MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Maaf dari Ayah Ibu


__ADS_3

Happy reading ya 🤓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dirga membawaku pulang.


"Kamu kenapa sayang? Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi" ucap Dirga.


Kami sedang dalam perjalanan menuju rumahku. Aku yang sedari tadi hanya menatap ke depan namun pandanganku kosong akhirnya menoleh padanya.


Setetes airmata jatuh ke pipiku.


Dirga yang melihatnya terkejut dan memutuskan untuk meminggirkan mobilnya. Diusapnya airmataku dan dikecupnya lembut keningku.


"Ada apa? Apa ada perkataan atau perbuatanku yang menyakiti hatimu?" tanyanya lembut.


Aku menggeleng pelan.


"Lalu?" tanyanya kembali.


Aku tak tau jawaban seperti apa yang harus ku berikan ladanya. Hingga detik ini pun aku belum tau bagaimana dan apa yang sebenarnya ku rasakan.


"A,, aa,, aku takut" lirihku dengan wajah tertunduk.


Akhirnya kata itulah yang keluar dari bibirku. Dirga menatapku heran. Untuk beberapa saat dia tampak berpikir dan mencoba mengerti apa sebenarnya yang ku takutkan.


Sejurus kemudian dia meraih daguku dan mengangkat wajahku hingga mata kami saling beradu.


"Aku akan bertanggung jawab. Aku yang akan bilang pada ayah dan ibumu. Aku juga yang akan menyampaikan pada mama dan papaku." ucapnya.


"Tugasmu hanya mendampingiku saat menemui mereka dan memastikan kandunganmu ini baik baik saja karena aku tidak ingin kehilangan dirimu dan calon bayi kita" lanjutnya.


"Tapi Dirga,,, Bagaimana kalau bayi ini bukan,,,, " aku menghentikan ucapanku saat telunjuk Dirga menempel di bibirku.


"Laki laki atau perempuan,,, itu anugerah dari tuhan yang patut kita terima, sayangi dan rawat." ucapnya sembari mengelus kepalaku.


"Tapi tante,,,, " aku tak meneruskan lagi. Aku yakin Dirga tau arah bicaraku.


"Yang akan menikah itu kita sayang,,, jadi kita yang akan pegang kendali penuh kendali bahtera cinta kita. Jangan khawatirkan mama ya,, ada aku. Aku akan selalu melindungimu" ucapnya meyakinkanku.


Digenggamnya erat tanganku seolah ingin mengalirkan kekuatan dan kehangatan padaku yang tengah lemah ini. Aku mengangguk namun segera ku tahan tangannya ketika hendak dilepasnya.


"Ada apa lagi sayang?" tanyanya.


"Apa ayah dan ibu bisa menerima kenyataan bahwa aku telah hamil? Sayang,,, aku takut sekali" ucapku.


"Ayah dan ibumu jauh lebih bijaksana daripada kita,, mereka pasti bisa mengerti. Sudahlah,, nanti kita temui mereka dan menyampaikan berita ini. Dan jangan lupa minta maaf pada mereka juga." kata Dirga.

__ADS_1


Aku diam dan mengangguk pelan. Perlahan mulai ku lepaskan tangan Dirga. Dia mengerti itu pertanda aku sudah siap. Dipegangnya kembali kemudi mobil dan membawa mobil itu menuju rumahku.


Sementara itu dirumah ibu,,,, 


"Aduh Dirga kok belum juga mengabari kita ya pak? Ada apa sebenarnya?? " ibu mondar mandir dan sesekali melongok ke luar.


"Sabar bu,,, bapak yakin Dirga bisa mengatasi keadaan disana. Mungkin dia hanya belum sempat mengabari kita" kata Ayah berusaha menenangkan ibu.


"Nah itu mereka datang" ujar Ayah saat melihat mobil Dirga memasuki halaman yang sedari tadi memang pintu lagarnya dibiarkan terbuka oleh Ayah.


Ibu langsung berjalan cepat keluar. Disambutnya aku yang tengah dirangkul oleh Dirga.


"Apa kata dokter Ayu,,, kamu baik baik saja kan Yu? Kenapa tidak mengabari kami?" ibu memberondong dengan banyak pertanyaan.


"Biarkan Ayu dan Dirga masuk dulu bu" kata Ayah.


Aku duduk berdampingan dengan Dirga. Di sebelah kananku masih ada ibu yang terus memegang tanganku. Wajahnya tampak cemas.


Ada segelintir rasa bersalah mencuat di dalam hatiku melihat ibu seperti itu. Ibu begitu cemas padaku padahal justru yang ku alami saat ini adalah akibat perbuatan terlarang kami.


"Ayo katakan pada ibu,,, kamu kenapa Yu?" tanya ibu lagi tetap dengan nada cemasnya.


"Ayu,, Ayu,,,, " aku tak bisa meneruskannya.


"Ibu,,, Ijinkan Dirga saja yang menjawab semua yang ingin ibu tau ya" Pinta Dirga.


Ibu memandang ayah sejenak. Ibu heran saja kenapa aku harus mewakilkan pada Dirga hanya untuk menjawab pertanyaan ibu itu. Ayah menganggukkan kepalanya pada ibu.


Dirga mengatur nafasnya. Aku semakin tertunduk saat dia mulai menyampaikan kebenaran akan keadaanku.


"Sebelumnya Dirga mewakili Ayu ingin minta maaf pada Ibu,,, dan Bapak juga jika apa yang akan Dirga sampaikan ini mungkin akan terdengar mengecewakan. Tapi besar harapan Dirga agar bapak dan ibu bisa menerima dan memaafkan kami." kata Dirga.


"Ada apa sebenarnya Dirga" tanya ibu tidak sabar.


"Ayu tidak apa apa bu. Dia sehat sehat saja." kata Dirga.


"Lalu kenapa dia pingsan. Sedari pagi ibu berusaha membangunkan dirinya tapi dia tidak bisa bangun dan hanya menggeliat saja. Oleh karena itu ibu memintamu melihatnya tadi. Tapi malah dia pingsan. Bagaimana mungkin dia sehat sehat saja?" tanya ibu yang merasa tidak puas.


Rupanya tadi pagi saat aku tertidur kembali ibu telah berkali kali berusaha membangunkanku tapi aku yang masih sangat malas hanya menggeliat saja.


Karenanya ibu meminta Dirga mengecek di kamarku. Dirga yang baru datang dan hendak makan di rumah makan langsung ke belakang. Dia masuk bertepatan aku yang keluar dari kamar terhuyung huyung.


Perutku tiba tiba mual. Aku segera berdiri dan berlari menuju ke kamar mandi tanpa menghiraukan ibu yang semakin tak mengerti.


"Ayuuu,,, kenapa kamu,,,, "


Tak ku hiraukan pertanyaan ibu karena aku merasa sudah tak mampu menahan rasa ingin muntah ini. Walau ternyata sampai dikamar mandi tak ada apa pun yang ku keluarkan.

__ADS_1


"Katakan pada ibu sebenarnya ada apa ini Dirga?" ibu semakin penasaran.


Mungkin ibu sudah mulai curiga melihat gelagatku tapi ibu ingin mendengar penuturan Dirga langsung. Ayah masih terlihat tenang saat aku kembali duduk di tempatku semula.


Wajahku semakin pucat.


"Kata dokter keadaan yang terjadi pada Ayu adalah kondisi wajar bu,,, Wajar mengalami mual, muntah atau mungkin pusing saat trimester pertama kehamilan" kata Dirga.


"Ayu hamil bu,,, anak Dirga" lanjutnya.


Ayah yang tadinya tenang mulai tampak berubah wajahnya. Ada rona kekecewaan, marah namun sekilas saja karena rona bahagia akhirnya muncul.


"Maafkan Ayu bu,,, maafkan Ayu ayah,, Ayu tidak bisa menahan diri" lirihku sembari terisak.


"Bukan salah Ayu saja bu,, Tapi Dirga juga. Jadi Dirga mohon maafkan kami. Dirga akan bertanggung jawab sepenuhnya pada Ayu" ucap Dirga.


"Tidak peduli bayi ini laki laki atau perempuan,, Dirga akan tetap menikahi Ayu seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Dirga sendiri juga yang akan menyampaikan pada orang tua Dirga" lanjutnya.


Ibu mengelus kepalaku. Airmatanya menetes. Ibu sedih, kecewa namun juga bahagia. Ibu sedih dan kecewa karena aku tak bisa menjaga diri hingga saatnya tiba.


Tinggal beberapa bulan saja tapi kenapa kami tak bisa menahannya. Itu yang paling membuat ibu kecewa. Sedangkan kebahagiaan meliputi dirinya karena sebentar lagi aku akan memberinya cucu pertama.


Walau kakakku telah menikah cukup lama namun mereka kurang beruntung bisa mendapatkan keturunan. Kakakku belum pernah hamil sama sekali.


"Kami maafkan kalian walau seberapa besarnya rasa kecewa yang harus kami telan akibat perbuatan kalian. Tapi semua sudah terlanjur. Tugas kami sebagai orang tua hanya menerima, memaafkan dan turut menerima dan menjaga calon cucu kami ini" kata ibu sembari mengelus perutku yang masih datar.


" Lagipula sebulan lagi kalian juga akan menikah" lanjut ibu.


"Terima kasih bu" lirihku sembari memeluknya.


"Ayah titip Ayu sama kamu. Jaga dia,,sayangi dia,,,bahagiakan dia. Jaga juga calon cucu ayah." Ayah menepuk bahu Dirga.


Dirga mengangguk pasti. Dia lega karena orang tuaku akhirnya bisa memaafkan dan menerima keadaanku. Dirga segera pamit pulang agar bisa memberitahu orang tuanya juga masalah ini. 


"Mulai sekarang kamu tidak usah capek capek ya Yu,, jangan ke rumah makan. Istirahat saja. Lagipula sudah ada yang bantu ibu kan." ucap ibu lembut.


Aku tersenyum dan mengangguk. Betapa bentuk dukungan ibu akan kehamilanku seperti ini sangat menenangkan hatiku. Ibu mengantarku masuk ke kamarku.


"Terima kasih bu" ucapku.


Ibu tersenyum lalu menutup pintu kamarku dan membiarkan aku istirahat. Ibu segera kembali ke rumah makan dan melanjutkan aktifitasnya.


Pikiranku melayang pada Dirga. Baru saja ditinggal olehnya aku sudah merasa sangat merindukannya. Mungkin ini juga bawaan kehamilanku.


"Apa yang akan dikatakan tante Widya nanti ya?" batinku.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen yaa


Terima kasih 💞


__ADS_2