
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈπΈ
Langit Bali terasa begitu panas meski hari masih pagi begitu pesawat yang ku tumpangi tiba di bandara Ngurah Rai. Namun panasnya langit hari ini tak mengalahkan panas di hatiku.
Taksi yang membawaku pulang berhenti tepat di depan rumah makan ibu.
Ibu tampak tidak kaget melihatku datang dan langsung menghambur kepada beliau. Tangisku pecah begitu saja tanpa menghiraukan rumah makan yang tengah ramai pengunjung.
"Ayo masuk ke rumah dulu baru kita bicarakan." kata ibu lembut dan dengan sabar kemudian membawaku meninggalkan rumah makan dan masuk ke rumah kami di belakang rumah makan.
Ayah yang melihat kedatanganku pun berdiri dan menyambut si kembar.
Si kembar yang bingung melihatku menangis di bawa ayah masuk ke kamar. Ayah berusaha menidurkan mereka agar mereka bisa beristirahat setelah perjalanan jauh.
Begitu anak anak sudah masuk ke kamar,,, Ibu mulai menanyaiku.
"Ada apa Yu,,,??" tanya ibu lembut.
"Sandy hanya memanfaatkan Ayu bu,,, Sandy hanya mencintai Vhe mantan istrinya itu." tangisku masih belum terhenti.
Ibu mengusap tanganku dan menyingkirkan anak rambutku yang jatuh ke depan wajahku.
"Kamu tau dari siapa Yu,,,?? Apa sudah kamu cari tau kebenarannya??" tanya ibu lembut.
"Ayu lihat sendiri video percakapannya dengan tante Frederica bu,,," jawab Ayu dengan napas masih tersengal akibat tangisnya.
"Video itu milik siapa,,,??" tanya ibu.
"Lala,,, Lala juga sekongkol sama Sandy menipuku bu,,,Kalau memang dia sudah tau kalau Sandy itu hanya memanfaatkanku,, Seharusnya dia memberitahuku dong bukan malah diam saja begini." aku masih berapi api.
"Jangan berpikiran buruk begitu dulu. Kamu bahkan belum tau kebenarannya kan." kata ibu lembut.
"Kebenaran apa lagi bu?? Kenapa ibu seperti malah membela mereka semua bu,,,??!!" sungutku.
__ADS_1
"Ibu bukan membela,, Tapi ibu masih bersabar menunggu penjelasan dari Lala langsung. Lala sudah menelpon ibu dan menceritakan semuanya pada ibu. Lala juga berjanji akan menunjukkan kebenaran padamu. Jadi ibu minta kamu jangan berpikir macam macam dulu Yu,,, Mana Ayu anak ibu yang biasanya paling tegar dan cerdas menghadapi semua masalah dalam hidupnya,,,??? Kenapa sekarang Ayu anak ibu ini malah seperti kekanakan begini menyelesaikan masalahnya???" tanya ibu.
Aku terdiam dan menghentikan tangisku. Benar apa kata ibu. Kenapa aku malah terkesan bertindak gegabah dan kekanakan begini. Kabur dari Sandy bahkan tanpa sadar membuat anak anakku jadi korban kelelahan ku bawa kesana kemari.
Ya ampun,,.Kenapa aku baru sadar?? Aku begitu kevewa dan emosi hingga hilang kendali. Aku pun segera berlari menuju ke kamarku di mana si kembar sudah terlelap dengan ayah yang masih menepuk nepuk paha keduanya lembut.
Ayah menghentikan tepukan lembut itu ketika aku memberi beliau kode untuk menggantikan apa yang ayah lakukan.
"Maafkan mama ya nak,,, Mama tidak memikirkan kalian." lirihku sambil memandang wajah mungil yang lelah itu.
Ayah menepuk bahuku lembut.
"Lainkali jangan langsung emosi begini nak,,, Ayah tau kamu mungkin kecewa tapi kamu harus tetap ingat bahwa semua masalah itu tidak selesai dengan memilih pergi begini. Pergi itu tidak menyelesaikan masalah nak,,, Hanya malah menunda dan membuat masalah jadi lebih rumit. Kamu harus pandai mengontrol emosi dan mengendalikan dirimu sendiri. Ingat ada anak anak yang menggantungkan diri mereka padamu nak,,," kata ayah menasehati.
"Iya ayah,,, Ayu mengerti. Ayu menyesal sudah begitu emosi." jawabku.
"Besok kalau Lala datang dan menemuimu,,, Terima xia baik baik ya nak. Terima dan beri dia waktu menjelaskan semuanya. Jangan menolaknya atau bahkan bersikap buruk padanya. Terlepas kamu bisa atau tidak menerima penjelasannya besok,,, Ayah tidak pernah mengajarkan pada anak ayah untuk memperlakukan orang dengan buruk bukan???" tanya ayah.
Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas semua petuah ayah.
"Istirahat saja dulu ya,,, Temani anak anakmu." kata ayah.
Aku menurut dan membiarkan ayah meninggalkan kamarku ini. Ku rebahkan tubuhku di samping Nathan dan mulai memejamkan mataku yang terasa sembab akibat terlalu banyak menangis.
πΈπΈπΈ
Penerbangan dua belas jam pagi ini terasa begitu lama untuk Sandy yang tidak sabar menemui Ayu. Dirinya sudah sangat rindu pada wanita itu dan anak anaknya.
Di sebelahnya duduk nyonya Frederica dan tuan Leo yang akhirnya bisa juga berkunjung ke Indonesia setelah sekian lama tak pernah pulang ke negara asalnya.
Wisnu dan Angela duduk di pesawat yang sama namun berada agak jauh deretan kursinya. Tadi mereka saling bertemu dan menyapa sebelum pesawat berangkat.
Wisnu terus membesarkan hati Angela yang terus galau dan merasa bersalah terlebih lagi pada Sandy yang jadi bersikap dingin padanya. Selalu akrab dan tiba tiba dicuekin seperti ini membuat Angela merasa tidak nyaman.
"Apa pun nanti reaksi Kadek,,, Aku harus bisa terima."batinnya.
Wisnu yang sudah mendengar semua pengakuan Angela padanya bisa menerima semua dan tidak lagi mempermasalahkan perasaan Angela sebelumnya pada Sandy.
Baginya yang terpenting sekarang Angela sudah mengakui semua kesalahannya dan bersedia menerima apa pun konsekuensinya. Angela juga sudah tidak berambisi mendapatkan Sandy lagi. Angela hanya mencintainya dirinya.
__ADS_1
Pesawat tiba di Bali dan mendarat dengan selamat dan membuat semua tidak bersabar untuk bisa segera menemui Ayu dan keluarganya. Tidak sabar untuk menunjukkan kebenaran.
"Bareng bareng saja yuk ke rumah Ayu,,," ajak Angela pada Sandy yang hanya memandangnya sinis.
Sandy bahkan tak menggubrisnya dan langsung membawa mommy daddynya masuk ke mobil yang sudah disiapkan oleh anak buah yang menjemputnya.
Angela bersedih diperlakukan begitu.
"Sudah jangan diambil hati sayang. Ayo kita pesan taksi dan cepat menemui Ayu. Itu lebih penting kan,,,??" tanya Wisnu.
Angela mengangguk.
"You sudah keterlaluan Sandy,, Kasihan Angela kan you cuekin begitu. Bagaimana pun juga dia akan bantu you menyelesaikan masalah you lho,,," tegur nyonya Frederica.
"Biar saja,,, Pokoknya kalau Sandy belum yakin babwa Ayu bisa menerima semua penjelasannya,,, Sandy akan tetap bersikap begini padanya." ketus Sandy.
Nyonya Frederica hanya menggelengkan kepalanya menghadapi sikap putranya yang keras kepala itu.
"Bisa cepat sedikit gak pak jalannya,,??" tanya Sandy pada sopirnya.
"Maaf tuan ini lagi macet jalanannya. Tidak bisa ngebut." jawab sopir itu.
Sandy hanya membuang napasnya kasar. Dirinya begitu takut Ayu akan semakin jauh pergi jika dia tak segera menemuinya.
Taksi yang ditumpangi Angela tepat berada di belakang mobil mereka. Jalanan yang memang lumayan macet sore itu membuat hati Angela juga makin tidak sabar menemui Ayu.
Kedua mobil itu bertujuan ke alamat yang sama.
πΈπΈπΈ
Sore itu aku menemani anak anak bermain di halaman sempit rumah ibu. Tenaga dan stamina kami sudah pulih begitu bangun tidur tadi.
"Ayu,,,"
Mataku tertegun melihat ke pemilik suara yang memanggil namaku itu. Aku heran sejak kapan pria itu berdiri di sana.
"Dirga???"
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih πΈ