
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku bangun keesokan harinya saat sinar matahari mulai masuk dan menerpa wajahku. Badanku terasa remuk redam. Tentunya apa yang kami lakukan kemarin adalah penyebabnya. Kami berdua yang sama sama baru merasakan kenikmatan duniawi rupanya tak puas mengarungi lautan dosa itu sekali dua kali saja. Kami melakukannya berkali kali.
Ku paksa mataku agar terbuka dan kemudian aku berusaha duduk. Ku raih ponselku yang hampir kehabisan baterainya itu. Aku pun mengisi baterainya dan melihat jam.
"Ya tuhan aku kesiangan. Bagaimana ini? Ibu pasti kewalahan di rumah makan. Harusnya aku bangun pagi sekali agar bisa pulang dan membantu ibu." batinku.
Aku merasa bersalah sekali pada ibu karena tak membantunya pagi ini. Tapi mungkin aku harus mulai terbiasa seperti ini karena beberapa bulan lagi aku akan tinggal bersama Dirga setelah kami menikah. Sesuai dengan permintaan tante Widya yang mengharuskan aku tinggal di rumahnya.
Aku menghela napas berat membayangkan bagaimana nantinya jika aku tinggal serumah dengan tante Widya yang aku tau persis masih saja sama. Tidak menyukaiku.
Tapi aku harus bisa mengambil hatinya demi kebahagiaan kami berdua. Aku dan Dirga dan anak anak kami nantinya.
Ku toleh Dirga yang masih tertidur pulas disampingku. Aku tersenyum bisa melihat wajah manisnya di pagi hari. Ini merupakan pengalaman pertamaku melihat wajahnya saat masih tertidur. Aku kembali tersenyum membayangkan nantinya wajah itulah yang akan pertama ku lihat tiap paginya. Wajah itulah yang akan memberiku semangat setiap harinya.
Ku kecup keningnya perlahan lalu ku tutup tubuhnya yang masih tak mengenakan apa pun itu dengan selimut. Namun rupanya gerakanku itu membuat Dirga menggeliat. Matanya terbuka sebelah dan melihatku. Bibirnya tersenyum.
"Selamat pagi sayang." ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Selamat pagi sayang." balasku sembari tersenyum.
"Kamu mau kemana sayang?" tanyanya saat aku hendak beranjak dari ranjang ini.
"Aku mau mandi dulu, ini sudah siang. Aku harus pulang." ucapku.
Dirga menarik tanganku hingga aku roboh dan tubuhku menimpa tubuhnya. Dirga mendekapku erat.
__ADS_1
"Hey, kenapa sangat terburu buru. Jangan kemana mana. Disini saja sayang." bisiknya.
"Ibu butuh bantuanku sayang. Kamu tau kan aku yang selalu membantunya di rumah makan." ucapku meminta pengertian darinya.
"Tapi ibu kan juga tidak keberatan kamu di sini bersamaku." kilahnya.
"Karena kamu tidak mengatakan yang sebenarnya. Coba kalau ayah dan ibu tau apa yang kita lakukan di sini. Tentu mereka akan lebih memilih aku pulang kehujanan." seruku tak mau kalah.
Dirga tertawa namun masih tak melepas dekapannya padaku.
"Tetaplah di sini sayang. Aku masih tak ingin jauh darimu." bisiknya.
Bisikan lembutnya itu pun menjadi awal bagi kelanjutan dosa yang kami lakukan lagi dan lagi. Kami berdua seakan tak pernah puas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
ku guyur tubuhku dengan air hangat dari shower. Aku merasa tubuhku lebih ringan dan enak setelah ku selesaikan ritual mandiku. Ku balut tubuhku dengan handuk putih besar yang telah disediakan oleh pihak hotel. Aku kemudian berdiri dan memandang pantulan diriku di cermin besar yang ada dikamar mandi itu.
Sekali lagi ku pandang pantulan diriku di cermin besar yang ada di kamar mandi itu. Tiba tiba aku merasa kotor dan hina. Aku merasa tak punya nilai lagi. Tak lebih hanya gadis yang tak bisa menjaga martabatnya dan keluarganya.
Tiba tiba aku merasa sudah begitu bersalah pada orang tuaku dan memang begitu seharusnya.
"Maafkan Ayu ayah dan ibu. Ayu telah gagal menjaga kesucian diri Ayu. Semoga saja hal yang telah Ayu lakukan ini tidak akan mencoreng nama baik Ayah dan ibu." lirihku.
Bagaimana pun juga aku yakin Dirga akan tetap menikahiku dan mempertanggungjawabkan perbuatannya jika ternyata aku hamil sebelum tiba hari pernikahan kami. Dirga telah berjanji padaku dan aku mempercayainya.
"Hati hati sayang." pesannya saat mengantarku hingga lobi hotel. Ku lambaikan tanganku padanya.
Ku bawa langkahku menuju parkiran tempat motorku. Kembali ku kenakan masker dan helmku. Aku mulai menghidupkan motor dan keluar meninggalkan hotel itu. Saat sudah keluar dari halamannya aku sempat berhenti dan memandang hotel itu. Tempat yang telah menjadi saksi bisu percintaan kami.
__ADS_1
Tiba tiba hatiku terasa sesak. Namun aku sadar, Menyesal pun sudah tak ada gunanya. Semua sudah terjadi.
"Apakah yang ku lakukan bersamanya ini tidak akan membuatku menyesal suatu saat nanti? Akankah kami bisa menutupi dan menyimpan aib ini nantinya?" batinku.
"Tidak,tidak! aku harus yakin Dirga akan bertanggung jawab. kami saling mencintai dan saling tak ingin kehilangan. Dirga pasti akan berusaha menjaga cinta kami ini." lanjut batinku.
Aku menghela napas dalam. Udara di sekitar hotel yang memang berada di perbukitan ini membuat otakku kembali segar. Aku menarik gas dan meninggalkan tempat itu. Dirga yang sudah selesai mandi dan menunggu sarapannya mulai menyiapkan diri untuk mengunjungi lahan proyeknya. Dia juga terlambat hari ini.
\=\=\=
Aku tiba di rumahku saat matahari sudah semakin tinggi dan dengan sinar angkuhnya membuat bumi ini terasa panas. Ku lihat rumah makan ibu sudah dipenuhi langganan langganannya.
Segera kulangkahkan kakiku masuk dan menemui ibu yang tengah sibuk menghitung jumlah uang kembalian untuk pembeli yang sudah membayar.
"Ibu maafkan Ayu. Ayu tidak bisa secepatnya pulang dan bantu ibu." ucapku begitu tiba di rumah makan.
"Tidak apa apa Yu, lagipula hari ini pegawai baru ibu sudah bisa mulai kerja. Jadi dia yang membantu ibu hari ini. Kamu istirahat saja ya Yu. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh." kata ibu sembari menggenggam tanganku.
Aku tak tau jika ibu bisa secepat itu mendapatkan pegawai yang nantinya akan menggantikanku setelah aku menikah. Rupanya ibu telah begitu matang mempersiapkan semuanya.
"Maafkan Ayu bu, sebenarnya berat nian hati Ayu meninggalkan ibu dan Ayah. Tapi Ayu juga tak bisa jika harus terus berhubungan dengan Dirga tanpa adanya status." batinku.
Ku tinggalkan rumah makan dan masuk ke kamarku. Ku raih ponselku dan mengabarkan pada Dirga bahwa aku telah sampai dirumah dengan selamat. Dirga membalas pesanku dan menyampaikan bahwa dirinya juga tengah berada di tempat kerja.
Ku rebahkan tubuhk di ranjang kecilku yang terasa jauh berbeda dengan ranjang hotel. Ku buka galeri fotoku dan ku pandangi foto Dirga. Aku tersenyum saat menemukan foto dirinya yang tengah tersenyum manis menatap ke kamera.
"Putu Dirgantara, Aku mencintaimu." lirihku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen ya
Terima kasih 💞