
Selamat membaca ya πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈπΈ
"Sayang,,, ayooo,,," Vhe sudah tidak sabar dan menarik narik Dirga.
"Iya sabar yah,,, aku pakai dulu,,," kata Dirga yang hendak memasangkan pengamannya.
"Ehh tidak usah,,," cegah Vhe.
Dirga memandang heran pada Vhe yang kali ini malah melarangnya melakukan kebiasaan yang dimintanya sendiri dulu.
"Kamu yakin tidak usah??" tanya Dirga.
Vhe hanya mengangguk dan mengerlingkan matanya nakal. Dirga paham dan senang dengan keputusan Vhe itu. Bagaimana pun dirinya juga ingin punya anak dari Vhe. Dan kini istrinya itu telah memberinya lampu hijau.
Dirga pun tancap gas dan melakukannya dengan sebaik baiknya dengan harapan Vhe bisa langsung hamil seperti saat dia melakukannya denganku yang tidak butuh banyak kali langsung jadi.
Vhe membuka lebar pintu rahimnya menerima semua tumpahan harapan Dirga. Vhe hanya tersenyum licik saat tubuh Dirga lemas di atasnya.
"Capek yah,,," tanya Vhe sambil menciumi Dirga.
Dirga hanya mengangguk dan tak bersuara karena napasnya masih naik turun.
"Kamu inginnya anak cewek atau cowok sayang??" tanya Vhe setelah Dirga bisa mengatur napas.
"Cewek saja,,, kan aku sudah punya dua cowok dari Ayu." jawab Dirga.
"Hmm sudah denganku masih saja membahas Ayu,,, Yang dari Ayu ya biarkan saja. Dari aku lain lagi,,, Aku inginnya anak cowok biar dia punya posisi yang kiat di sini. Biar anak Ayu tidak menguasai semuanya. Enak saja,,," kata Vhe.
Dirga hanya diam dan tak menjawab sepatah kata lun. Vhe memang tak pernah tau bahwa si kembar sudah beberapa langkah aman darinya. Vhe bahkan tidak tau bahwa rumah besar yang di tempatinya ini pun sudah atas nama si kembar.
Dirga hanya menghela napas berat saat ingat bisnisnya yang mengalami kemunduran. Entah kenapa banyak rekan bisnisnya mulai meninggalkannya dan berpindah ke perusahaan lain.
Bisnis kargo Dirga di ambang pailit dengan nominal hutang perusahaan yang tinggi.
__ADS_1
Keadaan yang berbanding terbalik dengan bisnisku.
"Vhe,,, apa spa mu sudah mulai ramai pelanggan??" tanya Dirga mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa memangnya?? Jangan bilang kamu mau monta bagian dari jumlah pemasukannya ya,,, Ingat Dirga itu usahaku sendiri,,, meski modalnya dari kamu tapi itu kan hak ku,,," ketus Vhe.
Dirga geleng kepala dengan jawaban Vhe.
"Pokoknya aku tidak suka kalau uang yang sudah diberikan padaku diungkit ungkit,,,!!" lanjut Vhe.
"Sudahlah,,, sudah malam. Ayo tidur,,," kata Dirga yang enggan ribut.
Vhe senang karena Dirga tak lagi membahas spa miliknya yang masih belum jalan itu. Vhe yang memang tidak pandai berbisnis tidak pernah serius mengelolanya. Spa itu hanya dipakainya untuk pamer padaku bahwa dirinya mampu membuka usaha yang jauh lebih berkelas dibanding cateringku.
πΈπΈπΈπΈ
"Hamil???"
Seisi rumah mendadak ramai saat Vhe mengumumkan kehamilannya pada kami semua. Dirga dan mama tampak sangat bahagia mendengarnya. Keduanya berlomba mengelus elus perut Vhe yang masih datar.
Papa tampak biasa saja menutupi perasaannya.
"Mama senang sekali akhirnya mama punya cucu darimu sayang,,, Mudah mudahan perempuan yaaa biar cucu mama lengkap,,," kata mama.
"Iya sayang kamu benar,,, tidak usah menunda nunda lagi. Gak usah ikuti Ayu yang gak bisa hamil lagi itu,,," kata mama.
"Mama,,, tidak perlu bicara begitu. Ayu bukan tidak bisa hamil hanya saja belum menginginkannya,,," Dirga membelaku di depan semua orang.
Dirga tampak bijak kali ini menutupi apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan dirinya. Aku bukan tidak bisa hamil lagi seperti kata mama,, Aku juga bukan belum menginginkannya seperti kata Dirga.
Faktanya adalah kami tak pernah melakukannya selama ini meski kami tetap tidur sekamar,, Meski Dirga tetap adil membagi malamnya. Tapi aku selalu menolak.
Aku menolak karena bayangan seseorang yang jauh di sana namun terus menggangguku melarang hatiku untuk melakukannya dengan Dirga. Aku selalu ingat Sandy tiap Dirga mendekatiku padahal aku sendiri tak yakin apa Sandy juga mengingatku.
Sandy memang masih sering menghubungiku meski kami hanya sekedar bertanya kabar. Sandy sedikit menjaga jarak sejak dia kembali ke LA. Aku sendiri tidak tau kenapa,,, Tapi aku tak ingin menerka nerka bahwa dirinya sudah tidak punya rasa padaku.
Aku tak ingin dia kehilangan rasa yang pernah ada tapi aku juga tak boleh egois mengekangnya. Sandy berhak bahagia dengan yang lain jika dia tidak bisa menungguku.
Benarkah aku rela bicara seperti itu??
__ADS_1
Tidak,,, itu hanya perkataan di bibirku saja. Jauh dalam hatiku aku tidak rela tapi aku masih kalah dengan posisi sebagai ibu dan istri.
Dirga sendiri mengira penolakan dariku semata mata karena aku masih merasa kecewa padanya karena telah mempoligami aku. Dirga tau aku hancur tapi dirinya tidak bisa memutar waktu dan menolak kehadiran Vhe lagi.
Untuk itu saat mama berusaha mempermalukanku pagi ini,,, Dirga maju sebagai tamengku agar aku terlindungi dari serangan mama. Dirga tak ingin aku merasa lebih sakit lagi saat tau Vhe tengah hamil.
Terlambat Dirga,,,
Harusnya dulu saat rumah tangga kita masih baik baik saja,,,
Saat hatiku masih sepenuhnya milikmu,,,
Mama tak lagi menjawab sanggahan Dirga tentangku karena mama lebih tertarik pada kehamilan Vhe. Hanya aku satu satunya orang yang tidak percaya dengan kehamilan Vhe.
"Benarkah itu anak Dirga?? Bukan anak papa???" benakku terusik.
Timbul rasa iba dalam hatiku lagi untuk Dirga. Bagaimana pun juga pria itu pernah membuatku bahagia dan kini walau dengan segala luka yang ditorehkannya di hatiku,,, dia tetap ayah dari anak anakku.
Aku masih punya hati dan ingin dia tidak tertipu masalah anak Vhe juga. Cukup dengan Vhe menipunya dengan perselingkuhannya dengan papa saja tapi aku tidak bisa membiarkan Vhe menipu ayah anak anakku dengan menghadirkan saudara tiri untuk si kembar namun bukan darah daging Dirga.
"Aku harus memberitahu Dirga kenyataannya,,, Aku harus meminta Dirga untuk meminta Vhe melakukam test DNA nantinya pada anak itu. Meski hasilnya akan berpengaruh pada rumah tangga papa dan mama tapi aku harus tetap menyelamatkan anak anakku dari saudara tiri yang tidak jelas darah siapa mengalir di tubuhnya,,,," batinku.
"Kenapa diam saja ibu tiri,,,?? Tidak mau mengucapkan selamat datang pada calon bayiku ini?? Atau kamu cemburu membayangkan bagaimana proses pembuatan bayiku ini,,,,???" tanya Vhe menyadarkanku.
"Vhe,,, tidak perlu bicara seperti itu!!!" tegur Dirga.
Vhe merengut mendengarnya.
"Tampaknya Dirga sering membela wanita ininakhir akhir ini,,,Aku tidak bisa berdiam diri membiarkan wanita ini terus merebut pembelaan Dirga,,,," batin Vhe.
"Selamat ya Vhe,,,Semoga lancar dan sehat terus sampai persalinan,,," ucapku sembari memeluknya erat.
"Apa benar ini anak Dirga?? Aku tidak yakin,,,," bisikku di telinga Vhe.
Vhe terkejut mendengarnya namun tidak menjawab sampai aku melepaskan pelukanku.
"Apa Ayu tau sesuatu???" batin Vhe.
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih πΈ