MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Kedatangan Calon Mertua


__ADS_3

Happy reading ya 🤓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Papa dan mama senang mendengar kabar kehamilanmu sayang,,, Yah walaupun awalnya papa marah besar tapi papa bisa menerimanya. Mama,,, Kamu tau sendiri mama yang paling menginginkan agar kamu segera hamil. Jadi dia tentu senang" ucapan Dirga semalam sebelum kami tidur.


Walau dia hanya menelponku dan bukan panggilan video tapi aku tau dia tidak sedan jujur padaku. Mungkin apa yang dikatakannya tentang papa itu benar adanya dan masuk akal jika papa sempat marah.


Tapi suara Dirga terdengar tak meyakinkan saat menyampaikan reaksi tante Widya. Mana mungkin tante Widya langsung senang karena bagaimana pun janinku belum bisa diketahui jenis kelaminnya.


Pernikahan kami hanya tinggal sepekan saja tapi rasanya aku telah melewati hari yang panjang dan lama sekali. Aku merasa mengalami banyak perubahan selama kehamilanku ini.


Mulai dari nafsu makan yang berkurang karena aku muntah tiap kali makan nasi. Aku mulai alergi dengan bau bauan. Aku juga lebih suka berada di ranjang dan memeluk bantal gulingku.


Morning sickness juga cukup menyiksaku. Tiap pagi aku harus rela untuk muntah muntah saat menggosok gigiku. Dari bangun hingga jam sepuluh atau maksimal sebelas aku selalu merasa tidak enak badan.


Beberapa pelanggan sering menanyakanku kata ibu tapi ibu cuma bilang aku sedang fokus mempersiapkan pernikahan kami yang sudah semakin dekat. Untungnya mereka percaya saja.


Pagi ini,,,


Aku kembali terkulai lemas di ranjangku setelah beberapa kali bolak balik ke kamar mandi akibat mual yang terus menerua. Ibu sempat ingin mengoleskan minyak kayu putih tapi aku malah semakin mual karena baunya.


Akhirnya ibu hanya menyuruhku istirahat saja dan kemudian meninggalkanku ke rumah makan.


"Yu,,, lihat ini siapa yang datang"


Suara ibu terdengar dari balik pintu seiring dengan ketukannya.


"Siapa bu?" dengan malas aku menyahut. Aku sungguh tak ingin menerima tamu. Mataku sangat berat dan tubuhku lemas.


"Ini ada mamanya nak Dirga. Ayo nak keluar dan temuilah dulu" kata ibu.


Aku terperanjat mendengar ibu mengatakannya.

__ADS_1


"Tante Widya?? Mengunjungiku?? Sendirian?? Ada apa kira kira?? " banyak sekali perkiraan perkiraan di kepalaku.


Entah mendapat kekuatan dari mana yang jelas aku bisa langsung bangun tanpa pusing atau keluhan lainnya. Ku rapikan sedikit baju dan rambutku. Aku tak ingin menemuinya dengan keadaan berantakan seperti ini.


Aku buka pintu dan ibu tersenyum melihatku sudah rapi.


"Ayo temui dulu beliau. Ibu harus kembali ke rumah makan." kata ibu.


Aku mengangguk ragu karena aku masih heran kenapa tante Widya menemuiku di beberapa hari menjelang pernikahan kami.


"Apakah dia ingin kami membatalkan pernikahan kami? Atau mungkin menyuruh untuk aku menggugurkan bayi ini??" aku mulai berspekulasi lagi.


Tak mau terlalu penasaran aku putuskan segera menemuinya saja. Ku lihat dia sudah duduk menungguku dengan mata tajamnya. Nyaliku jadi ciut. Aku bahkan merasa ragu untuk duduk di kursi rumahku sendiri.


"Duduklah,, ada yang ingin aku bicarakan!!" ketusnya.


Dia yang jadi tamu tapi dia yang mempersilahkan aku. Sungguh keadaan ini terbalik. Tapi aku menurut saja dan duduk memilih kursi yang berhadapan dengannya.


"Dirga sudah mengatakan semua pada kami tentang kehamilanmu" ucapnya tanpa basa basi lagi.


"Kamu harus selalu ingat satu hal,,, aku tak pernah menginginkanmu menjadi menantuku. Aku hanya mengalah saat ini pada Dirga karena dia mengancamku tak akan menikah dengan siapa pun selain dirimu" dia masih begitu ketus.


Aku sama sekali tak bersuara. Aku hanya duduk dan memandangnya yang bak nyonya dirumahku ini. Terasa jauh sekali jarak diantara kami.


Tante Widya yang begitu menjaga penampilannya dan aku yang hanya gadis biasa yang jauh dari kata cantik. Perhiasan yang dikenakannya sungguh banyak dan menyilaukan mataku. Sedangkan aku sama sekali tak mengenakan perhiasan apa pun.


Hanya gelang tridatu yang ku dapatkan dari pura desa saat upacara hari purnama tempo hari. Lagi lagi aku merasa minder padanya.


" Dengar,,, jika sampai anak yang kau kandung itu perempuan,, maka aku hanya akan memberimu waktu paling lama tiga tahun saja agar kau bisa kembali hamil dan melahirkan anak laki laki untuk Dirga. Jika tidak,,,, " ucapnya tajam.


"Jika tidak kenapa tante???" tanyaku memotong.


"Berani sekali kamu menyela ucapanku. Dasar tidak tau diri!! Sudah miskin tidak punya tata krama lagi!! Aku heran kenapa Dirga meninggalkan Vhena dan malah memilih wanita sepertimu!!!" omelnya.

__ADS_1


Aku tertarik saat dia menyebut nama Vhena. Siapa gadis itu? Kenapa tante Widya mengatakan Dirga meninggalkannya? Apakah dia mantan kekasih Dirga yang pernah diceritakannya dulu?


Tapi seingatku Dirga bercerita bahwa mantannya itu telah menikah dengan kekasih barunya. Aku memang tak ingin tau siapa namanya waktu itu karena ku pikir dia juga sudah menikah. Jadi bukanlah ancaman bagi hubungan kami.


"Waktumu hanya tiga tahun,, jika tidak aku akan meminta Dirga menikahi wanita lain yang bisa memberi kami keturunan laki laki!!! Ingat itu!!!" ucapan keras tante Widya serasa merobek jantungku.


Bagaimana bisa wanita itu mengatakan hal seperti itu padaku?? Aku yang saat ini tengah mengandung cucunya. Tidakkah dia kasihan pada cucunya ini jika benar dia perempuan?? Tidak kasihankan jika aku dan anak ini harus menerima Dirga menikah lagi???


Tante Widya bangkit dari duduknya dan langsung keluar meninggalkanku sendiri duduk di kursi itu. Di pintu dia berpapasan dengan ayah yang baru datang dari berbelanja kebutuhan rumah makan.


Terlihat dia begitu baik pada ayah yang menyapanya seolah tidak pernah menyakiti hati putri ayah ini.


"Saya hanya ingin melihat keadaan Ayu saja pak"


Begitu sayup sayup ku dengar ucapan tante Widya. Aku geram karena wanita itu pandai sekali bersandiwara. Dulu dia berlaku seperti itu pada Dirga dan kini pada orang tuaku juga.


"Ayu,,, kamu tidak mengantar Nyonya Widya ke depan?" tegur ayah yang melihatku diam saja di kursi.


"Ah tidak usah pak,,, biar Ayu istirahat saja. Jangan membuatnya capek. Saya permisi pulang dulu pak" tante Widya begitu manis berpura pura mengutamakanku.


Aku muak melihatnya. Entah kenapa selama ini aku bisa menahan diriku tapi saat ini tidak lagi bisa ku tahan rasa muakku padanya ini. Mungkinkah ini juga pengaruh kehamilanku?


Entahlah,,


Aku hanya memikirkan ucapannya tadi. Pernyataan tentang meminta Dirga menikah lagi.


Bagaimana mungkin Dirga akan menyetujuinya karena aku tau persis bahwa Dirga hanya mencintaiku saja. berkali kali bahkan Dirga mengatakannya padaku.


Tapi pikiranku kembali pada sosok yang bernama Vhena.


"Siapa sebenarnya wanita itu" batinku


\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen yaa


Terima kasih 💞


__ADS_2