandangan menyelidik. Dia tak percaya dengan ucapan Hawa. Ikbal tahu, jika Hawa sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
'' Kamu lagi apa di sini?'' tanya Ikbal
'' Aku, habis nyari angin saja Kak!''
__ADS_1
'' Pulang naik apa?''
'' Eum, taksi kayak nya.''
'' Yasudah, aku antar ya?''
Hawa menggeleng cepat. '' Nggak usah Kak, aku naik taksi saja.''
''Kamu gak lihat, ini mau hujan Wa? Terus ibu hamil itu gak boleh lama lama di luar! Nanti kalau ada apa apa sama kandungan kamu gimana? Udah, ayo aku antar pulang.'' ajak Ikbal
'' Tapi Kak.....''
'' Tak ada penolakan.''
Akhirnya Hawa pun pulang bersama Ikbal, dan baru saja mereka masuk mobil, hujan langsung turun dengan deras nya.
'' Untung kan, kamu sudah masuk mobil.'' ucap Ikbal sambil menyalakan mesin mobil nya.
Hawa hanya tersenyum kecil lalu mengangguk. Sepanjang perjalanan Hawa bahkan selalu memandang ke samping, menatap hujan yg begitu deras mengguyur bumi.
'Kepada langit mendung, aku meminta agar hujan segera memandikan jiwa-jiwa yang dirundung resah, menghanyutkan sampah-sampah di hati yang gundah.
Saat cinta tak memberi arti lagi, hanya memberikan luka yang menyayat hati, seolah seperti malam hari, di mana hujan badai tak kunjung berhenti, namun semua ini harus kuhadapi karena perjalanan hidup itu tidak akan pernah berhenti. batin Hawa dengan tatapan yg begitu sedih, dan lagi lagi air mata nya mengalir deras. Bahkan dia seakan tak sadar jika saat ini dia sedang bersama Ikbal.
"Saat langit memutuskan untuk melepaskan gerimis, tetiba hujan meminta berteduh di bawah sepasang mata. "barusan matahari berpesan agar kau lepaskan saja kesedihanmu," ujar Ikbal sambil menyetir.
Hawa menoleh kearah Ikbal, dia menatap Ikbal dengan tatapan bingung, mencoba mencerna ucapan pria tampan itu.
'' Kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun? Karena kenangan adalah seperti hujan. Ketika dia datang, kita tak akan bisa untuk menghentikannya, bagaimana akan menghentikan tetes air mata yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu hingga selesai dengan sendirinya.
 "Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, karena ketika besok lusa kamu akan patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian yang menyakitkan itu." sambung Ikbal lagi.
Hawa tersentuh dengan kata kata mutiara yg Ikbal ucapkan. Kata kata itu seolah menggambarkan hati nya yg saat ini sedang sakit dan terluka. Hawa menangis terisak, sakit rasanya hati Hawa. Dia seakan merasakan sesak yg begitu dalam.
'' Keluarkan saja Wa, keluarkan semua rasa sakit itu lewat air mata.'' ucap Ikbal sambil memberikan tisu pada Hawa.
'' Makasih ya Kak.'' ucap Hawa dengan suara purau.
Ikbal mengangguk, lalu menjalankan kembali mobil nya yg sempat terhenti.
Apa yg sebenarnya terjadi Wa? Apa Adam menyakiti kamu? Jika iya, awas saja dia!.
__ADS_1
Bersambung.....