
Happy Reading😘
Malam ini di rumah Syifa sedang di adakan tahlilan. Sedangkan Hawa masih berada di rumah sakit, dan masih belum sadarkan diri.
Adam tadinya akan pulang tapi Abi dan Ummi melarang nya, mereka menyuruh Adam agar tetap di rumah sakit menunggu Hawa sampai sadar.
Dan Adam pun manut. Dia bekerja sambil terus memantau keadaan sang Istri. Adam bahkan sampai jarang makan sebab terlalu terpukul dengan kejadian dan ujian yg menimpa dirinya dalam waktu bersamaan.
Jam menunjukan pukul 21:00, tapi Adam masih belum memakan makanan nya. Ia masih setia duduk di samping Hawa, sambil bercerita trntang kenangan nya bersama Hawa dan Syifa.
'' Nak, makan lah dulu! Nanti kamu bisa sakit. Apa kamu mau membuat Hawa semakin terpukul jika melihat mu sakit?'' jelas Ibu
Adam pun akhirnya mau memakan makanan nya, walapun tidak habis, tapi setidak nya ada asupan makanan yg masuk kedalan tubuh Adam. Sejujur nya Adam sangat tak berselera untuk makan, rasanya semua makanan di rasa pahit di lidah nya saat ini.
Kriieet
Pintu ICU terbuka, dan nampak lah Abi, Ummi dan Ayah Hawa masuk kedalam ruangan. Ummi langsung menuju ke tempat Hawa, dan menangis mencium tangan nya.
'' Nak, anak Ummi. Bangunlah Nak! Jangan membuat Ummi kembali bersedih dengan keadaan mu begini? Ummi sudah kehilangan putri Ummi, dan Ummi gak mau kehilangan putri kedua Ummi untuk kedua kali nya.'' jelas Ummi dengan isak tangis nya di samping Hawa.
Adam yg melihat Ummi menangis pilu. Dia pun kembali meneteskan air mata nya. Abi yg melihat menantunya bersedih, segera menghampiri Adam.
'' Dam, kamu harus kuat Dam!'' ucap Abi
__ADS_1
'' Aku sedih Bi, kenapa ujian ku begitu berat? Rasanya aku tak sanggup Bi!'' ujar Adam dengan kepala menunduk.
'' Nak, Allah menguji kamu itu karena ia sayang padamu! Setiap manusia pasti akan di uji oleh nya. Orang beriman pasti akan diuji dengan keburukan dan kebaikan selama ia masih hidup. Hal itu tidak lain untuk meningkatkan derajatnya di sisi Allah serta membuatnya menjadi pribadi yang tangguh dan penuh empati terhadap sesama manusia.
Ketika manusia lahir ke dunia, bahkan ketika masih di dalam kandungan, ia sudah mengalami banyak ujian. Ia diuji, misalnya, dengan ibu yang mengandungnya. Apakah sang ibu dengan tulus menjaganya, memberinya asupan yang baik agar tumbuh sehat hingga waktu melahirkan tiba, atau sebaliknya, tak peduli, bahkan dengan tega menggugurkannya karena tak menginginkannya
Bagi orang beriman, hidup sejatinya adalah panggung ujian. Ujian itu tak mesti melulu berbentuk sesuatu yang buruk. Ujian bisa juga sesuatu yang baik. Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ "Setiap jiwa pasti akan mati. Dan, Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; kepada Kamilah kalian kembali." (QS al- Anbiya' [21]: 35).
Setelah lahir, manusia makin bertambah ujiannya. Apakah orang tua akan merawatnya atau menelantarkannya, mendidiknya dengan baik atau menyianyiakannya, mensyukurinya atau malah menyesal telah melahirkannya. Semakin dewasa, ujian makin bertambah ketika berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain. Ternyata, tidak semua orang bersikap baik, bahkan ada yang menyakitinya atau berbuat jahat terhadapnya.
Seperti pada ayat di atas, ujian tak mesti berbentuk sesuatu yang buruk. Lahir dalam lingkungan yang berada, dengan asupan makanan dan gizi yang baik, dirawat dengan baik, itu juga ujian.
Apakah kelak dari semua kebaikan dan keberuntungan itu ia akan menjadi pribadi yang bersyukur, mengenal Allah, baik terhadap orang lain, tertanam rasa empati dan simpati terhadap orang lain yang tak seberuntung dirinya atau tidak. Apakah akan menjadi pribadi yang saleh atau sebaliknya, menjadi pribadi yang individualis, egois, angkuh, dan tak peduli dengan sesama.
Pun ketika merasa berada dalam kebaikan, kehidupan yang nikmat, tak kekurangan, serbacukup, ia akan menyadari ada orang-orang yang tidak sebaik dirinya. Dari situ lahir empati dan kepedulian terhadap orang-orang yang tak mampu, lalu ia menjadi orang yang ringan tangan memberi tanpa pamrih serta berbuat semampunya untuk membantu.
Orang seperti itulah yang dimaksud oleh Rasulullah sebagai mukmin sejati yang beruntung di dunia dan di akhirat:
عَنْ أَبِي يَحْيَى صُهَيْبِ بْنِ سِنَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤمنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh mengagumkan perihal orang mukmin; semua hal yang menimpa mereka membuahkan kebaikan yang itu tidak didapatkan oleh selainnya: jika ia mengalami kelapangan atau kebaikan ia bersyukur, maka itu baik buatnya. Dan, jika ia mengalami kesempitan atau keburukan ia bersabar, maka itu juga baik buatnya." (HR Muslim dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan RA).'' Jelas Abi panjang lebar.
__ADS_1
Adam mendongkak melihat wajah mertua nya itu. Kemudian mencium tangan Abi nya.
'' Makasih Bi, karena Abi sudah mau menyadarkan aku!''
Abi mengangguk. '' Ingat Nak! Allah itu maha adil, dia hanya ingin melihat ketangguhan dan ke taqwaan mu dalam menghadapi ujian darinya.''
'' Astagfirrullah, maafkan hamba ya allah! Sesungguhnya, Hamba hanya lah manusia lemah dan penuh dengan dosa. Hamba malah mengeluh dengan ujian dari mu.'' ucap Adam meminta ampun pada sang pencipta.
Setelah cukup lama Ummi dan Abi di sana, mereka pun pamit pulang. Karena malam semakin larut. Dan Adam pun mengantarkan kedua mertua nya.
*******
Pagi ini Adam berencana untuk ke makam Syifa. Sedangkan Hawa di titipkan pada kedua mertua nya, dan Kakak ipar nya. Adam memacu mobil nya dengan cepat, sebab jalanan masih lumayan lenggang.
Setelah sampai di makam Syifa, Adam menabur air di dan Bunga di atas makam nya Syifa. Kemudian memanjatkan do'a untuk almarhumah Istrinya itu.
'' Sayang, sekarang Hawa ada di rumah sakit! Dia sedang kritis dan belum sadarkan diri. Kamu do'a kan Hawa ya di atas sana, agar Hawa dan anak kita baik baik saja dan selamat.'' ujar Adam.
'' Aku juga akan melaporkan Bi Rahma ke polisi, aku tak terima dengan tindakan nya itu.'' jelas Adam dengan sorot mata tajam yg di penuhi oleh amarah. Tangan nya mengepal kuat dengan tanah basah di atas makam Syifa.
Setelah itu Adam bangkit dan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan Bi Rahma sebagai tuduhan kekerasan. Dan polisi pun segera membuat surat penangkapan untuk Bi Rahma.
'' Aku tak akan memaafkan Bi Rahma, setelah apa yg dia lakukan pada Hawa! Akan ku buat dia menyesali perbuatan nya itu? Jika dengan perkataan dan permohonan ku selama ini, tak di hiraukan oleh nya. Maka aku terpaksa memberinya efek jera dengan ini..'' gumam Adam saat di dalam mobil menuju rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung.....
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIQN GUYS😘