
Selamat membaca πΊ
Maaf banyak typo π
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Apa mama sudah bertemu Vhe??" tanya Dirga yang langsung menelpon mama begitu meetingnya selesai.
"Sudah,,, ini mama juga masih di apartemen Vhe. Vhe hanya ketiduran semalam karena terlalu banyak menangis Dirga. Kasihan istrimu ini,,, Ayu terlalu menyakiti hatinya." kata mama menutupi semuanya.
"Kata kata yang mana memangnya yang buat Vhe sakit ma?? Kan benar yang dikatakannya itu,,, ' balas Dirga.
"Benar apanya?? Mengajakmu beramai ramai berhubungan badan mana ada benarnya?? Dia pikir Vhe ini wanita apaan?? Vhe kan risih juga melihat Ayu bertelanjang ria begitu,,," sungut mama.
Vhe memang sudah menceritakan semua yang terjadi semalam di kamar pengantin. Tapi sudaj dengan versi yang dilebih lebihkan.
"Ayu saja yang tidak bermoral,, dasar bejat. Kamu itu sebaiknya menceraikan dia saja,,, untuk apa juga masih menyimpan istri gila begitu. Kasihan kan Vhe yang tidak terbiasa dengan kegilaan seperti itu." ucap mama lagi.
"Ma,,, kita pernah bahas masalah ini kan?? Dirga tidak akan pernah menceraikan Ayu walau ada Vhe. " tegas Dirga.
"Terserah kamu sajalah Dirga,, " mama kehabisan kata.
"Mana dia? Aku mau bicara ma,,, " kata Dirga.
Mama tidak menunda lagi untuk memberikan ponsel itu pada Vhe. Mama langsung meninggalkan Vhe menuju ke dapur untuk membuatkan susu hangat bagi menantu kesayangannya itu.
"Maafkan Ayu,,, kamu hanya harus lebih bersabar menghadapinya. Kembalilah ke rumah sayang,,, aku tidak bisa jika harus tinggal jauh jauh begini." kata Dirga.
"Rumah itu??" tanya Vhe.
"Iya Vhe,,, aku akan coba lagi bicara pada Ayu masalah nafkah batin. Yang jelas aku mau kamu ikut mama pulang hari ini. Aku ingin kamu sudah ada di rumah begitu aku pulang nanti." kata Dirga.
"Sial,,, kenapa jadi aku yang diatur atur olehnya. Enak saja,,,!!" batin Vhe kesal.
"Vhe,, kamu dengar kan??" tanya Dirga lagi.
"Iya,,, aku dengar kok. Iya baiklah,, aku mau tinggal di rumah itu tapi hanya setelah kamu sudah bivara pada si sinting itu." kata Vhe.
Dirga menghela napasnya.
"Baiklah" kata Dirga.
Mama datang dan menyerahkan segelas susu hangat yang sudah dibuatnya. Vhe menerimanya dan meneguknya hingga habis.
"Istirahat saja ya Vhe,,, mama mau pulang dulu." kata mama.
"Iya ma,,, terima kasih sudah membantu Vhe." kata Vhe.
__ADS_1
"Iya sayang,,, jangan diulangi lagi ya,,," pesan mama.
Vhe hanya mengangguk. Mama kemudian pulang. Vhe menatap mama dengan tatapan mengejek.
Vhe memeriksa ponselnya. Puluhan telpon masuk dari Dirga,,, beberapa panggilan dari nomer nomer asing dan nomer papa.
"Daddy,,," mata Vhe berbinar.
Segera ditelponnya papa.
"Daddy,,, maafkan aku. Semalam aku hanya ingin menenangkan diri saja makanya ku matikan ponselku. Lagipula daddy juga tidak menjawab telponku,,," sungut Vhe manja.
"Mana mungkin daddy bisa menjawab telpon tengah malam begitu. Kamu jangan mengada ada." ketus papa.
"Apa daddy tidak rindu padaku??" goda Vhe.
"Kenapa memangnya?? Bukannya selama ini kamu juga sudah dapat banyak jatah dari Dirga,,,??" papa cemburu.
"Aahh daddy,,, putramu itu tidak ada apa apanya dibanding dengan daddy. Dia tidak semahir daddy menyenangkanku,,," seru Vhe malas.
"Apa benar begitu??" tanya papa memastikan.
"Iya daddy,,, daddy kesini dong,,, Vhe lagi mau nih,,, cepatlah mumpung nenek tua itu belum sampai rumah jadi daddy tidak perlu membuat alasan apa apa,,," goda Vhe.
"Hmm,,, baiklah, tunggu daddy" kata papa.
Papa juga tidak lupa membawa banyak cash katena tau pasti Vhe akan memintanya nanti. Papa segera bergegas sebelum mama pulang.
Apartemen itu sudah terbuka dengan sambutan Vhe yang menggoda. Papa tidak membuang waktu lagi dan segera menuntaskan kerinduannya pada wanita penggoda itu.
"Mana bagian Vhe,,, Dirga belum memberiku uang sama sekali daddy,,, pelit sekali dia padaku." kata Vhe selesai melayani sugar daddynya.
Papa tidak berbasa basi dan langsung menyerahkan setumpuk uang pada Vhe.
"Cukup??" tanya papa.
"Aaahh daddyyyy,,, daddy memang paling top!!!" segera diciumnya pipi tua itu.
Vhe kembali duduk dan memegangi uang itu. Muncul ide nakalnya lagi.
"Dad,,, Vhe ingin mobil baru. Belikan ya,,," rayunya.
"Mobil yang ini kan juga belum lama daddy belikan,,, " protes papa.
"Kalau daddy tidak mau belikan tidak apa apa,,, tapi Vhe mau diberi aset. Vhe ingin belajar bisnis juga daddy,,, bosan jika terus begini. Vhe juga mau sukses jadi wanita karir." kata Vhe.
Papa tampak berpikir sejenak. Papa tidak bisa begitu saja memberikan aset perusahaan pada Vhe karena semua kini sudah ditangani Dirga.
__ADS_1
Papa pun coba menjelaskan pada Vhe seperti itu.
"Jadi sebaiknya kamu mintanya sama Dirga saja,, nanti biar Dirga yang merundingkannya dengan daddy. Daddy tentu akan kabulkan dengan alasan tidak ada salahnya mengajari menantuku ini bisnis." kata papa yang juga ternyata licik.
"Setuju,,," sahut Vhe senang.
Harta keluarga Dirga memang tak sebanyak milik Sandy yang sudah dikuasai Vhe juga. Meski ternyata tak semua yang dikuasainya karena Sandy tidak memberitahukan semua asetnya pada Vhe.
Tapi untuk wanita seperti Vhe,,, harta tetaplah sesuatu yang menyilaukan matanya. Dirinya tak ingin melewatkan semua itu begitu saja.
"Aku tidak boleh keduluan Ayu,,, aku harus lebih cepat bergerak." batin Vhe.
πΊπΊπΊπΊ
"Ayu,,, aku ingin membahas masalah nafkah batin denganmu" kata Dirga malam itu.
"Kenapa lagi memangnya? Apa masih kurang jelas??" ketusku.
"Yu,,, kita ini tinggal dengan adat ketimuran. Perbuatan seperti itu adalah tabu. Tidak mungkin bisa dilakukan meski kamu tidak keberatan." Dirga berusaha menjelaskan.
"Lalu apa maumu sekarang??" tanyaku sinis.
"Aku hanya ingin meminta pengertianmu,,, ijinkan aku memiliki malam sendiri bersama Vhe. Tidur di kamar Vhe. Aku janji akan bergantian tiap malam menemani kalian." kata Dirga.
Aku berpikir sejenak.
Jika aku langsung mengiyakan tanpa syarat,,, bisa jadi Vhe akan hamil. Dan jika itu terjadi,,, posisi anak anakku akan mulai terancam juga dengan kehadiran anak Vhe nantinya. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Cukup aku yang dirugikan Vhe,,, tapi tidak anak anakku juga.
"Baik,,, tapi aku ingin kamu mengubah tujuh puluh lima persen hartamu atas nama Nathan dan Nicholas. Hanya sebagai jaminan saja bahwa anak anakku pun tidak perlu berbagi harta papanya dengan anak ibu tirinya,,, cukup mamanya saja yang harus rela berbagi papanya dengan wanita lain." kataku tegas.
"Tujuh puluh lima persen???" tanya Dirga.
"Ya,,, keberatan?? Apa anak anakku tidak cukup layak mendapatkan bagian itu?? Sudah bagus aku tidak minta semuanya kan?? Aku masih baik menyisakan sisa untuk calon anak kalian nantinya." jawabku.
Dirga masih tidak menjawab.
"Kalau tidak mau ya kembali ke perjanjian awal,,, tidur kita tetap sekamar bertiga!!. Titik.!!" seruku.
"Aku setuju,, Tujuh puluh lima persen. Segera ku urus besok." sahut Dirga cepat.
Aku tersenyum menang.
\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih πΊ