Menjadi Yang Ketiga

Menjadi Yang Ketiga
Kuatkan Aku Ya Allah


__ADS_3

Happy Reading😘


Terdengar deru mesin mobil dari teras rumah. Hawa yang sedang duduk menonton tv, keemudian bangun dan membuka pintu depan. Dia menyambut Kakak madunya itu, kembali ke rumah.


Suasana di rumah itu pun kembali sepsrti semula. Setelah Syifa membaik. Rumah yang selalu penuh kasih dan sayang, penuh senyum dan tawa. 2 wanita shalihah itu, selalu hidup rukun. Walaupun tidak ada yang tahu keadaan hati mereka seperti apa?


Tak terasa, waktu sudah bergulir. Kini, kandungan Hawa sudah menginjak bulan ke lima. Setelah 1 bulan yang lalu mengadakan tasyakuran 4 bulan kehamilan Hawa.


Perut Hawa juga sudah mulai membuncit.


Saat ini, Hawa sedang membuat juz untuk nya dan juga Syifa. Dia menaiki tangga, namun pada saat Hawa akan mengetuk pintu kamar Syifa. Tiba tiba Hawa mendengar seseorang sedang berbicara, seperti sedang menelpon.


Hawa pun mengurungkan niat nya. Tapi pada saat dia akan berbalik badan, tiba tiba Hawa mendengar...


'' Apa kau sudah gila? Bagaimana mungkin aku meminta Mas Adam untuk mengusir nya!''


Degh


Hati Hawa seketika berdetak kencang, dia mendengar Syifa sedang berbicara dengan seseorang.


'' Tidak Sal. Walaupun iya, selama ini aku cemburu pada nya, karena semua perhatian Mas Adam mencolok padanya di bandingkan diriku.''


Jadi Mba Syifa ingin aku pergi dari sini? Apa selama ini dia, tidak benar benar menerima aku?


'' Sudahlah Sal. Aku tak mau bahas ini lagi! Biarkan saja, walaupun aku sakit. Tapi, setidaknya aku akan jadi ibu!''


Hawa terkejut dengan ucapan Kakak madunya itu. Dia semakin mendekat ke arah pintu.


'' Ya, setidak nya dengan dia hamil, aku bisa menjadi ibu. Dan Ummi dan Abi juga akan jadi Kakek dan Nenek! Walaupun aku tak bisa mengandung, tapi dia kan bisa.''


Hati Hawa sangat sakit mendengar ucapan Syifa, hatinya bagaikan di remas dengan kuat. Hingga...


Praaang


Nampan yang di bawa Hawa jatuh kelantai, membuat Syifa memutus telpon nya dan berlari kearah pintu. Syifa begitu terkejut, saat mendapati Hawa sedang berdiri di depan pintu kamar nya.


Bik Surti juga datang, karena mendengar sesuatu yang jatuh.

__ADS_1


'' Hawa, kamu di sini?'' kaget Syifa.


'' Kenapa, apa Mba kaget? Oh, jadi selama ini Mba baik padaku hanya untuk merampas anaku iya?'' teriak Hawa dengan isak tangis nya.


'' Ha-wa, kamu salah paham!'' ujar Syifa.


Syifa mencoba meraih tangan Hawa, tapi Hawa menepis nya dengan kasar.


'' Salah paham! Jelas jelas aku dengar jika Mba ingin aku pergi dari rumah ini? Mba juga ingin merampas anaku, kenapa Mba jahat sekali padaku? Aku disini, buka keinginan ku. Tapi karena Mba!''


'' Wa, dengar dulu penjelasan Mba! Kamu salah paham Wa.''


Syifa mencoba mengejar Hawa, tapi Hawa segera berlari menuju tangga. Hingga saat Hawa sudah di tangga, Syifa meraih tangan nya. Tapi Hawa menghindar, sehingga membuat Syifa hilang keseimbangan dan jatuh dari tangga.


'' Ya allah, Mba..'' teriak Hawa.


'' Syifa.....'' teriak Adam saat melihat Syifa jatuh dari tangga.


'' Ya allah, Mba. Mba Gak papa?'' cemas Hawa, sambil memegang tangan Syifa.


Tapi Adam menepis nya dengan kasar. Membuat Hawa terkejut, dengan sikap Adam.


'' Kamu apain Syifa hah? Kenapa kamu dorong dia Wa? Kalau berantem, jangan mendorong Wa! Aku gak nyangka, kalau kamu begitu jahat.''


Degh


Dada Hawa bagaikan di timpa batu yang begitu besar, saat Adam memarahinya, dan memaki nya. Air mata nya lolos seketika dari kedua mata indah nya.


'' Bang, ini semua salah paham. Aku gak dorong Mba Syifa! Dia..''


'' Cukup! Jelas jelas aku lihat tadi kamu menarik tangan nya, hingga membuat Syifa jatuh!'' geram Adam.


Adam segera menggendong Syifa ke rumah sakit. Sementara Hawa mencoba mengejar Adam untuk ikut ke rumah sakit.


'' Diam di rumah, kamu jangan ikut. Aku tak menyangka, jika kamu bisa berbuat hal keji seperti ini!''


Bruk

__ADS_1


Pintu mobil di tutup dengan kasar. Dan mobil pun melaju meninggalkan rumah.


Hawa ambruk ke lantai teras. Hatinya berdenyut nyeri saat Adam menuduh nya, dan malah memarahi tanpa mau mendengarkan nya dahulu. Hati Hawa begitu sangat hancur, saat untuk pertama kali nya, Adam membentak nya secara kasar.


Bik Surti yang melihat Hawa terduduk di teras segera memghampirinya. Membantunya untuk bangun.


''Ayo Non, jangan duduk di bawah. Kotor.''


'' Bik, aku gak dorong Mba Syifa Bik! Aku gak sejahat itu hiikss. Aku gak sengaja Bik.'' ucap Hawa di pelukan Bik Surti.


'' Iya Non. Bibi lihat kok, kalau Non gak sengaja!''


Hawa masuk kedalam kamar nya, badan nya kembali luruh ke bawah kasur. Tangis nya kembali pecah saat mengingat ucapan Adam pada nya tadi. Hawa tak menyangka, jika Adam akan membentak nya. Tanpa mau, mendengarkan masalah nya dulu.


'' Aku memang orang ketiga. Tapi apa salah ku? Aku tak pernah mau berada di posisi ini, aku tak mau. Aku tak pernah berniat jahat pada Mba Syifa! Bahkan, sedikitpun tidak.


Ya allah Hurabbi. Kenapa kau buat aku berada di posisi ini ya allah. Selama ini aku mencoba untuk kuat, tapi bisa kah aku menyerah hiikks.


Aku lelah Ya Allah, aku lelah. Jika memang dengan kehadiran ku, membuat seseorang merasakan sakit. Maka aku rela mundur ya Rabbi. Biar, biar aku saja yang menahan sakit. Tapi, jangan orang lain. Jika memang, Mba Syifa menerimaku karena menginginkan anaku. Maka aku tidak Ridho ya Allah. Aku tidak rela, jika harus di pisahkan dengan anaku.


Peluklah aku ya Allah hiiksss. Sesungguh nya engkau lah yang maha mengetahui, atas segala apa yang terjadi. Engkau lah penenang ku, di saat aku sakit dan rapuh. Sungguh, engkau lah yang mengetahui atas perasaan ku saat ini ya Allah.


Hancur ya Allah, hancur hati ini. Saat suamiku tak mau mendengarkan penjelasan ku hiiikks. Sakit, saat suamiku memarahiku ya Allah. Jika memang aku harus mengalah, maka aku akan mengalah.'' lirih Hawa dengan tangan menengadah ke udara.


Hawa menangis tersedu sedu, sampai di tidak sadar tertidur di lantai.


Hawa merasakan pegal pinggang nya, dan saat dia membuka mata nya. Hawa baru sadar, jika dia tertidur di lantai. Dan hari sudah larut.


Seketika air mata Hawa jatuh kembali, saat mengingat perkataan Adam yang menuduhnya. Hawa kembali menangis, tapi dengan kuat dia mencoba berdiri. Dan melangkah ke kamar mandi, dia sadar baelum melaksanalan shalat magrib.


Hawa menghadap sang khalik. Meminta kekuatan dan kelimpahan kesabaran untuk hatinya. Hawa juga meminta jalan yang harus dia ambil saat ini. Apakah harus mundur atau tetap bertahan. Sebab kedua dua nya begitu menyakitkan bagi Hawa. Kalau dia pergi, maka sakit karena harus berpisah dari orang yang dia cintai, dan juga saat ini dia sedang hamil.


Tapi jika bertahan, juga menyakitkan. Sebab Syifa hanya menginginkan anak nya saja. Dan Syifa juga ingin Hawa pergi dari rumah ini.


Ya Rabb. Aku harus bagaimana? Semoga nanti keputusan ku tak akan salah ya allah. Karena aku juga ingin bahagia, bersama anaku kelak.


Bersambung......

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN LIKE DAN FAV NYA YA😘


__ADS_2