
Happy reading πΊ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΊπΊ
Dirga menurunkan kami tepat di depan sekolah si kembar. Ini pertama kalinya Dirga mengantar sekolah dan ikut turun menunggu hingga mereka masuk.
"Jangan nakal ya sayang,," pesannya pada anak anak sebelum mereka masuk.
"Iya papa,,, dadah mama,,, dadah papa,,, " si kembar melambaikan tangan mungilnya pada kami yang berdiri bersebalahan.
"Apa kamu bisa pulang sendiri Ayu??" tanya Dirga.
Aku tersenyum sinis. Pertanyaan macam apa itu?? Tentu saja itu hal yang sangat bisa ku lakukan karena tiap harinya juga begitu. Aku mengumpat dalam hati.
"Pergilah,,, aku bisa sendiri." jawabku.
"Kalau boleh aku ingatkan,,, jangan lagi memakao pakaian seperti ini lagi Yu. Aku lebih suka melihatmu seperti dulu" ucap Dirga sebelum pergi.
Aku diam tak menyahut. Aku bahkan tak melambaikan tanganku padanya. Sedingin ini hubungan kami.
Aku pun lalu menunduk dan berusaha memperhatikan penampilanku sendiri. Perkataan Dirga tadi mengusik hatiku.
"Kenapa Dirga bicara begitu?? Benarkah dia lebih menyukai aku yang dulu selalu manis dan polos?? Benarkah Ayu yang dulu itu bisa membuat hubungan kami membaik??" batinku mulai melemah.
Tapi tidak,,,!!!
Aku kembali kuat saat ingat bahwa ucapannya itu tidak ada artinya. Dia hanya tidak ingin aku mengalahkan pesona istri mudanya. Adalah tidak benar jika penampilan Ayu yang dulu mampu menarik perhatiannya.
Buktinya dia juga masih melirik wanita lain.
Semua luka di hatiku membuat aku selalu berprasangka buruk padanya. Karena aku tak mau lagi terpedaya olehnya.
Aku melambaikan tangan pada sebuah taksi kosong yang langsung mengantarku ke toko kue dan cateringku. Hari ini aku ingin menghabiskan waktuku di sana dengan mengubah beberapa tatanan display toko.
"Pagi bu Ayu,,, wah cantik sekali ibu,,,, "
Para pegawaiku memuji penampilanku hari ini. Mereka yang selama ini tidak pernah melihatku berdandan merasa takjub saat menyadari bahea bosnya ini juga cantik.
"Terima kasih,,, tapi jangan harap dengan memujiku begini komisi kalian akan ku naikkan yaa,,, " candaku.
Mereka pun tertawa mendengarnya. Aku memang biasa mengajak mereka bercanda bersama seperti ini. Aku menganggap mereka semua saudaraku.
Tidak ada tingkatan atau perbedaan denganku.
__ADS_1
Aku tengah sibuk dengan tokoku ketika seorang pria masuk.
"Permisi,,," sapanya sopan.
"Ya,,, ada yang bisa saya bantu??" tanyaku ramah.
"Apa benar anda yang bernama Ayu??" tanyanya.
Aku memandang sejenak pria yang berdiri di depanku itu. Aku berusaha mengenali pria ini. Namun aku yakin aku sama sekali tidak mengenalnya.
"Iya benar,, saya Ayu. Maaf,, anda siapa ya??" tanyaku.
"Kenalkan,,, saya Sandy,,, suaminya Vhena,"
Deeggg,,,,
Aku terhenyak. Apa aku tidak salah dengar??
"Suami??" aku mengulang kata itu.
"Iya,,, benar,,, suami atau tepatnya,,, masih suaminya." Sandy memperjelas.
Aku mendadak bingung dengan semua ini.
"Jika anda masih suaminya,,, bagaimana bisa,,,, " aku bingung harus bagaimana bertanyanya.
"Tidak,,, saya tidak keberatan. Silahkan duduk,,, " aku mempersilahkan Sandy duduk di deretan kursi tunggu tokoku.
"Jadi begini,,, eehmm,,, "
"Ayu,,, sebut saja langsung namaku." ucapku berusaha membuatnya nyaman menjelaskan semua padaku.
"Baik,,, jadi aku dan Vhe itu belum resmi bercerai,,, aku memang sudah menggugatnya tapi aku berencana membatalkannya." ucap Sandy.
Sandy pun menceritakan semuanya dari awal kepadaku. Dalam diamku aku sempat berpikir kenapa Vhe menyianyiakan pria sebaik Sandy ini.
Sandy juga tidak kalah tampan bahkan lebih tampan daripada Dirga.
Huussttt,,,, Ayu,,, kenapa kamu jadi ngelantur begini sih,,, hatiku protes.
"Jadi begitu Yu,,, awalnya aku memang ingin mencabut semua gugatanku tapi mengetahui bahwa dirinya malah sudah menikah lagi padahal kami belum resmi bercerai membuatku berpikir ulang untuk membatalkannya." kata Sandy.
"Lebih baik aku kehilangan banyak harta tapi lepas dari ular seperti dia. Tapi aku kembali berpikir,,, jika aku tak menariknya lagi dari suamimu,,, apa kamu akan baik baik saja Yu?? Apa kamu bisa menghadapi jahatnya Vhe,,,??" tanya Sandy.
Aku hanya tersenyum getir mendengarnya.
"Bohong jika aku bilang aku baik baik saja. Aku sangat tidak baik sejak kehadiran Vhe dalam hidupku. Vhe benar benar menebar racun dalam hidupku. Tapi mau tidak mau aku harus terima kenyataan bahwa saat ini suamiku tergila gila padanya." sahutku.
__ADS_1
"Aku datang kesini untuk minta maaf padamu Yu,, " kata Sandy.
Aku heran mendengarnya.
"Untuk apa??" tanyaku.
"Segala sesuatu yang dilakukan Vhe padamu menunjukkan betapa gagal aku menjadi suaminya selama ini. Untuk itu aku minta maaf padamu jika Vhe selama masih menjadi istriku sudah terlalu banyak menyakitimu,,," lirih Sandy.
"Aku tidak becus dan tidak bisa mendidiknya menjadi istri dan wanita baik baik,,, aku benar benar gagal Yu,,," Sandy merasa sangat menyesal.
"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku Sandy,,, ini bukan salahmu,,, Ini memang dasar sifat bawaan Vhe saja. Jangan pernah menghukum dirimu dalam hal ini,,," ucapku.
Aku merasa iba saja pada Sandy yang baik itu jika pria baik ini harus merasa bersalah atas semua ulah Vhe.
"Terima kasih Ayu,,, aku tidak menyangka Dirga suamimu begitu buta karena lebih memilih Vhe daripada dirimu,,, " seutas kalimat ambigu itu keluar dari bibir Sandy.
Kalimat itu mengambang,,, antara Sandy memang semata mata membodohkan Dirga,,, atau Sandy sebenarnya tengah memujiku yang lebih baik dari Vhe,,,
Aku tidak tau dan tak mau besar kepala.
Pertemuan kami hari itu terasa manis. Puas membicarakan tentang Vhe dan Dirga,, rupanya kami pun mulai membahas hal hal lain tentang diri kami sendiri.
"Aku butuh teman Yu,,, di sini aku sama sekali tak punya teman. Sepertinya aku terlalu lama tinggal di LA sampai sampai hilang kontak dengan teman temanku dulu,,,," gurau Sandy.
"Ya sudah,, berteman saja denganku kalau begitu. Aku juga tidak punya teman,,, selama ini aku hanya sibuk dengan anak anakku dan pekerjaanku. Apalagi sekarang,,, ada Vhe istrimu itu,,, dia akan tambah membuatku sibuk,,,, " balasku.
Sandy pun terkekeh mendengarnya.
Yang tadinya kami menganggap bahwa Vhe dam Dirga itu adalah bencana besar dalam kami beruda,, kini kami berdua menjadikan mereka sebagai lelucon.
"Sandy terlihat sangat tampan saat tertawa,,, baru kali ini aku merasa jantungku langsung berdebat di pertemuan pertamaku dengan laki laki asing,,, bahkan debaran ini tak ku rasakan saat pertama kali aku bertemu Dirga,,," batinku mulai merajalela.
"Kamu istri yang baik Yu,,, seandainya saja tuhan memilihkanmu untukku. Aku tak akan bertindak sebodoh Dirga. I wish you can be mine Ayu,,," batin Sandy tak kalah bergejolak.
Kami membuang pandangan kami jauh jauh untuk meredakan debaran debaran aneh yang mengganggu ini.
"Terima kasih untuk hari ini Ayu,,, terima kasih sudha bersedia menjadi temanku,,," Sandy pamit setelah cukup lama kami menghabiskan waktu.
Aku melirik jam tanganku. Bersama Sandy waktu seperti tak terasa.
"Astaga sudah siang,,, aku harus jemput si kembar." batinku.
Buru buru ku sambar tasku.
\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih πΊ