
Selamat membaca ya πΈ
Maaf banyak typo π
πΈπΈπΈπΈ
πΈ Alur kembali ke pagi hari πΈ
"Tunggu ya pak,,," ucapku pada sopir taksi.
"Iya bu,,," sopir taksi mengangguk sopan.
Aku turun terlebih dulu dan menahan pintu taksi untuk si kembar begitu kami telah sampai di sekolah mereka.
"Ayo sayang turun,,, hati hati kepalanya,,," kataku berusaha mengingatkan mereka untuk berhati hati dengan kepalanya saat akan keluar dari taksi.
Keduanya pun turun bergantian. Aku pun menutup pintu taksi yang masih menungguku untuk selanjutnya mengantarku ke salon.
"Selamat pagi jagoan om Sandy yang cakep cakep,,," sapa Sandy yang tiba tiba muncul.
"Selamat pagi juga om Sandyyy,,," sapa keduanya serempak.
"Ayo kasih salam sama mama dan om dulu baru masuk sekolah. Jangan lupa harus dengarkan dan simak pelajaran baik baik ya. Kalau ada yang tidak jelas jangan malu untuk bertanya ke guru ya,, Jangan nakal dan tunggu nanti om Sandy akan jemput kalian sama mama juga,," kata Sandy.
"Yyyyyeeeaaaayyy,,, dijemput om Sandy lagi,,, nanti beli ice cream lagi ya om,,,," keduanya bagai kembar dalam semua hal termasuk dengan pikirannya.
Kembar dan menginginkan hal yang sama.
"Okeee,,, tapi ingat semua pesan om Sandy tadi gak??" tanya Sandy lagi.
"Ingat doooong,,," jawab mereka lagi lagi dengan serempak.
Aku hanya tersenyum saja melihat keakraban mereka. Si kembar pun kemudian mencium tangan kami dan masuk ke sekolahnya setelah dengan semangatnya melambaikan tangannya.
"Ayo,," ajak Sandy padaku begitu anak anak sudah menghilang dari pandangan kami.
"Kemana??" tanyaku tak mengerti.
"Aku antar kamu lah,,," kata Sandy.
"Antar??" tanyaku lagi.
"Iya mamaaaaa,,, katanya mama mau ke salon. Ayo anakmu yang ganteng ini anterin. Jarang jarang lho ada anak baik begini,,,," canda Sandy.
Aku pun hanya mencubitnya gemas.
"Aawww,,, sudah baik masih saja dicubit." protesnya.
"Terus maunya diapain??" tanyaku.
__ADS_1
Sandy tiba tiba menunjukkan wajah serius dan menatap kedua bola mataku membuatku deg degan. Sandy juga mendekat padaku membuat aku makin salah tingkah. Sandy pun memegang kedua bahuku lembut.
Aku makin berdebar tidak karuan.
"Mauku cuma mama jangan lama lama mikir,,, tuh ditungguin sama sopir taksi. Ayo biar aku bayar dulu,,," kata Sandy dengan santainya.
Jantungku bagai lolos dari tempatnya. Tapi kemudian aku bernapas lega. Aku bahkan bisa menertawakan kebodohanku sendiri yang melupakan taksiku. Ku lihat Sandy memberikan selembar uang seratus ribu dan menolak ketika sopir hendak memberikan kembaliannya.
"Untuk anak dan istri bapak di rumah saja." Aku dengar apa yang dikatakan Sandy pada sopir taksi.
"Terima kasih banyak ya tuan,,," sahut sopir taksi senang.
Aku terharu melihatnya. Tentunya sopir taksi itu sangat senang mendapatkan kembalian yang lebih besar daripada yang tarif argo taksi yang harus kubayarkan.
"Sandy sama sekali tidak pelit urusan uang,,, Mungkin memang dia orang kaya."batinku.
Aku memang kurang tau seluk beluk mantan suami Vhe itu. Yang ku tau hanya mereka tinggal di luar negeri saja tapi aku tak pernah tau seberapa kayanya mereka. Dan sejujurnya aku tak mau tau.
Selama ini juga Sandy tak pernah membahas tentang kerajaan bisnisnya denganku. Mungkin Sandy pikir aku juga tidak terlalu pandai berbisnis. Apalah aku yang hanya pemilik toko kue dan catering kecil kecilan.
"Mau bengong sampai jam berapa mama??" tegur Sandy.
Aku teekejut dan tersadar dari lamunanku.
"Aku sudah di depan matamu kok masih dilamunkan juga sih??" protesnya sembari menarik tanganku menuju ke mobil mewahnya.
"Ihh siapa juga yang melamunkanmu,,,??" protesku.
"Silahkan mama mudaku,,," ucapnya.
Aku hanya merengut dibuatnya sembari masuk ke mobilnya. Sandy kembali terkekeh dan menutup pintu mobil. Sandy pun memutari mobilnya untuk menuju pintu samping.
Dari dalam mobil mewah ini kupandangi wajah tampan blasteran itu. Hidung mancung dan bibir merah alami tipisnya membuatku iri mengingat bibirku yang mesti diwarnai dulu baru terlihat merah.
Kulit putih bersihnya juga menandakan dirinya jarang melakukan pekerjaan berat atau kasar. Rambutnya yang selalu tertata rapi juga menunjang penampilannya menjadi berkelas meski aku belum pernah melihat dirinya berpenampilan formal.
Selama ini dia hanya berpakaian kasual saja tapi tetap saja mempesona.
"Jangan melamun terus mama,,, katakan salonnya di mana?? Anakmu ini bukan dukun peramal yang bisa pakai ilmunya untuk tau kemana tujuan kita,,,"
Kalimat protes Sandy itu lagi lagi membuatku malu kedapatan melamun meski dia tak tau apa dan siapa yang ku lamunkan. Aku malu sendiri karena aku melamunkan dirinya.
"Salon Xx,,," kataku.
"Siap mama,,,!!!" sahutnya.
"Kenapa sih terus memanggilku mama??" protesku begitu mobil sudah melaju di jalanan.
"Suka saja,,, apa mama tidak suka ku panggil begitu??" tanyanya balik.
__ADS_1
Ya ampun Sandy,,,
Kamu itu selalu saja bisa membuatku kehabisan jawaban dengan pertanyaan pertanyaan yang membuatku baper,,,
"Jawab dong,,, suka gak??" desaknya.
"Aku,, sss,,,aku,,,," aku tak bisa menjawabnya.
"Tidak usah gugup begitu,,, aku lebih suka kamu yang luwes dan tegas. Jawab saja sesuai apa yang kamu rasakan. Aku tidak ingin kamu menahan semua rasa dalam hatimu seperti yang sudah kamu lakukan selama ini pada suami dan mertuamu." kata Sandy.
Aku diam.
"Tidak ada tawa dan bahagia yang kamu dapatkan dari mereka dengan diammu itu,,, dengan menutupi perasaanmu itu. kamu hanya dapat kekecewaan dan luka. Oleh karena itu aku ingin kamu berubah. Luapkan,,, katakan,,, semua yang kamu rasakan. Agar tidak ada lagi beban di hatimu. Dengan begitu hidup ini akan terasa lebih ringan dan hidup." lanjutnya.
"Apa kamu juga melakukan hal yang sama pada Vhe dulu??" tanyaku menyelidik.
"Ya,,, ku katakan semua yang ku inginkan padanya,,,semua yang kurasakan padanya. Dan dia tak pernah mendengarnya. Setidaknya aku tak menyimpannya sendiri. Jadi aku pun tak terlalu menyesali atau tenggelam dalam himpitan rasa yang terpendam selama ini begitu kami memutuskan pisah." jawabnya.
Aku diam dan membuang pandanganku ke luar jendela.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi yaa,,, jangan mengalihkan pembicaraan dan pandangan begini,,,," kata Sandy lagi.
Aku menjadi malu lagi dibuatnya. Aku menatapnya yang masih fokus dengan kemudinya.
"Ayo jawab. Suka gak ku panggil mama??" tanyanya lagi.
"Suka,,,,!!" ucapku tegas tapi kemudian pipiku bersemu merah.
Sandy menepikan mobil.
"Kenapa berhenti??" tanyaku heran dan merasa takut aku telah salah menjawab.
Sandy tak menjawab dan hanya menarik tanganku lalu menggenggam jemariku.
"Kalau seterusnya ku panggil mama karena kamu akan kujadikan mama dari anak anakku kelak,,, kamu suka gak??" tanya Sandy dengan wajah seriusnya lagi.
Matanya lebih tajam menusukku. Aku benar benar gugup saat itu. Tanganku pun terasa dingin. Entah karena tanganku tepat berada di depan ac mobil atau memang perasaan tak menentu karena pertanyaan itu.
"Jawab aku Kadek Ayu Maheswari,,," Sandy menyebut nama lengkapku.
\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote,like dan komen yaa
Terima kasih πΈ
πΈπΈπΈπΈπΈ
By the way,,, author harus jawab apa nih??? ππΈ
__ADS_1
Kasih komen kalian yang paling seru yaaa
π₯π₯π₯