Menjadi Yang Ketiga

Menjadi Yang Ketiga
Kedatangan Adam dan Raisya


__ADS_3

Happy Reading😘😘


Malam ini Hawa masih berada di rumah sakit, di temani Umar dan Ibu nya. Sedangkan Nisa pulang ke kontrakan karena harus menemani Putri adik nya Hawa. Dan Nisa pun juga lagi kurang enak badan, jadi Hawa menyuruh Nisa pulang dan istirahat.


Hawa selesai menyusui Alwi, lalu ibu menaruh nya di box bayi. Sedangkan Umar sedang menonton tv karena ada pertandingan bola antar malaysia vs indonesia. Dan itu juga kesukaan Hawa.


'' Nak, apa kamu sudah kasih tahu Adam, tentang kelahiran kamu?'' tanya Ibu dengan lembut.


Hawa menggeleng lemah. '' Belum..'' jawab nya singkat.


'' Kenapa? Nak, dengarkan ibu. Walaupun kamu dan Adam nanti tak lagi bersama, tapi ingatlah. Alwi itu adalah anak Adam! Dan Adam wajib bertemu, dan menafkahi Alwi.'' terang Ibu


'' Tapi Bu, Haw takut kalau nanti di persidangan Bang Adam akan meminta hak asuh Alwi?''


'' Tidak akan.'' jawab seseorang yg berdiri di pintu. '' Dia tidak akan bisa, sebab Alwi pasti jatuh ke tangan kamu! Apalagi, dia masih bayi. Dan Adam bisa masuk penjara, jika ia memaksa..'' jelas nya.


'' Kak Ikbal.'' ucap Hawa


Ya, dia adalah Ikbal. Ikbal memang sengaja datang kembali kesana untuk menengok keadaan Hawa, dia juga membawa buah buahan dan di taruh nya di meja dekat brankar.


'' Apa Kaka yakin?''


'' Ya, sangat yakin. Jadi kamu gak usah takut! Aku juga sudah menyiapkan pengacara utuk membantu kamu.'' jelas Ikbal


'' Terimaksih Nak, kamu sudah banyak membantu kami.'' ucap Ibu sambil mengelus lengan Ikbal.


'' Sama sama Buk, aku hanya menjalankan titah Abi dan Ummi.''


'' Bro, sini. Lihat bola nih! Lagi seru banget....'' panggil Umar pada Ikbal. Lalu Ikbal pun duduk di kursi sebelah Umar dan ikut menyaksikan pertandingan itu.


Saat sedang asik nonton, tiba tiba ponsel Ikbal berdering. Dan ternyata itu adalah panggilan dari Ummi nya. Ikbal mengangkat nya dan terlihat jelas wajah Ummi dan Abi di layar ponsel Ikbal.


'' Hallo, assalamu'alikum Ummi, Abi.'' ucap Ikbal


'' Wa'alaikumussalam... Bal, Hawa mana? Ummi mau ngobrol sama dia?''


'' Sebentar ya Mi'' ucap Ikbal lalu berjalan ke arah Hawa. '' Wa, Ummi mau ngobrol katanya.''


Hawa menerima ponsel itu dari tangan Ikbal.


'' Hallo, assalamu'alaikum Ummi, Abi. Apa kabar?'' tanya Hawa basa basi


'' Wa'alaikumussallam... Kabar baik, Nak! Kamu sendiri, bagaimana kabar nya? Mana cucu Ummi? Ummi sama Abi mau lihat dong?'' pinta Ummi


''Alhamdulillah, baik Mi. Sebentar... Buk, Alwi nya di gendong ya!'' ucap Hawa pada ibu nya.


Setelah dalam gendongan sang ibu, Hawa mengarhkan kamera ke arah sang Bayi. Dan terlihat wajah bahagia Ummi serta Abi.


'' Masya allah, Ummi jadi pengen gendong dan cubit pipi nya.'' jelas Ummi


'' Ummi, kok di cubit sih? Sakit dong.'' omel Abi


''Iya Bi, maaf. Lagian Ummi tuh gemezz banget sama Alwi? Tuh lihat, pipi nya gembul..'' ucap Ummi


Lalu mereka pun ngobrol naglor ngidul, sampai akhir nya Ummi bertanya soal Adam pada Hawa. '' Nak, bagaimana selanjut nya? Apa kamu masih akan menceraikan Adam?'' tanya Ummi


Hawa menghela napas nya dengan berat.

__ADS_1


'' Nak, Abi tahu jika ini pasti sulit untuk kamu! Namun satu, Abi dan Ummi akan selalu dukung apapun keputusan kamu? Jika memang sudah tak kuat, maka lepaskan. Daripada membuat kamu sakit?'' jelas Abi da barengi anggukan oleh Ummi.


''Iya Bi. Makasih sudah dukung Hawa.''


'' Lalu, apa kamu sudah memberitahu Adam soal kelahiran kamu?'' tanya Abi dan di jawab gelengan kepala oleh Hawa.


'' Nak, bagaimana pun, Adam harus tahu! Dia adalah Ayah dari Alwi, dan kewajiban nya menafkahi Alwi.'' jelas Abi.


'' Iya Bi, nanti Hawa akan telpon Bang Adam, dan memberitahukan nya.''


Setelah berbincang cukup lama, dan mendapat nasihat dari Abi. Telpon pun terputus. Hawa memandang wajah Alwi yg sedang tertidur pulas di samping nya.


' Kasihan kamu Nak, baru lahir namun harus menghadapi cobaan.' batin Hawa


Jam menunjukan pukul 22.30. Ikbal pamit pulang. Namun sebelum Ikbal pulang, Hawa sempat berpesan untuk memberitahu Adam soal persalinan nya. Hawa meminta Ikbal yg menelpon nya nanti. Seba Hawa masih belum siap.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi ini Hawa sudah di perbolehkan pulang. Dan dia di jemput oleh Ikbal. Mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit itu. Setelah 20 menit perjalanan, mobil pun sampai di depan rumah kontrakan Hawa.


Mereka masuk, dan Hawa lansung menuju kamar nya untuk istirahat, soal nya semalam ia bergadang karena Alwi sedikit rewel. Sedangkan Ikbal langsung pergi lagi, karena ada meeting yg harus dia hadiri.


Saat Hawa tertidur, dia mendengar ribut ribut di luar kamar nya. Lalu Hawa turun dari ranjang dengan sedikit meringis sakit, sebab jahitan nya masih sakit dan perih. Hawa berjalan pelan ke arah pintu, dengan langkah yg begitu hati hati sebab takut jahitan di inti nya sobek.


Pas Hawa buka pintu, dia terpaku saat melihat Umar sedang menonjok Adam yg sudah jatuh tersungkur. Terlihat Ibu dan Nisa menahan tubuh Umar. Lalu tatapan nya jatuh ke pada Adam, Hawa melihat Adam begitu miris dengan wajah babak belur.


Namun dada nya kembali sesak, saat melihat wanita cantik yg membantu Adam berdiri. Dia adalah Raisya. Entah kenapa Adam membawa Raisya kesana.


'' Ada apa ini?'' tanya Hawa


'' Nak...'' ucap Ibu lalu memapah Hawa


'' Dek, abang kangen!'' ujar Adam, namun Hawa malah berjalan di papah Ibu untuk duduk di sofa.


'' Ada apa Abang kesini, bersama dia?'' tunjuk Hawa pada Raisya.


'' Dek, Abang mau bertemu anak kita! Dimana dia? Abang ingin sekali menggendong nya! Dan, Abang juga sangat merindukan mu Dek?''


'' Buk, tolong ambil Alwi ya!'' pinta Hawa


Ibu mengangguk, lalu mengambil Alwi di kamar Hawa.


Tak lama ibu keluar dengan menggendong seorang bayi mungil nan tampan. Adam langsung berdiri dan hendak menggendong alwi. Namun ibu mencegah nya.


'' Gendong nya duduk saja! Kamu kan babak belur.'' ketus Ibu


Lalu Adam pun duduk di sofa dan menggendong Alwi, dia mengajak ngobrol anak nya. Hawa yg melihat itu, sungguh sangat amat sesak. Ada rasa bahagia saat melihat Adam menggendong Alwi, namun sesak dan nyeri di hatinya lebih besar. Apalagi melihat ada Raisya di sana.


Istri mana yg tak sakit hati, saat melihat Suaminya bersama wanita lain. Tentu hati semua istri pasti akan hancur, dan terluka. Namun Hawa berusaha kuat dan tegar. Ia gak mau jika sampai Adam dan Raisya melihat kelemahan nya.


Sepertinya aku harus membereskan masalahku dengan Bang Adam sekarang! Mumpung dia dan wanita itu, ada di sini?


Oooeeeekk Oooeeeekkk


'' Buk, sepertinya Alwi lapar? Ibu kasih asi yg di dot, di dalam kamar saja! Aku sudah pompa tadi.'' jelas Hawa


Ibu mengangguk, lalu mengambil Alwi dari gendongan Adam dan membawa nya ke kamar di susul putri. Tinggalah di ruang tamu kini, Hawa, Umar, Nisa, Adam dan Raisya.

__ADS_1


Sedari tadi Umar terus menatap Adam dengan tatapan yg begitu bengis. Saat Adam datang ke rumah itu tadi, Umar langsung menonjok wajah Adam tanpa ampun. Bahkan seperti orang yg hilang kendali. Namun Adam tak melawan, dia diam saja. Sebab Adam tahu, jika kesalahan nya sangatlah fatal pada Hawa.


'' Katakan! Apa ada perlu lagi? Jika tidak ada, maka kalian boleh pergi.'' ucap Hawa dingin


Adam menggeser duduk nya dan hendak duduk di sebelah Hawa. '' Stop! Jangan dekat dekat. Jika Abang berani, maka Kak Umar akan menendang Abang keluar, dan aku tak akan mengizinkan Abang bertemu Alwi lagi.'' ucap tegas Hawa


Adam yg mendengar ancaman Hawa, akhirnya menurut. Dia gak mau jika sampai dia tak bertemu lagi bersama Alwi.


'' Dek, Abang tahu kesalahan Abang sangatlah fatal! Mungkin kata maaf saja, tak akan cukup membayar semua dosa Abang sama kamu? Abang mohon Dek, jangan gugat Abang! Pulanglah...'' pinta rayu Adam.


'' Maaf Bang, keputusan ku sudah bulat.'' jawab Hawa tanpa memandang Adam


''Abang gak akan lepasin kamu dek? Kamu gak akan bisa gugat Abang.'' seru Adam


''Kenapa Nggak? Aku punya buktinya kok?'' sindir Hawa


'' Dek, Abang mohon.. Demi Alwi, Dek! Demi anak kita? Apa kamu tega, melihat dia tumbuh dengan Papa dan Mama nya berpisah?''


'' Ck, semua juga karena Abang? Abang bisa bilang begitu! Tapi, apa Abang tak berpikir jika semua ini terjadi karena nafsu besar Abang? Abang tak cukup 1 istri, dan mau menambah lagi? Dan jahat nya Abang, sudah mendua di belakang aku!


Sekarang Abang bilang, Abang mau aku kembali karena Alwi? Nggak. Aku pantas bahagia Bang! Sudah cukup, selama ini aku diam dan mengalah. Aku berhak bahagia Bang! Dan soal Alwi, aku yakin jika Alwi anak yg kuat dan hebat! Aku akan mendidik nya dengan agama dan akhlak yg baik.


Dan satu hal lagi. Aku sudah memaafkan kalian berdua! Walaupun perbuatan kalian, sungguh tak manusiawi namun aku sudah memaafkan nya. Tapi, jika untuk kembali. Maaf! Aku tak bisa. Aku tak akan mau, kembali masuk kedalam lubang yg sama?'' jelas Hawa


Raisya membulatkan mata nya saat mendengar penuturan Hawa. Dia tak percaya jika Hawa sudah memaafkan nya dan juga Adam.


'' Kenapa dengan mudah nya kau memaafkan kami?'' heran Raisya.


'' Aku hanyalah seorang hamba Allah. Setiap manusia itu, punya salah dan dosa! Aku, hanya bertugas memaafkan orang orang yg mendzolimi ku saja. Soal pembalasan, aku serahkan pada yg kuasa. Aku hanya tidak mau, hidup dengan sebuah rasa benci dan dendam! Aku ingin hidup, dengan damai dan tentram tanpa ada rasa dendam pada siapa pun.


Walau ku akui, jika sakitnya bahkan belum hilang dalam hati ini. Luka nya masih menganga lebar. Namun aku, berusaha ikhlas dalam setiap cobaan. Karena ku yakin, jika Allah sudah menyiapkan kebahagiaan untuku, walau tak bersama dengan Bang Adam.'' jelas Hawa


Raisya tersentuh mendengar ucapan Hawa. Betapa ia sangatlah jahat pada wanita berhati mulia itu. Jika wanita lain, maka tak akan mudah memaafkan apalagi berhadapan. Mungkin jika wanita lain, akan langsung menjambak nya dan menampar nya. Namun Hawa, dia malah memaafkan nya.


'' Sungguh mulia hatimu Hawa! Pantas saja, Adam begitu mencintaimu?'' ucap Raisya


Hawa hanya tersenyum getir mendengar ucapan Raisya.


'' Dek, apa kamu sudah benar benar yakin? Jika kamu ingin pisah dariku?'' tanya Adam


'' Iya Bang. Maafkan aku, jika selama aku menjadi istrimu aku banyak salah padamu!''


'' Jika itu mau kamu, maka aku tak bisa memaksa. Aku akan kasih waktu kamu 3 hari, untuk memikirkan nya baik baik! Jika keputusan kamu masih sama, maka aku akan kabulkan permintaan kamu.'' ucap Adam


Sejujurnya kata kata itu sangatlah berat untuk Adam ucapkan. Namun mengingat kesalahan nya, dia kasihan pada Hawa. Adam tak mungkin memaksa Hawa untuk kembali pada nya, dan itu malah akan membuat Hawa semakin tersakiti.


Adam akan berusaha untuk ikhlas melepas kan Hawa. '' Tapi, jika nanti kita berpisah. Aku hanya minta padamu, tolong jangan larang aku untuk ketemu dengan Alwi.'' pinta Adam


'' Gak Bang, aku gak akan larang! Sebab itu adalah anak kamu, dan kamu wajib menafkahi nya.'' jelas Hawa


Kemudian Adam dan Raisya pamit pulang, namun sebelum itu, Adam memberikan karu ATM pada Hawa, untuk kebutuhan Alwi. Dan Hawa menerima nya. Lalu Raisya mendekat ke arah Hawa.


'' Aku pamit ya! Maaf, jika aku ada salah. Sebenar nya, aku ikut kesini untuk meminta maaf sama kamu, dan sekalian pamit untuk melanjutkan pekerjaan ku di London! Maafkan aku ya Wa, jika aku sudah menyakitimu! Aku sudah terbuai dengan bisikan syetan. Tapi percayalah, jika Adam sangat mencintaimu, dan kamu wanita yg begitu tepat dan berhati mulia.''


Hawa hanya menanggapi nya dengan senyuman, lalu merek berdua pun pamit hingga mobil melaju meninggalkan kobtrakan Hawa.


' Maafkan aku Bang, aku tak bisa kembali padamu! Luka yg kau beri, sungguh sangat sakit dan lebar. Rasanya aku tak akan sanggup jika harus bersama mu kembali? Mungkin, jodoh kita hanya sampai sini Bang! Bahagialah,walau tanpa aku..' batin Hawa.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2