
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tanpa banyak basa basi lagi mama meminta mbak Santi menuju ke kamarnya dan beristirahat barang sebentar. Hal itu membuat mbak Santi makin heran dengan perubahan sikap mama.
"Kenapa nyonya mendadak begitu baik kepadaku?" batin mbak Santi.
Namun sebagai pembantu dia tetap mengiyakan saja titah majikannya itu. Segera dibwanya semua barang barangnya.
"Apa Nathan dan Nichol rewel tadi mama?" tanyaku.
Mama hanya menggeleng.
"Mama mau istirahat dulu ya Ayu. Oh ya ini ponselmu. Kamu boleh memakainya lagi sesukamu. Mama tak akan melarangmu lagi." kata mama manis sembari mengulurkan ponselnya.
Aku menerima ponsel itu dengan perasaan bimbang. Kenapa mama tiba tiba berubah baik begini? Haruskah aku mengatakan pada Dirga apa yang telah mama dan Vhe lakukan selama ini padaku?
Atau aku lebih baik menyimpannya saja mengingat sikap mama yang sudah jauh terlihat baik padaku,,,
"Ah sebaiknya aku menelpon Dirga saja" batinku sembari mulai menekan tombol panggil.
Aku segera membawa si kembar masuk ke kamarku.
Butuh waktu agak lama bagi Dirga untuk menjawab panggilanku. Aku harus beberapa kali mengulang hingga akhirnya Dirga menjawabnya.
"Halo!!!" suara Dirga terdengar ketus.
"Halo sayang,, apa aku mengganggumu?" tanyaku halus.
"Katakan saja ada perlu apa menelponku" suara Dirga tetap terdengar ketus.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu karena tadi aku telah pergi kerumah orang tuaku tanpa ijin darimu." Ucapku mengakui perbuatanku.
Dirga terdengar mendengus.
"Untuk apa kamu meminta maaf dan membahas ijin dariku untuk hal yang sudah terlanjur terjadi seperti ini?" tanyanya.
Aku jadi merasa tidak enak padanya.
"Maaf sayang aku sungguh tidak sengaja. Aku terlalu bersemangat menuruti permintaan mama untuk menjemput mbak Santi" terangku.
"Jadi sekarang kamu menyalahkan mama???" tanyanya.
__ADS_1
Aku tercekat oleh pertanyaan itu. Dirga telah begitu salah paham menanggapi omonganku.
"Bu,,, bu,, bukan beg,,, "
"Sudahlah,,, kali ini aku memaafkanmu tapi aku tidak mau hal serupa terjadi lagi" ucap Dirga memotong bicaraku.
"Ii,,, iiiyyaa sayang" jawabku setengah kecewa karena Dirga tak mau mendengar penjelasanku. Tapi aku tetap berusaha menerima kemarahannya karena aku memang bersalah dalam hal ini.
"Ingat sayang,, menjaga si kembar adalah tugas utamamu,, tak seharusnya kamu meninggalkan mereka dan malah menitipkannya pada mama" ujar Dirga kali ini dengan nada yang lebih halus.
"Iya sayang" jawabku pelan.
Mungkin Dirga sudah berhasil mengusir emosinya kepadaku. Sebenarnya aku tak terlalu bisa menerima jika dia terkesan menuduhku yang dengan sengaja menitipkan si kembar pada mama.
Tapi ya sudahlah,,, Hari ini aku memang melakukan kesalahan dan pantas untuk mendapatkan hukuman. Kemarahan Dirga tadi kuanggap sebagai hukuman untukku yang sudah lalai sebagai istri.
Aku tak ingin membuat suamiku marah lagi.
Usai marahnya mereda Dirga mengubah panggilan suara menjadi panggilan video. Dirga ingin melihat si kembar langsung. Aku tersenyum bahagia saat mengarahkan layar kamera kepada si kembar.
"Ayah sama kakek akan pulang malam ini sayang. Tunggu kita ya" begitulah pesan Dirga.
"Cepatlah pulang sayang,,, aku sudah sangat merindukanmu" ucapku.
"Kamu boleh merasa senang saat ini,,, tapi tunggu saja nanti jika sudah tiba saatnya" kata mama yang berdiri di balik pintu kamarku.
"Sedang apa ya nyonya berdiri di depan pintu non Ayu?" batin mbak Santi yang hendak melewati kamarku.
Mama yang melihatnya bengong dan termangu disana menegurnya.
"Ngapain kamu bengong disitu Santi?? Apa aku memanggilmu kesini lagi hanya untuk melamun begitu??" tegur mama.
"Mmm,,, maaf nyonya" Mbak Santi tergagap dan segera meninggalkan ruangan itu lalu melanjutkan pekerjaannya.Â
Malam itu Dirga dan Papa tiba dirumah dengan selamat. Setelah puas meluapkan kerinduannya pada si kembar papa segera menuju kamar. Aku pun begitu namun Dirga tak kunjung menyusulku.Â
"Pertimbangkan apa yang mama katakan tadi. Ini semua juga untuk kebaikanmu. Jangan terlalu memanjakannya Dirga. Biarkan dia mandiri. Demi anak kalian juga kan. Lebih baik mama saja yang atur keuangan kalian" Bisik mama pada Dirga setelah cukup lama mengobrol berdua saja.Â
"Dirga paham maksud baik mama." Jawab Dirga.Â
\=\=\=\=\=\=\=\=
Sejak Dirga kembali dari luar kota dulu sikapnya banyak berubah. Dirga sering diam dan kadang acuh kepadaku. Aku tak tau ada apa sebenarnya.
__ADS_1
Bahkan akhir akhir ini uang belanja yang diberikan Dirga padaku sangat jauh berkurang sejak dirinya memutuskan menyerahkan uang itu pada mama.
"Biar mama saja yang mengatur keuangan,, lagipula kamu kan juga sibuk merawat anak anak dan tak sempat mengurusi soal belanja dapur" kata Dirga waktu itu.
Aku yang merasa hal itu tidak sepantasnya diucapkan oleh Dirga tak bisa menolak atau mengungkapkan protes padanya. Aku merasa selama ini memang selalu saja mama yang mengatur.
"Baiklah,,, aku menurut saja" jawabku walau aku terpaksa.
Â
Aku memilih untuk tidak lagi memusingkan urusan itu.
"Kenapa kamu tidak buka usaha catering saja Ayu?? Pasti akan sangat banyak pelanggannya,,,, mama yakin deh" kata mama waktu itu.
"Tapi ma,,, bagaimana dengan Nathan dan Nicholas?? Siapa yang akan merawat mereka kalau Ayu sibuk bekerja?" tanyaku.
"Kan masih ada mama,,, lagipula mama yakin kamu pandai mengatur waktumu. Mama tau Dirga sangat mampu mencukupi semua kebutuhan kalian. Tapi kan sayang saja kalau kamu memang punya bakat namun tidak kamu kembangkan" rayu mama.
"Mama ini bagaimana sih,, kok malah Ayu disuruh kerja. Dirga kan masih mampu mencukupinya" Kata papa yang tak menahu bahwa Dirga selama ini menyerahkan uangnya pada mama.
"Mama gak nyuruh pa,, mama cuma coba menyarankan pada Ayu saja. Lagipula kan memang Ayu pandai memasak. Sayang saja pa kalau bakatnya itu cuma disimpan. Daripada nganggur gak jelas juga. Ayu kan masih muda. Masih punya banyak waktu untuk membuka usaha. Kalau dia sukses nanti kan juga kita yang bangga." jelas mama yang mulai resah jika papa ikut campur.
"Sudah,, serahkan saja semua keputusan pada Ayu. Jadi istri juga sebaiknya jangan terlalu bergantung pada suami. Iyakan Ayu?" lanjut mama setengah menyindir.
Aku yang merasa sedikit tidak enak dengan ucapan mama waktu itu akhirnya memutuskan akan membicarakan hal itu pada Dirga. Bagaimana pun juga aku merasa tidak enak selama ini sama sekali tidak pernah bekerja dan hanya dirumah saja.
Diluar dugaanku ternyata cateringku berkembang pesat dan banyak sekali memiliki pelanggan setia. Aku jadi punya uang sendiri yang bisa ku pakai untuk keperluanku dan anak anak jika memang uang dari Dirga tak cukup.
Mama tidak salah. Masakanku memang bisa membuat lidah orang tak bisa begitu saja tak terpikat. Mama yang selalu memuji masakanku di depan Dirga.Â
Dirga sendiri tampaknya juga tidak peduli dengan itu. Dirinya tidak pernah menanyakan berapa penghasilan catering dan ku pakai kemana saja uangnya.
Dirga sibuk dengan pekerjaannya dan aku pun sibuk dengan pekerjaanku. Namun rupanya kesibukanku itu banyak menyita waktuku sehingga tak jarang aku juga merepotkan mama untuk menjaga si kembar.
Kami yang sama sama sibuk akhirnya juga jarang punya waktu untuk berdua. Hubungan suami istri juga jarang kami lakukan karena kami sudah sama sama lelah.
"Semua rencana berjalan mulus. Aku berhasil membuat hubungan mereka merenggang. Aku tinggal meminta Vhe menyelesaiakan tugasnya disana" Batin mama.Â
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen ya
Terima kasih 💞
__ADS_1