MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Kamu satu satunya


__ADS_3

Tuan Wicaksana tersenyum ramah saat ayah mempersilahkan mereka masuk. Dia bahkan langsung duduk tanpa ragu dan langsung menyamankan posisinya.


Berbeda dengan tante Widya yang tampak enggan duduk di kursi kami yang memang tidak semahal miliknya. Bahkan mungkin lebih murah daripada kursi tamannya.


Dia terlihat tak ingin menempelkan pakaiannya disana. Mungkin dia merasa jijik. Saat duduk dengan posisi tidak nyaman itu matanya berkeliling memperhatikan kondisi rumah kami ini.


"Silahkan diminum tuan dan nyonya. Ayo Dirga silahkan nak" ibu datang menyuguhkan nampan berisi minuman.


Aku menyusul di belakangnya membawakan suguhan kue kue buatan ibu.


" Silahkan dicicipi tuan dan nyonya. Ini buatan istri saya sendiri" kata ayah saat aku sudah meletakkan piring piring itu di meja.


"Terima kasih pak Ketut" ucap tuan Wicaksana.


Tangannya langsung menyomot salah satu kue dan tanpa ragu langsung melahapnya. Terlihat dia sangat menikmatinya.


"Kuenya enak sekali bu" pujinya.


"Terima kasih tuan" ucap ibu.


"Sudah pa,, langsung sajalah. Mama sudah gerah nih. Panas sekali disini" ucap tante Widya.


"Mama jaga bicaramu" tuan Wicaksana menegurnya dengan setengah berbisik.


"Makanya cepetan pa" sungut tante Widya.


Dirga tampak menyenggol mamanya agar diam. Dirga tampak sekali merasa tak enak hati pada kami.


Beruntungnya orang tuaku tak terlalu mengambil hati sikap tante Widya. Mereka maklum jika orang kaya itu tak terbiasa berada di ruangan tak ber Ac seperti ini.


Kedua orang tuaku cukup tau diri dengan keadaan kami.


Tuan Wicaksana menarik napas dan kemudian terlihat menata napasnya.


"Begini pak Ketut dan ibu. Sebelumnya kami ingin meminta maaf jika kami telah membuat anda sekeluarga menunggu lama. Kami tadi,,,, "


"Papa sudahlah,,, langsung saja" tante Widya memotong perkataan suaminya.


Dirga sekali lagi menarik lengan mamanya melarangnya mengatakan hal itu. Tante Widya tampak tak suka diperlakukan seperti itu oleh Dirga.


"Kedatangan kami kesini ingin mewakili Dirgantara putra kami untuk memperjelas status hubungannya dengan putri anda. Ayu." kata Tuan Wicaksana.


Ayah terlihat mengangguk dan tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Terima kasih tuan atas kesediaannya datang ke gubuk kami ini. Saya selaku ayah dari Ayu sebenarnya juga sudah mengetahui tentang hubungan mereka. Hanya saja saya menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Ayu yang menjalaninya" ucap Ayah.


"Jadi Ayu,,, apa benar Dirga sudah melamarmu dan kamu menerimanya?" tanya tuan Wicaksana.


"Benar tuan" sahutku singkat tanpa mengurangi rasa hormatku padanya.


"Kalau begitu tidak ada yang perlu kita permasalahkan lagi jika Dirga dan Ayu memang sudah sepakat untuk menikah. Kita selaku orang tua tinggal mengatur jalannya upacara dan prosesinya saja" kata tuan Wicaksana.


"Iya tuan,,, terima kasih telah merestui hubungan Ayu dengan Dirga" Kata ibu.


"Nanti acaranya tidak usah dibuat terlalu berlebihan. Tertutup saja. Cukup mengundang keluarga inti saja Ayu" kata tante Widya.


"Kenapa ma? Ini kan pesta pernikahan Dirga??" protes Dirga.


"Mama yakin Ayu setuju. Lagipula daripada uangnya dihamburkan untuk pesta yang tidak jelas, lebih ditabung saja. Bukan begitu Ayu???" tanya tante Widya tajam.


"I,, i,, iya tante. Ayu setuju. Memang lebih baik jika ada dana digunakan untuk hal yang lebih penting nantinya" sahutku.


Dalam hatiku sebenarnya aku menentangnya karena aku juga ingin mengundang beberapa temanku. Tapi aku tau diri jika nantinya biaya semua dari mereka jadi mereka yang berhak mengatur.


"Tuh kan,, Ayu saja tidak keberatan. Kalau Ayu tidak keberatan mama juga yakin orang tuanya juga tidak. Bukan begitu bu?" Tanya tante Widya pada ibu.


" Iya nyonya,, kami menurut saja. Kami sama sekali tidak keberatan. Mamamu benar Dirga. Setelah menikah kalian akan mulai punya kebutuhan. Jadi sebaiknya uangnya ditabung saja ya" kata ibu pada Dirga.


Tante Widya tampak tersenyum puas dengan jawaban ibu.


"Baguslah si miskin ini setuju. Aku malu jika harus membuat upacara besar besaran dan mengundang banyak orang. Aib besar bagiku jika teman teman arisanku sampai tau" batinnya.


"Oh ya bu,,, nantinya Ayu juga harus tinggal bersama saya. Saya dengar dari Dirga selama ini Ayu membantu ibu di warung itu. Jadi setelah mereka menikah saya sarankan ibu cari orang lain saja untuk membantu ibu."


Tante Widya terdengar sangat merendahkan menyebut rumah makan kami dengan sebutan warung. Tapi lagi lagi ibu tak mengambil hati ucapannya.


"Iya nyonya,, jangan khawatir masalah itu." Ucap ibu lembut.


"Ayu juga tidak perlu bekerja nantinya. Biar Dirga saja yang bekerja. Saya yakin anak saya mampu memberikan semua yang dibutuhkan Ayu selama dia jadi istrinya" ucap tante Widya lagi.


Dirga tampak sangat tidak enak dengan ucapan mamanya itu. Walau benar apa yang dikatakannya namun Dirga merasa hal seperti itu tidak perlu dibahas sekarang.


"Baiklah kalau begitu,,, saya rasa tidak ada masalah lagi. Jadi mari kita bicarakan saja kapan harinya,,, " Ucap tuan Wicaksana.


Aku dan Dirga yang tidak tau tentang perhitungan hari baik dan segala sarana yang dibutuhkan saat upacara pernikahan nanti menyerahkan semuanya pada orang tua kami.


Kami memilih untuk duduk di teras saja sementara mereka yang tua tengah berunding.

__ADS_1


"Maafkan perkataan mama tadi Yu" lirih Dirga.


Aku tersenyum dan menggenggam tangannya.


"Aku tidak apa apa. Apa yang dikatakan tante itu semua benar" sahutku.


Aku tak ingin dia memikirkan semua itu terlalu dalam.


"Tapi aku juga ingin kita bisa merayakannya. Pernikahan sekali seumur hidup dengan wanita yang sangat ku cintai ini seharusnya menjadi pesta yang terbesar dan tak terlupakan." lirihnya.


"Yang penting kan kita sah jadi suami istri. Kita masih bisa menunggu sampai kamu berhasil membuatku gemuk karena bayimu mulai memenuhi perutku" ucapku setengah menggodanya agar tak terus bersedih hati.


"Nantinya kita buat pesta mewah saat anak kita lahir" lanjutku.


Matanya berbinar mendengarnya. Entah dia berbinar karena membayangkan akan memilili anak atau dia membayangkan proses pembuatan anak itu.


Hmmm,,, dasar mesum.


"Makanya sekarang kita turuti saja permintaan tante,,, kamu nantinya harus kerja keras agar tabungan kita bisa semakin banyak dan kita bisa buat pesta mewah dengan uang kita sendiri untuk anak kita" lanjutku.


"Iya Yu,,, aku setuju." ucapnya.


Dia menoleh ke dalam rumah yang tampaknya masih terjadi perdebatan alot mengenai penentuan hari. Para orang tua tampak sangat serius.


"Semoga saja mereka segera mendapatkan hari baik untuk kita" ucapnya.


Aku kembali tersenyum padanya.


"Sabar ya" ucapku sembari mengelus lengannya.


Dirga mengangguk dan menggenggam tanganku yang masih ada di lengannya. Dibawanya tanganku ke dadanya.


"Percayalah padaku. Aku mencintaimu tulus dari dalam hatiku. Walau kamu bukan yang pertama bagiku tapi Kamu akan ku jadikan satu satunya wanita yang akan ku cintai hingga akhir hayatku" ucapnya.


"Aku percaya padamu,,," jawabku kembali mengulas senyum.


Dirga mengecup lembut kening dan pipiku. Namun lama lama dia tak tahan untuk tidak mengabsen bibirku.


Ciuman kami yang panas cukup lama hingga kami mendengar orang tua kami memanggil kami untuk masuk dan mendengarkan keputusan mereka tentang kapan hari baik itu tiba.


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa


Terima kasih 🥰😍

__ADS_1


__ADS_2