MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Was was


__ADS_3

Hampir dua minggu berlalu dari hari itu,,, akhirnya Dirga pulang. Bukannya langsung menuju rumah tapi dia langsung menuju ke rumah makan.


"Menu biasanya ya bu" ucapnya pada ibu.


Ibu tersenyum mengiyakan dan segera meminta pelayan baru melayani Dirga. Aku saat itu sedang tak ada di rumah makan karena masih berbelanja bahan untuk ibu.


Dirga segera melahap habis makanannya. Rasanya puas sekali setelah lama tak makan masakan ibu sejak terakhir ku bawakan dia ke hotel.


Aku yang baru datang lumayan heran melihatnya sudah duduk manis di meja rumah makan ibu. Aku baru ingat bahwa aku tak membawa ponselku.


Dirga pasti mengabari namun aku saja yang tak membaca pesannya.


"Kok sudah disini saja sayang?" sapaku.


Dirga menoleh kemudian menggenggam jemariku.


"Aku kangen kamu" ucapnya.


Aku menarik tanganku dan memperingatkan dia agar tak terlalu terlalu mesra atau membahas masalah hubungan intim kami di sini. Aku tak ingin ada yang mendengar.


Dirga mengerti. Bagaimana pun juga apa yang telah kami perbuat adalah suatu kesalahan.


"Apa pekerjaanmu disana sudah selesai semua?" tanyaku.


"Sudah sayang,, makanya aku segera kembali" jawabnya.


"Syukurlah kalau begitu,, entah kenapa aku takut jika kamu berada jauh dariku" lirihku.


Sejak kami melakukannya,, aku sering menjadi was was. Perasaan takut ditinggalkan atau dicampakkan sangatlah besar. Dirga memandang wajahku yang terlihat sedang banyak pikiran ini.


"Ada apa sayang?" tanyanya.


Aku menggeleng pelan. Mulutku terkunci. Aku tidak bisa jujur padanya akan ketakutanku itu.


"Jangan khawatir atau pun takut. Aku akan tetap bertanggung jawab" ucapnya.


Sepertinya Dirga tau apa yang sedang ku cemaskan. Mendengar perkataannya itu hatiku kembali terasa lega. Apalagi sekarang dirinya juga akan kembali datang tiap hari.


"Iya sayang" ujarku tersenyum.


Dirga berpamitan pada ibu. Dia harus segera pulang dan menemui papa untuk menyampaikan semua hal tentang lahan proyek baru mereka.


Mobil Dirga segera berlalu begitu lambaian tanganku mengantarnya. Aku menatap kepergiannya dengan tatapan hampa.


Aahh entahlah,,,


Nyatanya aku kembali merasa was was. Aku berharap bulan segera berganti agar pernikahan kami segera terlaksana. Terbayang olehku jika ternyata aku hamil.

__ADS_1


Ayah dan ibu pasti sangat kecewa padaku. Mereka yang selama ini telah begitu percaya pada putrinya ini tentu tak menyangka jika putrinya telah berbuat jauh.


Tapi lagi lagi bayangan buruk menyeruak,,,


Tante Widya,,


Akan lebih buruk jika aku tak segera hamil. Wanita itu bisa saja menyingkirkan aku. Dia pasti melakukan segala cara.


"Ayu,,, " ibu menepuk pundakku.


Aku terkejut dan menoleh.


"Ehh ibu,, ada apa bu? Apa ibu perlu bantuan Ayu?" tanyaku.


"Ibu hanya ingin bertanya padamu,,, Apa hubunganmu dengan Dirga baik baik saja? Sejak kembali dari luar kota kau kelihatan banyak pikiran" kata ibu.


Aku sedikit merasa bingung harus menjawab apa. Aku tak menyangka ibu memperhatikan sikapku akhir akhir ini.


"Hubungan kami baik baik saja bu,,, bahkan sangat baik. Mungkin Ayu hanya masih cemas akan keadaan Dirga selama ini jadi Ayu terlihat banyak pikiran" jawabku berbohong.


Betapa ingin pun aku mengatakan sejujurnya pada ibu tapi aku berusaha keras menahan diriku.


"Kamu yakin Yu?" tanya ibu.


Aku mengangguk cepat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dia tidak sabar ingin menanyakan sesuatu padanya.


"Eh eh eh,,, sini dulu" tante Widya menarik lengan Dirga yang hendak naik tangga menuju kamarnya di lantai atas.


"Apa sih mama,,, Dirga capek nih" kata Dirga malas.


Tante Widya tiba tiba tersenyum mendengar Dirga mengatakan kata capek.


"Aku harus menanyakannya" batinnya.


"Tidak biasanya kamu capek begini walau dari mana pun. Apa kamu sudah melakukannya dengan Ayu??" selidiknya.


"Melakukan apa mama?" tanya Dirga pura pura tak mengerti.


"Melakukan apa yang minta lah" sungut tante Widya.


"Mama tau gak? Mama itu aneh. Mama mama lain akan sangat melarang jika anaknya berbuat demikian jika belum waktunya. Mama malah sibuk meminta kami melakukannya" ucap Dirga.


Dirga sama denganku. Walau nyatanya kami memang telah melakukannya tapi Dirga tak mau mengatakannya pada siapa pun.

__ADS_1


Dia kasihan padaku jika ternyata aku tak langsung hamil dan mamanya akan semakin menekanku.


Dia hanya berusaha menjaga nama baik kami walau itu terkesan egois. Kami berdua terkesan tidak berani menanggung akibatnya.


Tapi jika benar nantinya aku hamil dia sudah sangat siap untuk bertanggung jawab. Tak peduli apa pun jenis kelamin bayi yang akan ku lahirkan nantinya.


Ditinggalkannya tante Widya yang merasa tak senang karena Dirga mengkritiknya.


"Pokoknya mama mau Ayu segera membuktikan kalau dirinya bisa beri mama cucu laki laki!!!!" teriaknya saat Dirga menaiki tangga.


"Dasar anak itu,,, Padahal aku cuma ingin dirinya tidak menikahi wanita yang salah. Percuma saja kan dia menikahi Ayu jika perempuan miskin itu tak bisa memberi apa yang kami butuhkan. " omelnya.


"Buang buang uang saja!!!" gerutunya.


Dirga mengunci pintu kamarnya. Dia segera merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya. Kamar Dirga tergolong luas dan dipenuhi segala macam benda elektronik.


Aku belum pernah masuk ke kamarnya tapi aku bisa melihat keadaan kamar itu biasanya saat Dirga menelponku menggunakan panggilan video.


Sama halnya dengan saat ini,,,


Lewat panggilan video yang dilakukannya aku bisa melihat dia sedang rebahan di ranjangnya.


"Aku kangen kamu sayang." ucapnya.


Aku memberinya isyarat untuk berhenti bicara dulu karena aku ingin memasang earphone ku dulu. Aku tak ingin orang orang di rumah makan mendengar semua yang dikatakannya.


"Aku berharap kamu ada disini saat ini biar aku bisa langsung menerkammu" godanya begitu melihat earphoneku telah terpasang.


Aku merengut padanya karena aku kesal tak bisa membalasnya saat ini. Tidak mungkin aku membahas hal seperti itu di rumah makan yang tengah ramai pelanggan ini.


"Tidurlah dulu,, kamu kan baru tiba. Aku harus membantu ibu dulu. Pelanggan makin ramai" ucapku.


Dirga mengangguk dan memajukan bibirnya seperti hendak mencium. Aku mengangkat tanganku seperti hendak memukulnya.


Dirga tertawa melihatku sewot. Segera ku matikan panggilan video kami karena pelanggan semakin banyak.


Dirga meletakkan ponselnya dan mulai memejamkan mata walau pikirannya jauh melayang membayangkan indahnya kebersamaan kami.


"Aarrgghhh,,, sekarang pasti tak akan ada kesempatan lagi bisa melakukannya. Mau tidak mau aku harus bersabar menunggu hari pernikahan kami" lirihnya kesal.


Dirga bertambah kesal mengingat bahwa pernikahan kami masih kurang sebulan lebih bahkan hampir dua bulan.


"Lama sekaliiii" gerutunya kembali.


Setelah beberapa saat akhirnya dia bisa tertidur.


\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen yaaa


Terima kasih 💞


__ADS_2