
Selamat membaca 🌸
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kita pulang ya ma,,, Dirga senang mama sudah bisa dibawa pulang." ucap Dirga yang berjongkok di depan kursi roda mama.
Mama yang posisinya hanya bisa duduk dengan kepala miring ke kanan pun hanya mengedip mengiyakan. Dirga tersenyum dan mulai bangkit dan berdiri lalu mendorong kursi roda itu meninggalkan rumah sakit itu.
Dirga telah menyelesaikan semua biaya perawatan mama. Namun dirinya tak lagi mengurus untuk keperluan biaya Vhe.
"Maaf,,, Saya tidak akan membayar tagihan berupa apa pun dan sebesar apa pun untuk pasien atas nama Vhena karena dia bukan siapa siapa saya lagi. Kami sudah tidak ada hubungan jadi kalian bisa menagihkan lagsung pada yang bersangkutan."
Begitulah perkataan Dirga beberapa waktu lalu saat petugas bagian administrasi menyampaikan besaran tagihan biaya perawatan Vhe. Dan akhirnya meski mengeluarkan umpatan umpatan kasarnya,,, Mau tidak mau Vhe tetap harus membayarnya sendiri dengan uang yang dimilikinya.
"Dasar pria pria tidak bertanggung jawab,,, Dua duanya main menghilang begitu saja." sungut Vhe.
Dirinya benar benar tidak mendapatkan apa apa dari keduanya setelah semua usaha dan sandiwaranya selama ini. Bukan harta berlimpah melainkan penyakit dan bayi tanpa ayah yang juga sakit sama sepertinya.
🌸🌸🌸
Taksi yang membawa Dirga dan mama telah berhenti di depan sebuah rumah. Dibantu oleh sopir taksi,,Dirga pun menurunkan mama dan barang barang mereka.
Dirga lantas membayar taksi dan mendorong mama masuk ke halaman rumah itu. Mata mama berputar melihat sekeliling rumah yang tidak diketahuinya milik siapa itu.
Rumah yang jauh dari kata mewah dan berkelas.
"Kita sudah sampai di rumah kita ma. Untuk sementara kita tinggal di kontrakan ini dulu ya ma. Dirga minta mama sabar dulu karena Dirga masih belum bisa beli rumah untuk kita. Dirga masih harus banyak berhemat ma untuk biaya hidup kita dan segala urusan Dirga. Mama bisa terima kan,,,???" tanya Dirga sambil menggenggam tangan mama.
Mata mama kembali berputar ke segala arah dan kemudian mengeluarkan airmata.
"Apa apaan ini,,?? Aku benar benar sudah jadi gembel kah?? Rumah apa ini,, Jauh sekali dari kata layak untukku. Bahkan rumah ini jauh lebih buruk daripada rumah orang tua Ayu yang dulu pernah ku rendahkan. Kenapa sekarang semua ini malah menimpaku,,, Keadaan berbalik dan malah Ayu yang menikmati rumah mewahku." batin mama yang terus menangis.
__ADS_1
"Ma,,, Dirga tau mama sedih. Tapi cuma ini yang bisa Dirga berikan untuk sementara waktu ini. Mama sabar ya,,," ucap Dirga.
Dirga menghapus airmata mama yang tidak berhenti mengalir menangisi nasibnya sendiri. Ingin rasanya mama menepis tangan Dirga yang menggenggam tangannya itu karena mama merasa marah kenapa Dirga tidak bisa memberinya tempat yang layak namun kelumpuhannya membuatnya tak bisa melakukan apa apa selain menangis.
"Ayo ma,, Dirga antar mama ke kamar ya." Kata Dirga setelah membuka pintu rumah itu.
Mama memandang dengan jijik keadaan rumah itu yang banyak debu dan peralatannya pun kebanyakan hanya seadanya saja.
"Mama tidak mau tinggal di sini Dirga,,, Mama tidak mau!!!" batin mama menjerit.
Terutama saat Dirga membawanya ke kamar yang berisi sebuah dipan kayu usang dan kasur tipis yang tampak tidak nyaman. Ingin rasanya mama memberontak saat Dirga mulai menurunkannya dan merebahkan tubuhnya di kasur itu.
"Ini kamar mama,,, Kamar Dirga tepat di sebelah tapi Dirga akan atur ulang kasurnya biar Dirga bisa tidur di kamar ini juga ma. Dirga tidak mau melewatkan semua tentang mama. Dirga juga akan cari orang yang bisa merawat mama saat Dirga kerja ya ma,,, Biar mama tidak sendirian di rumah."kata Dirga.
Mama hanya menangis.
"Entah apa arti airmata mama ini,,, Entah mama sedih atau mama marah tapi yang jelas Dirga minta maaf pada mama." lanjut Dirga yang mulai ikut menangis.
Dirga juga sedih mengingat kondisinya yang juga mengidap penyakit yang mengharuskannya mengeluarkan banyak uang untuk membayar semua obat yang diperlukan untuk tetap membuatnya bisa bertahan lebih lama lagi.
Dreettt,,,,
Ponsel Dirga bergetar. Telpon dari kantornya. Dirga lun menjawab telpon itu.
"Maaf pak,, Saya hanya ingin menyampaikan bahwa ada surat putusan dari pengadilan untuk bapak. Tadi bu Ayu yang membawanya kesini." kata sekretarisnya.
Dirga menghela napas panjang.
"Masalah apalagi sekarang tuhan?? Apa Ayu memenangkan kasus tuntutannya padaku?? Apa aku harus di penjara juga?? Lalu bagaimana dengan mama kalau aku harus di penjara??" Dirga bertanya tanya dalam hati.
"Terima kasih atas informasinya. Bisa kamu kirimkan surat itu??" tanya Dirga yang langsung menyebutkan alamatnya saat ini karena dirinya tidak bisa meninggalkan mama begitu saja.
"Baik pak akan segera saya kirimkan." jawab sekretarisnya.
__ADS_1
"Semua ini tetap Vhe biang keroknya,,,!!!! Seandainya saja dia tidak hadir dalam hidupku lagi tentu saat ini aku masih bersama Ayu. Masih hidup mewah. Masih lancar semuanya." geramnya.
Aaarrggghhhh,,,,
Dirga tak kuat menahan emosi dan kegalauannya hingga dirinya pun membanting dengan asal asal barang barangnya.
Belum hilang kekesalannya,, Dirga melihat seorang kurir datang membawa surat yang dikirimkan oleh sekretarisnya.
Dirga gemetar membuka sampul surat itu dan membaca satu persatu isi putusan pengadilan. Matanya terbelalak membaca surat itu.
"Kurungan paling lama lima tahun atau denda paling banyak lima belas juta rupiah untuk kasus kekerasan. Dan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah atas kasus pencemaran nama baik." baca Dirga.
"Tidak ada jalan lain lagi. Aku terpaksa harus berhutang lagi pada perusahaan relasi papa itu untuk membayar denda karena mengganti hukuman kurungan. Padahal hutang yang kemarin saja belum terbayarkan." lirih Dirga.
"Aku juga butuh uang untuk mengurus surat pembatalan nikahku dengan Vhe. Aku butuh uang untuk pengobatan mama dan diriku sendiri. Uang yang ku punya saat ini hanya cukup untuk kebutuhan sehari hari dan membayar orang yang akan menjaga mama saja." lanjutnya.
Dirga memegang surat itu dan matanya memandang foto Ayu di ponselnya.
"Kamu benar benar tidak main main memperkarakan semua yang sudah kulakukan padamu. Apa kamu masih marah padaku?? Apa ini semua artinya tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk kembali padamu Yu??" batin Dirga.
Dirga memukul mukul kepalanya mengingat kondisi kesehatannya.
"Bagaimana mungkin aku bisa berpikir untuk kembali
padanya dengan membawa penyakit kotor ini. Aku yakin Ayu bersih karena kami tak pernah berhubungan selama ini terutama sejak adanya Vhe. Tapi aku masih sangat menginginkan Ayu kembali jadi milikku. Dia sempurna dan aku tidak rela membaginya dengan pria lain." hati Dirga mulai egois.
"Aku tau aku egois tapi sungguh aku tidak rela tuhan,,,Sembuhkan aku tuhan agar aku bisa memilikinya lagi." batinnya.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih 🌸
__ADS_1