
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈπΈ
"Ma,,, Jangan bersedih. Dirga pasti mengusahakan agar mama bisa sembuh.Dirga akan biayai pengobatan mama. Dirga akan kerja keras untuk itu. Dirga hanya perlu mama kuat ya ma,,,Mama sabar."
Dirga berkata demikian dan mengusap airmata mama yang terus berderai mengingat nasibnya sendiri. Mama juga sedih karena tidak bisa memberitahukan langsung pada Dirga.
"Sayang,,, jangan lupa sisihkan juga uang untuk anak kita ini. Sebentar lagi kan aku lahiran." kata Vhe.
"Tentu sayang,,, Tapi bukannya lahiran masih dua bulan lagi??" tanya Dirga.
"Upss,,, Iya juga ya,,, Tapi kan namanya saja bayi,,bisa kapan saja lahir. Kan ada bayi prematur juga." kilah Vhe yang lupa Dirga tidak tau pasti usia kehamilannya.
"Iya sayang,,, Aku pasti sisihkan untuk keperluan bayi kita." jawab Dirga.
"Jangan percaya Dirgaaa,,, Iangaaaann,,, Bayi itu bukan anakmu!!!" bola mata mama bergerak gerak namun bibirnya tak mampu mengatakan apapun.
Dirga kurang peka untuk bisa mengerti gerakan mama.
"Kalau begitu aku boleh pulang saja kan?? Aku tidak bisa menemani kalian di sini. Pinggangku pegal nanti." kata Vhe yang malas jika harus menemani mama.
"Iya sayang,,, Kamu bisa pulang sendiri??" tanya Dirga.
"Kamu ini masak istri hamil tua begini suruh pulang sendiri. Biar papa saja yang antar dia pulang. Kasihan Vhe." kata papa.
"Biar Dirga saja pa kalau begitu,,," sahut Dirga.
"Tidak usah,,, Papa sekalian mau ambil baju baju papa untuk ganti selama mama dirawat." kilah papa.
"Baik kalau begitu Dirga titip Vhe ya pa,,," kata Vhe.
Papa hanya mengangguk dan menepuk pundak Dirga. Beliau kemudian keluar meninggalkan kamar inap mama dan melenggang ke luar rumah sakit untuk bisa kembali bersenang senang dengan sugar babynya.
Mama hanya makin menangis sejak papa dan Vhe meninggalkan rumah sakit. Pasti hatinya kembali perih mengingat percintaan panas yang mereka lakukan di depan matanya tadi.
Jika ada dirinya saja mereka berani dan terang terangan bercinta,,, Apa jadinya jika mereka kini hanya dibiarkan berdua di rumah.
__ADS_1
"Ma,,, kenapa ma?? Apanya yang sakit ma,,,?? Mama kok terus menangis saja. Dirga bingung ma,,, Dirga panggil dokter saja ya buat periksa mama." kata Dirga yang langsung memencet tombol untuk memanggil bantuan dokter atau perawat.
Air mata mama semakin berderai karena mama tiba tiba ingat Ayu.
"Ayu tidak pernah sejahat ini padaku meski aku sangat jahat padanya. Bertahun tahun menjadi menantuku dia sama sekali tak pernah berlaku tidak baik kepadaku. Apa ini hukuman dan karma bagiku karena telah menyia nyiakan menantu sebaik dirinya?? Maafkan mama Ayu.Mama harap mama masih bisa bertemu dan meminta ampun darimu."
Dirga terus mengusap airmata kesedihan mama hingga dirinya pun ikut menangis melihat penderitaan mama.
"Seandainya saja bisa Dirga gantikan,,,Dirga rela gantikan posisi mama seperti ini ma" kata Dirga sambil mengelus kepala mama.
Hatinya hancur melihat kondisi mama yang menyedihkan ini.
Sejurus kemudian dokter dan perawat datang. Dirga memberi ruang gerak untuk mereka bekerja. Dirga mundur dan hanya memperhatikan apa saja yang dilakukan tim medis.
"Kondisi psikis nyonya tampaknya labil. Ada beban pikiran yang sepertinya berat dan ingin beliau sampaikan namun tidak mampu. Saran saya,,,Jaga emosinya karena semakin labil itu semakin memperburuk keadaannya." pesan dokter.
"Baik dok,,,Saya akan usahakan yang terbaik untuk mama saya." kata Dirga.
πΈπΈ
"Vhe,,, Apa kita tidak keterlaluan ya sama tante??" tanya papa saat mereka masih di perjalanan pulang.
"Iya daddy tau itu,,,Tapi Dirga,,,?? Apa rencanamu Vhe??" tanya papa.
"Jangan pikirkan Dirga. Toh juga tante tidak bisa bicara. Dirga juga tidak akan tau walau kita sering berhubungan sekarang. Tante kan sudah,,,," Vhe membuat simbol bisu.
"Iya juga sih,,, Artinya kita tetap bisa bebas meski ada tante. Tapi mau sampai kapan Vhe??" tanya papa.
"Ya sampai seterusnya daddy. Kan daddy juga yang enak kalau Dirga masih mengakui bahwa anak ini anak dia. Daddy tidak perlu keluar uang banyak untuk keperluan bayi ini. Sudah ada ayah bodohnya yang menanggung hidupnya." kata Vhe mengerlingkan mata.
"Kamu benar Vhe. Kamu memang cerdas sayang." kata papa sambil mencubit dagu Vhe gemas.
Sampai di apartemen papa tidak benar benar menyiapkan pakaian keperluannya selama di rumah sakit melainkan asyik asyikan dengan Vhe.
πΈπΈπΈ
"Papa kok lama ya,,," batin Dirga.
"Apa aku tinggal saja dulu mama sendiri. Lagian mama juga sudah tenang karena suntikan penenang tadi. Lagipula aku yakin papa sudah di jalan menuju ke sini. Aku butuh berkas kerjaku untuk mengerjakan proyek ini tapi seingatku berkasku itu ada di kardus kardus saat pindahan." gumam Dirga.
Dirga lantas menelpon papa namun tidak diangkat meski berkali kali dia mencoba. Hal itu membuat Dirga makin yakin bahwa papa memang sedang berada di jalan.
__ADS_1
"Aku pulang saja lah,,,Aku juga masih mencari cari di kardus mana berkas itu karena Ayu yang merapikannya waktu itu." gumam Dirga.
Dirga pun bersiap siap meninggalkan rumah sakit setelah sebelumnya sempat berpesan pada perawat untuk sesering mungkin melihat mama.
Dirga menyetop taksi dan meminta sopir taksi untuk mengemudi lebih cepat sedikit. Sopir mengiyakan dan kemudian taksi itu mulai lincah di jalanan.
"Lah,, kok mobil papa masih ada di sini?? Berarti papa belum berangkat dong. Hmm aku harus cepat meminta papa ke rumah sakit. Kasihan mama." gumam Dirga.
Dirga pun melangkah cepat menuju ke apartemennya. Dirga langsung saja melangkah masuk ketika pintu apartemen terbuka.
Dirga menghentikan langkahnya.
"Papa?? Vhe???" batinnya.
Dirga melihat papa yang tengah mengelus perut Vhe dengan lembut lalu mencium perut buncit itu setelah beberapa saat terlihat bicara dengan si bayi di dalam perut.
Dirga juga melihat tangan Vhe yang memegang kepala papa dan dengan senang hati membiarkan papa melakukan semuanya.
Vhe baru melepaskan tangannya saat melihat kehadiran Dirga.
"Sayang?? Sejak kapan kamu di situ??" tanya Vhe.
Papa yang juga baru sadar pun segera berdiri tegak dan menelan ludah berusaha merangkai kata yang tepat untuk menjelaskan. Tidak lucu jika dalam waktu sehari perselingkuhannya terbongkar hingga dua kali.
"Kalian sedang apa??" tanya Dirga.
"Kami,,,, Eeehmm,,, Kami,,,," Vhe tak dapat jawaban tepat dan berharap papa bisa lebih cepat menjawab.
"Papa hanya menyapa cucu papa. Tidak salah kan kalau papa juga menyayanginya. Apa kamu keberatan Dirga??" tanya papa.
"Eemm,,, Dirga,,,," Dirga belum menjawab.
"Oh ya,, Kok kamu malah di sini?? Mama sama siapa?? Lebih baik papa segera ke rumah sakit kalau begitu. Vhe jaga cucu papa baik baik ya,,, Papa sudah pernah kehilangan cucu kembar jadi papa tidak mau itu terulang lagi." ucap papa.
Vhe hanya mengangguk. Dirga masih belum bereaksi karena merasa ada yang janggal.
\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih πΈ
__ADS_1