
Happy Reading😘😘
Budayakan like sebelum baca ya dears😘😘
Ya allah, lancarkanlah acara esok hari. Jangan sampai ada kendala apapun. Aamiin...
'' Sayang, kita tidur yuk! Besok kan kita akan ngadain acara syukuran.'' ajak Ikbal
'' Iya, Mas. Tapi, aku belum minum susu hamil nya?''
'' Kamu tunggu di sini, Mas bikin dulu.''
'' Eh, nggak usah Mas. Biar Hawa sendiri saja.''
'' Gak papa! Udah kamu di sini saja.''
Ikbal pun keluar dari kamar untuk membuatkan Hawa susu hamil..
Tak lama, pintu terbuka dan Ikbal masuk dengan satu gelas susu di tangan nya.
'' Makasih, Mas.'' ucap Hawa sambil meminum susu hamil nya.
" Sama sama Sayang..."
🌷
🌷
Semua sudah siap, anak yatim pun sudah pada kumpul di rumah Ikbal. Mereka akan melaksanakan tasyakuran 4 bulan kehamilan Hawa.
Abi lah yg memimpin do'a di acara tersebut.
Dan acara pun berjalan lancar tanpa kendala apapun. Ikbal sangat bersyukur, sebab acara berjalan lancar tanpa ada kendala apapun.
Setelah semua membaca do' a, Ikbal mulai menyiapkan bungkusan sembako yg akan di bagikan nanti untuk anak yatim.
Hawa dan Ikbal berdiri untuk membagikan bingkisan beserta amplop yg sudah di siapkan oleh mereka. Satu persatu anak yatim berjalan ke arah mereka, dan menyalami tangan Hawa, Ikbal dan kedua orang tua nya.
Hawa memberikan 1 persatu bingkisan beserta amplop itu.
Ada rasa bahagia yg teramat sangat yg Hawa rasakan. Saat memberikan bingkisan dan amplop itu.
' Ya allah, beginikah rasanya bisa membantu sesama? Rasa damai dan bahagia. Rasa begitu tentram saat melihat senyum bahagia mereka? Ya allah, ya rabbku. Semoga ini bukan lah yg terakhir aku berbagi? Selalu lancarkan rezeki suamiku, agar bisa terus berbagi pada saudari seiman kami ya allah.' batin Hawa
Setelah semua selesai, para anak yatim itu pun pulang. Hawa dan Ikbal mengucapkan banyak terima kasih pada pemilik panti. Sebab sudah mau datang dan mendoa kan kehamilan Hawa.
__ADS_1
" Makasih ya Buk! Sudah berkenan datang, dan medoakan kehamilan istri saya!" ucap Ikbal
" Sama sama Pak, Ikbal. Seharus nya saya dan anak anak lah yg berterima kasih, sebab Pak Ikbal sekeluarga, berkenan mengundang kami kesini?" ucap Bu santi, pemilik panti asuhan kasih bunda.
🌷
🌷
Ummi sibuk di bantu tetangga rumah untuk membereskan bekas acara. Sedangkan Hawa sedang istirahat di ruang tv, sebenar nya Hawa ingin membantu tapi Ummi dan Ikbal melarang keras.
" Mas, aku mau ice krim." pinta Hawa
" Begitu! Yasudah, Mas ambilkan dulu di kulkas ya..." ucap Ikbal
Hawa mengangguk, dia merasa gerah hari ini. Karena memang cuaca juga sedang panas terik. Di tambah, perut Hawa yg mulai membesar seperti hamil 6 bulan.
Sebab Hawa mengandung anak kembar, jadi perut nya 2x lipat.
" Ini sayang.." Ikbal menyerahkan Ice krim di cup kecil pada Hawa, dan langsung di sambut Hawa dengan wajah berbinar.
Cup
" Makasih Mas." ucap Hawa sambil mengecup pipi Ikbal
" Sayang, jangan menggodaku? Ini masih siang looh..." bisik Ikbal
Ikbal membuang napas nya dengan kasar. Dia selalu tak bisa mengontrol gairaah nya saat Hawa mencium nya.
Bahkan setiap kali Hawa menggunakan daster tanpa lengan saja, Adik kecil Ikbal langsung terbangun meminta jatah.
Saat mereka sedang menonton tv, tiba tiba Ummi datang dengan wajah tegang.
" Ummi, ada apa? Kenapa wajah Ummi begitu tegang?" tanya Ikbal
"Itu... Itu, Nak. Di depan ada Yusuf?" ucap Ummi
Hawa menghentikan gerakan tangan nya yg akan menyuapkan sendok ice krim ke mulut nya.
Sepasang suami istri itu menatap Ummi dengan mata membulat. Lalu Ikbal bangkit melangkah ke arah depan. Dan ternyata benar, Abi sedang berdiri berhadapan dengan Pria yg menjadi buronan polisi saat ini.
" Waaaw, ternyata kau masih punya nyali dan wajah untuk datang kesini?" ledek Ikbal dengan sorot mata tajam
" Ada yg mau aku bicarakan." ucap Yusuf
"Buat apa? Kau tahu bukan, jika saat ini polisi sedang memburumu?" sarkas Ikbal
__ADS_1
" Iya, aku tahu!" lirih Yusuf dengan wajah menunduk
" Sudah! Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam." ucap Abi
Akhir nya Yusuf di persilahkan masuk ke dalam. Hawa menggenggam erat tangan Ummi. Dia begitu khawatir dengan kedatangan Yusuf.
" Kak Yu-yusuf..." ucap gugup Hawa
Yusuf hanya tersenyum dengan wajah menunduk.
" Kau, ada apa kesini hah? Apa kau ingin menyerahkan diri?" tanya Ikbal dengan mata tajam menatap Yusuf.
" A-ada yang mau aku bicarakan!" ucap Yusuf sedikit tergagap.
Yusuf bahkan tak berani menatap wajah Ikbal dan keluarga nya. Dia terlalu malu untuk sekedar menatap wajah mereka satu persatu.
" Sebenar nya ada apa, kamu kesini Nak Yusuf?" tanya Ummi angkat bicara
" Saya....." Yusuf terlihat ragu untuk mengatakan perihal kedatangan nya.
" Jika kau tak urung bicara! Maka aku akan telpon polisi untuk kesini?" ancam Ikbal
" Jangan..." Ucap Yusuf dengan cepat.
" Yasudah, katakan. Ada apa? Jangan membuang waktu kami?" geram Ikbal
" Mas, sabarlah. Jangan marah marah!" ucap Hawa menenangkan Suaminya. Sebab Ikbal dari tadi terlihat tak bisa mengontrol emosi nya.
" Bagaimana aku bisa tenang sayang? Dia sudah datang lagi?"
" Sebenar nya....." Yusuf mengangkat suara, membuat semua mata tertuju pada nya.
Hhhuuuufff
Terlihat Yusuf membuang napas nya dengan panjang, seperti mengeluarkan sebuah beban yg berat dalam dirinya.
" Sebenar nya aku kesini untuk meminta maaf, padamu Ikbal, dan juga Hawa. Aku tahu, mungkin tindakan ku salah pada kalian! Tapi, apa dayaku? Aku hanyalah seorang manusia yg menjalani takdir dari sang pencipta.
Aku hanya manusia yg tak luput dari dosa. Aku hanyalah manusia, yg menerima apa yg Allah berikan pada hidupku! Apa kalian pikir aku mau dengan perasaan ini? Apa kalian pikir, aku tenang dan bahagia dengan perasaan yg ku rasakan saat ini?
Tidak! Aku menderita. Sangat menderita! Jauh. Jauh sebelum kalian minta aku untuk melupakan rasa ini pada Hawa! Aku sudah melakukan nya. Aku sudah coba berbagai cara, dari waktu Hawa masih bersama Adam dulu.
Aku sudah berusaha melupakan perasaan ini.
Tapi, apa aku yg mempunyai hati ini? Tidak! Sesungguhnya, aku hanyalah seorang hamba. Dia. Dialah sang pemilik hati! Dia yg menetapkan hatiku kemana akan berlabuh. Kemana hati ini, akan menemukan jalan dan kebahagiaan nya.
__ADS_1
Apa kalian pikir, jika aku tidak tersiksa? Aku bahkan sangat tersiksa, lebih dari yg kalian tahu. Berbulan bulan bahkan hampir setahun ini aku mencoba melupakan Hawa. Mencoba menerima takdir, jika Hawa bukan lah miliku? Namun, aku tak bisa! Perasaan itu semakin besar.
Bersambung.....