MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Sidang Terakhir


__ADS_3

Selamat membaca 🌸


Mohon maaf banyak typo πŸ™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌸🌸


"Semangat ya mama cantik,, Semoga persidangan terakhir ini membawa hasil putusan yang terbaik untukmu,, Jangan khawatir. Pengacaraku pasti bisa memenangkan hak asuh si kembar untukmu. Aku sudah bayar mahal loh masak masih kalah saja hahaha,,,,"


"Tenang saja aku akan membayarnya juga,,," sahutku tak mau kalah.


"Baiklah nona milyuner baru,,," kata Sandy sambil menjulurkan lidahnya.


"Awas ya kalau dekat,,," kataku membuat gerakan mencubit.


"Mau dong di cubit mama,,,," goda Sandy.


Wajah tampan dan tawa Sandy menghiasi layar ponselku. Pagi itu kami melakukan video call. Selama ini Sandy tidak pernah absen menelponku. Kadang hanya telpon biasa tapi lebih sering video call karena dia juga ingin melihat perkembangan anak anak.


Sandy juga yang menyediakan pengacara terbaik untuk mendampingiku selama sidang perceraianku dengan Dirga.


Sandy sama sekali tak berusaha menutupi bahwa dirinyalah orang yang paling senang dengan perceraian kami. Bukan semata mata karena Sandy menginginkanku tapi karena Sandy ingin aku terlepas dari keluarga yang tidak memperlakukanku dengan baik.


Sandy menginginkanku??


Percaya diri sekali aku ini hehehe,,,


Memang dirinya sudah pernah mengungkapkan perasaanya dulu sebelum kembali ke LA. Dia juga sudah mengatakan bahwa dirinya akan tetap menungguku hingga aku siap.


Tapi sejak terakhir kali mengatakannya,,,Dirinya tak pernah lagi mengulang kalimat itu. Bahkan sampai aku sudah memberitahunya bahwa Dirga telah menalakku,,, Sandy tetap tak pernah mengatakan apa apa lagi.


Sandy hanya lebih menunjukkan perhatiannya lewat perbuatan. Seperti menyediakan pengacara,,, Menyiapkan rumah lain untuk ku tinggali bersama anak anak karena aku tak mau menempati rumah besar itu.


Meski rumah itu memang hak si kembar tapi aku lebih memilih mempercayakan rumah itu pada si mbak dan seorang tukang kebun. Aku merasa tidak nyaman tinggal di rumah yang sudah menorehkan ribuan luka di hatiku.


Hari ini adalah sidang terakhir kami. Aku lumayan berdebar menunggu putusan hakim. Meski selama persidangan pihak Dirga tidak bisa membuktikan tuduhan percobaan pembunuhan kepadaku,,, Tapi tetap saja sebagai seorang ibu aku masih belum lega jika belum mendengar sendiri bahwa hakim memutuskan haknasuh jatuh padaku.


Aku senang Dirga belum juga menyadari ada dua benda kejutan yang sudah menunggunya di dalam kardus yang ku kemas untuknya dua bulan lalu sebelum dirinya meninggalkan rumah.


Aku memang berharap dia hanya akan menemukan fakta itu setelah kami resmi bercerai. Begitu juga dengan rekaman video papa dan Vhe. Aku masih tetap menyimpannya dan berniat memberikannya di saat yang tepat.


Aku tidak mau kejutan itu membuat Dirga menggantung statusku karena dirinya menginginkan aku kembali padanya setelah menyadari siapa istri terbaiknya selama ini.

__ADS_1


Selama dua bulan ini aku juga senang karena dia sama sekali tak pernah menghubungiku atau datang ke rumah meski untuk menjenguk si kembar.


Kecewa sebenarnya dengan sikapnya tapi ku pikir begini lebih baik. Anak anak yang tidak begitu dekat dengannya juga hampir tak pernah menanyakan papanya.


Mereka malah lebih sering menanyakan om Sandynya.


Hari itu aku datang ke pengadilan hanya ditemani pengacaraku. Anak anak ku titipkan pada si mbak di rumah besar.


Ku lihat Dirga dan Vhe juga sudah menunggu ditemani pengacaranya juga. Tidak tampak ada papa dan mama bersama mereka.


Aku menghentikan langkahku sejenak dan memperhatikan Vhe yang tampak buncit dengan baju ketat yang dikenakannya. Melihat perut buncit itu aku hanya tersenyum. Senyum membayangkan kehancurannya kelak.


Sebagai wanita yang sudah pernah hamil aku tau usia kehamilannya tidak sesuai dengan hitungan saat pertama kali dia mengumumkan kehamilannya di rumah besar.


Tubuh kurus dan wajah penuh beban Dirga juga tak luput dari perhatianku. Tapi aku tidak ingin tau beban apa yang tampaknya begitu berat dipikulnya kini.


"Mari bu,,, Sidang akan segera dimulai,," kata pengacaraku.


Aku tersadar dan cepat mengangguk lalu mengikutinya memasuki ruang sidang. Pihak Dirga juga menyusul masuk.


Sidang dimulai dan kami semua tenang menunggu putusan terakhir hakim.


"Dengan ini pengadilan memutuskan bahwa saudara Putu Dirgantara dan saudari Kadek Ayu Maheswari resmi bercerai. Dan dengan segala pertimbangan,,, Pengadilan juga memutuskan bahwa hak asuh atas kedua anak hasil dari perkawinan mereka jatuh ke pihak ibunya."


Suara palu hakim terdengar dan ku susul dengan untaian kalimat terima kasihku kepada tuhan yang maha adil selaku pengadilan tertinggi karena sudah membantuku dan menuliskan takdirNYA atasku untuk bisa melewati semua ini.


"Selamat Ayu,,, Kamu telah memenangkan hak asuh anak anak. Aku titip mereka." lirih Dirga.


"Jangan lupa kita belum selesai Dirga,,, Aku akan tetap menuntutmu sesuai janjiku jika kamu tidak berhasil membuktikan tuduhanmu." kataku.


"Heh,,,Apa masih belum cukup sih kamu itu mendapatkan semuanya???" ketus Vhe yang mendorongku.


Pengacaraku membantuku menjauhkan wanita itu dariku.


"Harta yang ku dapat,,, Hak asuh anak anak,,, Itu adalah hal yang berbeda dengan apa yang akan ku tuntut dari Dirga setelah ini,,," kataku sinis.


Dirga melepaskan tangan pengacaraku dari tubuh Vhe.


"Sudah sayang,,, Biarkan saja. Kita cari cara lain menghadapinya." kata Dirga menenangkan Vhe dan membawanya menjauh dariku.


Mereka meninggalkan pengadilan lebih dulu dengan hanya menaiki taksi. Lagi lagi aku tersenyum melihatnya.


"Sudah benar benar jatuh rupanya derajat mereka" batinku jahat.

__ADS_1


Pengacaraku tampak serius menerima telpon yang aku tak tau dari siapa. Yang jelas setelah itu dia mengatakan padaku bahwa ada seseorang menungguku di parkiran.


"Siapa memangnya yang ada di dalam pak??" tanyaku sambil berjalan menuju ke parkiran.


Pengacara itu tidak menjawab dan hanya menunjuk ke satu arah. Mataku melihat ke arah yang ditunjuknya.


"Sandyyyyyy,,,,," pekikku.


Aku sangat senang melihat pria tampan itu sudah merentangkan tangannya dan bersiap menerima pelukan dariku. Aku pun segera berlari menghambur kepadanya dan langsung saja memeluknya tanpa mengingat apa apa lagi.


Oh tuhan,,


Betapa aku sangat merindukan pria ini.


Aku terus memeluknya erat.


"Hey mama,,, Apa gak malu dilihatin orang??" tanya Sandy menyadarkanku.


Cepat cepat ku lepaskan pelukanku dan ku rapikan anak rambutku ke belakang telinga. Tak ayal wajahku pun bersemu merah. Aku sungguh lupa bahwa kami masih di halaman pengadilan.


Sandy yang melihatku tersipu malu seperti itu hanya menertawakanku.


"Sudah dong ketawanya,, Puas sekali menggodaku yaa,,," ucapku langsung mencubitnya.


"Aaawww,,, Akhirnya kena cubit lagiiiii,,,,"kata Sandy.


Aku makin bertubi tubi mencubitinya hingga tubuhnya meliuk liuk berusaha menghindar. Aku baru menghentikan cubitanku begitu melihat wajah pengacaraku yang menahan senyum melihat tingkah kami.


"Kenapa berhenti mama??" tanya Sandy.


"Malu dilihat orang tau,,,!!!" kataku.


"Kalau sudah resmi bercerai begini,,, Jangankan hanya cubit cubitan,,, Peluk dan cium pun tidak akan ada yang menyalahkan,,,"


Cup,,Cup,,


Sandy langsung menciumi pipiku dan memelukku erat setelah mengatakan kalimat itu. Aku hanya terkejut dengan gerakan tiba tibanya ini.


"I miss you so much mama,," bisiknya di telingaku.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa vote, like dan komen yaa

__ADS_1


Terima kasih 🌸


__ADS_2