
Happy Reading😘
Mobil telah sampai di rumah sakit di kota. Ayah Hawa, segera di bawa keruang UGD. Hawa terus memeluk ibunya, menangis di dalam dekapan hangat sang Ibu, yang sudah melahirkan nya. Hawa tidak ingin, jika sampai terjadi apa apa sama Ayah nya.
Setelah beberapa saat lama nya, pintu ruang UGD di buka. Dan dokter pun keluar.
'' Keluarga Pasien.''
'' Saya Dok, bagaimana keadaan suami saya?''
'' Suami ibu, mengalami radang paru paru. Dan itu sudah kronis! Apa selama ini, tidak pernah di bawa periksa kerumah sakit?''
Ibu menggeleng lemah.
'' Tidak dok. Rumah kami jauh dari kota, lagipun keluarga saya tak mempunyai kendaraan dan cukup uang!'' ujar ibu sambil menangis.
'' Pasien harus rawat inap, sampai keadaan nya lebih baik!''
'' Lakukan yang terbaik dok, soal biaya biar saya yang tanggung.'' ujar Adam.
Dokter itu mengangguk, lalu masuk kembali ke dalam UGD. Sedangkan Ibu dan Hawa melihat Adam dengan tatapan haru.
'' Bang, terimakasih!'' ucap Hawa sambil memeluk suaminya.
'' Sama sama sayang. Ayah kamu, juga Ayahku!'' jawab Adam.
'' Terima kasih Nak! Ibu, berhutang banyak padamu.''
'' Tidak Bu, itu kewajiban Adam.''
Ibu memeluk Adam dan putri nya. Mereka sangat bersyukur, karena mengirimkan Adam kedalam keluarga kecil mereka.
Terimakasih ya allah, engkau sudah memberikan ku menantu, yang begitu baik.
Setelah di pindahkan ke ruang rawat inap. Hawa duduk di samping ranjang, dia terus menggenggam tangan sang Ayah. Mencium tangan yang mulai keriput itu, dengan penuh kasih dan cinta.
Air mata nya terus mengalir deras, membasahi wajah cantik nya. Hawa tak kuasa melihat Ayah nya terbaring di brankar rumah sakit, hatinya berdenyut nyeri, saat melihat wajah pucat sang Ayah.
__ADS_1
Biasanya, tangan itu yang selalu menggandeng Hawa jika berjalan. Biasanya, tangan itu yang selalu kuat, untuk menggenggam. Biasanya, tangan itu yang selalu mengelus kepala Hawa. Biasanya, tangan itu yang selalu mengusap air mata Hawa. Dan Biasanya, tangan itu pula yang selalu menyuapi Hawa dengan rezeki halal nya.
Kini, tangan itu begitu lemah tak bertenaga.
Adam yang melihat Hawa terus menagis, dia khawatir pada keadaan Hawa dan kandungan nya.
'' Sayang, istirahat yuk. Kamu jangan cape cape!'' ingat Adam.
'' Ngga Bang! Adek, masih mau nemenin Ayah.'' tolak Hawa.
'' Nak, bener kata Adam. Kamu harus istirahat! Ingatlah, sekarang kamu sedang mengandung, jangan sampai kamu kecapean! Ayah, biar ibu yang menjaga nya. Kamu pulanglah bersama Adam.'' ujar ibu.
'' Tapi Bu...''
'' Nak, ibu mengerti perasaan kamu. Tapi, jika terjadi sesuatu pada janin kamu, apa Ayah mu tidak akan sedih? Ibu akan menemani Ayah, nanti kamu bisa kesini lagi.''
Hawa pun menurut, dia tak bisa membantah perkataan ibu nya. Setelah membelikan makanan untuk sang ibu, Adam membawa Hawa untuk istirahat di hotel sebrang rumah sakit. Sebab, jika pulang ke desa. Adam khawatir dengan kandungan Hawa.
Setelah membersihkan diri, Adam mengajak Hawa untuk duduk di sofa dan memakan makanan yang sudah di pesan nya. Hawa juga tak mau egois, walaupun dia tidak berselera. Tapi Hawa tak mau, jika kandungan nya kenapa napa.
'' Sayang, Ayah akan baik baik saja! Percaya sama Abang.''
Hawa menatap wajah tampan suaminya, lalu mengangguk.
'' Hawa selalu berdo'a, supaya Ayah selalu di beri kesehatan oleh Allah.''
'' Aamiin. Ya sudah, sekarang kita tidur ya! Kasian nih si dede di perut, pasti cape juga.''
Adam mengelus perut Hawa, sambil melantunkan sholawat yang begitu merdu. Sampai Hawa, menguap dan akhirnya tertidur pulas.
Pagi ini, Hawa sudah bersiap siap untuk menengok sang Ayah. Dia membelikan sarapan di depan rumah sakit, untuk Ayah nya.
Setelah sampai di ruangan Ayah nya, Hawa langsung menaruh sarapan itu di meja. Kemudian duduk di samping sang Ayah. Lalu Mencium tangan Ayah nya.
'' Bagaimana keadaan Ayah? Apa ada yang sakit?'' tanya Hawa.
Ayah tersenyum, lalu mengusap kepala Hawa.
__ADS_1
'' Ayah sudah lebih baik Nak.''
'' Ini, Hawa bawakan Ayah bubur! Ayah harus makan ya.''
Hawa mulai menyuapi sang Ayah, sedangkan ibu sedang berpuasa. Jadi Hawa hanya membelikan Ayah nya saja.
'' Kamu sudah sarapan belum?'' tanya Ayah
'' Mawar sudah Yah.'' jawab Hawa
'' Nak Adam. Terimakasih, sudah mau membawa Ayah kesini.'' ucap Ayah.
'' Tak perlu berterima kasih Yah. Ini adalah tanggung jawab Adam juga!''
Siang ini Hawa pulang ke desa, walaupun tadinya dia menolak dan ngotot ingin menjaga Ayah nya. Tapi ibu melarang, karena Hawa sedang hamil. Jadi, mau tak mau Hawa pulang ke desa bersama Adam.
Setelah menempuh perjalanan 2 jam. Mobil sampai di pekarangan rumah Hawa. Umar yang melihat Hawa dan Adam pulang, segera membrondong mereka dengan pertanyaan.
'' Bagaimana keadaan Ayah? Ayah baik baik saja kan? Terus, kata dokter gimana? Ayah sakit apa?''
'' Kak Umar, nanya satu satu napa?'' kesal Hawa.
'' Ya kan Kakak khawatir sama Ayah.''
'' Ayah baik baik saja Kak. Kata dokter, Ayah terkena radang paru paru, dan sudah kronis. Oleh karena itu, Ayah harus di rawat inap di rumah sakit!'' jelas Adam.
'' Lalu Ibu, apa disana?''
Hawa mengangguk.
'' Kalau gitu, nanti Kakak akan kesana. Supaya gantian jaga Ayah! Kasihan ibu, kalau sampai kelelahan menjaga Ayah.'' ujar Umar.
Adam dan Hawa setuju. Dan Adam akan mengantar Kakak ipar nya nanti sore, tapi Umar menolak nya. Dia akan meminta di antar oleh Amal. Sekalian Amal juga ingin menjenguk Ayah sahabat nya.
Bersambung.....
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA😘
__ADS_1