
Happy Reading😘😘
Maaf ya dears, othor telat Up🙏Soalnya othor seharian di jalan ke jakarta😔ini aja walau badan cape othor sempetin up😘Dan Maaf🙏untuk 1 minggu ini, othor akan up mungkin 1 bab sehari. Sebab Othor lagi ada acara, dan sangat sibuk🙏mohon pengertian nya dears😘Tapi othor akan sempetin up kok, walau 1 bab sehari😘😘
Setelah Hawa memberikan pengertian pada ibu ibu ghibah tersebut, kemudian Ikbal datang dari arah belakang rumah bersama Umar.
'' Sayang, kamu kok gak istirahat?'' tanya Ikbal
'' Nggak Mas, aku bosen di kamar terus! Mas sendiri habis darimana?''
'' Itu, aku habis dari kebun ambil singkong sama Kak Umar.'' jawab Ikbal
'' Yasudah, kamu mandi dulu gih!''
Ikbal mengangguk lalu berjalan masuk kedalam rumah, untuk membersihkan diri nya.
'' Waaaah, Wa, suami kamu tampan banget? Tapi.... Bukan nya suami kamu itu Nak Adam ya? Ponakan nya Sri?'' tanya Bu Leni, dan di angguki oleh ibu ibu yg lain.
''Alhamdulillah, Buk! Memang suami pertama saya, Bang Adam.''
'' Lah, terus itu siapa?'' tanya Bu Aldah penasaran.
'' Itu suami kedua saya Buk, nama nya Mas Ikbal.''
'' Haaah....'' kaget para ibu ibu yg ada di sana.
Mereka tentu kaget dengan penuturan Hawa, lalu saling memandang satu sama lain.
'' Tunggu tunggu.. Kamu punya suami 2?'' kaget Bu Dewi.
'' Husss, Hawa itu gak punya suami 2! Tapi sama yg pertama sudah pisah.'' jelas Ibu Hawa.
'' Kok bisa?'' timpal Bu Leni penasaran.
'' Dia selingkuh!'' ucap Ibu cepat.
'' Ya ampun, gak nyangka banget ya? Ternyata Nak Adam itu suka selingkuh?'' ujar Bu Dewi
'' Buk, kenapa ibu bilang seperti itu? Kasihan kan Bang Adam.'' bisik Hawa
'' Ya kan, Ibu hanya bicara jujur.''
Hawa melihat para ibu ibu mulai menggunjing Adam.
'' Ibu ibu, saya mohon jangan gunjing Bang Adam! Kita berpisah itu, sudah takdir dan tidak berjodoh. Lagipun Bang Adam sudah meninggal.'' jelas Hawa
'' Innalillahi....'' ucap serempak para ibu ibu itu.
'' Pasti itu karma, karena dia sudah selingkuh? Persis seperti film di indosi*r itu, yang suaminya selingkuh! Yang judul nya jeritan hati bojo...'' jelas Bu Leni
Hawa yg mendengar itu pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Dia pamit pada semua ibu ibu di sana.
__ADS_1
Hawa tak mau mendengar gunjingan para ibu ibu itu lagi. Padahal baru saja Hawa jelaskan hukum dan dosa nya Ghibah. Tapi seakan ibu ibu itu masuk kanan keluar kiri.
Memang sangatlah susah untuk kita membuat seseorang menjauhi dosa, walaupun sudah kita jelaskan. Mereka akan paham setelah mendapatkan hidayah, atau hati mereka sudah di ketuk, barulah mereka akan sadar.
'' Sayang, kamu kenapa? Kok murung?'' tanya Ikbal saat melihat Hawa masuk kedalam rumah dengan wajah murung.
Hawa pun menjelaskan tentang gunjingan tadi.
Tapi sebenar nya bukan itu yg membuat Hawa sedih, tapi kalau dia ingat kecelakaan itu, mengingatkan Hawa pada Alwi. Dan itu membuat dia sedih.
'' Sudah biarkan saja! Jangan sedih ya, Mas gak mau lihat kamu sedih lagi.''
'' Iya Mas...''
🌼
🌼
🌼
Malam ini Hawa sedang membuatkan wedang jahe dan menggoreng singkong yg di ambil di kebun. Setelah singkong matang, Hawa membawa nya ke ruang tengah dimana semua sedang berkumpul.
'' Waaah, singgor! Alias singkong goreng.'' seru Umar
'' Silahkan di nikmati..'' ucap Hawa
Saat semua sedang makan, tiba tiba Putri adik nya Hawa pulang sambil menangis.
'' Aku di jailin sama teman aku kak! Mereka tadi ngedorong aku, sampai aku jatuh ke selokan!''
'' Astagfirullah! Siapa yg dorong kamu? Bilang sama Kaka.'' geram Umar
'' Kak, jangan begitu! Sudah, Putri kamu ganti baju, tapi bersihin dulu ya tubuh nya?'' titah Hawa
'' Iya kak...''
Putri pun pergi ke dapur dan mencuci tubuh nya yg kotor. Sedangkan Umar terlihat menahan kesal.
'' Kak, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan!'' ujar Hawa
'' Tapi, Dek! Mereka sudah keterlaluan?'' geram Umar
'' Iya, Hawa tahu! Tapi namanya juga anak kecil kak. Mereka memang terkadang jahil, kan kakak tahu?''
'' Ya, Kakak tahu! Tapi nantinya kebiasaan, kalau gak di tegur?''
'' Iya, nanti coba Kakak tegur saja! Tapi ingat, jangan marah marah, sebab mereka masih kecil.'' jelas Hawa
'' Iya, Kakak paham...''
🌼
__ADS_1
🌼
🌼
Pagi ini Hawa sudah bersiap untuk ikut Ibu dan Kakak nya ke ladang. Mereka akan memanen timun yg sudah siap di panen, dan akan di jual ke pasar yg ada di kota.
Setelah semua siap, Ikbal dan Umar pun membawa bekal makanan untuk di bawa ke ladang.
Recananya mereka akan sarapan di ladang.
20 menit berjalan kaki, akhirnya mereka pun sampai di ladang seluas 2 hektar itu. Kini yg merawat ladang itu adalah Umar dan Ibu nya.
Bahkan Umar sudah gak meneruskan penjualan arang lagi, sebab ia tak sanggup membagi waktu.
'' Kita sarapan dulu, ya!'' ucap ibu
Semua mengngguk, lalu Umar langsung mengambil 1 lembar daun pisang dan mengelap dengan kain bersih.
'' Itu daun pisang, buat apa Kak?'' tanya Ikbal
'' Buat makan.''
''Hah, makan?'' kaget Ikbal
Hawa tersenyum melihat keterkejutan Ikbal.
'' Mas, di ladang itu makan lebih enak, di alas daun pisang.'' jelas Hawa. '' Tapi, kalau Mas mau pakai piring, aku siapin dulu!'' sambung nya lagi.
Ikbal melihat Ibu menuang nasi beserta lauk pauk yg di bawa nya dari rumah, ke atas alas daun pusang itu.
'' Aku makan di atas pisang itu saja!'' jelas Ikbal.
Dia merasa tak enak, jika harus makan di piring seorang diri. Lagipun Ikbal pikir tak ada salah nya juga makan di alas daun pisang, karena selama ini dia belum pernah makan di alas daun pisang.
Biar jadi pengalaman dan kenang kenangam juga buat aku. batin Ikbal.
Mereka pun mulai makan, Ikbal yg awalnya ragu, tapi melihat semua makan dengan lahap. Akhirnya ikut makan, dan ternyata bagi Ikbal itu sangat nikmat.
Sebab ia merasakan sensasi yg berbeda, bagi nya terasa lebih nikmat dan sedap. Di tambah mereka makan di tengah ladang, dengan udara pagi yg masih asri dan sehat.
'' Gimana Mas?'' tanya Hawa saat mereka selesai makan.
'' Ternyata lebih nikmat ya sayang! Mungkin karena suasana nya juga, di tengah tengah ladang.'' jawab Ikbal.
Hawa senang karena Ikbal menikmati makan nya. Hawa pikir jika Ikbal tak akan menyukai nya, namun ternyata Ikbal suka. Malah tadi sampai nambah 2x.
Selesai makan, mereka pun memulai pekerjaan nya. Hawa membantu sang ibu untuk memanen cabe merah, sedangkan Ikbal dan Umar memanen Timun dan terong.
Walaupun ladang mereka di tengah hutan, tapi tak ada babi hutan yg merusak tanaman mereka. Apalagi manusia yg jail. Walaupun ada 1 atau 2 yg jail memetik buah buahan atau sayuran di ladang orang tua Hawa.
Namun keluarga Hawa tak masalah. Bagi mereka mungkin orang yg mengambil itu lagi butuh, dan mereka menganggap nya sebagai sedekah.
__ADS_1
Bersambung.......