
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam aku sampai di tujuanku. Aku mengarahkan motor kesayanganku menuju parkiran khusus sepeda motor. Ku buka helmku dan ku letakkan di spionnya. Mulai ku kemasi semua barang bawaanku untuk Dirga. Aku tak lupa memastikan bahwa semua sudah terbawa.
Hotel itu bukanlah hotel bintang lima atau hotel mewah sejenisnya. Hanya hotel biasa namun menyuguhkan pemandangan alam nan hijau sepanjang mata memandang.
Aku segera menuju ke meja informasi.
"Permisi mbak. Saya Ayu. saya ingin menemui Dirgantara di kamar no 12." ucapku ramah.
Wanita itu tersenyum lantas mulai membantuku menelpon ke kamar Dirga dan mengatakan ada tamu untuknya. Dia wajib memastikan bahwa tamu hotelnya merasa nyaman tanpa ada gangguan.
"Terima kasih." ucapku begitu wanita itu menunjukkan ke araha mana aku harus melangkah.
Tok tok tok.
"Masuk Yu, pintunya tidak ku kunci." teriak Dirga dari dalam kamar.
Aku membuka pintu. Kulihat Dirga tengah berbaring di ranjang dengan selimut tebalnya.
"Badanmu masih panas. Ayo bangunlah. Ibu menitipkan banyak makanan untukmu." ucapku lembut sambil menyentuh dahinya.
Dirga membuka matanya yang berwarna coklat itu. Dia berusaha tersenyum walau sangat lemas. Aku membantunya duduk dan bersandar. Ku siapkan dulu peralatan makan untuknya. Lalu pelan pelan ku suapkan sedikit demi sedikit makanan itu untuknya. Dirga menikmatinya walau tak sebanyak porsi biasanya.
"Cukup Yu, aku belum bisa makan terlalu banyak." lirihnya.
Aku menghentikan suapanku dan berganti membantunya minum air putih. Ku ambilkan juga obat pereda panas dan demam yang langsung diminumnya juga.
"Ayo kembalilah berbaring dan cobalah untuk tidur barang sekejap agar kondisimu membaik." ucapku.
Kurapatkan kembali selimut tebalnya. Aku hendak pergi membawa piring kotor ke dapur saat Dirga menghela tanganku.
"Cium dulu." ucapnya sambil memajukan bibirnya dengan manja.
Aku gemas melihatnya seperti itu.
"Tunggu kamu sehat dulu baru ku cium." ujarku.
Dirga manyun mendengarnya namun aku malah tertawa dibuatnya. Ku kecup keningnya perlahan.
"Selamat beristirahat dan cepatlah sembuh. Aku mau beres beres kamarmu dulu." ucapku.
Dirga mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Aku juga segera mulai merapikan isi kamar yang berantakan itu. Tidak biasanya Dirga seperti ini. Mungkin karena dia sedang sakit jadi tak mempedulikan kondisi kamarnya. Aku melakukan aktifitasku dengan sangat berhati hati agar tak menimbulkan suara keras. Aku tak ingin mengganggu tidurnya.
Sejam kemudian,
Aku duduk menyeka keringat yang membasahi dahiku. Aku sengaja mematikan Ac di kamar itu karena aku ingin Dirga tidak terlalu banyak terkena dingin Ac. Dirga yang mulai terbangun menatapku yang sedang kelelahan.
__ADS_1
"Kasihan kamu Yu, sudah jauh jauh datang sampai sini masih harus merawat dan merapikan semua untukku." batin Dirga.
Dibiarkannya aku yang mulai menyandarkan kepalaku di bantalan sofa. Mataku terasa berat. Aku baru merasakan lelah. Dirga tak ingin menggangguku.
Aku tertidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Ku rasakan tidurku sangat nyaman dan berkualitas. Aku bahkan merasa sedang tidak tidur di sofa. Dingin ruangan dan selimut tebal yang menyelimuti tubuhku menambah berat mataku.
Mungkin aku sedang bermimpi.
Tapi tunggu!
Mataku langsung terbuka. Aku tidak mimpi. Aku memang tengah berselimut tebal. Saat aku lirik Ac juga tengah menyala dan mengeluarkan hawa dingin. Aku juga masih tetap di sofa namun sudah dalam kondisi berbaring. Aku masih ingat betul tadinya hanya duduk menyandarkan kepala.
Aku juga masih mengenali ruangan ini. Ini masih kamar tempat Dirga menginap. Tapi siapa yang menyelimutiku? Aku masih berpikir saat Dirga menghampiriku.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya.
Aku kaget melihatnya sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Dia tampak baik baik saja.
"Kamu sudah baikan?" tanyaku.
"Iya Yu, aku sudah merasa jauh lebih baik. Terima kasih telah membawakan makanan dan obat untukku ya." ucapnya lembut.
Aku yang tak percaya bangun dan menempelkan tanganku di dahinya. Terasa dahinya memang sudah tak panas lagi. Dirga tersenyum saja menatapku.
Mataku membulat mendengarnya.
"Mana mungkin? Ibu banyak membawakan." tukasku.
"Kalau tidak percaya lihat saja di meja. Ada sisa gak disana?" ucapnya santai.
Aku segera bangkit dan menuju ke meja. Ku buka kotak yang ku bawa tadi. Mataku kembali membulat melihat makanan itu telah ludes semua. Mataku memicing ke arah Dirga yang hanya tertawa melihatku seperti itu. Ku hampiri dirinya yang duduk di sofa yang ku tempati tadi lalu ku jewer telinganya.
"Kamu itu beneran sakit apa hanya mengerjaiku saja? Sakit macam apa bisa menghabiskan semua makanan begitu!" kataku gemas.
"Aduh aduh ampun. Aku lapar Yu. Ampun!" Dirga mengaduh kesakitan karena aku tetap menjewernya.
Ku lepaskan jeweranku dan duduk manyun di sebelahnya. Dirga mendekatkan dirinya padaku.
"Aku kangen kamu Yu."
Napasnya terdengar berat di telingaku saat membisikkan kalimat itu.
"Dirga, Jangan." lirihku.
Aku berhasil menghentikan Dirga yang mulai berbuat lebih. Aku berhasil kembali menguasai kesadaranku penuh tanpa hiasan nafsu. Dirga menatapku.
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi setelah ini Yu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu walau apa pun yang terjadi." ucapnya bersungguh sungguh.
Dirga memang sedang serius dan sepenuhnya sadar dengan ucapannya. Bahkan saat ku tatap dua bola mata coklatnya itu aku juga tak menemukan kilat kebohongan disana.
Aku ragu.
Aku kembali mengingat permintaan tante Widya tempo hari. Haruskah aku benar benar melakukannya sekarang? Bagaimana jika akhirnya aku tidak bisa memberinya cucu laki laki? Lebih buruknya lagi, bagaimana jika aku tidak kunjung hamil?
Akankah tante Widya meminta Dirga meninggalkanku? Mencampakkanku setelah dia mendapatkan segalanya dariku.
Aku banyak berpikir hingga suara Dirga kembali ku dengar.
"Aku hanya akan menjadi milikmu Yu. Kamu pun juga hanya akan menjadi milikku. Kita akan selalu bersama dalam suka maupun duka." ucapnya
Aku tetap diam dalam keraguanku. Namun pertahananku kembali runtuh.
"Aku mencintaimu Ayu." bisiknya.
Aku kembali tergoda akan buaian nafsu. Bukan hanya aku, Dirga yang biasanya pandai menjaga dan menahan diri pun kali ini tampak sudah dibutakan oleh hawa nafsu. Dan tanpa bisa kami cegah lagi, Akhirnya,
Aku pasrah.
Dengan suka rela aku menyerahkan kesucianku pada Dirga calon suamiku yang sangat ku cintai. Aku yakin dia akan membawakan beribu kebahagiaan untukku kelak setelah kami menikah.
Bumi terasa basah oleh derasnya air hujan yang tiba tiba turun menyaksikan dua insan yang tengah bergelut dengan nafsunya. Udara kamar yang dingin dan hujan lebat membuat keduanya makin lupa diri. Lupa akan tatanan norma masyarakat.
"Maaf pak, Saya mau mohon ijin agar bapak mengijinkan Ayu menginap disini untuk malam ini. Hari sudah hampir malam pak dan disini sedang hujan deras. Ayu juga tidak membawa jas hujan. Saya khawatir jika dia harus pulang malam ini juga." ucap Dirga sopan pada ayah.
"Iya nak tidak apa apa. Disini juga sedang hujan. Dari tadi bapak sudah khawatir begitu menyadari jas hujan Ayu ketinggalan." jawab Ayah.
"Terima kasih atas ijin bapak. tolong sampaikan pada ibu ucapan terima kasih saya untuk semua makanan lezat yang telah ibu kirim untuk saya. Saya langsung sehat begitu makan masakan ibu." ucap Dirga tanpa malu malu.
Ayah mengiyakan dan bersyukur saat tau Dirga telah kembali sehat. Ayah bahkan tertawa mendengar perkataannya yang langsung sembuh setelah makan masakan ibu.
Ayah dan ibu sudah lama tau hubungan kami. Dan juga karena hampir tiap hari Dirga datang ke rumah makan maka aku tak heran mereka bisa dekat dengan Dirga yang memang sangat ramah namun tetap hormat pada orang tua.
"Maafkan Ayu ayah dan ibu, betapa Ayu telah sangat berdosa membohongi kalian dan mengecewakan kalian yang telah begitu percaya pada Ayu." batinku.
Dirga tadi mengatakan pada mereka bahwa dirinya menyewakan sebuah kamar tersendiri untukku. Oleh karena itu ayah mengijinkan. Aku yakin ayah tak akan mengijinkan seandainya Dirga berkata yang sesungguhnya. Ayah yang selalu mengajarkan tata krama dan sopan santun kepada anak anaknya tidak mungkin mengijinkan walau Dirga memang sudah melamarku.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Dirga saat melihat aku termenung sendiri.
"Aku hanya, " jawabku singkat dan kemudian menghela napasku.
"Merasa bersalah pada ayah ibu." lanjutku dengan cepat.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih 💞