
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈ
Vhe sedang duduk santai dan berbincang bersama dokter Hani yang menanganinya. Dokter itu adalah teman baiknya. Keduanya bahkan tampak akrab dan menertawakan semua sandiwara yang mereka lakukan.
"Jadi bayiku ini tetap sehat sehat saja kan,,,??" tanya Vhe.
"Sehat lah,,, Kamu dan bayimu tetap sehat. Lagipula kan yang kamu minum di depan suamimu tadi bukan benar benar obat penggugur kandungan. Itu tetap penguat hanya saja ku berikan yang merk lain." jawab Hani.
Vhe tersenyum.
"Terima kasih ya atas bantuanmu,,, Bayi ini memang harus tetap sehat karena ini adalah ladang uangku. Dengan bayi ini aku akan merebut dan mengambil alih semua milik suamiku. Aku tak akan sisakan untuk maduku itu,,," kata Vhe.
"Yang penting jangan lupa bagianku,,," sahut Hani.
"Itu perkara gampang,,," balas Vhe.
Keduanya pun kembali tertawa tawa membayangkan saat ini tentu Ayu tengah menangis dan memohon mohon pada Dirga yang pasti sudah menceraikannya.
Seorang perawat yang disuruh berjaga masuk dan mengatakan bahwa Dirga dan keluarganya telah kembali ke rumah sakit.
Hani segera membantu Vhe berbaring dengan posisi yang benar agar tampak masih lemas.
"Sayang,,,Kamu sudah kembali. Dokter baru saja seleaai memeriksaku,,," kata Vhe.
"Bagaimana kondisi istri saya dok,,,?? Apa makin membaik??" tanya Dirga yang masih cemas melihat keadaan Vhe.
Dokter Hani tersenyum.
"Ibu Vhena sudah semakin membaik pak,, Janinnya juga masih kuat. Sore ini juga bu Vhena sudah boleh di bawa pulang. Tapi ingat ya pak,,,, Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi ya pak,,, Jaga baik baik ibu dan calon bayi." pesan dokter.
"Baik dok,, Terima kasih." ucap Dirga.
Dokter Hani menyelesaikan sandiwaranya dan segera keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Vhe menggenggam erat tangan Dirga yang duduk di sebuah kursi tepat di sebelah ranjangnya.
"Bagaimana sayang,,,?? Apa semua sudah berakhir?? Apa aku dan bayi kita sudah bisa tenang dan bebas dari teror Ayu,,,???" tanya Vhe.
Dirga hanya tersenyum dan mengangguk. Dibelainya lembut kepala istri yang kini menjadi istri satu satunya itu.
"Kamu sudah aman sayang,,, Cepatlah sembuh biar kita bisa segera pulang." kata Dirga.
Tidak ada raut kesedihan atau apa pun di wajah Dirga, papa dan mama yang membuat Vhe curiga. Mereka semua memang sudah sepakat tidak memberitahukan dulu pada Vhe sebelum kondisinya stabil.
"Aku sudah sembuh dan pulih Dirga,,, kamu dengar kan kata dokter tadi? Aku bahkan dibolehkan pulang hari ini juga. Kita pulang saja ya sayang,,, Aku tidak betah di rumah sakit,,," rengek Vhe.
Vhe merengek karena dia ingin segera memastikan bahwa dialah satu satunya ratu di rumah itu setelah enyahnya Ayu dari sana. Vhe sudah membayangkan dirinya akan dengan gampang menguasai semua harta Dirga dan meninggalkannya setelah pria itu bangkrut.
Lalu bagaimana dengan daddynya,,,??
Vhe kembali tersenyum manis membayangkan acara balas dendamnya pada papa semakin hari semakin mendekati kesuksesan. Dia akan segera melihat pria tua yang pernah menolak kehamilannya itu akan hancur saat putra dan istrinya mengetahui boroknya.
Vhe tidak akan pedulikan omongan mama nantinya karena yang jelas semua harta sudah dikuasainya. Dia tinggal mengusir semuanya dari rumah itu.
What a perfect revenge,,,
Pembalasan dendam yang sempurna,,,!!
Dirga menyelesaikan segala biaya administrasi perawatan Vhe. Dirga menghela napas menyadari biayanya tidak murah. Setidaknya tidak murah untuk kondisi keuangannya saat ini.
Papa menepuk pundaknya.
"Apa rencanamu selanjutnya Dirga??" tanya papa.
"Kerja lebih keras lagi,,, Itu saja yang bisa kulakukan pa,," sahut Dirga.
"Papa tau kalau yang itu,,, tapi kita mau tinggal di mana setelah ini,,,?? Apartemen Vhe,,?? Apa dia tidak keberatan menurutmu??" tanya papa lagi.
"Vhe istri yang baik pa,,, Dia akan menemani Dirga di saat Dirga berada di titik bawah. Apalagi dia juga sekarang tengah mengandung anak Dirga,,, Dia tidak akan kemana mana." kata Dirga.
"Yah papa harap dia bisa mengerti dengan keadaan kita saat ini,,,," kata papa yang sepertinya hilang semangat mengingat sugar babynya itu paling suka dengan uang.
"Papa benar masih punya sedikit tabungan??" tanya Dirga.
__ADS_1
"Iya benar,,, kita bisa pakai tabungan papa itu untuk keperluan sehari sehari sementara waktu sampai bisnis kamu kembali lancar. Papa heran sebenarnya kenapa tiba tiba kamu bisa kehilangan begitu banyak relasi,,,?? Padahal tidak pernah ada kesalahan kan?? Pelayanan juga sudah semakin kamu tingkatkan,,," kata papa heran.
"Dirga juga tidak mengerti pa kenapa bisa mereka meninggalkan kita dan pindah ke tempat lain. Apa memangnya keunggulan di tempat lain,,,??" Dirga juga heran.
"Sabar saja,, Mungkin ini memang hanya sebuah kebetulan. Pasang surut dalam bisnis itu hal biasa. Tinggal bagaimana kamu menyikapinya saja,,," kata papa bijak.
"Benar kata papa,,, Aku hanya harus lebih semangat lagi,,," jawab Dirga merasa termotivasi.
Keduanya pun kemudian kembali ke kamar inap Vhe dan mulai membantu mama mengemasi semua barang barang Vhe.
"Sudah semuanya kan ma,,,??" tanya Dirga.
Mama hanya mengangguk dan tak bicara sepatah kata pun. Sedari tadi mama memang hanya diam dan bahkan cenderung membisu. Dirga paham mungkin mama masih shock.
Vhe sempat menanyakan bagaimana tadi di rumah tapi mama hanya menjawab nanti dibicarakan di rumah saja biar tidak nangung ceritanya. Vhe juga tidak curiga dan tetap menganggap semua baik baik saja.
"Ayo kita pulang,,," ajak Dirga setelah semuanya beres.
"Iya sayang,,, aku sudah rindu dengan ranjang kita,,," kata Vhe senang.
Dirga hanya tersenyum kecut. Mereka masuk ke mobil papa.
"Di mana mobilmu sayang?? Kenapa kita pakai mobil papa??" tanya Vhe.
"Ada di rumah,,, tadi bensinnya tinggal sedikit jadi kita bawa mobil papa saja." jawab Dirga bohong.
Vhe hanya manggut manggut dan tidak mempermasalahkan lagi. Hatinya sudah tidak sabar ingin segera pulang.
Mobil papa adalah satu satunya barang yang ku perbolehkan mereka bawa selain baju karena aku masih punya rasa kasihan dan pengertian mereka akan butuh kendaraan itu.
Selain itu dengan mobil itu aku juga masih bisa mengalihkan kecurigaan Vhe. Vhe tidak akan curiga jika mereka masih menjemputnya dan membawanya pulang menggunakan mobil. Vhe akan tetap menganggap semua baik baik saja.
Aku sudah perhitungkan semuanya.
Jalanan menuju rumah dan apartemen Vhe yang memang searah juga tidak membuat Vhe curiga akan dibawa pulang kemana dirinya sekarang. Dalam perjalanan semuanya diam. Tidak ada yang bicara sama sekali. Semua larut dalam pikiran masing masing.
"Mereka semua diam,,, pasti karena Ayu tadi sempat melawan dan membuat mereka kesal. Mereka diam karena masih marah pada Ayu. Aku yakin seperti itu,,,Biarkan saja. Yang penting sekarang aku lega wanita itu tidak ada lagi." batin Vhe yang terus tersenyum sepanjang perjalanan.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih πΈ