
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ibuuuuuuu,,,, " teriakku memanggil ibu yang tengah sibuk melayani pembeli dan tak melihat kedatanganku.
Ibu yang terkejut berusaha setenang mungkin tetap menyelesaiakan tugasnya. Beliau tetap menyendokkan beberapa macam lauk yang dipilih oleh pembeli.
"Terima kasih bu" ucap pembeli itu menerima piring yang diulurkan ibu.
"Sekalian mau pesan minum apa Dik?" tanya ibu.
"Es teh manis saja bu" sahut pembeli itu.
"Santiiii,,, es teh manis satu untuk meja nomer enam" ibu setengah berteriak pada mbak Santi yang berada di dalam.
"Iya bu" sahut mbak Santi yang saat itu juga belum menyadari kedatanganku.
Ibu segera memelukku dan meluapkan perasaan rindunya.
"Apa kabarmu Yu,,, kamu sendirian saja nak? Mana Dirga?" tanya ibu yang memilih tak menanyakan si kembar karena ibu tau aku tak mungkin membawa mereka saat ini.
"Ayu baik baik saja bu,,, Dirga tidak ikut karena dia masih berada di luar kota. Ayu sudah menitipkan si kembar pada mama" ujarku tanpa memiliki perasaan curiga atau apa pun pada mama.
Ibu tersenyum lalu kembali memelukku.
"Ibu senang melihatmu Yu,,, kamu tambah berisi sekarang" ucap ibu yang terlihat memperhatikan tubuhku yang memang kian melebar sejak kehamilanku dan belum juga bisa kembali setelah melahirkan.
Seberapa besar keinginanku untuk bisa mengembalikan berat badanku seperti semula selalu kalah dengan pikiranku untuk selalu memenuhi kebutuhan asi si kembar.
Aku tak bisa jika hanya makan sedikit karena asi yang ku produksi akan berkurang jumlahnya. Untuk itulah aku mengalah dan memutuskan untuk menepikan urusan berat badan dulu.
"Non Ayuuuu,,,, " pekik mbak Santi yang baru saja keluar membawa segelas es teh di nampannya.
"Antarkan dulu minumannya Santi" titah ibu yang langsung diiyakan olehnya.
Setelah mengantarkan minuman itu mbak Santi kembali menemuiku. Aku pun memeluknya walau dia merasa kikuk ku perlakukan begitu.
__ADS_1
" Apa kamu betah kerja disini mbak?"tanyaku setelah melepas pelukanku.
"Iya non,, saya betah sekali. Ibu baik sama saya" ucap mbak Santi.
"Syukurlah kalau begitu,,, tapi aku datang kesini ingin menyampaikan pesan mama padamu" kataku.
Mbak Santi dan ibu yang tau kejadian pemecatan itu heran mendengar perkataanku. Bagaimana bisa nyonya besar yang angkuh dan galak itu mengirimkan sebuah pesan pada mantan pembantunya.
"Pesan apa non?" tanya mbak Santi masih keheranan.
Mbak Santi tampak ragu ragu saat menanyakannya. Berulang kali dia melihat ke arah ibu yang juga sama sama heran. Aku tersenyum.
"Mama menyesal telah memberhentikanmu mbak,,, mama ingin mbak kembali bekerja disana lagi. Apa mbak bersedia?" tanyaku.
Mbak Santi tampak terkejut lagi mendengarnya. Dalam hatinya dia merasa sangat tidak percaya jika nyonya besarnya itu sampai merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya pada dirinya.
Bertahun tahun bekerja disana tak lantas bisa membuat mbak Santi begitu saja percaya jika mama menyesal. Namun mempertimbangkan aku yang menyampaikannya,, mbak Santi memutuskan untuk percaya.
Mbak Santi juga memikirkan nantinya jika aku tak berhasil membawanya tentu mama akan kecewa padaku dan mungkin akan melakukan hal hal buruk padaku.
"Iii,, iiyaa non Ayu,,, saya mau." jawabnya terbata bata karena tak ingin apa yang dipikirkannya terjadi padaku.
Mbak Santi tersenyum walau terlihat dipaksakan. Aku yang terlanjur senang sama sekali tak bisa membedakan arti senyuman itu.
"Bu,,, Ayu bawa mbak Santi lagi kerumah ya bu. Sejak mbak Santi tidak ada Ayu kesepian sekali. Biasanya mbak Santi yang membantu dan menemani Ayu" ucapku.
Aku tak mungkin menceritakan bahwa akulah yang selama ini mengerjakan semua pekerjaan rumah setelah mbak Santi tidak ada. Walau baru sebulan tapi aku tidak kuat jika harus terus mengerjakannya sendiri dengan adanya si kembar.
Dulu mungkin aku memang terbiasa melakukannya namun sejak melahirkan dan luka bekas operasi itu masih sering terasa nyeri,,, aku tak bisa banyak banyak mengambil pekerjaan.
Ibu mengiyakan dan memperbolehkan aku membawa mbak Santi bersamaku. Sambil menunggu mbak Santi bersiap siap aku menemui ayah yang baru saja datang dari rapat bersama warga sekitar membahas kebersihan lingkungan.
"Ayah senang melihatmu tampak berisi dan bahagia begini. Ayah percaya Dirga akan menjadi suami terbaik untukmu nak" kata Ayah setelah melepaskan pelukannya terhadapku.
"Iya ayah" sahutku.
"Apa kamu sudah meminta ijin padanya sebelum kamu kesini tadi Ayu?" tanya ibu.
__ADS_1
Aku menepuk jidatku. Aku baru menyadari bahwa aku tak berpamitan pada Dirga tadi. Aku segera mencari ponselku dan lagi lagi menepuk jidatku karena aku tak membawa ponselku.
"Ayu lupa bu,,, Ayu tidak meminta ijinnya tadi. Tapi Ayu yakin Dirga tak akan marah nanti saat Ayu menelponnya. Lagipula ini kan juga perintah mama" jawabku.
Ayah dan ibu geleng kepala mendengar jawabanku.
"Lain kali walau mama atau papa mertuamu yang menyuruhmu,, kamu tetap wajib meminta ijin suamimu Ayu. Bagaimana pun juga dialah yang berhak memutuskan boleh atau tidaknya kamu pergi dari rumah itu" kata ayah.
"Kalau begitu jangan berlama lama disini. Ibu bukan bermaksud mengusirmu tapi ibu mau kamu segera menelpon Dirga dan meminta maaf padanya karena telah meninggalkan rumah tanpa ijinnya" kata ibu.
Aku tertunduk dan mengangguk mendengar apa yang mereka katakan. Sungguh aku merasa telah begitu lalai tidak memberitahu Dirga sebelumnya. Bagaimana bisa aku melupakan dan melewatkan ijin darinya.
Tak ingin terlalu lama merasa bersalah aku pun segera berpamitan pada ayah dan ibu begitu mbak Santi telah siap. Aku pun telah meminta ijin pada mereka untuk membawa sepeda motorku.
"Hati hati dan pelan pelan saja Ayu. Ingat luka bekas operasimu masih rentan" pesan ibu begitu aku menaiki motorku.
"Iya bu" jawabku.
Mbak Santi yang memang tidak bisa mengendarai sepeda motor tak bisa berbuat apa apa selain membiarkanku yang menyetir. Dia duduk di belakangku dan memegang tas bajunya.
Aku melambaikan tangan pada ayah dan ibu. Betapa pun besar keinginanku untuk berlama lama berada disana aku tetap harus pergi saat itu juga.
Nathan dan Nichol membutuhkanku dirumah. Mama juga lasti kewalahan jika lama lama kutinggalkan. Belum lagi aku juga berkewajiban untuk segera meminta maaf pada Dirga atas kelalaianku sebagai istri.
"Semoga Dirga bisa mengerti dan memaafkanku" batinku.
Aku putuskan untuk tetap berkendara dengan kecepatan minim saja karena ternyata perutku memang terasa nyeri tiap sepeda motorku terguncang saat melewati jalanan yang agak tidak rata.
Hampir sejam berkendara akhirnya kami tiba di rumah.
Mama yang heran mendengar suara sepeda motor mengintip dari balik tirai jendela.
"Astagaaa,,, betapa wanita miskin itu mempermalukanku dengan mengendarai motor butut itu. Dasar miskin!!!" gerutu mama yang langsung pura pura tersenyum saat kami telah memasuki rumah
"Selamat datang kembali Santi" ucap mama ramah.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih 💞