
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Halo tante,,,, Aku sudah disini dan sudah ku temui Dirga tadi." Lapor Vhe pada mama.Â
"Vheee,,," Pekik mama.Â
"Kecilkan suaramu tante." Ucap Vhe mengingat bahwa aku bisa saja mendengarnya. Dirinya tentu saja tidak mau semua rencana yang sudah disusunnya rapi tercium olehku.Â
"Oh iya,,, terus bagaimana?" Tanya mama dengan suara yang sudah dipelankan.Â
"Dirga sudah takluk padaku tante. Aku berhasil membuatnya yakin bahwa dirinya masih mencintaiku." Jawab Vhe dengan bangga.Â
"Benarkah?? Aaahh tante senang sekali Vhe. Kamu memang selalu bisa diandalkan. Kamu cocok jadi menantu tante." Puji mama yang sangat senang.Â
"Sabar dulu tante. Jangan terlalu terburu buru. Aku ingin membuat Ayu itu sakit hati dulu dengan pengkhianatan Dirga padanya. Nantinya kan kita tidak perlu repot repot mengusirnya. Dirinya yang lemah itu tentu akan dengan sendirinya meninggalkan Dirga" Seru Vhe yakin.Â
"Tante menurut saja padamu Vhe." Kata mama.Â
"Baiklah tante. Terima kasih telah begitu mempercayaiku dan menyayangiku" Ucap Vhe lembut lalu menutup telponnya.Â
Vhe meletakkan ponselnya.Â
"Dasar bodoh. Kamu dan Ayu itu tidak ada bedanya. Kamu bahkan belum menyadari juga hingga kini apa yang sudah terjadi antara aku dan suamimu." Sinis Vhe.Â
Vhe memacu mobilnya menuju rumahnya. Dia ingin mengistirahatkan sejenak tubuhnya sebelum melancarkan semua aksinya. Mendapatkan Dirga dan memeras sugar daddynya tentunya membutuhkan otak yang cemerlang.Â
"Daddy,, temui aku di kafe biasa" Ucap Vhe yang hari itu menelpon papa dengan private number.Â
"Berani sekali kamu menelponku! Aku sudah pernah melarangmu menghubungiku lagi! Hubungan kita sudah lama berakhir! Ingat itu!" Ketus papa dengan suara ditahan khawatir mama mendengarnya.Â
"Tapi aku rindu daddy. Rindu liarnya dirimu dulu" Goda Vhe.Â
"Diam kamu!!" Hardik papa.Â
"Telpon dari siapa pa? Kok kelihatannya serius begitu?" Suara mama terdengar.Â
"Oh ini dari kantor cabang ma" Jawab papa sekenanya.Â
"Kenapa kantor cabang menelpon papa? Kan sudah ada Dirga yang mengurus semuanya. Gimana sih anak buah Dirga itu?" Sungut mama yang sama sekali tak curiga lalu melanjutkan kegiatannya merangkai bunga yang baru dipetiknya di taman.Â
"Wah ada tante rupanya. Bagaimana daddy? Mau menemuiku yang merindukanmu ini di kafe atau aku langsung kerumahmu saja? Tapi jangan salahkan jika aku tak bisa menahan diri nanti ya" Ancam Vhe.Â
"Berani sekali kamu mengancamku!" Ketus papa.Â
__ADS_1
"Terserah saja sih daddy. Aku juga sudah sampai depan rumahmu ini" Ucap Vhe.Â
Ting tong,,,,Â
Suara bel di pintu pagar terdengar. Papa panik mendengarnya terutama saat mama yang langsung berjalan hendak melihat siapa yang datang. Sejak tidak ada pembantu memang tidak ada yang membukakan pintu pagar tiap ada tamu.Â
"Dasar kamu ya,,, pergi dari sana!!! Tunggu aku di cafe!!" Seru papa tak ingin mama keburu membuka pintu pagar.Â
"Ok daddy" Dengan suara menggodanya Vhe menuruti papa dan membawa mobilnya meninggalkan rumah itu.Â
"Siapa ma?" Tanya papa pura pura tak tau.Â
"Entahlah,, sudah tidak ada siapa siapa diluar. Huh bikin capek saja. Sudah jauh jauh jalan ke depan." Sungut mama. Halaman yang luas membuat pagar cukup jauh untuk dijangkau jadi Vhe punya waktu menghilang sebelum mama sampai di pagar.Â
Papa bernapas lega mendengarnya. Sekarang tinggal mencari alasan pada mama karena papa akan pergi sendiri menemui Vhe.Â
"Papa pergi dulu ya ma" Pamit papa.Â
"Mau kemana pa? Mama ikut dong!" Seru mama.Â
"Jangan ma. Papa cuma mau main golf saja kok. Mama kan gak suka panas panasan." Ucap papa berbohong.Â
"Hmm sekalinya keluar malah mikirin diri sendiri. Keluar itu ke mall pa. Biar mama bisa ikut!" Sungut mama.Â
Papa geram melihat Vhe yang sudah duduk manis melambaikan tangannya.Â
"Kamu mau apalagi sih?" Ketus papa.Â
"Duduk dulu dong daddy. Jangan marah marah begitu. Nanti stamina daddy keburu habis. Vhe gak mau daddy loyo loh" Goda Vhe.Â
Papa geram namun menuruti Vhe. Papa duduk didepan Vhe. Papa menatap Vhe yang malah berdiri dan memggeser duduknya disamping papa. Vhe bersandar manja di bahu papa.Â
"Vhe kangen daddy" Lirih Vhe.Â
"Sudah katakan saja apa maumu? Uang? Berapa?" Tanya papa kesal namun tak menolak Vhe yang masih bersandar.Â
"Tidak daddy. Aku cuma mau daddy saja saat ini. Temani Vhe ya hari ini. Kita lihat apa daddy masih seperkasa dulu" Rayu Vhe.Â
"Gila kamu!!!" Ketus papa.Â
"Gila tapi daddy suka kan?" Vhe terkekeh.Â
Papa yang tampaknya tak menyalahkan perkataan Vhe itu kemudian hanyut dalam rayuan Vhe. Mereka terlibat obrolan mesra hingga lupa diri bahwa tempat ini tempat umum yang siapa saja bisa datang kesana.Â
Seperti aku dan si kembar yang hari ini minta dibelikan es krim di kafe itu.Â
__ADS_1
"Mama itu opa ya?" Tanya Nathan yang melihat opanya.Â
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk olehnya. Tak berkedip aku memandang papa tengah duduk mesra bersama dengan seorang wanita yang sepertinya ku kenal. Untuk kedua kalinya sejak kejadian di taman dulu aku melihat kedekatan yang tidak wajar antara papa dan Vhe.Â
"Vhe? Sejak kapan dia kembali ke negara ini?" Batinku mulai merasa resah dengan kehadirannya kembali.Â
Aku ingat bagaimana wanita itu membuatku emosi setiap harinya. Memang dirinya telah berjanji untuk tidak akan menggangguku dan Dirga tapi apa benar ucapannya itu bisa dipegang?Â
Apalagi saat melihatnya menyuapi papa manja sepertu itu. Papa saja diperlakukannya seperti itu apalagi Dirga.Â
"Nichol ayo kita ke opa!" Ajak Nathan sembari menarik tangan Nicholas.Â
Aku tersadar dari lamunanku dan menghentikan keduanya yang sudah mulai berjalan.Â
"Eh bukan nak,, itu bukan opa. Opa kan lagi dirumah menunggu kita. Makanya ayo cepat kita beli es krim saja ya. Jangan buat opa sama oma menunggu terlalu lama" Bujukku pada keduanya.Â
"Iya mama" Jawab mereka serempak.Â
Aku lega karena mereka menurut saja dan tidak banyak tanya lagi. Aku sengaja mengajak mereka makan es krim disana saja agar papa tiba dirumah lebih dulu daripada kami. Aku tak ingin si kembar malah menanyakan dimana opanya pada mama.Â
"Sudah ya,,, kita ketemu lagi besok saja. Daddy tidak bisa berlama lama nanti tante curiga." Kata papa pada Vhe.Â
Vhe mengangguk manis lalu menyodorkan pipinya pada papa. Papa tampak tak ragu mencium pipi Vhe kanan dan kiri. Papa juga terlihat memberikan sejumlah uang pada Vhe yang aku yakin tidak sedikit jumlahnya.Â
Aku menutupi wajahku dengan buku menu saat Vhe berjalan ke arah kami duduk. Aku yakin Vhe tidak mengenali Nathan dan Nicholas.Â
Vhe pergi dengan mobilnya dan papa masih ada disana untuk membayar ke kasir. Aku sengaja mengajak si kembar ke toilet dulu agar papa tidak melihat keberadaan kami disana.Â
"Untung papa tidak melihat kami" Batinku saat papa juga sudah meninggalkan kafe ini dengan mobilnya.Â
"Mama ayo pulang. Kenapa kita malah di toilet sih?" Protes Nicholas yang membuatku sadar kami terlalu lama disana.Â
"Iya sayang kita pulang sekarang ya. Mama bayar dulu" Ucapku pada mereka.Â
"Wah cucu opa sudah datang" Seru papa yang melihat aku dan si kembar datang. Mama yang duduk di sebelahnya menoleh dan terlihat bahagia. Sama sekali tak menampakkan wajah kesal atau selesai bertengkar.Â
Papa segera menangkap si kembar yang menghambur kearahnya. Aku berdiri terdiam melihat wajah mama dan papa. Semua terasa baik baik saja.Â
"Pasti mama tidak tau apa apa tentang Vhe dan papa" Batinku.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih 🌺
__ADS_1