MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Perfect Drama


__ADS_3

Selamat membaca πŸ’


Maaf banyak typo πŸ™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


πŸ’πŸ’


Aku penasaran apa benar rasa masakan Vhe seenak itu sampai membuat Dirga minta lauknya ditambah lagi. Aku pun menyendok sedikit lauknya dan mulai mencicipinya.


Dirga benar,,,


Rasa masakan ini memang sangat terasa homey sekali. Meski tidak seenak masakanku dan ibuku tentunya tapi tetap saja masakan ini bisa di nikmati.


"Gimana,,,?? Enak kan??" tanya Vhe mengejek.


Vhe tentu merasa sangat senang karena tantangan yang kuberikan padanya malam ini bisa diselesaikannya dengan mudah.


Aku hendak menjawab namun kuurungkan saat terdengar suara mama mengaduh kesakitan.


"Aaawww papa,,, pelan pelan dong kasih sendoknya. Kena jari mama nih,,, Jari mama sakit tau,,," sungut mama.


"Kenapa memangnya jari mama??" tanya papa yang tampak khawatir melihat jari mama sudah terbungkus perban.


"Kena pisau tadi,,,," mama keceplosan.


"Kenapa bisa kena pisau?? Memangnya mama ngapain aja sih,,, Biasanya juga tidak pernah pegang pisau,,," sungut papa.


Mama baru menyadari jawabannya tadi membuat sukut dirinya sendiri. Aku menangkap gerakan mata Vhe yang memicing pada mama. Aku memang duduk tepat di depan Vhe jadi aku bisa melihatnya.


"Ee,,,eemm,,, Mama tadi cuma mau kupas buah saja tapi malah kena pisau. Cuma kurang hati hati saja kok,,," Jawab mama bohong.


"Hmm hati hati makanya ma,, Mama kan bisa minta tolong Vhe yang mengupaskan untuk mama. Vhe tidak akan keberatann kan sayang,,,??" tanya Dirga.


Vhe yang sedari tadi memicingkan mata dan tampak mengintimidasi mama langsung merubah raut wajahnya. Dia tersenyum manis.


"Iya sayang pastinya,,, Vhe kan juga sayang mama." kata Vhe memeluk mama yang ada di sebelahnya.


Mama hanya senyum tipis mendengarnya.


Aku tersenyum.


What a perfect drama,,,,!!!


Aku sudah bisa menyimpulkan semuanya.


"Masakanmu memang sangat lezat Vhe." aku ikut memuji.

__ADS_1


"Pasti lah,,," sahut Vhe ketus.


"Kalau begitu kamu tentu tidak keberatan kan kalau aku mengundang keluargamu dan keluargaku untuk makan malam di sini sekalian mencicipinya juga seperti dulu waktu aku baru menikah dengan Dirga,,, Kami mengundang keluarga besar untuk makan dan aku sendiri yang memasak semuanya. Kamu setuju juga kan Dirga,,,???" tanyaku langsung pada Dirga.


"Apaaaa,,,???!!!"


Mama dan Vhe serempak menjawab dan terkejut.


"Wah serempak sekali kalian,,, Baru aku tau kenapa mama sangat menyukaimu Vhe,,, karena kalian memang cocok dan sehati,,," pujiku lagi.


Mama dan Vhe saling berpandangan dan merasa sama sama terancam.


"Ide bagus itu,,, undang semua datang. Aku juga ingin sekalian jujur pada orang tuamu Yu,,," kata Dirga.


"Tidak perlu,,, mereka sudah ku beritahu dan mereka bisa mengerti." jawabku datar.


Aku memang tak terlalu memusingkan itu karena aku tengah menikmati para drama queens itu kelabakan dengan ideku.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Ini uangnya Ayu,,, kamu saja yang berikan pada Ayu ya,,," kata mama selepas makan malam.


"Kenapa bukan mama sendiri saja?? Sekalian mama,,,"


"Apa?? Minta maaf,,??? Kamu mau suruh mama merendahkan harga diri mama di depan Ayu?? Tega kamu ya,,," kata mama langsung menyela.


"Tapi kan kenyataannya memang mama salah,,," protes Dirga.


"Loh,,, kan mama yang dulu memintanya,,," Dirga tidak terima disalahkan.


"Kamu itu mau melawan mama?? Mau buat mama darah tinggi terus stroke karena berdebat terus denganmu??? Dasar anak durhaka,,,!!" sungut mama yang merasa terpojok.


Dirga mendengus kesal namun tak menjawab lagi. Diambilnya uang satu milyar dalam amplop itu dan dibawanya menuju ke kamarku.


Dirga hendak membuka pintu namun diurungkannya. Dirga memilih membuka pintu kamar Vhe yang terlihat memainkan ponselnya.


"Kamu belum tidur sayang??" tanyanya.


"Mana bisa tidur kalau suami sendiri memilih tidur bersama wanita lain,,," sungut Vhe.


"Bukan wanita lain,,, tapi istri juga. Sudah jangan banyak protes. Ini konsekuensinya. Selamat tidur Vhe,,," ucap Dirga langsung menutup pintu itu.


Vhe hanya bisa kesal.


Dirga masuk ke kamar tepat saat anak anak baru saja terlelap. Mataku fokus pada amplop coklat yang tampak berat di tangannya itu.


"Hmm amplop apalagi itu,,, drama apalagi,,," batinku mulai berpikiran buruk.

__ADS_1


"Bisa kita bicara di balkon saja Yu,,? Aku tidak ingin anak anak terganggu,,," kata Dirga lembut.


Entah kenapa dia terus lembut padaku. Aku menurut saja padanya dengan malas. Kami berdua berdiri di balkon memandang jalanan yang masih terlihat ada lalu lalang kendaraan.


"Aku ingin minta maaf padamu jika selama ini aku banyak salah,,, Aku bahkan tidak peka soal keuangan dan jatah bulananmu. Aku pikir semua baik baik saja seperti seharusnya." Dirga mulai bicara.


Dirga minta maaf??


Apakah ini alasan dibalik kelembutannya,,,


Rasa bersalahnya padaku,,,


"Mama sudah mengakui semuanya,,, Mama juga sudah mengembalikan apa yang sebenarnya menjadi hakmu Ayu,,, Terimalah ini,,, Mungkin jumlahnya tak sesuai atau persis dengan yang seharusnya kamu terima tapi aku harap kelapangan hatimu untuk merelakan kekurangannya,,, Aku juga minta kesediaanmu memaafkan sikap mama selama ini,,,Terimalah Yu,,," kata Dirga.


Dirga menyodorkan amplop berat itu padaku.


"Apa ini??" tanyaku tak langsung begitu saja menerimanya.


"Ambillah,,, ini uang yang jadi hakmu selama kamu jadi istriku. Ini nafkah dariku yang selama ini aku ikhlas memberikannya padamu tapi belum kamu terima. Aku akan merasa sangat bersalah sekali sebagai suami jika uang ini tak kamu nikmati,,,"


Dirga meraih tanganku dan meletakkan amplop yang memang sangat berat itu di telapak tanganku. Tangannya bahkan tak berpindah dari sana membantuku menyangga amplop itu dan tetap menyentuh tanganku.


Kelembutan dan sentuhan tangannya yang sudah sangat tak pernah kurasakan lagi. Aku terhanyut dalam suasana malam itu.


Bbbrrrr,,,,


Angin malam yang dingin menyapu tubuhku membuat aku semakin kedinginan. Dirga tau dan melingkarkan tangannya di pinggangku.


Dirga makin mendekatkan dirinya padaku. Diraihnya daguku dan diangkatnya wajahku. Aku memejamkan mataku saat wajah Dirga semakin mendekat. Aku pasrah dengan sentuhannya.


Bibir kami tinggal beberapa saat sentimeter lagi beradu saat tiba tiba sekelebat bayangan wajah manusia muncul melintasi benakku.


Sandy,,,,


"Tidak Dirga,,, Jangan,," Aku mendorong tubuh Dirga.


"Kenapa Yu,,, apa aku tidak boleh menyentuhmu?? Kita ini tetap suami istri kan,,,?? Apa kamu masih marah padaku??" protes Dirga yang merasa kecewa niatnya menciumku gagal.


"Aku masih berhalangan,,," tukasku cepat dan berbohong.


Dirga tampak kecewa namun tidak bisa memaksa jika memang alasanku seperti itu. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap adil tiap malamnya berbagi jadwal meski hanya menemaniku saja di kamarku tanpa berbuat aneh aneh.


Aku segera masuk ke kamar dan meletakkan amplop itu di meja lalu masuk ke kamar mandi. Ku kunci pintu kamar mandi dan aku berdiri di depan cermin besar disana.


"Jangan Ayu,,, Jangan terlena lagi,,, Jangan biarkan sikap lembut dan sentuhan Dirga menyakiti dan mengecewakanmu lagi,,," lirihku.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa Vote, like dan komen yaa


Terima kasih 🌸


__ADS_2