
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈπΈ
"Tagihan apa?? Biar aku lihat." kata papa saat mendengar bagian resepsionis tampak tidak yakin dengan tagihan yang dialamatkan pada Dirga.
"Ini tuan." kata pengantar tagihan.
Papa menerimanya dan membaca dengan seksama. Mata papa membulat menyadari tagihan ini lumayan banyak.
"Siapa yang suruh mengirim tagihan perbaikan mobil sebesar ini??" tanya papa pada pengantarnya.
"Maaf tuan saya hanya menjalankan tugas mengantar saja. Tapi setahu saya tagihan ini untuk mobil yang mengalami kecelakaan tadi siang. Pemilik mobil mendapatkan kartu nama kantor ini dari penabraknya yang mobilnya juga diperbaiki di bengkel kami. Pemilik mobilnya perempuan hamil." jelas pengantar itu.
"Hamil?? Kamu yakin??" tanya papa.
"Yakin tuan karena saya melihat sendiri tadi pas nyonya itu datang." jawab si pengantar.
Papa makin cemas menyadari bahwa Vhe kecelakaan. Beliau hendak pergi saat pengantar itu menghalanginya .
"Maaf tuan mohon dibayar dulu tagihannya." ucap si pengantar.
Papa yang baru menyadari dirinya belum membayar pun mengarahkan si pengantar untuk langsung menuju ke bagian akunting. Setelah itu papa langsung pulang. Beliau tidak sabar ingin melihat keadaan Vhe dan bayinya.
Saking cemasnya papa sampai lupa mengabari Dirga yang suami sah Vhe.
"Astaga,,, Aku malah lupa telpon Dirga." batin papa.
Papa pun menelpon Dirga namun tak ada jawaban. Sepertinya Dirga sedang ada rapat penting dengan kliennnya.
"Nanti sajalah aku kabari yang penting sekarang aku tau dulu kondisi Vhe dan bayiku mumpung jam segini mama pasti masih belanja." gumam papa.
Mobil papa melaju cepat. Saat mobil berhenti papa juga dengan cepat menuju apartemen Vhe.
"Vhe,,,!!! Kamu tidak apa apa??" tanya papa begitu membuka pintu dan masuk ke apartemen tanpa menutup pintu.
Beliau heran menemukan Vhe tengah duduk santai di sofa.
"Daddy,,, Sudah dibayar kan tagihan mobilku??" sambut Vhe yang berusaha berdiri.
"Apa tante belum pulang??" tanya papa.
__ADS_1
Vhe mengangguk dan memberi kode aman dengan mengerlingkan matanya. Papa pun mendekat. Dengan cepat Vhe memeluk dan mengalungkan tangannya di leher papa dengan manjanya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?? Kenapa bisa sampai kecelakaan begitu? Mobil apa yang kamu tabrak koi mahal sekali tagihan perbaikannya??" tanya papa.
"Pikiran Vhe lagi kacau daddy,,, Jadi Vhe tidak lihat lampunya sudah merah.Vhe terlambat untuk mengerem. Dan sialnya mobil yang ku tabrak itu mobil mewah makanya mahal biayanya." sahut Vhe manja.
"Ya sudah yang penting kan kamu dan bayi kita tidak apa apa." kata papa.
Vhe mengangguk dan tetap menyandarkan kepalanya di bahu papa.
"Vhe kangen daddy nih,, Lama sekali daddy gak ber' jatah,,,,Jangan jangan nenek tua itu yang daddy kasih!!" rajuk Vhe.
Papa mencubit dagu sugar babynya dengan gemas.
"Kamu itu ada ada saja. Sudah tau daddy gak pernah begituan sama tante. Lagian kamu kok selama hamil malah semakin sering minta sih?? Apa tidak bahaya dengan janinnya??" tanya papa.
"Namanya juga kangen plus bawaan bayi daddy. Ayolah daddy,,, Sekarang ya,, ya,,ya,,," pinta Vhe.
"Di sini??" tanya papa.
Vhe mengerling nakal.
"Takut nanti tante datang Vhe,,," tolak papa.
"Sekarang jam berapa??" tanya papa.
Mata papa melihat ke jam tangannya yang masih menunjukkan pukul setengah tiga.
"Masih cukup kan waktunya??" rayu Vhe lagi.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita lakukan. Di mana??" tanya papa.
"Di kamarku saja ya daddy,,," Vhe menarik tangan papa.
Papa pun menurut saja dan membiarkan sugar babynya itu melakukan apa pun yang di sukainya.
πΌπΌπΌ
Mama sampai di tempat belanjanya dan hendak mulai belanja. Mama pun mencari cari kertas belanjaan di dalam tas belanjanya.
"Aduuhhh kok malah kelupaan sih bawa kertasnya!! Hmm bagaimana ini,,, Aku juga tidak bawa ponsel kalau mau suruh Vhe fotoin. Kalau salah belanja nanti Vhe bisa bisa ngomel." gumam mama.
Mama berpikir sejenak.
"Pulang saja lah daripada kena marah Vhe. Tidak apa apa capek sedikit dari biasanya yang jelas Vhe tidak mengancam untuk membeberkan keadaanku." gumam mama lagi.
__ADS_1
Mama pun keluar lagi dari pusat perbelanjaan sayur mayur itu. Mama kembali menyetop taksi dan meminta untuk diantar pulang ke apartemen.
Mama rela merogoh kocek sendiri untuk bayar taksi karena yakin Vhe tidak akan mau memberikannya uang untuk membayar hasil keteledorannya sendiri.
"Lama lama aku rasa aku ini tak lebih seperti pembokat saja. Dulu Ayu mana berani begini padaku. Semua dikerjakannya sendiri. Aku terima suruh dan beres. Hmm seandainya saja aku biarkan saja Ayu itu masih jadi istri Dirga,,, dan melarang Vhe terlalu mengganggunya. Mungkin aku masih bisa santai." gumam mama yang mulai menyesali keadaan.
Mama pun kembali mengingat ingat semua sejak Ayu mulai menjadi menantunya hingga saat terakhir menantunya itu mengusirnya.
"Kalau ku pikir pikir sebenarnya Ayu itu menantu yang baik dan penurut. Tapi ya apa mau di kata. Vhe lebih cocok jadi menantuku karena penampilannya lebih sekelas dan menunjang status sosialku. Kalau Ayu dan keluarganya hanya membuatku malu." gumam mama lagi.
Mama menggaruk garuk kepalanya.
"Kenapa jadi mikirin si Ayu sih,,, Dia yang sudah buat aku jadi gembel dan di hina hina seperti ini." batin mama.
Sopir taksi menghentikan mobilnya tepat di depan halaman apartemen.
"Tunggu dulu ya pak. Saya sebentar saja. Nanti antar lagi saya ke tempat yang tadi." pesan mama pada sopir taksi.
"Maaf bu, tapi nomer berapa apartemen ibu?? Biar saya bisa cari kalau ibu kelamaan."kata sopir taksi.
Mama pun menyebutkan dengan gamblang nomer apartemen Vhe. Sopir taksi pun menyanggupi untuk menunggu.
Mama turun dan heran melihat mobil papa yang sudah terparkir di sana.
"Tumben papa sudah di rumah jam segini??" batin mama.
Mama segera menuju ke apartemen Vhe. Melihat pintu yang terbuka mama pun segera masuk. Tidak nampak Vhe mau pun papa di dalam. Mama hanya mengambil kertas belanjaan di meja dapur.
"Apa aku suruh papa saja yang antar ya?? Lumayan hemat bayar taksi." pikir mama.
Mama menuju ke kamarnya namun tidak menemukan papa di sana.
"Di mana papa?? Vhe juga di mana ya,,,???" gumam mama.
Apartemen tidak terlalu besar dan banyak ruangan. Hanya tinggal kamar Vhe. Mama mendekat dan mendengar suara suara aneh di dalam.
Mama merapatkan telinganya ke pintu karena ingin mendengar dan memastikan suara apakah itu.Tangannya kemudian tergerak untuk mendorong pintu yang tidak tertutup dengan benar karena meski sedikit menganga mama tidak bisa melihat ke dalam.
"Papaaaaaa!!!!!" teriak mama.
\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih πΈ
__ADS_1