
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Papa heran melihat mama yang sudah rapi pagi itu.
"Mau kemana ma?" tanya papa.
"Eh papa,, ayo ikut sekalian" kata mama.
"Kemana memangnya?" tanya papa heran.
"Hari ini Ayu akan memeriksakan kandungannya dan bulan ini jenis kelamin bayinya sudah bisa dilihat pa. Mama tidak sabar ingin segera tau" ucap mama sambil sesekali melihat ke arah tangga yang menuju ke kamar kami.
"Lama sekali sih mereka" gerutu mama.
Papa memandang mama yang begitu antusias. Papa memutuskan untuk ikut juga. Papa khawatir nantinya jika benar anakku adalah perempuan mama akan melontarkan kata kata pedasnya padaku.
Papa selama ini sangat berusaha melindungiku dari mama. Papa tau mama itu masih saja tak menyukaiku.
"Nah itu mereka" mama berbinar melihat kami sudah turun.
Dirga menuntunku menuruni tangga demi tangga. Dia memastikan aku tak terpeleset. Sebenarnya kami sudah berencana untuk memindahkan kamar kami ke lantai bawah saja agar aman untukku.
Namun kamar itu masih dalam perbaikan dan belum selesai.
"Ayo cepat sedikit" mama menarik tanganku begitu namaku sudah dipanggil masuk oleh perawat.
"Bisa segera dimulai saja dok? Saya sudah tidak sabar melihat calon cucu saya!!" pinta mama setengah memerintah.
Dokter hanya tersenyum kemudian dengan dibantu perawat mereka membantuku berbaring di ranjang yang telah disediakan.
Segala doa tak hentinya ku ucapkan pada tuhan agar hasil USG ku ini memuaskan. Mataku tak mengikuti setiap pergerakan kursor di layar USG.
"Berdasarkan hasil USG ini bisa saya sampaikan bahwa jenis kelamin bayi kembar ini adalah laki laki bu" kata dokter.
"Keduanya dok?" tanyaku.
"Betul ibu,, keduanya laki laki. Selamat ya bu Ayu" ucap dokter.
Dirga menggenggam tanganku erat. Airmata bahagia keluar dari sudut matanya.
"Terima kasih tuhan,,, terima kasih sayang" ucapnya sembari mengecup keningku.
Papa dan mama pun tampak bahagia sekali. Mereka saling memeluk Dirga. Mama menghampiriku yang masih terbaring di ranjang.
"Ayu,,, jaga baik baik cucu mama ini ya. Mama mau kamu melahirkan keduanya dengan selamat." kata mama.
Aku mengangguk bahagia mendengar mama yang langsung menunjukkan perhatiannya padaku. Semoga saja mama memang tulus menerimaku.
Bukankah aku telah berhasil menuruti keinginannya memiliki cucu laki laki?
Aku bahkan tak hanya mengandung satu namun dua cucu laki laki untuknya. Jadi tak ada alasan lagi baginya menyingkirkanku. Posisiku akan sangat aman dirumah itu.
Rumah tanggaku tidak akan diterpa masalah dengan lahirnya dua jagoanku ini.
Setidaknya begitu yang ku pikirkan saat itu melihat kegembiraan dimata mama papa dan juga Dirga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku melahirkan kedua bayi kembarku itu dengan operasi caesar. Dirga menyarankan aku memilih metode caesar karena khawatir aku kelelahan jika harus melahirkan dua bayi sekaligus.
Aku menyetujuinya asalkan itu demi kebaikan semua.
Saking bahagianya mendapat dua cucu laki laki sekalgus mama mengadakan sebuah pesta besar besaran. Aku dan Dirga sempat menolak dibuatkan acara seperti itu namun mama bersikeras.
Inginnya kami membuat pesta kecil kecilan saja dengan uang tabungan yang kami miliki.
"Dulu kan saat pernikahan kalian kita tidak mengundang banyak orang. Jadi sekaranglah saatnya" kata mama.
Karena tak mau ribut dengan mama akhirnya kami menyetujuinya. Mama mengundang banyak teman arisannya dan juga kerabat dekat termasuk ayah dan ibuku.
Begitu juga papa yang turut mengundang rekan rekan bisnisnya.
__ADS_1
"Selamat ya Ayu atas lahirnya dua putramu. Ayah dan ibu turut senang. Dengan begini Dirga tenang sudah memiliki dua penerus sekaligus" ucap Ayah.
" Betul itu Yu,,, ibu tadinya sempat sedih dan terus memikirkan seandainya bayimu ini perempuan. Kamu tentu akan sangat terbebani dengan permintaan mama mertuamu" lirih ibu hendak menangis.
"Sudahlah bu,,, semua sudah berlalu. Apa yang jadi kecemasan dan kekhawatiran Ayu telah hilang bersama lahirnya dua jagoan Ayu ini" kataku.
Terdengar suara papa yang mulai membuka acara malam. itu. Papa mengungkapkan rasa syukurnya pada tuhan yang telah begitu baik memberikan dua sekaligus penerus bagi keluarganya.
Tak lupa juga papa mengucapkan terima kasih pada semua yang telah hadir dan memberikan doa dan ucapan selamatnya pada kami.
"Dan yang terakhir sekali,,, saya ingin mengucapkan terima kasih pada menantu saya Ayu yang telah hadir di tengah keluarga kami dan membawa banyak kebahagiaan untuk kami." ucap papa.
Tepuk tangan riuh menggema mengiringi ucapan terima kasih papa padaku. Airmataku mengalir mendapat apresiasi seperti itu dari papa.
"Mama juga ingin berterima kasih padamu Ayu. Kamu telah memberikan apa yang mama inginkan" ucap mama.
"Sama sama mama" jawabku.
Untuk pertama kalinya mama memelukku. Aku merasa terkejut mendapat pelukan darinya yang begitu tiba tiba. Papa yang datang menghampiri kami sangat senang melihat mama yang mau memelukku.
Para tamu bergantian menyalami aku dan Dirga mengucapkan selamat atas lahirya putra kembar kami yang kami.
"Selamat ya,,, siapa tadi namamu?" seorang wanita bertato menyalamiku dan menanyakan namaku.
"Ayu" jawabku.
"Oh ya,, Selamat ya Ayu sudah begitu beruntung bisa mendapatkan Dirga." ucapnya.
"Tentunya dengan segala harta bendanya. Kamu memang pandai memilih suami" bisiknya sambil terus menyalamiku dan pura pura ramah padaku.
Aku heran siapa wanita yang begitu tidak sopan berbicara seperti itu.
"Eh Vhe,,, kamu datang juga sayang??" mama datang dan langsung mencium pipi wanita itu kanan dan kiri.
Vhe,,,
Diakah Vhena??
"Tante baik baik saja. Oh ya mana suamimu? Kamu bahkan belum pernah mengenalkannya pada tante" ucap mama.
"Suamiku sedang di LA tante. Vhe hanya kebetulan pulang kesini dan diajak mommy menghadiri acara ini" jawabnya.
Mereka berdua tampak begitu dekat dan akrab. Seandainya saja mama bisa memperlakukan aku seperti itu pasti aku akan sangat senang.
"Ayu"
Panggilan mama membuatku tersentak.
"Iiyy,,, iya ma" jawabku.
"Sedang apa kamu itu? Melamun saja!! Kenalkan ini Vhena. Menantu pilihan mama dulunya. Tapi sayangnya Dirga memilihmu" kata mama tanpa mempedulikan perasaanku.
"Vhe tidak menyangka selera Dirga berubah sekali tante" ucapnya seraya memandangku sinis.
Aku tidak tahan lagi. Beruntung Dirga segera datang menghampiri kami.
"Antar aku ke kamar sayang. Aku lelah" kataku pada Dirga yang langsung mengiyakan.
Matanya sempat menatap mama dan Vhe dengan pandangan curiga. Mungkin Dirga tau aku sedang berpura pura lelah saja.
"Pasti mereka telah menyakiti hatinya" batin Dirga.
Dirga membawaku ke kamar. Sesampainya di kamar dia segera saja menanyaiku.
"Apa mereka mengatakan sesuatu yang menyakitimu sayang?" tanyanya.
"Aku hanya tak suka dia mengatakan aku pandai telah memilihmu. Katakan padaku,,,, Kamu sudah benar benar memutuskan hubungan kalian baru kamu memulai hubungan denganku kan sayang?" tanyaku.
Dirga tampak lelah menjawab pertanyaanku yang terus menerus ku ulang tiap kali membahas Vhe.
"Harus berapa kali aku katakan padamu bahwa kehadiranmu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kandasnya hubungan kami sayang" ucapnya menahan kekesalan.
Aku terdiam. Aku tak ingin bertanya lagi. Aku tak ingin membuatnya lebih kesal dan malah marah padaku.
__ADS_1
"Lebih baik istirahatlah,,, Aku harus kembali menemui para tamu yang tersisa." lanjutnya.
Aku segera mengangguk tanpa banyak protes lagi. Aku hanya berharap agar Vhe sudah tidak ada lagi disana. Dirga segera keluar meninggalkan aku dan putra kembarku.
Ku pandang dua wajah imut itu,,,
"Semoga kehadiran kalian mampu mengikat cinta ayah dan ibu ya nak. Mampu menjadi senjata ampuh yang bisa mempertahankan keutuhan keluarga kita" lirihku.
Kami sepakat memilih nama Nathan dan Nicholas untuk keduanya. Nathan artinya hadiah dari tuhan dan Nicholas sendiri artinya kemenangan.
Kami memilih nama itu karena artiannya yang sangat tepat menggambarkan hubungan kami. Betapa kami merasa menang dari segala tuntutan mama dengan hadirnya hadiah dari tuhan.
Ingatanku kembali pada sosok Vhe,,,
Aku bangkit dan berdiri lalu berjalan menuju cermin besar yang ada di kamarku. Kupandang pantulan diriku disana. Ku hela napasku kasar.
Sekilas aku memang mengakui Vhe lebih cantik dariku. Vhe dengan tubuh tinggi bak modelnya itu mampu membuat aku harus sedikit mendongak jika ingin menatap matanya.
Rambut Vhe yang sengaja di cat hitam sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Jauh berbeda dengan aku yang tampil apa adanya dengan warna asli rambutku.
Hitam namun tak sepekat milik Vhe.
Aku masih ingat aroma wangi tubuh Vhe saat dia membisikiku tadi. Aroma khas yang sepertinya dihasilkan dari sebuah parfum mahal.
Halusnya telapak tangan Vhe juga membuktikan dirinya jarang mengambil pekerjaan kasar atau rumah tangga. Vhe tentunya rajin menghabiskan waktunya untuk memanjakan dirinya di salon  atau pusat kecantikan.
Berbeda sekali dengan aku yang lebih suka menghabiskan waktuku berkutat di dapur dan mencoba segala ide masakan baru.
Aku kembali menghela napas saat melihat tubuhku yang jauh terlihat berisi dibandingkan tubuh ramping Vhe.
Bagaimana tidak berisi? Sejak hamil dan bisa makan nasi,,, selera makanku meningkat drastis.
Aku sering lapar dan tak cukup jika hanya makan seporsi yang biasa kuhabiskan saat belum hamil. Mungkin karena aku mengandung bayi kembar jadi aku butuh nutrisi dan asupan makanan yang lebih banyak.
Maklum saja tubuhku ini membengkak. Aku jadi iri pada Vhe yang tetap langsing seperti itu. Sebagai wanita yang sudah menikah dan mungkin sudah memiliki anak, Vhe masih bisa tampil bak gadis.
Sungguh jauh perbedaan diriku dan dirinya,,,,
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dirga menarik lengan Vhe yang masih ada di ruang tamu rumah kami. Dirga membawanya menjauh dari para tamu.
"Awww,,, sakit Dirga. Lepaskan!!" titah Vhe.
Dirga melepaskannya. Vhe terlihat bersungut merasakan sakitnya cengkeraman Dirga tadi.
"Kenapa menarikku kesini? Apa kamu takut istri lugumu itu akan melihat betapa kamu masih sangat merindukan dan mengharapkan aku?" tanya Vhe sembari mengalungkan tangannya di leher Dirga.
Sontak tangan Dirga menepis dan melepaskan dirinya dari Vhe.
"Jaga sikapmu!! Kita sudah sama sama menikah." ketus Dirga.
"Okeeee,,,, lalu apa maksudmu membawaku kesini?" tanya Vhe.
"Jauhi aku dan Ayu. Ingat!! Kamu yang memutuskan untuk pergi dulu. Jadi jangan ganggu kebahagiaan kami dengan hadirnya dirimu kembali" kata Dirga.
Vhe tersenyum sinis.
"Apa kamu takut akan kembali jatuh cinta padaku jika aku terus berada disini Dirga?? Apa kamu tidak yakin akan bisa menjaga hatimu sendiri jika harus berdekatan denganku??" tanyanya.
Dirga tersentak dengan pertanyaan Vhe. Bukan itu yang dimaksudnya. Dirga hanya tak ingin Vhe meracuni aku dengan segala perkataannya.
Diakui oleh Dirga pesona Vhe yang tak bisa begitu saja hilang dari ingatannya di awal awal perpisahan mereka dulu. Dirga bersusah payah melupakannya.
"Dengar Vhe,,, jauhi kami. Bahagialah dengan suami pilihanmu itu!!!" ucap Dirga yang langsung meninggalkan dirinya yang masih berdiri dan menatapnya licik.
"Aku memang telah bersuami Dirga,,, Tapi suamiku terlalu banyak menuntutku" batin Vhe.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih 💞
__ADS_1