MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Hari pertama


__ADS_3

Selamat membaca 🌸


Maaf banyak typo. 🙏


###############


🌸🌸


Membayangkan keduanya pasti tengah asyik memacu kudanya masing masing tidak lantas membuatku merasa gerah.


"Biarkan saja,,, peselingkuh cocoknya juga sama peselingkuh juga. Sama sama suka pakai barang orang." gumamku sendiri sembari menyisir rambut panjangku.


Ku lihat rambutku ini sudah mulai bergelombang dan aku ingin meluruskannya besok di sela waktu luangku.


Drrtt,,,


Ponselku bergetar.


"Jadi tidur sendiri malam ini nona jablay hehehe,,,,"


Aku tersenyum dan gemas membaca pesan dari Sandy itu. Aku memang sudah mengabarinya bahwa mulai malam ini Vhe akan tinggal lagi di rumah ini.


"Jadilah,,,gak apa apa jablay yang penting kan suci tak ternoda dengan barang bekas. wekkk" balasku lengkap dengan sebuah emoji menjulurkan lidah.


"Hahaha,,, yang penting tegar ya. Jangan aja terus mewek terus diem sendiri di pojokan kayak botol kosong." canda Sandy lagi.


"Iihh,,, anti galau galau ya,,," jawabku.


"Iya lagian buat apa galau,,, kan sudah ada aku juga." jawab Sandy.


Deg,,,


"Sudah ada aku?? Apa maksudnya??" aku bergumam dan tak membalas.


"Maksudnya ada aku yang hibur kamu,,, jangan mikir yang macam macam dulu nona,,," emoji yang sama diberikan oleh Sandy dan itu membuat hatiku yang serasa melambung tadi kembali jatuh.


"Dasar,,,,!!" jawabku singkat.


"Hahahah,,, besok ada acara apa kamu mama??" tanya Sandy lagi.


Tuh kan,,, Sandy suka sekali membuat hatiku naik turun.


"Mau ke salon anakku sayang,,, mau ikut?? Nanti kamu rewel lagi kalau mama di salon. Mama gak mau ya ajak anak nakal kayak kamu,,," balasku.


"Pokoknya mau ikut mama,,,,!!!" jawabnya lagi.


Percakapan yang entah lucu atau malah membuatku semakin merasa tak menentu itu membuat kami tak ingat lagi dengan pasangan yang mungkin sudah dua atau tiga kali kuda kudaan.


"Sweet dream mama,,, mimpiin aku ya" ucap Sandy menghantarkan tidurku.

__ADS_1


"You too anak mama,,," balasku.


Aku mendekap erat ponselku dan ku taruh di dadaku sembari merebahkan diriku.


Mama,,,


Aku suka saat Sandy memanggilku mama seperti itu. Terlepas dari apa maksudnya memanggilku begitu. Aku hanya coba membawa ke arah yang biasa saja.


Mungkin Sandy hanya membiasakan dirinya memanggilku seperti itu karena ingin terbiasa saat sedang bersama anak anak. Tapi apa harus begitu juga??


Entahlah,,,


Yang jelas aku tak protes dengan panggilannya itu. Mengingat Sandy malah membuat mataku tak mau terpejam. Ku buka lagi ponselku yang akhir akhir ini ku beri kata sandi.


Ku pandangi foto bahagia aku dan Sandy bersama anal anak. Kami berempat sedang berpose lucu bersama saat terakhir makan ice cream. Sungguh bagaikan keluarga bahagia.


Ironisnya adalah aku tak punya foto kebersamaan dengan Dirga seperti ini baik di ponselku maupun di mana mana karena kami memang tak pernah melakukannya.


Ku elus wajah Sandy di foto itu.


Ya tuhan kenapa hatiku bahagia sekali melakukannya,,,


Kenapa aku merasa lupa pada Dirga setiap kali bersamanya,,,


Apa aku mencintainya???


Aku ini masih istri sah Dirga meski begitu perlakuannya padaku.


Adat setempat di daerahku tidak membolehkan jika seorang istri yang meminta atau pun dicerai membawa pergi anak anaknya.


Ya,,


Tidak segampang itu bercerai di tempat kami.


Ada serangkaian upacara yang harus kami lakukan juga jika memang kami mantap bercerai. Keterkaitan kami dengan leluhur lah yang membuat perceraian di tempatku itu sangat tabu.


Tapi apa adat juga harus tetap ditaati meski membuat sakit hati??


Apa adat bisa menang dari hukum negara??


Bukankah negara juga sudah jelas mengatur bahwa seorang ibu akan tetap mendapatkan hak asuh anak sepenuhnya jika sang anak masih dibawah umur atau berusia kurang dari 12 tahun???


Meski ada juga keputusan dimana ayah juga bisa mendapatkan hak mengasuh anak jika ibu dinilai memiliki tabiat buruk yang membahayakan anak.


Tapi aku tak perlu khawatir disebut memiliki tabiat buruk karena buktinya bukan aku yang selingkuh. Bukan aku yang menikah lagi,,, Bukan aku juga yang tak pernah peduli pada anak.


Aku lelah memikirkan itu.


Lihat sajalah dulu bagaimana ke depannya. Yang jelas aku bertahan hingga saat ini bukan tanpa alasan. Aku belum ingin pergi jika belum melihat kehancuran nyata di rumah ini dengan mata kepalaku. Aku masih ingin menjadi saksi hidup momen menyesalnya para penjahat hati itu.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Hari pertama,,,


"Selamat pagiiii semuanya,,," suara menyebalkan Vhe menggema di ruang makan ini begitu dirinya turun dengan menggandeng Dirga.


Dirga tampak risih dan berusaha melepaskan diri karena mungkin tak enak dengan keberadaanku dan anak anak.


"Bisa lepaskan dulu aku?? Ada anak anak,,," kata Dirga setengah berbisik pada Vhe.


"Kenapa memangnya?? Anak anak juga harus tau kan kalau aku ini juga mommynya. Mommy juga berhak kan menggandeng papa,,, Iya kan sayang sayang mommy???" tanya Vhe langsung pada anak anak.


Anak anak hanya diam dan terlihat bingung tiba tiba ditanya seperti itu. Mereka tentu bingung kenapa tante Vhe yang mereka kenal itu tiba tiba menyebut dirinya mommy. Untuk anak anak seusia mereka ini bukanlah hal yang bisa mereka pahami.


"Nanti biar mama yang jelaskan pada mereka ya sayang,,, mereka belum paham. Pasti mamanya belum dan tidak bisa menjelaskan." mama melirikku.


"Atau mungkin malah memang sengaja tak mau menjelaskan??" tanya Vhe dengan melirikku.


"Daripada memusingkan itu,, lebih baik kamu lepaskan dulu tanganmu itu dari Dirga dan mulai menunjukkan pada kami semua bahwa kamu layak disebut istri juga. Ayo buatkan sarapan untuk Dirga,,,!!!" titahku dengan lembut.


"Sayang,,, lihat itu,, dia memerintahku" sungut Vhe manja pada Dirga.


"Bukan memerintah tapi mengajarimu. Lakukan saja sayang,, Apa yang dikatakannya itu benar kok" Dirga membelaku.


Vhe menoleh ke arah mama. Kulihat mama hanya memberikan kode untuk Vhe menurut dengan mengangguk saja. Meski kesal Vhe pun melepaskan dirinya dan beringsut mengambil selembar roti.


Dioleskannya selainya dengan kasar. Aku menghampirinya dan mengambil roti dan pisau selai itu dari tangannya.


"Membuatkan suami sarapan itu jangan dengan wajah dongkol. Apa kamu tidak pernah melakukannya untuk suamimu dulu?? Istri itu buat sarapan untuk suami harus yang ikhlas. Pakai senyum,,,, dan lembut penuh cinta. Begini,,,," aku mempraktekkan sebuah gerakan lembut dan penuh senyum.


Ulahku yang memang ku sengaja itu tak ayal membuat pipi putih Vhe bersemu merah. Dia merasa aku sengaja mempermalukannya di depan semua orang yang ada di sana.


"Ayo kamu coba,,, sekalian juga buatkan untuk anak anak. Kan kamu juga mommynya,,, seorang mommy juga harus ingat untuk melayani anak anaknya. Bukan suaminya saja,,, bukan begitu Dirga??" tanyaku menoleh pada Dirga.


"Benar,,, ayo sayang cepat buatkan,,, anak anak pasti juga sudah lapar ini." kata Dirga pada Vhe.


Hati Vhe makin dongkol mendengarnya. Vhe tak menyangka aku menyerangnya secara halus dengan perkataannya sendiri tadi yang menyebut dirinya mommy.


"Awas kamu Ayu,,," liriknya tajam padaku.


Dan aku,,,


Hanya tersenyum manis padanya. Sangat manis,,,🌸


\=\=\=\=\=


Jangan lupa vote,like dan komen yaa


Terima kasih 🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2