
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
π»π»
Ku tarik cepat tanganku dari genggaman Sandy. Aku membuang pandanganku ke luar jendela kembali.
Ya tuhan betapa aku ingin menjawab,,,
Iya Sandy aku suka,,,
Iya Sandy aku mau,,,
Tapi bukankah ini adalah sebuah kesalahan,,,??
Apakah tindakanku bisa dibenarkan jika aku mengiyakan pertanyaanmu itu hanya karena aku ingin balas dendam pada Dirga,,,,
Apakah ini semua juga tidak akan membuat orang memandangku sebelah mata,,,
Apakah ini semua tidak akan membuat Vhe pikir aku sengaja mengambil mantan suaminya demi membalasnya,,,
Tidak Sandy,,,
Aku tidak mau kita secepat ini membicarakan hubungan kita,,,
Aku tidak ingin apa yang ku rasakan padamu ini hanya dipandang sebagai pembalasan dendam,,
Aku ingin kita berdua sama sama yakin dulu bahwa kita tidak sedang sama sama butuh pelarian semata,,,
Bayangan si kembar pun berkelebat di mataku,,,
Betapa pun mereka sudah sangat dekat dengan Sandy melebihi kedekatan mereka dengan Dirga,,,
Tapi aku ingat semua aturan adat di tempatku,,
Aku ingat konsekuensinya jika aku terbukti bersalah atau berselingkuh,,,
Baik secara adat dan hukum negara,,,
Dan aku tidak sanggup menerima konsekuensi itu,,,
"Maafkan mama sayang,,,"Batinku saat merasa keegoisanku untuk bahagia bersama Sandy sesaat membuatku hampir melakukan kesalahan besar dengan tenggelam dalam genggaman Sandy.
"Ayu,,, tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan. Aku juga tak menginginkan hal yang kamu takutkan itu terjadi,,," kata Sandy kemudian.
Aku menoleh kembali padanya,,,
Pada wajah tampan itu,,,
Ya tuhan,,,
Betapa ingin aku segera memeluknya tapi apa dayaku,,,
Statusku sebagai istri sah Dirga melarangku berbuat demikian.
__ADS_1
"Sandy,, aku,,," bibirku terasa kelu.
Bibirku ingin mengatakan tidak tapi hatiku menolaknya.
"Aku paham,,, kamu sudah mengambil tindakan benar dengan memberi jarak dan batasan bagi pertemanan kita ini. Aku bisa mengerti dan menghormati posisimu yang masih sah sebagai seorang istri. Dan itu membuatku semakin yakin untuk menunggumu sampai kamu siap,,, Penolakanmu kali ini ku anggap sebagai pembuktianmu akan pandainya dirimu menjaga kehormatanmu sebagai istri,,,," ucap Sandy dengan lugas.
"Sandy aku,,, Aa,,,Aku,,, aku,,,"
Ya tuhan kenapa bibir ini semakin tidak bisa digerakkan.
"Jangan katakan apa pun sekarang. Simpan saja semuanya dulu dalam hatimu dan cukup kamu yang tau. Aku punya sisa seumur hidupku untuk menunggu jawabanmu. Kamu tak perlu tergesa gesa Ayu. Yang penting kamu tau,,, Kemana pun nasib dan takdir membawamu,,, Ingatlah bahwa kamu selalu punya tujuan akhir,,,ada hati yang selalu menunggumu." kata Sandy lagi.
Meleleh.
Baper.
Mewek.
Itu tiga kata yang menggambarkan hati dan perasaanku saat mendengar kalimat itu. Sandy sangat lihai membuatku jantungku terasa berlompatan.
"Terima kasih Sandy,,, atas pengertian dan kesediaanmu menunggu,,," akhirnya bibir ini mau juga diajak kerjasama.
"Itu bukan perkara besar bagiku,,, Ayo senyumlah,,, kita tidak mungkin ke salojn dengan wajah bingungmu itu,,, " kata Sandy menggodaku.
Aku hanya tersenyum kembali dibuatnya.
"Sudah siap?? Kita menuju ke salon itu ya,,," kata Sandy.
Aku hendak mengangguk namun ku batalkan saat Sandy menaikkan tangan kirinya memberiku tanda untuk tidak bicara dulu.
"Aku lupa harus mengirim pesan pada seseorang." kata Sandy.
Sandy terlihat kesal karena orang itu tak segera membalas pesannya. Aku penasaran tapi kuputuskan tidak bertanya. Sandy pun menelpon orang itu.
"Halo,,," suara wanita terdengar.
Deg,,,
Kenapa aku merasa hatiku sakit menyaksikan Sandy menelpon seorang wanita di depanku dan saat bersamaku.
"Kenapa lama sekali?? Kemana saja,,, Coba baca itu pesanku,,," Kata Sandy yang tampak tidak sabar ingin pesannya itu dibaca wanita itu.
"Maaf,," jawab wanita itu singkat.
Butuh beberapa saat bagi wanita itu kembali bersuara tapi aku tak cukup jelas mendengar apa yang dikatakannya. Tampaknya Sandy mengecilkan volume speaker ponselnya.
Aku mulai merasa tidak nyaman di posisi seperti ini.
"Siapa sebenarnya yang sedang di telponnya?? Bisa bisanya dia menelpon wanita lain setelah berhasil membuatku baper begini,,," batinku penasaran dan kesal.
"Mengerti kan??" tanya Sandy pada wanita itu.
Entah apalagi jawaban dari wanita itu yang jelas aku merasa Sandy agak kasar kali ini. Sandy selesai menelpon.
"Maaf ya,,, kita jalan sekarang." kata Sandy.
"Kamu tidak perlu mengantarku jika kamu sibuk Sandy,,, Aku bisa ke salon sendiri. Sepertinya kamu sibuk" ucapku lirih.
__ADS_1
"Tidak kok,,,hanya ssdikit urusan pribadi saja." jawab Sandy santai dan mulai membawa mobilnya kembali ke jalanan.
"Kamu telpon siapa??" tanyaku memberanikan diri.
Aku benar benar kesal dengan diriku sendiri saat itu yang tidak bisa menahan diri. Aku sungguh ingin tau siapa wanita itu.
"Bukan siapa siapa kok Ayu,,, hanya rekan biasa saja." sahut Sandy.
Entah kenapa aku tidak percaya dengan penuturannya itu.
"Yakin hanya rekan biasa??" selidikku.
Sandy hanya mengangguk membuatku makin tidak bisa mempercayainya. Ingin aku turun saja atau bertanya lebih banyak lagi tapi ku urungkan karena sebentar lagi juga kami akan tiba di salon itu.
Sandy hanya menyetir dan diam. Tapi dalam hatinya dia senang menemukan sebersit kecemburuan dalam diriku. Sesekalinya diliriknya aku yang mulai duduk gelisah dan memainkan jari jariku.
"Ayo,,, kita sudah sampai,,," kata Sandy menyadarkanku.
Sandy pun turun dan dengan cepat membukakan pintu untukku.
"Sandy aku bisa sendiri,,,," kataku.
"Tapi aku tak akan membiarkanmu melakukannya sendiri." Sahut Sandy acuh.
Sandy menutup pintu dan melangkah mendahuluiku.Aku menahan langkahnya.
"Kamu mau kemana Sandy??" tanyaku.
"Mengantarmu masuk dan menemanimu lah,,,Kan aku sudah bilang tadi sebelum kita berangkat."kata Sandy.
"Tapi Sandy,,, bukannya kamu,,,,"
Sandy langsung menarik tanganku dan menggamitnya di lengannya. Membuat aku jadi berdiri tepat di sisinya persis bagai pengantin tengah berjalan di menuju pelaminan.
"Ayo masuk keburu terlalu banyak antreannya nanti kita telat jemput anak anak." kata Sandy.
"Ii,,,iiyaa,,, tapi apa harus begini,,," tanyaku menunjuk tangan kami.
"Kamu mau terlihat seperti istriku apa seperti selingkuhanku yang harus sembunyi sembunyi di depan umum??" tanya Sandy lagi.
Astaga pertanyaan itu,,,
Aku tidak mau dianggap selingkuhanmu Sandy.
Ku mantapkan kakiku melangkah dengan tanganku bergelayut di lengannya. Aku pun mulai menyamakan langkah kaki kami saat memasuki salon mewah pilihanku itu. Ini pertama kalinya aku ke salon mahal ini. Aku dapat rekomendasi bahwa salon ini bagus dari media online yang ku baca.
"Selamat datang di pusat kecantikan kami,,, Karena anda adalah pasangan bahagia kedua yang datang hari ini,,, maka kami akan memberikan hadiah spesial pada nona dengan layanan gratis semua layanan khusus hari ini saja."
Kata wanita yang bisa ku pastikan adalah pegawai salon itu meski bajunya berbeda dengan staff lainnya. Penampilannya lebih mirip seperti manager.
"Wow,,, baguslah,,, kami tak perlu bayar mahal kalau begitu,,," celetuk Sandy.
Aku hanya mencubitnya karena membuatku gemas dengan perkataannya itu.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote,like dan komen
__ADS_1
Terima kasih πΈ