
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dirga tak begitu lega mendengar bahwa hari baik untuk pernikahan kami hanya akan ada setelah tiga bulan lagi. Baginya itu sangat lama. Namun hal yang berbeda justru kurasakan. Itu terdengar jauh lebih baik bagiku karena dengan begitu artinya aku masih bisa tinggal dirumah ibu lebih lama lagi.
"Baiklah pak Ketut dan ibu, kami rasa sudah cukup perbincangan kita hari ini. Saatnya kami pamit undur diri." Ucap tuan Wicaksana dengan sangat sopan dan menutup pembicaraan hari itu.
"Sekali lagi kami mohon maaf jika ada hal yang kuranh berkenan dihati tuan dan nyonya selama berada di rumah kami ini." Ucap ayah merendah.
"Jangan bicara begitu pak. Kami justru senang berada disini. Apalagi kue buatan ibu ini sangat lezat. Saya jadi ingin nambah terus." kelakar tuan Wicaksana.
Kami tertawa mendengar ucapan yang terkesan jujur dan tanpa malu malu dari seorang tuan Wicaksana yang kaya dan terhormat. Aku melirik tante Widya sedari tadi hanya memutar matanya malas saat suaminya berkelakar.
Aku menghela napas dalam.
"Ayu, sekarang kamu sudah resmi menjadi calon istri Dirga. Pandai pandailah menjaga hati dan dirimu hanya untuknya." Pesan tuan Wicaksana sembari menyentuh bahuku.
"Iya tuan." sahutku sopan.
"Hey, jangan terus menyebutku tuan. Kamu harus mulai membiasakan diri memanggilku dengan sebutan papa. Kamu kan juga calon putriku." ucap tuan Wicaksana.
"I, i, iya tu, tu, papa." ucapku terbata bata.
"Nah, begitu kan lebih enak didengarnya." ucapnya sembari tersenyum.
Dirga tampak bahagia melihat ayahnya dengan tangan terbuka lebar menyambut dan menerimaku.
"Ingat ya Ayu. Sebagai menantu satu satunya kamu memiliki tanggung jawab besar. Kamu harus bisa segera memberikan Dirga keturunan dan aku mewajibkanmu untuk memiliki anak laki laki. Kamu tau kan adat setempat? Dirga ini putra kami satu satunya jadi kami berharap besar padamu." tukas tante Widya.
"Mama, apaan sih!" ketus Dirga.
"Eh, mama serius. Mama bahkan menyarankan agar kalian melakukannya saja dulu. Biar tidak rugi kan, nanti sudah dinikahi, habis biaya banyak eh gak taunya gak bisa kasih kamu anak." sinis tante Widya.
Tak ayal ucapannya itu membuat kami semua terkejut. Aku bahkan mendadak pusing saat berusaha mencerna kemana arah dan maksud tujuan bicaranya itu.
"Mama ini bicara apa sih? Anak itu adalah anugerah dan rahasia tuhan yang tidak bisa kita paksakan atau bebankan pada Ayu dan Dirga. Mereka hanya bisa berusaha dan berdoa. Dan kita sebagai orang tua juga hanya bisa mendukung dan turut mendoakan keduanya agar cepat dikaruniai momongan. Bukan malah mewajibkan sesuatu yang mereka sendiri tidak tau hasilnya bagaimana." tuan Wicaksana menasehatinya.
"Loh papa ini bagaimana sih? Dari kemarin kan juga mama sudah bilang sama papa kalau mama ini, "
__ADS_1
Tuan Wicaksana menempelkan telunjuknya di bibirnya seolah memberi isyarat agar tante Widya berhenti bicara.
"Kami permisi dulu ya pak, bu." ucap tuan Wicaksana.
Kami pun mengantakan mereka hingga di depan pagar. Aku kemudian masuk terlebih dahulu untuk membereskan gelas serta piring piring saji tadi. Ibu kemudian datang menghampiriku. Diperhatikannya aku yang tak menoleh kepadanya.
"Kamu tidak apa apa Ayu?" tanya ibu.
"Kenapa ibu bertanya seperti itu?" tanyaku balik.
"Entahlah Yu. Ibu hanya merasa, " ibu menghentikan bicaranya.
"Merasa apa bu?" tanyaku penasaran.
Ibu hanya menggelengkan kepalanya
"Sudahlah. Ibu bantu kamu mengemasi semua ini ya." ucap ibu mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya mengangguk. Aku tau ibu pasti sudah mulai merasakan betapa tante Widya itu terlihat sangat tidak menyukaiku. Namun ibu hanya berusaha membuang jauh prasangka buruknya itu walau sebenarnya itu adalah satu hal yang benar.
\=\=\=\=\=
"Mama tadi bicara apa sih? Kok bisa bisanya mama meminta kami untuk buat anak dulu? Mama pikir Ayu itu barang percobaan?" sungut Dirga begitu mereka telah sampai di istananya.
"Kamu itu kenapa bodoh sekali sih Dirga? Masak kamu tidak bisa mengerti apa tujuan mama bicara begitu? Mama ini butuh jaminan bahwa Ayu itu memang bisa memberikan kamu anak laki laki. Kan kalau memang benar dia bisa, mama dan papa ini tenang karena sudah pasti punya penerus." jawab tante Widya.
"Dan seandainya kami menuruti keinginan mama melakukannya sebelum menikah lalu dia tidak bisa? Apa yang akan mama lakukan? Jangan bilang mama akan membatalkan pernikahan kami!" sungut Dirga.
Tante Widya terkekeh mendengarnya.
"Ya gak lah Dirga. Mana mungkin mama membatalkannya. Bagaimana mungkin mama bisa begitu saja membatalkan pernikahan kalian. Bisa jatuh martabat keluarga ini. Mama juga jaga nama baik keluarga kita." sahutnya.
Dirga berpikir keras dan tak percaya begitu saja dengan ucapan mamanya.
"Kamu kan laki laki. Kamu bisa dan boleh menikah lagi kalau memang istrimu tidak bisa memberikanmu keturunan. Begitu saja kok kamu itu ribet sekali mikirnya." tante Widya dengan enteng mengatakannya.
"Mama! Dirga gak mau ya menikah lagi! Dirga itu cuma cinta sama Ayu. Tidak ada wanita lain lagi!" ketus Dirga.
"Yakin? Kalau memang seperti itu ya sana lah. Cepat lakukan dan buktikan pada mama kalau Ayu memang bisa diandalkan. Karena kalau tidak ya terpaksa." ucap tante Widya menungkak.
__ADS_1
"Terpaksa meminta Dirga nikah lagi?" tanya Dirga meneruskan.
Tante Widya tersenyum dan menepuk bahu putranya lalu digesernya tubuh anaknya hingga berhadapan dengan dirinya.
"Mama hanya ingin kamu ingat satu hal. Kamu anak tunggal kami. Kamu butuh pewaris laki laki yang akan mewarisi bukan hanya hartamu namun juga meneruskan kewajibanmu kepada leluhur kita. Camkan itu!" ketus tante Widya.
"Dan mama akan melakukan segala hal untuk bisa mendapatkan cucu laki laki. Mama tidak peduli anak itu dari Ayu atau dari wanita lain. Yang jelas anak itu anakmu!" lanjutnya lagi.
Kemudian ditinggalkannya Dirga yang tampak termangu memikirkan ucapannya tadi.
Aku tak ingin menikah lagi. Aku hanya mencintai Ayu. Aku tak bisa membagi hatiku dengan gadis lain lagi karena aku tak ingin menyakiti Ayu.
Apa benar kami memang sebaiknya melakukannya dulu? Apa dia akan bersedia dan mengerti maksud dan tujuanku mengajaknya berhubungan intim?
Tidakkah nanti dirinya akan salah paham terhadapku? Tidakkah dirinya akan berpikir bahwa aku melecehkannya? Tidakkah dirinya akan menganggapku membuat dirinya sebagai bahan percobaan saja?
Dirga mulai bimbang dengan perkataan ibunya.
"Ingat Dirga. Kamu punya waktu tiga bulan untuk membuktikannya!" suara tante Widya membuyarkan lamunannya.
"Bagaimana caranya menyampaikan pada Ayu dan mengajaknya melakukannya?" Dirga pusing.
Begitu pula aku!
Aku pun tengah memikirkan semua perkataan tante Widya tadi. Beliau mewajibkan aku memberinya cucu laki laki dan itu harus segera. Bahkan saking tidak sabarnya kami disuruh memprosesnya terlebih dulu.
Haruskah kami melakukannya sebelum hubungan kami sah di mata hukum? Haruskah kami melanggar norma masyarakat demi bisa membuktikan bahwa aku bisa memenuhi keinginan tante Widya?
Lalu,
Bagaimana jika seandainya kami sudah terlanjur melakukannya tapi aku tak kunjung hamil? Apakah tante Widya akan membatalkan pernikahan kami?
Bukankah itu sangat merugikanku sebagai pihak perempuan yang sudah terlanjut ternoda lalu dicampakkan begitu saja?
Tapi,
Akankah Dirga hanya diam saja dan membiarkan mamanya mengambil alih semua kendali atas hubungan dan cinta kami? Akankah Dirga tega padaku?
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen ya
Terima kasih 💞