MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Berkah Atau Musibah?


__ADS_3

Happy reading ya 🤓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi ini aku merasa sangat tidak enak badan. Kepalaku pusing dan aku merasa tak ingin bangun dari tempat tidur. Aku hanya ingin rebahan saja.


Aku melirik malas jam kecil yang ada di meja sebelah ranjangku.


"Ah,, sudah jam 7 tapi aku masih tak ingin beranjak dari sini. Bantal ini membuatku merasa nyaman" batinku.


Aku kembali memejamkan mata. Aku bahkan tak sadar jika aku kembali tertidur.


Aku tersentak dan bangun saat mendengar suara suara orang berkelakar atau sekedar tertawa tawa. Sepertinya itu suara pelanggan pelanggan ibu.


"Kenapa sepagi ini mereka sudah datang?" gerutuku yang masih merasa tak ingin bangkit.


Namun aku begitu terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan angka sebelas.


"Apa??? berarti aku kembali tidur hampir 4 jam???? Kenapa ibu tak membangunkanku??"


Aku segera bangkit dan berdiri. Kepalaku mendadak terasa sangat pusing. Mungkin gerakan bangunku yang tiba tiba itu yang menyebabkannya.


Aku terhuyung huyung keluar dari kamar dan hendak ke kamar mandi. Kepalaku terasa semakin pusing dan perutku terasa sangat tidak nyaman.


Kamar mandi yang hanya ada di sebelah kamarku ini terasa begitu jauh hari ini. Aku tak tahan lagi. Kepalaku terasa berputar.


Aku ambruk saat aku merasakan ada yang menangkap tubuhku.


"Ayuuuu,,, kamu kenapa sayang???" Dirga terlihat cemas.


Aku tak menjawab namun aku lega dirinya telah menangkap tubuhku. Jika tidak aku tau bagaimana jadinya aku. Kepalaku masih sangat pusing.


Mataku terasa semakin berat dan tubuhku terasa lebih ringan. Aku mulai tak sadarkan diri.


"Ayuu,,, Sayang,,, bangun sayang,,, " Dirga bertambah panik saat melihatku pingsan.


Segera dibopongnya tubuhku dan dia sempat berteriak memanggil ayah dan ibu. Ayah yang sangat terkejut melihat keadaanku segera membantu Dirga membuka pintu mobil.


Ibu yang juga panik ikut keluar namun tak bisa begitu saja meninggalkan rumah makan yang tengah ramai.


"Biar Ayu saya yang bawa ke rumah sakit ya bu,,, bapak sama ibu dirumah saja. Doakan semoga Ayu tidak apa apa." Dirga mohon ijin.


Ayah dan ibu yang panik segera mengangguk dan berpesan agar Dirga hati hati dan segera mengabari mereka. Dirga segera tancap gas.


Aku membuka mataku dan merasa heran.

__ADS_1


"Dimanakah aku?" pikirku.


Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Aku ingat aku bangun dan sangat pusing lalu ada Dirga,,,


Dirga,,,


Aku melihat dia tengah duduk dan sedang berbicara pada seorang dokter. Tampaknya itu dokter yang telah menanganiku.


"Sayang" panggilku dengan suara yang masih lemah.


Dirga menoleh dan segera bangkit menghampiriku.


"Kamu sudah sadar sayang?" tanyanya.


Digenggamnya tanganku erat. Wajahnya tampak sangat bahagia. Berkali kali diciuminya tanganku.


Aku tak menanyakan dimanakah aku saat ini karena melihat dokter dan berbagai peralatan medis aku yakin aku tengah berada di rumah sakit.


Yang membuatku tak yakin justru ekspresi wajah Dirga yang terlihat begitu bahagia itu. Bukankah aku sedang sakit? Tapi dia malah tampak senang.


"Apa yang terjadi?" tanyaku.


Dirga tersenyum dan sekali lagi mencium tangan dan keningku.


"Terima kasih telah membuatku menjadi calon ayah untuk bayi kita" bisiknya.


Tunggu,,,


Aku menatap wajahnya tajam. Dirga mengangguk dan kembali tersenyum.


"Kamu hamil sayang. Aku sangat bahagia mengetahuinya" kata Dirga.


Perkataannya itu membuatku semakin jelas dengan apa yang sudah terjadi.


Aku hamil dan aku tak tau harus merasa senang atau tidak. Harus bahagia atau sedih.


Tentu aku bahagia karena dalam rahimku telah tumbuh bukti cinta kami berdua. Tapi aku sedih mengingat reaksi orang tuaku yang mendengarnya nanti.


Bisakah mereka menerima aku yang hamil diluar nikah ini?!


Aku bahagia karena akhirnya aku bisa buktikan pada tante Widya bahwa aku bisa memberinya cucu. Tapi aku sedih membayangkan reaksinya kelak jika ternyata bayiku bukan laki laki.


Aku bahagia menyambut bayi yang akan menambah lengkap kebahagiaanku bersama Dirga,,, Tapi aku sedih jika nantinya bayi ini malah menjadi pemisah kami berdua jika dia perempuan.


Sebenarnya tidak ada salahnya kan jika aku melahirkan bayi perempuan,,, Mungkin aku hanya kurang beruntung karena aku tinggal di lingkungan yang menjunjung tinggi warisan dan budaya leluhur.

__ADS_1


Belum lagi ditambah dengan Dirga yang anak tunggal dan keluarganya membutuhkan penerus laki laki.


Di satu sisi aku merasa sangat berterima kasih pada Tuhan yang telah mempercayai aku menjadi calon ibu saat diluar sana banyak wanita wanita yang tak seberuntung aku bisa segera hamil setelah bertahun tahun menikah.


Aku tak tau ini semua harus ku sebut berkah atau musibah,,,


Mungkinkah ini bentuk dari hukuman tuhan karena aku telah melakukan perbuatan yang belum semestinya ku lakukan. Akibatnya kini aku tak benar benar bahagia mengetahui diriku tengah hamil.


Entahlah,,,


Kepalaku pusing kembali memikirkan semua itu. Aku bahkan masih tak tau harus bereaksi apa. Dirga heran melihatku yang tampak bingung.


"Kenapa sayang? Apa kamu tidak bahagia??" tanyanya.


Aku bingung menjawabnya.


"Ibu Ayu,,," dokter menyebut namaku.


Dokter telah berdiri di dekat ranjang.


"Saya sudah buatkan resep untuk ibu. Nanti diminum vitaminnya ya. Jaga kondisi dan kesehatan ibu agar tidak mempengaruhi perkembangan janin. Saya juga sudah buatkan jadwal cek dan periksa berkala untuk ibu agar bisa memantau perkembangan bayi" ucapnya.


Aku bertambah pusing mendengar semua itu. Aku belum siap mendapat banyak pesan darinya apalagi itu mengenai kehamilanku yang aku sendiri tak tau harus bagaimana menyikapinya.


"Terima kasih dok" Dirga mewakiliku.


"Ibu jangan terlalu banyak pikiran dan jangan terlalu capek ya. Kandungan ibu masih sangat muda dan rentan" pesan dokter yang tampaknya tau aku sedang diliputi banyak keraguan.


Aku tetap tak bereaksi hingga Dirga kembali mewakiliku mengiyakan pesan dokter dan meyakinkannya bahwa dirinya akan selalu menjaga aku dan bayiku.


Dokter segera permisi setelah memberikan secarik kertas yang berisi daftar vitamin dan beberapa obat penguat kandungan yang harus kami tebus di apotik.


Dokter juga memberikan semacam buku yang sudah tertukis nama dan data mengenai kondisiku dan kehamilanku. Sepertinya aku harus selalu membawa buku itu setiap kali periksa kandungan.


Hhhuuuwaaahhh,,,


"Aku ingin pulang. Aku tak suka berada disini. Aku rindu bantal dan ranjangku" rajukku.


Dirga tersenyum saja mendengarku seperti itu. Dirga yang sudah mendapat penjelasan panjang dari dokter saat aku masih belum sadarkan diri tadi memaklumi bahwa apa yang aku minta itu tentunya bagian dari perubahan hormonku.


"Wanita yang tengah hamil muda seperti bu Ayu cenderung mengalami perubahan hormon pak Dirga,, mood mereka juga biasanya cenderung berubah ubah. Kadang tiba tiba sedih tiba tiba bahagia. Bu Ayu mungkin juga akan mengalami morning sickness dan ngidam" jelas dokter tadi.


"Bapak hanya harus sabar mendampingi ibu" itulah pesan dokter yang terus diingatnya.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen ya


Terima kasih 💞


__ADS_2