
Happy Reading๐๐
Budayakan Like sebelum baca๐
'' Maaf, pasien harus di bawa kerumah nya untuk segera di makam kan! Kami harus mengantar jenazah kemana?'' tanya Dokter yg menangani Adam.
''Bawa mereka ke jakarta Dok! Mereka akan di makamkan di sana.'' ucap Abi
Hawa yg baru tersadar dari pingsan nya, terus memeluk tubuh sang anak. Dia tak mau melepaskan nya walau hanya sedetik. Hawa ingin menghabiskan waktu sebelum jenazah sang anak di makam kan.
'' Sayang! Alwi harus di bawa ke jakarta.'' ucap Ikbal.
'' Mas! Aku masih mau bersama Alwi?'' lirih Hawa.
Ikbal semakin terpukul melihat istrinya begitu sangat hancur, karena kepergian Alwi. Ummi mendekat kearah Hawa, mengelus pundak nya, mencoba memberi kekuatan untuk Hawa.
'' Nak! Ummi tahu, apa yg kamu rasakan saat ini! Sebab Ummi juga pernah di posisi kamu! Ummi tahu rasanya, kehilangan seorang anak, yg sangat kita cintai. Namun kamu harus ikhlas Nak! Ummi tahu ini berat. Tapi Allah lebih sayang Alwi...'' ucap Ummi dengan lembut.
Hawa temangu mendengar nasihat Ummi. Haqa memang sedang mencoba mengikhlaskan hatinya, untuk menerima kepergian Alwi dari hidup nya. Sebab ini bukan kali pertama Hawa kehilangan.
Dia sudah pernah merasakan kehilangan Ayah nya. Namun sekuat apapun itu, hati Hawa tetap terluka. Walau dia mencoba tegar, namun tetap saja, luka itu tak bisa dia tahan.
'' Aku gak nyangka Ummi, jika mimpiku adalah sebuah pertanda, jika Alwi akan bersama dengan Mba Syifa!'' lirih Hawa.
'' Mimpi? Mimpi apa Sayang?'' tanya Ikbal.
'' Sudah beberapa kali aku bermimpi Mas! Aku bermimpi tentang Mba Syifa, Bang Adam dan 1 anak kecil. Namun aku tak bisa melihat wajah anak kecil itu, sebab tertutup cahaya putih. Aku melihat mereka di sebuah taman yg indah! Namun ternyata, itu adalah sebuah pertanda, jika anak kecil itu adalah Alwi, anaku?'' tutur Hawa dengan suara yg nyaris tak terdengar.
Dia kembali tergugu menangis. Hawa tak bisa setegar itu, walaupun sudah dia coba.
'' Mas, aku mau nemenin Alwi sampai jakarta!'' pinta Hawa.
'' Iya, sayang! Kita akan antar mereka sampai jakarta..''
'' Tapi, siapa yg bakal jaga Raisya?'' timpal Ummi.
__ADS_1
'' Biar Ibu saja! Kasian kan, Raisya tak ada keluarga?'' ujar Ibu yg sedari tadi diam memeluk Hawa.
'' Ibu yakin?'' tanya Hawa.
'' Iya, Nak! Kamu ke jakarta saja sama Ikbal. Maaf ya! Ibu gak bisa nemenin kamu! Kalian pulang dulu ke rumah, ambil baju! Nanti Nisa ikut ya, buat nemenin kamu?'' ucap Ibu.
Hawa menggeleng. '' Nggak, Buk! Nisa di sini saja, nemenin Ibu buat jaga Raisya! Aku gak mau ibu kenapa napa.'' ujar Hawa
'' Iya Buk! Ibu tenang saja. Ikbal akan jaga Hawa, Ikbal gak akan biarin Hawa sendiri.'' ujar Ikbal.
Ibu mengangguk. Lalu Hawa pun kembali kerumah untuk mengambil baju, dan ternyata sudah Nisa siapkan.
Bik Sri langsung memeluk tubuh Hawa, saat Hawa masuk kedalam Rumah. Begitu pun dengan Nisa. Mereka mencoba menguatkan Hawa yg sedang terpukul.
'' Nak, Bibi dan Amal akan ikut ke jakarta untuk mengantar Adam, sampai tempat peristirahatan yg terakhir nya.'' jelas Bik Sri di sela sela tangis nya.
'' Iya, Bi..'' jawab Hawa.
Orang rumah memang sudah di kabari oleh Abi saat di rumah sakit tadi. Sehingga Nisa langsung menyiapkan baju Hawa, sebab Nisa tahu jika Hawa pasti akan ke jakarta untuk memakam kan Alwi dan Adam.
Hawa banyak diam selama dalam perjalanan di dalam pesawat, hingga sampai ke rumah Ummi. Rencana nya Adam dan Alwi akan di makamkan di sebelah makam Syifa.
Hanya air mata yg terus mengalir di kedua mata Hawa, tapi tak ada satu patah kata pun yg keluar dari mulut nya. Bahkan Hawa belum makan dari pagi, walaupun Ikbal sudah membujuk nya.
Bagi Hawa luka di hatinya, membuat perut Hawa terasa begitu kenyang. Bahkan selera makan pun terasa hilang. Hawa sama sekali tak merasa lapar.
'' Dek, pulang Yuk!'' ajak Ikbal saat Hawa terus menangis di atas pusara makam Sang anak.
'' Sebentar Mas! Aku masih mau nemenin Alwi.'' lirih Hawa dengan suara yg begitu serak, karena seharian ini dia menangis.
Pemakaman memang di lakukan besok nya saat Jenazah Adam dan Alwi di bawa ke jakarta. Sebab tak mungkin pemakaman di lakukan malam hari. Bahkan semalaman Hawa tidur di samping jenazah Alwi.
'' Sayang, ini sudah mendung! Kita pulang ya. Nanti kita kesini lagi?'' bujuk Ikbal.
Hawa mengangguk, lalu berdiri di bantu Ikbal. Tapi Hawa merasa kepala nya begitu pusing bagai di tikam pisau. Hingga akhirnya badan Hawa kembali ambruk.
__ADS_1
Ummi, Abi dan semua orang yg ada di sana kembali panik. Ikbal segera menggendong Hawa kedalam mobil nya, kini Abi yg menyetir mobil dengan Ikbal yg duduk di belakang memangku tubuh Hawa
'' Bi, lebih cepat ya! Ikbal khawatir sekali sama Hawa.''
'' Iya Nak!''
Ikbal mengusap wajah Hawa yg terlihat begitu pucat. Bagaimana tidak, Hawa tak mau makan baranng sesuap pun. Dan itu membuat Ikbal begitu khawatir.
Harusnya hari ini mereka lalui dengan senyuman dan kebahagiaan, sebab Hawa dan Ikbal masih terbilang pengantin baru. Namun siapa sangka, harus nya kebahagiaan yg mereka rasakan. Namun kini malah sebalik nya, luka dan kesedihan yg saat ini mereka rasakan.
๐๐๐๐๐
Ikbal menidurkan Hawa di tempat tidur nya, lalu dokter Citra langsung memeriksa keadaan Hawa. Dia di telpon langsung oleh Ummi saat di mobil tadi.
'' Bgaiamana, dok?'' tanya Ikbal
'' Hawa mengalami dehidrasi! Dia juga, tekanan darah nya sangat rendah. Kurang istiraha juga! Aku paham, apa yg dia rasakan saat ini. Namun nanti, coba di bujuk untuk makan ya! Sebab jika tak ada masukan makanan, Hawa bisa sakit dan harus di rawat.'' jelas Citra
'' Iya, terimaksih!'' ucap Ikbal.
Citra mengangguk, lalu memberikan vitamin yg harus di minum oleh Hawa. Kemudian dia keluar di antar oleh Ummi ke depan. Sedangkan Ikbal menunggu Hawa di dalam kamar nya.
Tak lama Hawa mengerjapkan mata nya, lalu mencoba duduk, namun badan nya terasa begitu lemas hingga untuk duduk pun Hawa tak mampu. Dia menatap ke arah Ikbal yg sangat mencemas kan diri nya.
'' Kamu minum dulu, ini masih hangat!'' ucap Ikbal sambil membantu Hawa meminum teh hangat yg di buatkan Ummi.
'' Sayang, aku tahu apa yg kamu rasakan saat ini! Bukan hanya kamu saja, yg kehilangan. Aku juga, Ummi, Abi, Ibu dan masih banyak lagi! Kamu gak sendiri sayang!'' ujar Ikbal dengan lembut sambil menggenggam tangan Hawa.
'' Mas tahu, jika ini berat bagi kamu! Namun kamu harus ikhlas. Ingat! Allah pasti menempatkan Alwi di tempat yg paling indah.''
Hawa menatap Ikbal dengan pandangan sendu. Air mata nya kembali menetes deras. Ikbal yg melihat itu, segera memeluk tubuh Istrinya.
'' Mas, tahu kalau kamu sangat terpukul! Tapi bukan hanya kamu, Mas juga sama. Sayang! Jangan karena luka di hati kamu, membuat kamu menyiksa diri kamu! Sampai kamu mogok makan. Alwi pasti akan sangat sedih, saat melihat Bunda nya tak mau makan, dan malah menyiksa diri nya.'' ucap lembut Ikbal.
Bersambung.......
__ADS_1
JANGAN LUPA DONG DUKUNGAN NYA BUAT OTHOR๐BIAR OTHOR MAKIN SEMANGAT UP NYA๐ช