
Happy reading πΊ
Maaf banyak typo π
ππππππππ
πΊ
"Jadi kapan kau akan bawa istrimu itu ke rumah ini lagi??" tanyaku setelah kami sepakat mengurus pengalihan nama aset Dirga.
"Aku akan menemuinya besok setelah selesai ku urus semua yang kamu mau Yu,,, sebisa mungkin aku bawa dia ke sini besok malam." kata Dirga.
"Bagus,,, karena aku ingin dia belajar secepatnya menjadi ibu anak anak juga. Aku tidak mau ada jarak antara dia dan anak anak. Aku mau dia bisa cepat belajar dan beradaptasi dengan apa pun keseharian di rumah ini. Kamu setuju kan kalau aku mengajarinya??" tanyaku lagi.
Dirga mengangguk.
"Ku serahkan urusan rumah padamu,,, kamu memang yang lebih tau. Aku sudah cukup berterima kasih atas kemurahan hatimu menerima pernikahan keduaku Ayu,,,, Sekarang pun kami kembali mau menerima istri keduaku dengan tangan terbuka." kata Dirga.
Yesss,,,,!!!
Welcome to the hell Vhe,,,
Malaikat penjaga nerakamu sudah menunggu,,,
Aku senyum dalam hati. Aku bahkan tak sabar menunggu esok malam segera tiba tapi aku tak ingin memperlihatkan ketidaksabaranku itu. Aku ingin tetap bermain cantik.
Membalas semuanya dengan berkedok menerima si jalang dengan tangan terbuka.
Selebar lebarnya,,,
"Tidak usah berlebihan begitu,,, aku melakukan ini semua demi anak anak. Agar mereka tidak sampai kehilangan papanya karena ibu tirinya. Mereka tidak perlu dikorbankan." tukasku melanjutkan permainanku.
"Terima kasih Yu,,, terima kasih banyak masih mau berada di sisiku." ucap Dirga.
"Sudahlah,,, aku mau tidur. Sudah malam." kataku.
Dirga pun mengangguk mengiyakan. Aku juga segera merebahkan tubuhku di samping anak anakku setelah sebelumnya menciumi mereka. Dirga pun menyusul ke tempat tidur.
Merekalah kekuatanku,,,
"Ayu,,," panggil Dirga tepat saat mataku hendak terpejam.
"Ada apa lagi??" ku buka mataku dan ku lihat dirinya tengah memandangku.
Tatapan itu sudah lama tidak pernah ku lihat. Kami pun hanya saling menatap untuk beberapa saat. Baru ku sadari wajah Dirga mulai ada kerutan di bagian dahinya. Aku tak paham hal apa yang begity membuatnya stress.
"Mungkin urusan bisnisnya" batinku.
"Yu,,, apa kamu tidak merindukanku??" tanyanya setelah sekian lama kami hanya saling memandang.
Pertanyaan itu sebenarnya ku anggap bodoh. Bagaimana mungkin aku merindukan sosok yang begitu menyakitiku??
"Kenapa bertanya begitu??" tanyaku balik.
__ADS_1
"Karena aku merasakannya. Aku rindu kehangatan darimu Yu,, Aku rindu saat saat kita tak ada jarak lagi,,, jiwa dan raga,,," ucapnya.
Aahhh,,,
Aku tau arah bicaranya.
"Aku sedang datang bulan. Maaf,,, Tahanlah dulu dan mintalah pada istri barumu. Dia tentu lebih menggairahkan daripada aku bukan??" kataku.
"Yu,,, jangan bicara begitu. Kalian sama bagiku. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang." kata Dirga.
Alaahh,, dasar buaya!!
"Tidak apa apa,,, meski kamu mengakuinya. Lakukan saja besok malam dengannya. Lagipula aku sudah mengijinkan bukan?? Aku sudah memberi kalian ruang gerak sebebasnya untuk melakukannya." kataku lagi.
"Kamu sungguh tidak apa apa kan Yu??" Dirga meyakinkan lagi.
"Iya aku tidak apa apa,,, lagipula aku juga sedang berhalangan." jawabku.
"Yang penting jangan lupa urus semua surat suratnya dulu baru kamu bawa dia pulang ke rumah ini. Hanya setelah surat itu selesai dan ku pegang." tegasku.
"Iya Sayang,,," kata Dirga sembari tersenyum manis sekali.
Sayang,,,??
Kenapa aku merasa muak dan mual mendengar panggilan itu,,,
Serasa ingin ku muntahkan seisi perutku mendengar buaya darat ini memanggilku sayang,,,
"Iya sayang,, tidurlah,,, maaf sudah mengganggumu,,," kata Dirga.
Aku segera memejamkan mata. Jahatnya aku,,, Aku bahkan menolak permintaan suamiku untuk melayaninya malam ini padahal aku hanya berbohong padanya. Aku tidaklah sedang datang bulan.
Tapi aku tak rela melayani buaya itu,,, aku tak rela tubuhku disentuh jemari kotornya itu. Lelah berkelana dengan pikiran dan bayang bayang pengkhianatan Dirga,,, aku pun tertidur.
πΊπΊ
Keesokan siangnya Dirga menelponku.
"Aku sudah selesai mengurus semuanya Yu,,, sudah semua atas nama anak anak. Sesuai dengan permintaanmu,,," kata Dirga.
"Baiklah aku akan mengambil surat itu ke kantormu sekarang,,," kataku.
"Apa tidak sebaiknya kamu tunggu saja aku di rumah?? Akan ku berikan nanti malam semuanya." kata Dirga.
"Tidak apa apa,,, ku ambil saja sekarang mumpung aku juga sedang melewati kantormu." kataku.
"Memangnya kamu mau kemana??" tanya Dirga.
"Ada janji dengan teman saja,,, aku bawa anak anak bersamaku juga." kataku.
"Baiklah kalau begitu,,, sampai jumpa di kantor." ucap Dirga mengakhiri pembicaraan.
"Pak ubah rute ya,,, ke alamat ini,," ucapku pada sopir taksi yang mengantarku sembari memberikan kartu nama Dirga.
__ADS_1
"Baik bu" jawab sopir taksi.
"Kita mau kemana mama??" tanya Nathan.
"Kita ke kantor papa dulu ya,, ada yang perlu mama ambil di sana." jawabnya.
"Iya mama,,,"
Nathan pun kembali asyik dengan mainan yang dimainkannya dengan Nicholas. Sebenarnya aku berbohong pada Dirga. Aku sedang tidak di jalanan ke kantornya tapi aku rela mengubah ruteku karema aku segera ingin surat itu ada di tanganku.
Aku hanya mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk. Aku tidak mau surat itu sampai diketahui Vhe apalagi membuatnya menghasut Dirga membatalkannya.
Tak terasa aku pun sampai di kantor itu. Satpam yang dulu menemuiku langsung mengenali dan menyapaku. Dia bahkan langsung mengantar kami memasuki lift.
Beberapa pasang mata karyawan karyawan kantor itu memandangku dengan tatapan anehnya. Aneh melihat perubahan penampilanku dan mungkin aneh dengan keputusanku tetap berada di sisi Dirga.
Aneh karena mungkin ada yang berpikir aku mengejar harta Dirga saja,,, untuk itu aku memilih bertahan meski di madu.
Terserah kalian,,,
Kalian bebas berkomentar.
Ini hidupku,,, jadi aku bebas mengaturnya dengan caraku sendiri.
"Mana suratnya??" tanyaku langsung memasuki ruangan Dirga.
"Duduklah dulu, kasihan anak anak. Mereka mungkin ingin berlama lama di sini." ucap Dirga.
"Tidak,,, justru mereka sudah tak sabar ingin bermain di arena anak anak tempatku berjanji temu dengan temanku." ucapku.
Dirga hanya mengangguk dan mencari sebuah berkas di laci kerjanya.
"Ini Yu,,, bacalah isinya,,, aku bisa meminta pengacara merubahnya lagi jika kamu belum puas." kata Dirga.
Ku baca semuanya masih dengan keadaan berdiri. Aku tak terlalu bodoh untuk mengerti isi dari surat itu. Semuanya sesuai dengan kemauanku.
Ku pastikan penulisan nama dan data diri anak anak sudah benar. Aku tidak mau ada sedikit pun celah kesalahan.
"Baiklah,,, semua sudah sesuai.. Kalau begitu aku pergi sekarang. Terima kasih." ucapku.
"Ayu,,, sejak kapan kamu suka menemui teman begini??" tanya Dirga yang merasa aneh dengan sikapku akhir akhir ini.
"Sejak kamu tidak ada lagi waktu untukku,,, aku butuh teman untuk bicara." sahutku dengan cepat.
Dirga hanya bisa menelan ludah yang terasa mencekat tenggorokannya.
"Maafkan aku Yu,,," lirihnya.
\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih πΊ
__ADS_1