
Happy Reading😗
Pagi ini Hawa sedang membuat sarapan untuk makan semua orang! Hawa di bantu oleh Ibu nya dan Bik Surti juga. Mereka membuat nasi goreng Seafod dengan dadar telur padang dan perkedel kentang.
Ummi berjalan ke arah dapur, dimana ketiga wanita itu sedang memasak. '' Waaah, sepertinya enak nih?'' ucap Ummi saat sampai di dapur.
'' Iya Mi, sangat sedap malahm'' jawab Hawa
'' Eum, itu ibu kamu Wa?'' tanya Ummi sambil melirik Ibu Rum.
Ibu menengok ke arah Ummi, saat dirinya di sebut. '' Saya ibu nya Hawa Buk! Nama saya Rumanah. Ibunya Hawa.'' ucap Ibu memperkenalkan diri.
Ummi menjabat tangan Ibu. '' Saya Ummi nya Syifa, Buk! Selamat datang dan salam kenal ya.'' ujar Ummi
Ibu mengangguk. '' Iya Buk, terimakasih karena sudah mau menerima anak saya, Hawa. Terima kasih juga sudah mau baik pada Hawa.''
'' Ya allah Buk, ini tuh sudah kewajiban saya selaku ibu kedua Hawa! Saya, sangat bangga pada Ibu, sebab ibu mampu mendidik Hawa menjadi perempuan yg kuat, tangguh, bijaksana dan berhati mulia! Bahkan memiliki akhlak yg begitu baik.'' puji Ummi
'' Ibuk bisa saja! Itu memang kewajiban kita kan sebagai orang tua. Mendidik anak kita, menjadi pribadi dan berakhlak mulia! Sebab kelak di akhirat nanti, mereka lah jalan bagi kita untuk mencapai syurga nya Allah.'' jelas Ibu
Ummi mangangguk setuju. '' Betul Buk! Saya sangat setuju dengan ucapan Ibuk. Kita memang sebagai orang tua, tidak bisa lalai dalam mendidik anak! Sebab karena mereka juga, pintu neraka terbuka untuk kita. Seperti yg sudah di jelas kan bahwa...
__ADS_1
Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat pernah berkata, ''Sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci (fithrah, Islam). Dan, karena kedua orang tuanyalah, anak itu akan menjadi seorang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.''
Penjelasan ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap anak yang dilahirkan itu laksana sebuah kertas putih yang polos dan bersih. Ia tidak mempunyai dosa dan kesalahan serta keburukan yang membuat kertas itu menjadi hitam. Namun, karena cara mendidik orang tuanya, karakter anak bisa berwarni-warni: berperangai buruk, tidak taat kepada kedua orang tuanya, dan tidak mau berbakti kepada Allah SWT.
Dalam kitab Tarbiyah al-Awlad fi Al-Islam, karya Abdullah Nashih Ulwan, dalam Alquran atau hadis Nabi Muhammad SAW, telah diterangkan tentang tata cara mendidik anak.
Di antaranya adalah harus taat dan patuh kepada kedua orang tuanya, tidak menyekutukan Allah, tidak membantah perintah-Nya, tidak berbohong, dan sebagainya. [Lihat QS 9:23, 17:23, 17:24, 29:8, 31:15, 37:102, 2:83, 4:36, 6:151, 12:99, 12:100, 17:23, 17:24, 19:14, 19:32, 29:8, 31:14, 46:15].
Apabila telah dewasa, seorang anak berkewajiban untuk memberi nafkah kepada kedua orang tuanya [2:215, 30:38], anak juga berkewajiban memberikan nasihat kepada orang tua [QS 19:42, 19:43, 19:44, 19:45], mendoakannya [QS 14:41, 17:23, 17:24, 19:47, 26:86, 31:14, 71:28], serta memelihara dan merawatnya ketika mereka sudah tua [QS 17:23, 17:24, 29:8, 31:14, 31:15, 46:15].'' jelas Ummi panjang lebar.
Dan ada beberapa cara juga dalam mendidik anak dalam islam, seperti...
Anak merupakan titipan Allah yang kelak akan hidup mandiri dan lepas dari orang tuanya. Karenanya ia harus dibekali dangan keimanan yang kuat dan aturan yang tegas dalam menjalani kehidupan. Begitu pun bagi pendidik, anak adalah amanah yang harus dididik agar kelak ia dapat menjalani kehidupannya dengan bekal pengetahuan dan pengajaran dari sang pendidik. Pada umumnya, orang tua atau pendidik hanya menjadikan buku-buku psikologi sebagai referensi pendidikan bagi anak-anaknya. Jarang sekali diantara mereka yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan dalam menerapkan pendidikan. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alalmiin mempunyai metode dan cara yang spesifik untuk memperbaiki dan mendidik anak. Cara pendidikannya tentu disesuaikan dengan tingkatan umur dan kematangan berpikir anak tersebut.
Pendidikan dengan kasih sayang dan nasehat ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 11, 17, dan 18. Pada ayat 11 menjelaskan bagaimana Luqman berlaku lemah lembut dalam menasehati anaknya dengan menggunakan kata “Wahai anakku…”. Begitupun dengan ayat 17 dan 18, Luqman mendidik anaknya dengan penuh bijaksana, tanpa kekerasan, dan tanpa kesan horor yang menakutkan. Pendidikan dengan kasih sayang dan nasehat ini pun sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim :
"Dari Umar bin Abu Salamah r.a. berkata : ‘ketika masih kecil, aku pernah berada dibawah pengawasan Rasulullah SAW, dan tangtanku bergerak mengulur ke arah makanan yang ada dalam piring. Maka Rasulullah SAW berkata kepadaku, ‘Wahai anak, sebutkanlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu"
Pendidikan berikutnya dapat dilakukan dengan bersikap apatis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apatis adalah bersikap acuh tidak acuh, tidak peduli, dan masa bodoh, Pendidikan seperti ini lebih dikhususkan kepada anak yang berada pada fase awal usia sekolah dasar. Pada usia ini, anak belajar untuk menemukan identitas dirinya. Orang dan benda disekelilingnya tentu ikut membangun karakter pada dirinya. Semangat untuk mencontoh dan meniru gerak-gerik, gaya bahasa maupun bahasa tubuh orang lain terkadang menjadi hal yang sering dilakukan untuk menemukan dan mengenal siapa dirinya.
Dalam proses identifikasi inilah, seorang anak perlu mendapatkan bimbingan tentang apa yang dia perbuat dan apa yang dia katakan. Jika dalam perkembangannya, anak terlihat menyimpang maka sebagai pendidik dan orang tua sewajarnya untuk menegur. Jika teguran yang diberikan tidak diindahkan dan anak mengulangi kembali perbuatannya maka sewajarnya diberlakukan sikap apatis pada anak tersebut.
__ADS_1
Hal ini sesuai dengan kisah berikut:
Dalam sebuah riwayat dikatakan: Kerabat Ibnu Mughaffal yang belum baligh bermain lempar batu. Kemudian ia melarang dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang bermain lempar batu dan beliau bersabda, ‘Sesungguhnya lempar batu tidak akan dapat memburu buruan....’Kemudian anak itu kembali bermain. Maka ia berkata, ‘Aku memberitahumu bahwa Rasulullah SAW telah melarangnya, namun engkau terus bermain lempar batu? Maka aku tidak akan mengajakmu bebicara selamanya!”
Abi, Umar, Ayah Hawa dan Ikbal yg baru saja datang ke dapur, mereka mendengarkan cerita 2 ibu yg sedang memasak itu, mereka menyimak setiap kata yg keluar dari mulut kedua wanita pembuka Syurga itu.
Terutama Hawa, dia mencerna setiap kalimat yg keluar dari kedua Ibu nya tersebut. Sebab Hawa juga akan menjadi seorang Ibu, jadi tanggung jawab Hawa begitu besar di akhirat dan di hadapan Allah nanti.
'' Nak, ngelamunin apa?'' tanya Ayah.
'' Nggak Yah! Hawa hanya sedang menyimak semua penjelasan Ummi dan Ibu. Hawa kan juga akan menjadi orang tua! Jadi Hawa, harus benar benar tepat dalam mendidik anak, sesuai ajaran islam.'' jelas Hawa.
'' Benar Nak, Abi setuju! Ajarilah anak mu, dan didik ia kelak dengan didikan yg di contohkan Nabi Muhammad pada kita umat nya!'' timpal Abi.
Hawa mengangguk. '' Oh ya, Bang Adam dimana Bi?'' tanya Hawa pada Abi.
'' Ada di kamar Syifa! Katanya mau melihat keadaan Syifa.'' jelas Abi.
Hawa pun menganggukan kepala nya kembali. Lalu melihat ke arah 2 wanita yg sedang membahas mendidik anak, yg belum kelar. Saat mereka sedang melihat Ummi dan Ibu Hawa menata makanan di meja, Tiba tiba terdengar suara Adam berteriak.
Ummi..... Abi..... Hawa.....
__ADS_1
Bersambung.....
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN GUYS😗