MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Ada Kebusukan Tersimpan


__ADS_3

Happy reading ya 🤓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Baiklah sayang,,, tante mengerti" Mama menutup telponnya. 


"Telpon dari siapa ma?" Tanyaku ingin tau. 


"Sejak kapan kamu mulai mencampuri urusan mama? Sudah kerjakan saja tugasmu sana!!!" Ketus mama yang langsung meninggalkanku. 


Aku heran kenapa mama membentakku seperti itu. Padahal tidak ada yang salah dari pertanyaanku itu. Aku biasa menanyakan jika ada telpon masuk karena kadang pelanggan cateringku juga menghubungiku lewat telpon rumah ini. 


"Mungkin mama sedang ada masalah dengan papa hingga moodnya kurang baik hari ini. Mungkin saja itu memang bukan telpon dari pelangganku" Batinku mencoba berpikir jernih. 


"Ayo Nathan,,, Nicholas,,, nanti keburu terlambat ke sekolahnya nak. Mama juga banyak pekerjaan nih" Ucapku pada si kembar agar segera menghabiskan sarapannya. 


"Iya mama" Sahut mereka bersamaan. Ku elus kepala keduanya lalu menciumnya. 


" Kamu pulang awal gak sayang hari ini?" Tanyaku pada Dirga yang berpapasan denganku. 


" Akan ku usahakan. Ada apa memangnya? Apa kita ada acara malam ini? " Tanyanya. 


"Tidak ada,, aku hanya bertanya saja" Jawabku yang sebenarnya kecewa kenapa dirinya menanyakan hal seperti itu padaku. 


Apa harus ada acara dulu baru dia akan pulang lebih awal? 


Apa harus begitu??? 


"Mereka memang terlihat tak lagi romantis sejak keduanya sibuk. Hal ini akan semakin membuatku gampang menjalankan rencanaku dan Vhe" Batin mama yang mendengar pembicaraan kami dan sempat melihat raut wajahku. 


"Sayang aku pergi dulu" Pamitku sembari pada Dirga begitu si kembar selesai sarapan. 


"Hati hati" Jawabnya singkat. 


Aku sedih mendengar jawaban singkat itu. Entah kenapa Dirga berubah sekali. Aku menghela napasku.


Apa ini karena pernikahan kami telah memasuki tahap sulit setelah lebih dari lima tahun bersama dimana mulai muncul rasa jenuh pada pasangan? 


Semoga saja bukan seperti itu,,,, 


"Ayu berangkat dulu antar anak anak dan sekalian belanja ma,,, " Pamitku pada mama. 

__ADS_1


"Cepat pulang jangan mampir sana sini lagi" Pesannya. 


Dirga yang mendengar perkataan mama langsung menolehku tajam. Aku yang tak mengerti kenapa mama mengatakannya hanya memandang mama dengan heran. 


"Ma,, memangnya kapan Ayu pernah seperti itu? Ayu kan,,,, " 


"Sudah,,, antarkan saja anak anak. Aku tak mau mereka terlambat" Potong Dirga. 


Aku diam dan tak membantah lagi. Aku tau Dirga tidak suka jika aku melawan mama. Segera ku tinggalkan rumah itu dan menuju sekolah si kembar. 


"Kamu lihat sendiri kan istrimu itu makin suka membantah mama. Hmmm,,, mama jadi membayangkan seandainya mama punya menantu yang mau menurut pada mama. Seandainya saja dulu mama tidak menyetujui pernikahan kalian" Lirih mama berusaha mengingatkan Dirga akan keinginannya dulu. 


"Ma,,, Vhe sudah menikah dan bahagia bersama suaminya. Mama berhenti berharap mama bisa menjadikan dirinya sebagai menantu mama" Jawab Dirga. 


"Mama tau,,," Jawab mama. 


"Mama ini bicara apa sih? Anak kita sudah menikah dan mewujudkan keinginan mama punya cucu laki laki. Apa lagi sih kurangnya. Tidak seharusnya mama menyesali pernikahan mereka" Ketus papa yang baru datang dan duduk di meja makan. 


"Kan mama hanya bilang seandainya saja" Lanjutnya. 


Dirga hanya diam dan mengunyah rotinya. Mama berusaha mencari apa ada reaksi lain di wajah Dirga jika dirinya terus membahas Vhe. 


Uhuuukkk,, uhuuukkk,,, 


Mama terkejut melihat kedua pria kesayangannya itu batuk hampir bersamaan. Segera diberikan gelas air putih pada suaminya. 


"Kalian ini kenapa sih? Dasar papa sama anak,, batuk saja janjian" Sungut mama. 


"Bagaimana Dirga? Jawab dong pertanyaan mama tadi" Desak mama yang melihat Dirga sudah jauh lebih tenang setelah minum air. 


"Maaaa,,, Dirga sudah menikah. Dirga tidak butuh istri lagi. Satu saja cukup" Jawab Dirga. 


"Siapa bilang cukup,,, cukup bagimu saja tapi tidak bagi mama" Sungut mama. 


Dirga menoleh dan menatap mama. Berusaha memahami perkataana mama itu. 


"Apa kamu tidak merasa istrimu itu makin hari bukannya meringankan beban mama dan menyenangkan mama. Dia makin sering membuat mama lelah dengan menitipkan si kembar. Mama tau mereka itu memang cucu mama. Tapi kan,,,, " Ucapan mama terpotong. 


"Kan mama dulu yang membuat Ayu jadi sibuk. Mama yang dulu menyemangati dirinya untuk membuka usaha catering ini. Kalau sekarang dia sibuk kan wajar ma" Potong papa. 


"Papa ini selaluuuuu saja membela Ayu. Dengar ya pa,,, jadi istri itu kalau sesibuk apa pun tetap harus bisa menomersatukan keluarganya. Tetap bisa mengurus anak anaknya dan suaminya" Kata mama. 

__ADS_1


"Lah ini,,, anak dititip ke mama,, suami juga gak diurus. Coba lihat itu anak papa,,, sampai brewok begini tak ada yang memperhatikan" Lanjut mama sambil menunjuk Dirga. 


Dirga tanpa sadar meraba wajahnya sendiri yang memang ditumbuhi banyak brewok. Papa juga memperhatikan dirinya. Sepertinya mereka berdua mulai terpengaruh dengan perkataan mama. 


"Sudah,,, sudah,,, jangan meracuni pikiran Dirga. Jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga anak kita ma. Biar Dirga sendiri yang memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya dan keluarganya" Kata papa yang langsung beranjak keluar menuju kursi taman kegemarannya. 


Mama hanya diam dan menunggu hingga papa benar benar telah keluar. Mama tak ingin papa kembali memotong pembicaraan selanjutnya antara beliau dan Dirga. 


"Apa kamu bahagia bersama Ayu Dirga?" Tanya mama begitu papa telah menghilang dibalik pintu. 


"Apa maksud mama? Tentu saja Dirga bahagia" Jawab Dirga. 


"Jangan bohong sama mama. Mama ini mama kamu. Mama bisa merasakan saat kamu sedang tidak bahagia. Kamu mulai merasa bahwa Ayu tak begitu memperhatikanmu kan? Ayu sibuk sendiri kan? Atau jangan jangan Ayu tak pernah lagi melayani kebutuhanmu?" Tanya mama mendesak. 


Dirga diam saja tak menjawab namun dalam hatinya dia membenarkan semua perkataan mama. Mama tak bicara lagi karena mama tau Dirga mulai terpengaruh. 


"Sebaiknya aku tak terlalu banyak meracuni pikirannya dulu. Beri saja dia kesempatan memikirkan semua itu dulu." Batin mama. 


"Dirga berangkat dulu ma" Pamit Dirga setelah cukup lama duduk diam memikirkan semuanya. 


"Iya sayang,, hati hati ya" Jawab mama sembari mencium pipi anaknya itu. 


Dirga melangkah keluar namun langkahnya terhenti saat mama kembali memanggil namanya. Dirga menoleh. 


"Sebagai laki laki kamu dibolehkan menikahi lebih dari satu perempuan. Pikirkan itu!!!" Kata mama mengingatkan. 


Dirga hanya menggangguk dan menuju ke taman untuk berpamitan pada papa. 


"Hati hati Dirga,,, jangan terlalu mengambil pusing perkataan mamamu. Jika memang itu bertentangan dengan hatimu dan kamu yakin hatimu itu benar,,, abaikan saja mama" Pesan papa sembari menepuk bahu Dirga. 


Dirga tersenyum dan mengangguk. Betapa dirinya tengah berada di tengah tengah kebenaran dari ucapan mama dan papa. 


Papa memandang kepergian Dirga dengan pandangan sendu. 


"Maafkan papa Dirga. Betapa papa menyesal telah diam diam melakukan hal bodoh dulu. Papa khilaf Dirga. Maafkan dibalik semua kebaikan papa ini tersimpan sebuah kebusukan" Lirih papa. 


\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa vote, like dan komen yaa


Terima kasih 💞

__ADS_1


__ADS_2