
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈ
Dirga yang mendengus kesal dan menarik napasnya dalam dalam sembari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya.
Pesan masuk dari Vhe mengusik dirinya.
"Apa aku jujur saja pada Vhe tentang kondisi kekayaanku?? Tapi apa dia bisa terima jika aku katakan semuanya?? Aku tidak bisa menolak persyaratan dari Ayu kemarin karena aku ingin Vhe juga bisa menikmati rasanya jadi istriku,,," gumam Dirga.
Dirga memang hanya memikirkan bagaimana caranya bisa membawa istri keduanya itu pulang ke rumah dan bisa mendapatkan haknya sebagai istri. Dirga hanya ingin hubungan suami istri juga bisa terlaksana seadil mungkin.
Bukan sekamar bertiga dengan dua istrinya atau bahkan yang paling tidak mungkin baginya adalah menggauli keduanya bersamaan.
Untuk itu tanpa pikir panjang lagi Dirga langsung mengiyakan.Dirga pikir seiring dengan berjalannya waktu maka asetnya akan kembali bertambah dan bisa diberikannya juga untuk istri keduanya.
Namun siapa sangka Vhe malah begitu cepat memintanya. Tidak mungkin sisa dua puluh lima persen itu juga bisa diberikannya semua pada Vhe karena dalam jumlah itu ada hak Ayu juga sebagai istri pertamanya.
Dirga memutar keras otaknya untuk mengakali semua ini. Memikirkan bagaimana caranya agar Vhe dapat bagian dan Ayu pun tetap dapat.
"Lebih baik aku jujur saja pada papa keadaanku,,, Aku akan minta bantuan pada papa." batin Dirga.
Dirga pun mengambil ponselnya dan dengan cepat jarinya menekan kontak papa.
"Ada apa Dirga??" tanya papa yang langsung menjawab telponnya.
"Apa kita bisa bertemu di jam makan siang pa? Ada yang ingin Dirga bicarakan dengan papa." kata Dirga.
"Tentu Dirga,,, apa ini masalah pekerjaan??" tanya Papa yang sebenarnya sudah menebak tentu Dirga ingin membicarakan masalah permintaan Vhe.
"Kurang lebih seperti itu pa,,, datanglah ke restoran tempat biasa kita meeting dengan klien. Sampai jumpa di sana nanti ya pa,,," kata Dirga.
Papa mengiyakan dan menutup telponnya. Papa melirik jam dinding yang masih menunjukkan angka sepuluh. Ada waktu lagi sejam untuk merebahkan dirinya sebentar.
Tulang tulang tua papa terasa remuk setelah bermain main dengan sugar babynya tadi. Papa senyum senyum sendiri mengingat betapa dirinya masih begitu lincah memainkan bagiannya setiap kali bersama Vhe.
Hubungan papa dan mama memang sudah tak seharmonis pasangan lain yang mungkin masih melakukannya di usia mereka. Papa tidak pernah protes atau pun menuntut pada mama karena papa sudah mendapatkannya dari Vhe.
__ADS_1
Sedangkan mama,,,mama merasa semua baik baik saja karena papa tidak pernah sekali pun mempermasalahkannya. Mama menganggap papa juga sudah tidak punya keinginan untuk itu.
Baru saja hendak memejamkan matanya,, papa kembali membuka mata karena pintu kamar di buka. Mama datang dengan wajah berserinya.
"Untung Vhe dan aku sudah selesai" batin papa.
"Sudah mama ambil pa uangnya. Terima kasih ya pa,,," kata mama.
"Hhmmm,,, ingat bayarkan segera semuanya." kata papa mengingatkan.
"Iya papa iyaaaa,,, mama berikan saja uang ini pada Dirga nanti sepulang dia dari kantor." kata mama.
"Kenapa harus pada Dirga,,, mama harus berikan itu pada Ayu. Sambil minta maaf lah ma,,," kata papa.
"Iihh enak saja,,, nanti besar kepalanya si Ayu kalau mama sampai minta maaf. Mana ada yang tua minta maaf,,,!!!" sungut mama.
"Kan kenyataannya memang yang tua yang salah. Mama ini bagaimana sih??" balas papa.
"Yang salah ya tetap Ayu pa,, kenapa juga dia tetap bersikeras menikah dengan Dirga dulu?? Kan mama sudah bilang padanya mama ini tidak setuju. Tapi dia masih saja ngeyel. Kalau mama jadi jahat begini kan juga salah dia berarti. Dia yang buat mama selalu ingin berbuat jahat." ketus mama.
"Mana ada pemikiran seperti itu ma?? Baik buruk,,,jahat tidaknya mama itu ya kembali ke mama sendiri." kata papa.
"Aduuh papa ini ya,,,bukannya ambilkan mama minum kek apa kek,, malah ceramah gak jelas. Mama ini capek dan kepanasan pa,,, Mana si Ayu?? Belum datang juga dia???" tanya mama mengalihkan pembicaraan.
"Vhe di mana juga?? Kok gak kelihatan pa??" tanya mama lagi.
Papa hanya mendelik ke arah mama karena kesal mama terus bertanya padahal papa sudah jawab bahwa papa hanya di kamar. Malas berlama lama di kamar karena ada mama,,,papa pun segera mandi dan bersiap siap.
"Papa mau kemana?? Mama ikut ya sekalian kita makan siang sama Vhe juga." tanya mama saat melihat papa berdandan rapi.
"Tidak bisa,,, papa mau ketemu Dirga untuk urusan bisnis. Mama gak bisa ikut apalagi Vhe." kata papa.
Mama hanya mengangguk. Selama ini mama memang tidak pernah mau ikut jika papa sudah bilang untuk urusan bisnis. Meski kadang tidak sepenuhnya benar untuk urusan bisnis. Lebih sering papa keluar untuk urusan sugar babynya.
"Ya sudah kalau begitu mama tunggu Ayu saja. Biar dia masak." kata mama.
"Terserah mama saja,,," kata papa.
Papa pun kemudian keluar kamar dan menuruni tangga. Di ujung tangga bawah papa berpapasan dengan Vhe.
"Mau kemana daddy??" tanya Vhe berbisik.
__ADS_1
Vhe sudah tau bahwa mama sudah pulang.
"Ketemu Dirga,, katanya sih urusan bisnis. Pasti membahas permintaanmu itu" jawab papa berbisik juga.
Vhe menutup bibirnya yang hendak berteriak kegirangan.
"Jangan lupa daddy iyakan ya,, daddy harus setuju apa pun yang Dirga bilang asalkan itu untuk kesenangan dan kebaikanku. Oke daddy??" kata Vhe kembali mengingatkan.
"Iya daddy tau. Sudah daddy mau berangkat dulu biar Dirga tak menunggu lama." kata papa.
"Iya daddy,, terima kasih ya daddy." Vhe mengecup pipi keriput itu dengan cepat lalu naik ke atas lagi sebelum mama melihat apa yang mereka lakukan di sana.
Vhe sudah sampai atas saat mama tiba tiba muncul.
"Vhe apa kamu lihat papa?? Katanya mau pergi tapi kok mobilnya masih terparkir,,," kata mama.
Vhe terkejut.
"Mama,,, bikin Vhe kaget saja. Papa,,,eehh Vhe gak lihat tuh,,,," jawabnya bohong.
Bbbrrrrmmmm,,,,
"Tuh suara mobil papa. Mungkin tadi papa ambil minum dulu atau apa gitu ma,,," kata Vhe lagi begitu mendengar suara deru mobil yang baru menyala.
"Oh iya itu suara mobil papa. Ya sudahlah kalau begtu. Kamu sudah lapar belum??" tanya mama kemudian.
"Sedikit sih ma,,," kata Vhe.
"Tunggu Ayu pulang dulu ya. Biasanya dia yang masak di sini." kata mama.
"Iya ma,,," jawab Vhe manis.
"Ayo temani mama di teras atas. Kita bisa cerita cerita di sana." ajak mama.
Vhe hanya mengangguk.
"Untung saja nenek tua ini tidak keburu keluar dan melihat aku dan daddy. Kalau tidak bisa gawat. Untung juga nenek tua ini tidak menyuruh aku yang masak. Tapi tidak mungkin sih dia akan menyuruh menantu kesayangannya ini." batin Vhe.
\=\=\=\=
Jangan lupa vote,like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih πΈ